Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 09. Petaka di Pagi Hari


__ADS_3

Mentari pagi bersinar cerah. Seharusnya secerah itu harapan pagi seorang Tata saat ini. Namun, Yang Maha Kuasa belum mengizinkan dia untuk hidup enak dan bahagia.


Bbraaakkk !


"Aku tidak mau tinggal disini lagi !" Teriak Astrid kencang.


"Kamu ini ngomong apa ! Kalau tidak tinggal disini, terus kamu mau tinggal dimana !" Bantah Bulek Rukmini tidak kalah kencangnya.


"Sekarang tinggal Ibu, pilih aku apa dia yang pergi dari sini !"


"Jangan ngaco kamu, apa kata Bapakmu kalau tahu hal ini. Bisa - bisa Ibu dipenggal nanti kalau dia pulang."


Begitulah obrolan kasar yang Tata dengar.


'Siapa yang Astrid maksud harus pergi dari sini ? Apa kalimat - kalimat itu ditujukan untuk ku ?' Terka Tata dalam hati.


"Kalau Ibu tidak berani mengusirnya, biar Aku saja yang mengusirnya !"


"Astrid tunggu Astrid, jangan seenaknya !"


"Ya sudah, berati memang Ibu lebih memilih aku yang keluar dari rumah ini."


Tingkah Astrid yang kekanak-kanakan membuat Bulek Rukmini hilang kesabaran.


"Astrid, ibu mohon, mengertilah posisi kita. Jangan pernah kamu menginjakkan kakimu keluar dari rumah ini."


Astrid tidak mengindahkan permohonan ibunya. Dia segera mengemas barang-barangnya ke dalam sebuah travel bag.


'Apa sebenarnya yang sedang mereka ributkan ?' Pikir Tata dalam hati.


"Astrid, ibu bilang berhenti !"


Teriakan Bulek diiringi lemparan gelas ke lantai yang sangat nyaring terdengar di telinga.


Astrid menghentikan langkah kakinya sebelum sampai di ambang pintu.


"Ada apa Bulek ?" Tanya Tata yang akhirnya keluar dari dalam kamarnya.


"Ini dia biang keroknya, ada apa, ada apa, ini semua gara - gara kamu !" Bentak Bulek kepada Tata.


"Gara - gara saya ?" Tanya Tata merasa bingung.


Astrid hanya duduk diam di sebuah sofa, menunggu adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Iya ! Sejak ada kamu, hidup Bulek jadi berantakan !"


"Kenapa saya Bulek, apa salah saya, semua yang Bulek pinta sudah saya turuti. Apa lagi yang kurang ?"


"Kamu sudah merebut perhatian Bapak dariku, sekarang kamu juga akan merebut Mas Andri dariku juga !" Bentak Astrid ikut bicara.


"Mas Andri ?"


Tata mengernyitkan dahinya, dia sendiri belum paham kemana arah pembicaraan sepupunya itu.


"Selama ini aku hanya diam saja mbak, aku pikir kamu gadis yang lugu, ternyata sama saja, penghianat." Umpatnya kasar.


'Hal apa sebenarnya yang membuat Astrid semarah ini padaku.' Tata mengingat - ingat kembali, kesalahan apa yang telah dia perbuat sebelumnya.


Bukan hanya ucapan yang keluar dari bibirnya, tapi tangannya pun ikut bergerak mendorong dahi Tata hingga dia hampir tersungkur ke belakang saat hilang keseimbangan.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti, apa yang kamu maksud Astrid." Ucapnya berharap sepupunya itu bisa lebih tenang.


"Halah jangan sok pura - pura tidak tahu."


"Katakan, apa benar kamu pergi dengan Andri semalam !" Tanya Bulek meledak - ledak.


"Tidak Bulek, aku hanya_"


"Dasar perempuan murahan, sudah tahu kalau Andri itu pacar sepupu kamu sendiri. Bisa - bisanya kamu merebutnya !" Sela Bulek sebelum Tata menyelesaikan penjelasannya.


"Kamu tahu kan, Astrid sudah dandan rapi sejak sore, dia ada janji mau jalan dengan Andri, tapi dia batalkan !" Maki Bulek.


"Dan tiba - tiba dia datang bersamamu semalam, apa itu namanya kalau bukan perebut kekasih orang !" Tambah Astrid.


'Ya Allah, jadi itu yang membuat mereka begitu marah kepadaku.' Tata mengingat - ingat kembali, mengenai kejadian semalam.


*Flashback On


Cciiiittt ... ! Bbraaakkk .... !


"Achhh... aduh sakit sekali." Keluh Tata saat terjatuh dari sepeda pancalnya.


Ban sepedanya bocor disaat dia berada di jalan turunan. Dan akhirnya harus terjatuh karena rem sepedanya juga putus.


Dengan menahan rasa sakit pada sikunya, Tata berusaha berdiri dan merapikan bajunya yang kotor akibat terjatuh.


'Ya Allah, untung cuma lecet - lecet saja.' keluhnya sendiri.


