
Setelah dimandiin dengan ramuan khusus bayi Ontoseno yang semula tidak bisa jalan. Sekarang bisa jalan. Bahkan dia bisa berbicara seperti orang dewasa. Ya karena umur Ontoseno sendiri sudah dua puluh tahun.
Perubahan yang terjadi kepada Ontoseno membuat kakeknya, yakni Resi Mintuno senang. Dia banyak mengucapkan terima kasih kepada para dewa.
Meskipun bentuk fisiknya masih tetap balita. Namun perubahan tersebut telah membuat Mintuno yakin, bahwa cucunya bisa jadi manusia normal. Soal sekarang masih balita itu hanya soal waktu.
Hanya satu kelemahannya, Ontoseno tidak bisa berbahasa halus. Ngomongnya "Ngoko" tidak bisa ngomong halus sebagaimana umumnya.
Tetapi Mintuno tetap saja bersyukur bahwa cucunya mampu berkomunikasi dengan baik.
"Sekarang Ontoseno sudah dimandiin. Kapan Tuanku Sanghyang Jagad Nata akan menghadapkan Ontoseno lawan Mina Lodra...!?" Tanya Sanghyang Resi Kaneka Putera kepada Raja para dewa Sanghyang Jagad Nata.
"Ya kita dandani dulu Ontoseno. Kita lengkapi dia dengan persenjataan para dewa. Baru kita hadapkan dia kepada Mina Lodra...dan apakah kamu berani melawan Mina Lodra wahai Ontoseno..!?" Tanya Sanghyang Jagad Nata kepada Ontoseno.
Mendapat pertanyaan mendadak seperti itu, Ontoseno dengan sikap sempurna menjawab.
"Saya siap dihadapkan atau berkelahi dengan siapapun Tuanku. Dengan Mina Lodra saya berani. Jadi kapan saya harus menempuhnya..!?" Katanya.
Batara Yamadipati yang melihat kegagahan Ontoseno, tertegun tertawa dan geleng-geleng kepala.
"Duh..duh..duh Ontoseno kamu belum tahu dan mengenal Mina Lodra jadi kamu ngomong seperti orang ngigau...!" Gumam Yamadipati yang didengar Batara Sambu.
"Kanda Yama...sampean jangan meremehkan Ontoseno. Dia terpilih jadi Senopati perang tentu dia memiliki kelebihan yang kita tidak ketahui. Lagi pula saya percaya kepada Tuanku Sanghyang Jagad Nata. Beliau telah memilih Ontoseno berarti dia punya kelebihan yang kita tidak punya...!' tegur Sambu kepada Yamadipati.
Sebenarnya asumsi Yamadipati tidak keliru benar. Pendapat Sambu juga tidak salah. Karena masing-masing punya argumen dan argumen merekapun dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu tidak perlu kita bahas lebih lanjut. Biarlah semua berjalan sesuai jalurnya masing-masing.
Kembali kepada Sanghyang Jagad Nata bahwa dia sudah memutuskan bahwa hari ini Hari Anggoro Jenar, Ontoseno akan mengadu balita ini melawan Mina Lodra.
"Ontoseno cucuku...hari ini aku mau tarungkan dengan Mina Lodra...apa kamu siap bocah bagus..!?" Ujar Sanghyang Jagad Nata kepada cucunya Resi Mintuno itu.
"Saya selalu siap kakek..!!!" Jawab Ontoseno tegas.
__ADS_1
"Baiklah...nanti kamu dianter Eyang Kaneka Putera ya..!?" Ujar Sanghyang Jagad Nata lagi.
Setelah mohon Restu Sanghyang Jagad Nata, Sanghyang Resi Kaneka Putera dengan menggendong Ontoseno terbang ke tempatnya Mina Lodra.
Dengan cepat Ontoseno sampai ke tempat Mina dan Sanghyang Kaneka Putera dengan ilmu tenaga dalamnya melakukan tantangan kepada Mina Lodra.
Suara tantangan sesepuh para dewa itu menggelegar menggetarkan dinding-dinding istana Mina Lodra. Sehingga Mina Lodra yang tengah asyik Masyuk dengan gundik terbaru sempat kaget dan merasa terganggu.
"Bangsat dari mana pagi-pagi kok sudah berteriak-teriak...mungkin minta kukirim ke neraka...!!!" Ujar Mina Lodra uring-uringan sembari mencari pembantu untuk mencari tahu, siapa gerangan orang yang sudah bosan hidup.
Tidak lama kemudian seorang juru taman dengan tergopoh-gopoh mendatangi Mina.
"Ampun Tuanku.. Mohon maaf ada seorang dewa bertubuh pendek gemuk dengan menggendong balita. Berteriak-teriak menentang Tuanku.." tutur sang juru taman sembari menyeka keringat diwajahnya.
