
Perlu diketahui, bahwa dalam keadaan biasa Ki Lurah Semar atau Bodronoyo atau nama yang lain dalam keadaan biasa sebagai Punakawan Pandawa atau Batur kependekan dari istilah "pangembating catur". Artinya Punakawan atau Batur adalah teman bicara juga teman diskusi yang punya tugas tidak sekedar sebagai teman bicara. Tetapi jika perlu dia bisa memberikan saran, mengingatkan jika temannya berbuat di luar jalur.
Namun posisi Semar tatkala Perang Bharatayudha berubah. Dia lebih sering menunjukan jati dirinya sebagai Sanghyang Ismaya. Sehingga para Pandawa dan para sesepuh seperti Prabu Maswapati juga Prabu Sri Kresna dan lainnya memanggilnya dengan sebutan Eyang Pukulun (sebutan penghormatan bagi para dewa). Dan mereka harus berlaku sopan dan bertatakrama dengan Sanghyang Ismaya.
Di pihak Pandawa ada dua dewa yang ikut mengatur jalannya Perang Bharatayudha. Yakni Sanghyang Ismaya atau Ki Lurah Semar yang dikenal sebagai dewa kebahagiaan. Dan Batara Wisnu yang berujud Prabu Sri Kresna sebagai dewa penjaga kedamaian.
Mereka jelas berpihak kepada Pandawa karena keberadaan Para Kurawa dan sekutunya adalah orang-orang perusak kebahagiaan, pembuat ketidaknyamanan dan perusak kedamaian. Jadi yang jelas pihak Kurawa dan sekutunya adalah sesuatu yang musti dimusnahkan. Dan Pandawa adalah alat yang dipakai mereka untuk melakukan pemusnahan tersebut.
Maka jadilah mereka pasangan yang ideal untuk menciptakan ketentraman, kebahagiaan, dan kenyamanan dunia.
***
Kembali kita tengok perjalanan pasukan khusus dari Dandangmangore yang dipimpin kwartet Senopati Sadomiya, Senopati Radomiya, Senapati Tektekplung dan Senopati Rikma Cepak.
Karena pasukan ini adalah pasukan demit, makhluk halus maka dapat dibayangkan betapa cepatnya gerakan mereka.
"Heiii... kawan-kawan kita sudah sampai di tlatah Wirata. Tolong tingkatkan kewaspadaan. Jika terlihat seseorang dan orang tersebut dianggap dapat menghalangi operasi kita. Jangan ragu sikat saja..!!!" Ujar Sadomiya memberi perintah kepada pasukannya.
Pasukan Sadomiya memang sengaja memilih jalan udara. Perintah yang sama juga diberikan Radomiya kepada anak buahnya. Meskipun mereka lewat darat, tetapi mereka pun memiliki kecepatan yang sulit diukur.
Meskipun Ontoseno belum melihat pergerakan mereka, tetapi secara naluri dia merasakan bahwa malam ini pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena itu Ontoseno segera memWA Wisanggeni. Dan secara kebetulan Wisanggeni juga merasakan hal yang sama.
"Perasan kita sama Kakang. Kayaknya akan ada musuh yang datang lagi...!!" Balas Wisanggeni melalui WA kepada Ontoseno. Selain itu, Wisanggeni pun menyampaikan perasaannya kepada Gatutkaca yang ikut menemaninya.
Bahkan Abimanyu yang mendampingi Ontoseno malah sudah menghunus Keris Pulanggeni. Keris ini punya daya magis luar biasa. Selain menebarkan hawa panas. Keris ini juga dikenal ampuh luar biasa dan ditakuti bangsanya makhluk halus.
__ADS_1
"Kakang Ontoseno. Meskipun saya belum melihat. Tetapi aura musuh sudah sangat terasa. Paling sebentar lagi bakal muncul..!!!" Ujar Abimanyu kepada Ontoseno.
Benar juga perkiraan Abimanyu. Baru saja dia selesai berujar muncul dari keremangan wajah-wajah menyeramkan dan mereka tanpa basa-basi langsung menyerang Abimanyu.
"Kakang Ontoseno bersiaplah. Ini mereka datang dan langsung menyerangku..!" Ujar Abimanyu berteriak ke arah Ontoseno.
Ternyata Ontoseno pun langsung diserang.
"Kurang ajar... kalian setan-setan begundalnya Durga yah... baik... baik kuhabisi kalian..!" Ujar Ontoseno yang langsung membalas serangan mereka tanpa ragu-ragu.
Ternyata hampir berbarengan, Wisanggeni dan Gatutkaca juga mendapat serangan pasukan dedemit Senopati Sadomiya dan Senopati Rikma Cepak.
