
Sejak dihukum di Hutan Kamiaka selama dua belas tahun. Kemudian melakukan penyamaran setahun di Negara Wirata. Waktunya buat Pandawa sudah hampir selesai.
Pandawa dihukum akibat Pandawa mengikuti ajakan Prabu Duryudana dan Mahapatih paling Julig Sengkuni. Prabu Puntadewa seorang raja Negara Amarta atau Indraprasta, dan merupakan putra sulung Pandawa ini terkenal sangat bijaksana, jujur dan rendah hati serta sabar luar biasa.
Namun sifat baik yang sangat luar biasa, sampai pun darahnya disebut berdarah putih saking bersihnya. Sehingga karena jiwanya sangat bersih, Prabu Puntadewa punya Kharimah jika naik kereta rodanya tidak menempel di tanah. Roda kereta melayang kira-kira sejengkal dari tanah.
Hanya satu kelemahan Prabu Puntadewa yakni gemar bermain dadu. Dia dikenal sangat mahir bermain dadu. Hanya dia punya kelemahan bahwa yang namanya judi, termasuk judi dadu, harus bisa bermain nakal, tidak jujur dan licik baru bisa tidak terkalahkan.
Duryudana dan Sengkuni tahu tentang kelemahan. Meskipun Puntadewa piawai bermain judi dadu. Tetapi dia jujur, bersih dan tidak bisa licik. Ini tentu kesempatan buat Duryudana dan Sengkuni ngerjain Puntadewa.
Puntadewa ditantang main dadu dan karena hoby dan sangat mahir menerima tantangan Duryudana dan Sengkuni. Sengkuni yang sangat licik di awal-awal permainan membiarkan Puntadewa selalu menang.
Raja Amarta yang kelewat jujur menganggap Duryudana dan Sengkuni seperti dirinya. Jujur, bersih dan tidak licik maka begitu nilai taruhan ditingkatkan Puntadewa tidak menaruh kecurigaan sedikit pun bahwa bakal dicurangi.
Taruhan terbesar mereka adalah jika Puntadewa kalah maka Negara Amarta atau Indraprasta berikut isi dan negara jajahannya menjadi milik Duryudana. Sebaliknya jika Duryudana kalah Negara Hastinapura berikut seisinya serta jajahannya menjadi milik Pandawa.
Dan bagi mereka yang kalah harus menjalani hukuman dibuang di Hutan Kamiaka selama dua belas tahun dan setahun harus melakukan penyamaran dalam suatu negara. Bila penyamaran mereka terungkap atau diketahui pihak lawan maka hukuman itu di ulang kembali.
Sekarang Pandawa sedang melakukan penyamaran di Negara Wirata selama setahun. Dan saat ini waktu penyamaran tinggal beberapa hari lagi. Namun disaat-saat menentukan ini Wirata sedang menghadapi serangan dari Negara Hastinapura berikut koalisinya.
Selama ini Hastina tidak berani menyerang Wirata, karena ada Patih Kincaka yang sangat sakti dan ditakuti. Setelah kematian misterius Patih Kincaka, juga terbunuhnya Senopati Rajamala. Wirata ringkih tidak mempunyai kekuatan yang bisa diandalkan. Sehingga negara-negara yang memang sudah mengincarnya menggunakan kesempatan ini untuk menyerangnya.
Maka bisa dibayangkan kalangkabutnya Raja Wirata Prabu Maswapati menghadapi persoalan ini.
__ADS_1
Saat ini Wirata hanya mengandalkan tiga putera Maswapati yakni Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wiratsangka serta Patih Nirbito.
Prabu Maswapati belum sadar, jika disitu ada Pandawa, yakni Puntadewa yang menyamar sebagai juru taman dan bernama Widyakangka. Brotoseno menyamar sebagai pangon atau gembala dan tukang potong sapi atau kerbau bernama Jagalbilawa.
Hardjuna atau Djanoko menyamar jadi bencong sebagai guru tari istana bernama Wrihatnala. Nakula dan Sadewa menyamar sebagai tukang pencari rumput bernama Pingsen dan Tangsen.
Prabu Maswapati, masa mudanya bernama Durgandana. Karena sebagai putera Mahkota Durgandana berwatak berangasan dan sombong. Setelah tua dan menjadi Raja, Prabu Maswapati masih memiliki sifat semacam itu. Dia kelewat pede dan menganggap anak-anaknya bisa diandalkan untuk menghadapi ancaman tersebut.
Padahal Raden Seta putera sulungnya ini cuma sibuk bertapa dan mengasingkan diri. Jarang bergaul dan otomatis jarang bertempur.
Demikian pula Raden Utara karena merasa menjadi puteranya Raja dia malas olah raga, malas latihan beladiri. Hidupnya hanya mengandalkan posisi orang tua.
