
Tidak lama kemudian Pandita Durna dan Sengkuni menyusul.
" Mari..mari kesini Durna dan kamu Sengkuni. Jangan kuatir kamu disini kami jaga. Dan aku yakin Rengganis tidak bakalan berani kemari. Percayalah kepadaku..!" Ujar Batari Durga meyakinkan Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni.
Setelah kumpul semua di Dandangmangore, Prabu Duryudana, Mahapatih Sengkuni, Pandita Durna. Di Dandangmangore seolah telah menjadi Kerajaan Hastinapura.
Penguasa atau Pimpinan Kahyangan Dandangmangore, Batari Durga nampak senang sekali menerima Prabu Duryudana atau Suyudana atau Jakapitana atau Kurupati atau nama yang lain lagi.
Karena Duryudana adalah seorang manusia bejat yang setiap hari menebar kejahatan dan selalu mendukung kekejian.
Pandita Durna, meskipun dia ulama kondang dan selalu mengenakan ketu putih, sorban dan gamis. Namun kelakuan dan tindakannya melebihi bajingan. Dia suka menipu dengan dalih agama. Suka memfitnah juga dengan dalih agama. Bahkan pasang togel pun tetap dengan dalih agama.
Berikutnya Mahapatih Sengkuni yang bernama asli Gendara atau Harya Syuman adalah seorang cendekiawan dari Plazajenar. Dan ahli strategi. Cuma kepandaian, kemampuannya bukan digunakan untuk kebaikan. Kemampuan merancang strategi yang mumpuni justeru dipakai untuk kejahatan.
Contohnya, kasus pembunuhan bisa disulap Sengkuni menjadi bunuh diri. Korupsi dia sulap menjadi dana hibah. Dan berbagai macam kejahatan yang lain yang dia sulap menjadi hal yang benar.
Sifat-sifat dan karakter yang demikian inilah yang memang disukai Sang Dewa Kejahatan. Sehingga tidak mengherankan, jika kedatangan mereka di Dandangmangore benar-benar disukai Batari Durga.
"Nah, sekarang setelah kalian semua ada disini..apa yang selanjutnya kalian lakukan..!? Coba jelaskan...!" Ujar Batari Durga kepada Duryudana cs.
"Anu...Eyang Batari..tidak mungkin kami disini terus..! Kami punya kerajaan yang justeru dikuasai musuh. Kami minta tolong Eyang Batari mengalahkan musuh kami..sehingga kami bisa kembali ke Hastinapura..!" Jawab Pandita Durna mewakili semuanya.
"Ohw...ohw begitu ya..!? Sebenarnya aku senang kalian semua disini sampai kapan pun.. tetapi kalau kalian pengin aku merampas kembali kerajaanmu. Akan kuusahakan...!' jawab Batari Durga.
Namun Batari Durga menegaskan, bahwa dia tidak mungkin turun tangan sendiri. Sebab kalau terjadi bisa memunculkan Sanghyang Ismaya seorang Dewa yang sangat ditakutinya.
__ADS_1
Batari Durga mengatakan, bahwa ada seorang Raja sakti di negara Pasir Angin yang bisa dimintai bantuannya. Kebetulan tanpa sepengetahuan Pandita Durna.
Raja Pasir Angin yang bernama Prabu Minangkuda ini sangat memuja Pandita Durna. Bahkan di istananya dibuat Patung Pandita Durna untuk disembah dan diberi sesaji.
"Jadi Durna...aku minta kamu pergi temui Prabu Minangkuda. Katakan kamu minta bantuannya untuk mengalahkan Rengganis Sura dan anak buahnya..!" Ujar Batari Durga.
"Tet...tetapi saya kan belum mengenal dia Eyang Batari. Apakah dia bisa menerima saya dan mengabulkan permintaan saya..!?" Tanya Durna kepada Batari Durga.
"Kamu gak usah khawatir Durna..! Kamu memang tidak mengenalnya...tetapi Minangkuda sangat mengenalmu. Dan aku kira permintaanmu akan dikabulkan. Percayalah dan cobalah..! " Pinta Batari Durga.
Akhirnya, Pandita Durna bersedia untuk mencarikan Lawan Rengganis Sura. Dia segera melihat peta dimana letak Negara Pasir Angin.
Setelah mendapatkan keterangan yang cukup, bergegaslah Pandita Durna dengan mengajak serta Mahapatih Sengkuni untuk menemui Prabu Minangkuda.