Persis seperti terhadap Abimanyu dan Ontoseno. Pasukan demit ini tanpa basa basi langsung menyerangnya. Untung yang mereka serang Wisanggeni dan Gatutkaca, sehingga serangan-serangan mereka bisa dimentahkan.
Ajian Narantaka adalah ajian yang luar. Ajian ini membuat orang kebal terhadap segala macam gigitan. Juga membuat pemiliknya memiliki kekuatan di luar nalar.
Ini telah dibuktikan oleh Sang Resi Mayangkara atau Raden Hanoman, guru dari Gatutkaca. Semasa muda, ketika menjadi Senopati Pancawati. Saat perang Alengkadireja melawan Pancawati. Hanuman muda dikeroyok ratusan raksasa. Dia digigit dan dihajar berbagai senjata. Tidak apa-apa. Bahkan Ajian Narantaka berhasil membunuh ratusan raksasa dari Alengka.
Sedang Ajian Ismugunting itu sejatinya milik Brajamusti, Paman dari Gatutkaca. Berhubung Brajamusti manunggal (menyatu) dengan Gatutkaca. Secara otomatis ajian tersebut jadi punya Gatutkaca.
Kelebihan Ajian Ismugunting dapat mengubah tangan dan kaki pemiliknya seperti gunting dan tajamnya tujuh kali pisau cukur. Maka dapat dibayangkan bila terkena guntingan tangan maupun kaki Gatutkaca dipastikan dia akan terpotong.
Maka dapat dibayangkan betapa morat-maritnya pasukan Senopati Sadomiya dan Senopati Rikma Cepak diamuk Gatutkaca.
Para demit tersebut pontang panting menjerit-jerit kesakitan. Dan banyak diantara mereka yang melarikan diri.
__ADS_1
Karena itu, melihat anak buahnya sebagian kabur. Senopati Rikma Cepak pun marah. Dia segera menyerang Gatutkaca.
"Hayooo... akulah lawanmu. Siapa kamu sebutkan namamu..!?" Bentak Rikma Cepak kepada Gatutkaca.
Melihat anak buahnya morat-marit Rikma Cepak langsung mengeluarkan ilmu andalannya. Matanya lebar besar seperti telor tiba-tiba berubah semacam sokle.
Dari matanya itu keluar sinar laser berwarna putih kebiru-biruan. Apapun yang terkena laser itu langsung terbakar hangus. Bahkan batu yang terkena laser itu pun remuk.
Melihat itu Gatutkaca ralatif hati-hati. Padahal Gatutkaca pun punya senjata yang disebut topeng perunggu. Topeng ini pun jika dipakai matanya keluar sinar laser yang sanggup membakar apapun. Tetapi Gatutkaca sengaja tidak menggunakannya.
Saat Gatutkaca masih memikirkan bagaimana caranya melawan kedigdayaan Rikma Cepak. Tiba- tiba raksasa berwajah seperti orang Afrika tetapi berhidung pesek menjerit mengeluarkan suara pilu yang bisa membuat gendang telinga pecah.
Gatutkaca semakin bingung. Melihat semua ini dan tidak ingin ini menjadi berlarut-larut Wisanggeni segera menyerang Rikma Cepak dengan Gada Intan.
Dan sekali pukul tepat kena kepalanya Rikma Cepat langsung hancur menjadi debu. Sadomiya melihat kejadian ini bergidik. Dia ngeri melihat keampuhan Gada Intan. Karena itu Sadomiya berusaha kabur. Sayang, kali ini Wisanggeni tidak memberi ampun. Sadomiya langsung diserampang Gada Intan. Juga hancur lebur tanpa sisa.
Melihat pimpinannya musnah atau hancur berkeping-keping. Semua anak buah Sadomiya dan Rikma Cepak kabur kembali ke Dandangmangore.
Melihat musuhnya sudah bersih, Wisanggeni mengajak Gatutkaca untuk melihat keadaan Ontoseno dan Abimanyu. Ternyata keduanya tengah bertarung sengit.
Ontoseno bertarung melawan Radomiya sedangkan Abimanyu melawan Tektekplung. Wisanggeni melihat, jika dia tidak segera turun tangan pertarungan bisa berlangsung cukup lama.
Ontoseno diyakini bakal menang lawan Radomiya. Demikian pun Abimanyu pasti dapat mengalahkan Tektekplung. Tetapi itu butuh waktu. Maka untuk mempersingkat waktu Wisanggeni segera turun tangan.
"Maaf Kakang Ontoseno dan Kakang Abimanyu... aku terpaksa ikut campur agar tidak bertela-tele karena pekerjaan masih cukup banyak..!!!" Seraya berucap demikian, Wisanggeni melabrak Radomiya dan Tektekplung dengan Gada Intan. Sehingga keduanya pun hancur lebur seperti rekannya terdahulu.
__ADS_1