Demikian pula halnya Raden Wiratsangka, tidak berbeda jauh dari kakaknya. Maka begitu menghadapi serangan Hastinapura dan koalisinya panik.
Prabu Maswapati yang tidak bisa melihat gelagat, dia memerintahkan anaknya Raden Utara untuk menahan gempuran pasukan Hastinapura yang dipimpin tiga orang hebat. Yaitu Resi Bisma, Pandita Durna dan Adipati Karno dari Awangga.
"Kamu majulah Utaraku puteraku yang gagah pilih tanding. Singkirkan balatentara Kurawa...!!!" Perintah Prabu Maswapati kepada Raden Utara.
Pada saat itulah Widyakangka atau Puntadewa memberi isyarat kepada Wrihatnala alias Djanoko agar membeckup Utara tetapi tanpa diketahui Prabu Maswapati.
Raden Utara yang mendapat perintah dari Bapaknya meskipun dimulut mengiyakan. Tetapi hatinya takut sekali sampai dia ngompol di celana. Djanoko yang melihat kejadian itu tersenyum kecut.
"Ayok, Raden semangat...!!!" Ujar Wrihatnala kepada Utara.
__ADS_1
"Kamu tahu apa Bencong..!? Kerjamu cuma jogedan..ini perang dan musuh kita orang-orang hebat. Bisa modar kita..!!!" Hardik Raden Utara kepada Wrihatnala.
"Tetapi Raden harus ingat...Raden adalah anak Raja besar. Jika Anda ketakutan seperti ini bisa membuat malu Bapakmu lho Raden...!!!" Terang Wrihatnala yang melihat Raden Utara masih bengong belum ada rencana untuk menghadapi musuh.
"Kamu tidak tahu siapa itu Resi Bisma.. sehingga kamu ngomong begitu. Kamu juga pasti tidak kenal siapa Pandita Durna...dia jago panah yang sakti. Kamu juga belum tahu kan siapa Adipati Karno itu...!?" Ejek Raden Utara kepada Wrihatnala, yang membuat Djanoko menjadi emosi.
"Aku tidak boleh mendiamkan. Anak Raja kok bermental seperti ini..!" Ujar Wrihatnala dalam hati.
Sampai akhirnya dengan tegas Wrihatnala mengatakan, "Raden maaf...Jika kamu takut akulah yang akan maju perang menghadapi mereka. Aku tidak takut kepada mereka. Raden harus jadi kusir keretaku...!" Ujar Wrihatnala keras kepada Raden Utara.
Merasa dirinya putera Raja dan dihardik sedemikian rupa oleh guru tari Wrihatnala. Raden Utara marah langsung melayangkan tinjunya ke wajah Wrihatnala.
Tetapi dengan cekatan Wrihatnala menangkap tangan Utara kemudian dia telikung. Setelah terjatuh, Raden Utara diringkus dan didudukan di kursi kusir.
"Sekarang Raden harus jadi kusir saya. Saya akan hadapi mereka. Tetapi tolong kita ke pohon besar itu dulu. Aku mau mengambil senjataku buat melawan mereka...!" Perintah Wrihatnala dan kali ini Raden Utara hanya diam. Dia masih bingung dengan keadaan yang terjadi. Betapa mudahnya Wrihatnala meringkus dirinya. Dia mulai bimbang siapa sebenarnya Wrihatnala ini.
"Dia benar-benar hebat.. aku diringkusnya sedemikian rupa..!" Ujar Raden Utara dalam hati. Karena takut dan segan Raden Utara mengikuti semua perintah Wrihatnala, termasuk ketika disuruh naik mengambil busur dan panah miliknya yang disimpan di pohon besar.
Dan begitu Raden Utara tahu bahwa yang dia ambilkan dan punya Wrihatnala adalah pusaka-pusaka ampuh milik Raden Djanoko. Akhirnya Raden Utara bertanya, "Siapakah dirimu sesungguhnya Wrihatnala..!?"
"Maaf Kakek Utara... saya sesungguhnya Djanoko ya Hardjuna, Kek. Hanya karena untuk memenuhi hukuman menyamar setahun lamanya. Maka saya mengaku sebagai Wrihatnala...dan kepada Kakek Utara masalah ini mohon dirahasiakan sampai masa hukuman kami habis..!" Ungkap Djanoko.
Bagitu tahu anak muda dihadapannya adalah Raden Djanoko, Utara langsung merangkulnya. Dia sangat senang sekali dan timbul rasa optimis yang luar biasa, pasukan Kurawa bisa dikalahkan.
__ADS_1
"Setelah tahu siapa saya. Ayo Kek hadapi pasukan Kurawa dan koalisinya,...!!!" Ujar Djanoko, dan tanpa nunggu perintah , Raden Utara langsung menyerbu kearah pasukan koalisi.