
tok! tok! suara pintu kamar orin seperti ada yang mengetuk, orin melangkah keluar untuk membukakan pusat ketukan tersebut, betapa terkejutnya dirinya, sang nenek berdiri didepan pintu dengan senyuma teduhnya memberikan sebuah kotak kecil dari kayu yang terlihat seperti sudah agak lama.
**nenek, kenapa belum tidur? masuklah nek? ( orin)
nenek sengaja menunggumu untuk memberikanya, sayang? bukalah! ini sebuah kenangan masa kecil cucu nenek, kelak jika nenek tidak bisa melihat kalian bersama, maka kenanglah apa yang Nenek berikan malam ini ( nenek Alberto dengan mata sendu)
Terimakasih nek? kuharap nenek selalu sehat dan panjang umur ( orin dengan mengenggam tangan sangat nenek)
tidurlah dan selamat malam ( nenek Alberto)
Selamat malam juga nek? ( orin tersenyum sambil menutup pintu**)
dibukanya isi kotak tua tersebut, senyum manis terukir di wajah gadis cantik itu, sebuah foto masa kecil Alberto dan sebuah kalung yang dipakai oleh mendiang ibunya Alberto berada di bersama kenangan foto tersebut, didalam hati orin merasa sungkan menerima semua itu, bagaimanapun dirinya hanya seorang kekasih dan bukan calon istri, bahkan dalam hati kecilnya orin masih bimbang jika harus bersama Alberto.
bukan karena mereka beda kasta, tapi jika suatu saat nanti harus menjadi istri Alberto dirinya merasa tidak pantas, karena bagaimanapun Alberto adalah anak dari seorang konglomerat dan juga pewaris tahta semua perusahaan besar milik ayahnya di Asia.
dirinya pasti harus cerdas dan juga sederajat, dan jika memikirkan untuk bersanding, terus terang orin belum berani berpikir kearah yang masih jauh dirinya jangkau.
__ADS_1
........................ ..............
semua sudah berada dimeja makan untuk sarapan bersama-sama, sebelum mereka pergi tamasya, karena hari ini adalah hari terakhir Alberto dan orin berada di negara gajah putih tersebut.
mereka akan pergi ke makam mendiang ibunya Alberto untuk berpamitan dan sekaligus mengajak orin menikmati jajanan pasar khas Thailand.
setelah selesai sarapan pagi yang dilalui dengan sangat tenang tanpa ada percakapan dan hanya senyuman sumringah dari kakek dan neneknya serta paman Alberto, kini mereka berdua segera menuju tujuan utama, yaitu rumah auditorium mendiang sang ibu. Alberto sengaja naik mobil sendiri bersama sang pujaan hatinya tanpa diantar sang paman.
*apa kau senang hari ini? kenapa sejak sarapan wajahmu seperti tegang, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu orin? ( Alberto)
tidak, aku bahagia hari ini, tidak ada alasanku tidak bahagia bila bersamamu Al? ( orin dengan wajah fokus kedepan*)
terpampang sebuah foto kecil dengan senyum ternyaman diwajah mendiang ibunya Alberto, dan berjejer foto-foto kecil Alberto dan juga sang ayah yang terlihat bahagia.
*pagi ibu, hari ini aku kesini bersama orin lagi, kuharap ibu bahagia disana, dan selalu doakan kami ( Alberto mengenggam tangan orin)
selamat pagi nyonya, kuharap nyonya Damai disana, maaf jika kadang aku selalu tidak yakin dengan pikiranku, anak anda sangat mencintai saya, tapi pikiran saya selalu bertolak dengan hatiku, mungkin ini hari terakhir saya mengunjungi nyonya, karena saya dan anak anda akan kembali ke Indonesia, terimalah mawar putih dan sebuah kotak yang nenek berikan ini , terimakasih untuk semuanya, selamat tinggal nyonya ( orin memberikan penghormatan terakhir ibunya Alberto, dengan mata sendu)
__ADS_1
kami mohon ijin pulang bu? selamat tinggal ibuku ( Alberto memberikan penghormatan kepada mendiang ibunya*)
didalam mobil sepasang kekasih tidak seperti biasanya, ada uneg2 yang Alberto pikirkan, didalam pikiranya kenapa orin tiba-tiba mengatakan seakan-akan mau memutuskan pisah denganya, tapi Alberto menggeleng cepat dan hal tersebut dilihat oleh orin.
*apakah masih lama sampainya ditempat kuliner? ( orin memecah keheningan)
hem... sekitar 20 menitan ( jawaban singkat Alberto)
tadi malam nenek ke kamarku memberikan sebuah kotak kecil yang isinya sebuah perhiasan kalung dari mendiang ibumu, didalam kotak ada juga foto-foto masa kecilmu, aku merasa tidak pantas menerima al? bagaimanapun aku adalah pacarmu dan bukan tunanganku, dan kuharap kau mengerti dan tidak salah paham dengan semuanya ( orin*)
Lelaki tampan dengan sejuta pesona itu pun hanya mendengarkan orin bicara tanpa membalas satu kata pun, sedikit ada rasa sakit yang masuk didalam hatinya dan sangat perih menembus jantungnya, bagaimanapun gadis disampingnya itu sangat dirinya cintai dan ingini untuk menjadi pendampingnya kelak saat usia mereka dewasa, tapi ternyata pemikiran mereka sangat kontras dan tidak sejalan.
Orin yang paham betul kalau Alberto sedang marah hanya menatap sendu wajah tampan kekasihnya itu dengan mata sedikit berair.
gadis manis berwajah oriental itu pun sengaja menyalakan earphone dadi dalam handphonenya dan bersandar dikursi mobil sambil memejamkan matanya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
Nihao.... jangan lupa like... makacih 😘