"Aku...tahu dewa itu siapa...dasar dewa cari mampus..!!! Sudah terima kasih..silahkan kamu lanjutkan..!" Ujar Mina Lodra yang langsung bergegas mendatangi Sanghyang Resi Kaneka Putera.
Melihat kedatangan Mina Lodra, Sanghyang Resi Kaneka Putera memberitahu Ontoseno bahwa orang yang dihadapannya itulah musuhnya.
"Ha..ha..ha..Cebol jangan lari kamu dewa bangkitan...sudah nantang kok kabur...!?" Ejek Mina Lodra, tetapi Sanghyang Kaneka Putera tidak menggubris dia terus melesat pergi.
Justeru Ontosenolah yang menanggapi.
"Hai Raja jahat..akulah lawanmu. Aku yang akan menghabisimi wahai Raja Lalim. Akulah jago para dewa...!!!" Ujar Ontoseno sembari berkacak pinggang.
Jika Ontoseno sudah paham siapa lawannya, sebaliknya Mina Lodra tidak tahu bahwa balita ini adalah jagonya para dewa.
"Hai anak kecil...sana nyusu ibumu. Kamu bukan lawanku balita...!" Ujar Mina Lodra sembari cengengesan dan memandang rendah Ontoseno.
Begitu pun Ontoseno dia tidak peduli dengan ejekan Mina Lodra.
"Sudah jangan banyak omong hayoh lawan aku jika kamu memang Raja sakti..!" Tantang Ontoseno kepada Mina Lodra.
__ADS_1
Berkali-kali Mina Lodra mengatakan bahwa Ontoseno bukan lawannya. Namun setiap kali itu pula Ontoseno terus menantang dan mengejeknya.
Karena merasa dipermainkan, lama kelamaan Mina Lodra jengkel. Dia sudah tidak peduli lagi bahwa yang menjadi lawannya seorang balita.
"Peduli setan kamu ngledek...kuinjak kamu mletet kayak tempe penyet..!" Saking jengkelnya sambil berteriak keras Mina Lodra menerjang Ontoseno dan menginjaknya dengan keras.
Ajaib balita Ontoseno tidak mati malah tertawa dan tanpa disadari, berkat injakan Mina Lodra, tubuh Ontoseno berubah. Seketika dia berubah menjadi seorang remaja.
Mina Lodra belum menyadari keadaan tersebut. Dia yang terbakar emosinya terus menerjang, menendang dan memukul Ontoseno. Ajaibnya, setiap kali tubuhnya kena pukul dan kena tendangan, fisiknya berubah makin besar.
Karena pukulan dan tendangannya tidak membuahkan hasil, Mina Lodra menggigit Ontoseno di lehernya. Harapannya gigitannya yang penuh Upas beracun bakal membunuh Ontoseno.
Untuk kesekian kalinya harapan Mina Lodra gagal. Ontoseno bukannya mati, malah sekarang sudah menjadi pria dewasa berumur dua puluh tahun.
Resi Mintuno dan para dewan lain melihat pertempuran hidup mati itu tercengang takjub. Ya semua itu jika Tuhan menghendaki, tidak ada yang sulit. Mintuno tentu saja sangat bersyukur bahwa cucunya telah menjadi manusia normal.
Betapa Yamadipati sampe geleng-geleng kepala. Dia mencubit lengannya dikira mimpi melihat perubahan yang terjadi di tubuh Ontoseno.
"Jadi begitu ya kejadiannya...Tuhan penguasa semesta dalam menguji umatnya begitu jalannya...!" Gumam Yamadipati disebelahnya Batara Sambu berdiri sambil mengacungkan jempol.
"Inilah janji dari Hyang Maha Agung..!" Gumam Batara Sambu.
Berbeda dengan para dewa yang berdecak kagum. Mintuno menanggapi semua ini dengan sujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mintuno senang bukan kepalang, karena cucu kesayangannya telah menjadi pria dewasa yang ganteng dan gagah. Lebih kagum lagi ternyata Ontoseno mampu mengimbangi Mina Lodra.
Bahkan sekarang terlihat Mina Lodra makin kewalahan. Sebab semua kesaktiannya telah dia keluarkan namun semuanya berhasil dimentahkan Ontoseno.
Dan yang lebih menakjubkan lagi Ontoseno mampu amblas ke bumi dan dari kepalanya keluar sungut yang mampu mengeluarkan cairan beracun.
Tenaga Ontoseno juga luar biasa kuatnya. Tenaganya sekuat tenaga ratusan gajah. Luar biasa. Karena itu, menghadapi Ontoseno, Mina Lodra ingin sekali kabur. Tetapi dia malu terhadap orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Mina Lodra, Ontoseno justeru merasa enjoy. Dia belum mengeluarkan kekuatan pamungkasnya. Karena Ontoseno sengaja ingin mempermainkan Mina Lodra agar Raja sombong ini benar-benar takut dan bertekuk lutut kepadanya.