Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 72. Kesedihan Nindya


__ADS_3

Regina masih tertidur pulas, setelah Dokter memberikan pertolongan pertama dan dia melewati masa kritisnya. Nindya yang berharap bisa bersenda gurau dengannya, harus sedikit bersabar untuk menunggu kesehatan Regina pulih kembali.


"Biarkan Gina istirahat dulu ya sayang. Biar lekas sembuh, biar cepat bisa bermain bersama lagi." Kata Mama Tata memberikan pengertian.


Sejak kedatangannya di ruang rawat inap, Nindya hanya bergelayut di pangkuan Mama Tata. Sama seperti awal kedatangannya di ruang informasi, wajah sayu dengan mata berkaca-kaca.


Meskipun begitu, pandangan matanya tak luput dari tubuh mungil sahabat nya yang sedang tertidur pulas di ranjang rawat inap dengan kepala dipenuhi perban.


"Mama, sampai kapan Gina seperti itu ?" Tanya Dya lirih, seakan takut terdengar orang lain.


"Kalau Gina rajin minum obat, istirahat yang cukup, pasti Gina cepat sembuh." Jawab Mama Tata.


"Do'akan Gina segera sehat kembali ya sayang." Tambah Hanifa.


"Iya Tante." Jawabnya terbata.


Ibu Guru yang masih menunggu di situ, tersenyum, melihat betapa tulus kasih sayang Nindya terhadap Regina. Bukan hanya terhadap Regina, tapi juga terhadap semua temannya.


'Ibu Anita memang bukan Ibu kandung Nindya, tapi kasih sayang dan pola didik yang baik telah membentuk sebuah karakter yang baik pula untuk Nindya.' Pikir Beliau dalam hati.


Di sekolah, Nindya juya terkenal mudah bergaul, ramah dan dermawan. Dan yang membuat ibu guru terkesan, jiwa sosialnya yang tinggi.


"Pak Al memang beruntung mempunyai istri seperti Bu Anita.' Pujinya dalam hati. Mengingat sudah terlalu lama Beliau menunggu, akhirnya segera berdiri dan berpamitan kepada hanifa.


"Ibu Anita, Ibu Hanifa, mohon maaf, berhubung Ananda Regina sudah mendapatkan perawatan, saya mohon pamit permisi terlebih dahulu."


"Terimakasih banyak Bu Santi, mohon maaf merepotkan." Jawab Hanifa.


"Tidak Ibu, sudah menjadi kewajiban kami bisa membantu. Dan kami atas nama sekolah juga pribadi, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang menimpa Ananda. Semua ini terjadi, akibat dari keteledoran kami." Ucapnya panjang lebar.


"Tidak Bu Santi, ini sebuah kecelakaan. Tidak ada yang harus disalahkan. Saya sebagai orang tua Regina, hanya mohon doanya, agar Gina segera sehat dan kembali beraktivitas seperti sedia kala."


"Pasti Bu Hanifa, kami akan ikut memantau bagaimana perkembangan kesehatan Regina." Kata Beliau hampir mengakhiri percakapannya.


Terkadang memang dibutuhkan sebuah pengertian dan kesabaran yang besar bagi orang tua.


Dengan peristiwa yang Gina alami saat ini, masih banyak orang tua yang kurang paham dengan masa aktif anak dan hanya menyalahkan pihak pengajar sebagai orang yang bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di sekolah.


"Kalau begitu, saya pamit dulu. Mari Bu Hanifa, Bu Tata."


"Bu Santi, Bu Santi sama siapa dan mau naik apa ?" Tanya Anita, yang kebetulan juga sudah mau berpamitan.


"Nanti saya pesan ojek online saja di depan." Jawab Beliau.


"Kalau begitu, bareng saya saja Bu Santi. Bu Santi mau langsung pulang atau ke sekolah terlebih dahulu ?"


"Saya harus ke sekolah terlebih dahulu. Tas, handphone dan kendaraan saya masih di sekolah." Ucapnya menerangkan.


"Kebetulan sekali, kita kan satu arah."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Kata Bu Santi menerima tawaran yang Tata berikan.


"Kalau begitu, aku juga pamit dulu ya. Nanti atau besok aku akan ke sini lagi."


"Terimakasih Ta, hati-hati di jalan ya."


"Iya, kamu yang sabar ya, semoga Gina segera sehat kembali."


"Aamiin."


"Dya pamit Tante."


Tidak mau kalah dengan orang dewasa, Nindya ikut mengulurkan tangan untuk berpamitan.


"Iya sayang, terimakasih ya Nak. Do'akan Regina segera sehat kembali ya sayang."


Nindya mengangguk, tidak kuasa untuk menjawabnya.


Reza yang masih sabar menunggu, segera membukakan pintu mobilnya, saat melihat istri atasannya berjalan semakin mendekat.