"Ayoh adik Patih kita melancong ke Negeri Pasir Angin...!" Ajak Pandita Durna kepada rekannya, si Pejabat Julig Sengkuni.
Sementara itu, sebenarnya semua kejadian ini dimonitor Ontoseno. Hanya karena pesan Sanghyang Kanekaputera agar Ontoseno tidak muncul dia patuhi.
Maka begitu Durna dan Sengkuni berangkat menuju Negara Pasir Angin, Ontoseno mengikutinya tanpa mereka sadari. Karena Ontoseno punya ilmu bunglon. Dia dapat nenyamar apa saja tanpa diketahui.
Dia ikut karena penasaran, siapa sebenarnya Prabu Minangkuda ini. Sehingga dianggap bisa mengalahkan Prabu Rengganis Sura.
Sesungguhnya Ontoseno sangat simpatik dengan Rengganis Sura. Karena akibat tindakannya, Prabu Duryudana kabur tunggal langgang meninggalkan istananya.
Kalau saja tidak dilarang Sanghyang Kanekaputera Ontoseno sudah menemui Rengganis Sura untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya membuat seluruh pejabat korup Hastinapura kabur.
__ADS_1
Dan Ontoseno lebih kagum lagi, ternyata Prabu Rengganis Sura tidak benar-benar ingin menguasai tahta Hastinapura. Justeru dia mau menyerahkan tahta itu kepada yang lebih berhak.
Untuk menguji siapa sebenarnya yang paling berhak atas tahta tersebut. Setiap orang boleh mencoba duduk di kursi gading tahta kerajaan. Jika dia kuat dan tidak terkena kualat apa-apa. Berarti dialah yang paling berhak.
Dan mereka yang coba-coba bisa berbahaya. Jika ada orang sembarang duduk di kursi gading tersebut. Dia bisa seketika lumpuh bahkan bisa muntah darah dan tewas.
Bahkan Duryudana sendiri selama jadi Raja Hastinapura, dia tidak pernah duduk di kursi gading tersebut. Sebab dia sadar, bahwa kursi empuk yang diduduki ini bukan haknya. Tetapi milik Pandawa.
Karena jika Duryudana nekad duduk di kursi tersebut bisa saja modar seketika. Karenanya dia cukup duduk di kursi atau singgasana duplikat. Kursi gading tiruan.
Selain itu Hastinapura punya Gajah yang sangat istimewa dan sakti. Gajah yang bernama Antisura tersebut tahu siapa orangnya yang pantas duduk di singgasana keprabon.
Dan Antisura ini malah yang akan menggendong dan mendudukan orang tersebut di kursi gading itu. Karena itu Ontoseno jadi semakin tertarik untuk melihat dan mengetahui akhir cerita ini.
Maka dengan sabar Ontoseno bersembunyi untuk tidak ikut campur sebagai terungkapnya misteri ini.
Singkat cerita, sampailah Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni di Negara Pasir Angin. Negara ini negara kecil. Dan terkesan sebagai negara yang baru lahir.
Karena itu alat perlengkapan sebagai sebuah negara juga minim. Gedung utama kerajaan memang cukup lumayan megah. Tetapi tidak nampak perangkat atau pejabat kerajaan.
Karena itu memudahkan Pandita Durna untuk menemui Prabu Minangkuda. Dan apa yang dikatakan Batari Durga jadi kenyataan. Sebelum Pandita Durna atau Patih Sengkuni memperkenalkan diri, Prabu Minangkuda sudah menyapa lebih dahulu.
"Wah...wah...Alhamdullah Bapak Pandita yang saya mulyakan hadir disini. Selamat siang Bapak Pandita. Selamat siang... mungkin yang ini Yang Terhormat Bapak Sengkuni...!?" Sapa Prabu Minangkuda.
"Ohw iya Anak Prabu...terimakasih sekali kok anak Prabu sudah mengenal kami ya!?" Jawab Pandita Durna sembari tersenyum bangga.
__ADS_1
Minangkuda tidak menjawab, tetapi malah mengajak Durna untuk melihat patungnya yang dipajang di istana disembah dan diberi sesaji.
"Jadi tidak usah heran Bapak Pandita. Nama Bapak sangat terkenal dimana-mana sebagai Pandita ahli memanah yang tiada duanya di dunia..!" Ujar Minangkuda memuji Durna setinggi langit, yang membuat kepala Durna membesar.