
Tiga jam sudah akhirnya tiba di Bandara Internasional Chiangmai, pamanya Alberto lebih dulu turun dari pesawat tanpa menunggu keponakannya yang masih belum sadar dengan tidurnya itu, pramugari cantik pun membangunkan pasangan muda yang terasa nyaman tidur dipesawat.
*maaf tuan dan nona, Tujuan anda sudah sampai? apakah ada yang bisa saya bantu? ( pramugari)
em... sudah sampai! kenapa sangat cepat ( orin mengusap matanya)
sudah nona? apa nona perlu air putih sebelum turun? tadi katanya paman tuan ini menyuruh saya memberikan alamat ini ( pramugari memberikan sebuah alamat)
paman! terimakasih sudah membangunkan kami, maaf ( Alberto bergegas*)
mereka berdua pun segera menuju alamat yang diberikan sang paman, Alberto berulang kali menelepon sang paman tapi tidak diaktifkan, bahkan pamanya tidak memberi tahu kemana sang paman pergi.
*Bukankah kau pernah kerumah nenek al? kuharap kau masih ingat, jadi kita tidak nyasar ( orin tampak khawatir)
jangan khawatir, alamat ini benar, cuma aku heran kemana pamanku pergi ( Alberto melihat orin*)
Gadis manis berwajah oriental itu menenangkan kekasih hatinya, orin mengenggam tangan Alberto untuk segera naik kedalam taksi yang sudah berjejer didepan Bandara Chiangmai.
disepanjang perjalanan orin sangatlah senang, banyak pemandangan kuil Buddha yang sangat indah nan elok itu.
dirinya tampak takjub dan juga terkesima, banyak toko-toko barang etnik khas Thailand dijual di sepanjang perjalanan yang membuat siapa saja yang datang untuk pertama kali di Thailand bagian utara itu terpesona.
__ADS_1
Tidak begitu lama akhirnya taksi pun membawa mereka berdua ke rumah kakek dan nenek keluarga Toen, sebuah marga milik mendiang ibunya Alberto.
Alberto lebih mirip sang ibu, yang memiliki paras Chinese dan berkulit putih flawless, dan papanya Alberto adalah keturunan orang Amerika Latin.
meski muka baby face tapi Alberto memiliki tubuh yang gagah seperti sang papa.
*Kakek nenek Alberto datang? ( Alberto memencet bel rumah)
cucuku... selamat datang dirumah kami, duduklah, biar pethan membuatkan teh rose hangat untuk kalian ( nenek tersenyum kepada al dan orin)
nek? ini orin pacarku, kuharap nenek dan kakek menyukainya ( Alberto memeluk manja neneknya)
gadis manis seperti ini tidak mungkin kalau kami membencinya, setelah kalian minum teh rose, istirahatlah diatas, tapi? dengan kamar yang berbeda ( nenek mengelus rambut Alberto)
pamanmu sudah lebih dulu kesini, tapi dirinya pergi ke pasar untuk membeli bahan makan malam ( kakeknya al)
apa nenek tahu! paman meninggalkan kami yang masih tertidur pulas saat pesawatnya sudah sampai, begitu menyebalkan bukan! ( al manja dengan neneknya)
ha.. ha.. memang anak itu tidak berubah dengan sikap konyolnya, pamanmu sudah bercerita semua, dia merasa tidak enak melihat kalian berdua tidur saling bersender erat seperti pasangan bulan madu ( nenek tersenyum melihat orin)
nenek? ( orin sedikit malu)
__ADS_1
ajaklah pacarmu untuk istirahat dikamar atas, kalian pasti lelah, pamanmu akan memasak untuk kita dengan menu spesial dari Chiangmai ( nenek)
baiklah nek, kek? kami keatas untuk istirahat dulu dan bersiap untuk makan malam bersama ( Alberto masih memeluk neneknya)
cucuku tersayang Alberto? nenek akan memelukmu lagi nanti, kalian mandi dan bersiap, okay tuan cucuku? ( nenek mencoel hidung mancung al)
siap Huang mama? laksanakan! ( Alberto dengan tingkah manjanya*)
Alberto mengajak orin kekamar tamu, untuk istirahat sebentar, lelaki tampan dengan sejuta pesona itu pun membukakan pintu kamar kekasihnya itu.
*kau istirahatlah sebentar, setelah siap aku akan memanggilmu untuk makan malam ( Alberto tersenyum kepada orin)
baiklah, Terimakasih ( orin membalas senyuman al*)
Orin memasuki kamar tamu yang luasnya seperti ruang keluarga baginya, didalam hati orin berkata kalau keluarga neneknya juga sepadan dengan martabat papanya al yang memang sudah ditakdirkan kaya raya.
didalam benak orin terselip rasa minder, karena bagaimanapun dirinya hanya anak orang yang tidak kaya, yang sangat berbanding sangat jauh dengan keluarga kekasihnya itu.
aku hanya takut suatu hari nanti kau tidak lagi memegang tanganku ini, bagaimanapun kita sangat beda al? jikapun aku berhenti dan berjalan ke arah lain itu sangat sulit... ( suara hati orin)
Tanpa terasa tetesan air mata jatuh dengan lembut di pipi mulus gadis manis itu, dengan cepat orin mengusapnya.
__ADS_1
Setelah selesai membereskan pakainya, orin pun duduk di atas tempat tidur dengan tatapan kosong. bahkan beberapa kali Alberto mengetuk pintu kamar, gadis manis itu masih asyik dengan lamunannya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