"Kita mampir ke sekolah Dya lagi ya Pak." Pintanya.


"Baik Bu."


Mungkin karena rasa lelah, atau memang sudah waktunya jam istirahat siang, Nindya tertidur di dalam perjalanan menuju ke sekolah.


"Terimakasih sudah diberikan tumpangan Ibu." Ucap Bu Santi ketika mereka sampai di sekolah.


"Inggih, silahkan Bu Anita. Hati-hati di jalan." Kata Beliau mempersilahkan.


"Kita langsung pulang Bu ?" Tanya Reza yang sebentar lagi menyelesaikan tugasnya.


"Iya Pak."


Nindya masih pulas, saat mereka sudah sampai di dalam halaman rumah sang sultan.


"Biar saya gendong Dya Bu." Pinta Reza.


"Terimakasih Pak."


***


Hari ini, begitu banyak peristiwa dan kejadian yang tidak diduga sebelumnya. Mungkin itu yang membuat tubuhnya terasa lemas dan capek.


Agenda hari ini terlalu melelahkan untuk kakinya. Dia banyak berjalan dan berdiri untuk waktu yang cukup lama. Hingga dia rasakan pegal pada betis dan persendian yang tak mampu menopang berat badannya.


Hingga malam menjelang, Tata tidak bisa memejamkan mata. Dia lirik jam dinding yang bertengger manis pada dinding di atas meja riasnya.


Di dalam remangnya lampu tidur, samar-samar dia lihat jarum jam menunjukkan pada angka sebelas malam, Tapi Al belum juga pulang.

__ADS_1


Tata berusaha meraih handphonenya di atas nakas. Tidak ada panggilan ataupun pesan saat layar handphone nya sudah terbuka.


"Mas Al kemana ? kok gak kasih kabar ?" Gumamnya sendiri.


Din ... din ... din ...


Belum sempat dia geser tombol panggil, pada layar handphonenya, tiba-tiba terdengar bunyi klakson di halaman depan.


"Itu dia." Ucapnya lirih.


Aadduuuhh ...


Tata mengaduh kesakitan, saat berusaha turun dari ranjangnya, bermaksud untuk menghampiri suaminya di bawah.


"Kenapa sayang ?" Tanya Al yang lebih dulu sampai di kamar.


"Gak tahu Mas, tiba-tiba kakiku sakit." Ucapnya lirih.


Al menggendong dan meletakkan istrinya di atas ranjang, saat melihat Tata memijit-mijit betisnya dan duduk berselonjor di karpet.


"Mana yang sakit ?" Tanya Al khawatir.


"Ini." Ucapnya manja, sembari menunjuk batisnya yang terasa ngilu dan pegal.


Dengan sabar dan telaten, Al membantu memijit betis istrinya.


"Kemana saja kamu seharian, hingga kakimu terasa pegal ?" Tanya Al hati-hati.


Bunda sering mengingatkan, agar putranya ini bersikap lebih halus terhadap istrinya. Karena kondisi kejiwaan ibu hamil itu lebih sensitif dibandingkan kondisi orang normal pada umumnya.


"Gak kemana-mana Mas, cuma ke sekolah dan besuk Gina ke rumah sakit." Jawabnya, sesuai apa adanya. Dan Al sendiri memang sudah mengetahuinya. Atas izin dia juga, Tata pergi mengajak Nindya ke sana.


"Mas mau makan ? Atau saya bikinkan teh hangat ?" Tanya Tata mengalihkan perhatiannya.


"Tidak, kamu istirahat saja. Aku hanya akan mandi dan tidur malam ini." Jawab Al datar.


Meskipun badan terasa remuk redam, namun sebagai seorang istri, Tata tetap melaksanakan tugasnya, menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Dia rebahkan tubuhnya di samping istrinya usai badan terasa segar. Bukan hanya Tata yang merasakan capeknya berjalan, tapi Al juga merasakan betapa capeknya tubuh da pikirannya setelah seharian mencari nafkah untuk keluarganya.


Tak berapa lama berselang, Al sudah pulas dalam mimpi indahnya. Hingga Tata belum sempat bercerita, apa saja yang dia alami seharian tadi.


Dia pandangi wajah suaminya yang terlihat polos dan lebih tampan saat memejamkan mata. Dia sibak anak rambut yang mulai menutupi keningnya.


Entah karena kebiasaan atau memang merasa lebih nyaman, Al tidur dengan kedua tangan terlipat di depan dada, seolah sedang mengamati sesuatu.


"Mas Al, tidur saja harus stay cool." Bisiknya sembari dia kecup keningnya. Sesekali dia mainkan anak rambut di keningnya, hingga akhirnya ikut terlelap di dalam mimpi yang sama.


__________________

__ADS_1


__________________


__________________


__ADS_2