Namun sepeda yang biasanya selalu setia menemani kemanapun dia pergi itu, harus mengalami luka lebih parah dibandingkan dia.


"Aduh, rodanya sampai bengkok begini. Gak bisa dinaiki. Mana jauh dari bengkel, sudah sore pula." Omelnya sendiri.


Dengan susah payah, Tata menuntun sepedanya, mencari tempat dimana ada bengkel sepeda disana.


"Tata, kamu kenapa ?" Sapa Andri yang kebetulan lewat.


"Tadi jatuh disana Mas, sepedanya rusak." Jawabnya lemas.


"Tapi kamu gak apa-apa kan ?"


"Alhamdulillah gakpapa Mas."


"Di depan ujung jalan sana ada bengkel sepeda, semoga masih buka. Coba saya lihat dulu ya." Kata Andri memberi informasi.


"Iya Mas."


Tata masih dengan perlahan membawa sepedanya ke tempat dimana Andri memberikan informasi.


Ternyata tak jauh dari tempat dia terjatuh, masih ada bengkel sepeda yang hampir tutup.


"Ta, aku sudah sampaikan ke tukang bengkelnya, untuk memperbaiki seperti semula." Kata Mas Andri.


"Wah kalau seperti ini, sepedanya harus ditinggal Mas. Besok baru bisa saya perbaiki, lagipula sudah hampir magrib." Kata si Bapak bengkel saat melihat kondisi fisik sepeda Tata.


"Iya, gakpapa Pak. Yang penting beres." Jawab Andri.


"Tapi, kira-kira habis berapa ya Pak ?"


"Ini sih lumayan Mbak, banyak ruji - ruji yang patah juga."

__ADS_1


"Kalau begitu, biar lain kali saja saya bawa ke sini lagi Pak."


Ucapan Tata membuat Bapak bengkel san Andri bengong.


"Eh, maksud kamu barusan bagaimana ?" Tanya Andri.


"Aku tidak punya uang untuk biaya service nya Mas." Bisiknya kepada Andri.


"Sudah Pak, biar inap saja. Perbaiki dan ganti jika ada yang perlu diganti. Besok saya yang ambil." Kata Andri tanpa harus meminta persetujuan Tata.


Selesai dengan urusan sepedanya di bengkel, Andri menawarkan tumpangan untuk pulang bersama.


Namun, bukannya langsung pulang kerumah, tapi Andri juga mengajaknya untuk mampir ke sebuah warung penyet.


"Aku tahu kamu belum makan, kita makan dulu ya." Ajak Andri malam itu.


Tata tak bisa menolaknya. Karena jujur, dia memang belum makan sejak siang tadi.


Andri juga yang mengantarkan Tata pulang sampaib di depan pintu rumah. Dan itulah hal yang menjadi tema persoalan pagi ini.


*Flashback Off


"Tapi semalam, aku hanya_"


"Sudah, Penjelasanmu membuat aku semakin geram. Sejak ada kamu, semua apa-apa kamu yang diutamakan !" Umpat Astrid lagi.


'Diutamakan ? Diutamakan yang mana Astrid, selama ini aku yang selalu mengalah dan disingkirkan.' Isak tangis Tata mulai tak terbendung.


"Katakan, kemana dan apa yang kamu lakukan dengan Mas Andri semalam !"


"Aku tidak melakukan apa-apa Astrid, aku hanya kebetulan saja bertemu Mas Andri."


"Bohong ! Kamu kan bawa sepeda pancal. Mana sepeda kamu !"


"Sepeda aku rusak, rem nya putus, bannya juga bocor, aku tinggal di bengkel."


"Halah alasan !" Bentak Astrid.


"Sudah - sudah, sekarang gini saja. Bulek minta kamu tinggalkan rumah ini."


Serasa mendapatkan sebuah tamparan hebat, saat telinga Tata mendengar Bulek mengusirnya dari dalam rumahnya sendiri.


"Tapi, kemana Tata harus tinggal Bulek ?"


"Ya itu terserah kamu." Jawabnya sambil berkacak pinggang.


"Tapi ini kan rumah peninggalan almarhum Bapak dan Ibu Tata Bulek ? Izinkan Tata tetap tinggal Bulek, Tata tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali keluarga Paklek Arman." Rengeknya meminta belas kasihan.


"Enak saja kalau bicara !" Ucap Bulek Rukmini sambil melotot.


"Kamu pikir, membesarkanmu sampai sebesar ini tidak perlu biaya !" Bentaknya lagi.


Tata tidak bisa membantah lagi. Apapun yang dia lakukan tetap salah di mata Buleknya. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah berserah diri. Dia ikuti saja kemana Allah akan membawanya pergi.


Tata berusaha kuat, meskipun tubuhnya terasa lemah. Dia berjalan menuju kamarnya dan mulai mengemas baju-bajunya.


"Makanya jadi perempuan jangan sok cantik." Umpat Astrid yang selalu ngomong pake tangan.


____________________

__ADS_1


____________________


____________________


__ADS_2