Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
26. Pencarian Jodoh Ontoseno


__ADS_3

Brotoseno alias Werkudoro, alias Bima Sena mengamati dengan seksama puteranya Ontoseno. Fisiknya, Ontoseno sudah menjadi pria dewasa. Umurnya, sudah lebih dua puluh dua tahun.


"Wahai Ontoseno...kulihat kamu sudah menjadi lelaki dewasa. Secara fisik kamu tinggi besar. Umur sudah lebih dua puluh dua tahun. Tetapi kenapa kamu menolak saat ditawari bidadari oleh Sanghyang Jagad Nata!? Mengapa aku ingin tahu anakku...?" Ujar Brotoseno suatu pagi kepada Ontoseno.


Terus terang Brotoseno bingung dan tidak mengerti, mengapa anaknya menolak saat ditawari bidadari. Padahal kecantikan bidadari sangat luar biasa. Sulit wanita cantik di dunia menandingi kecantikan bidadari.


Mendapat pertanyaan tidak terduga dari ayahnya, Ontoseno hanya senyum-senyum.


"Ayoh jawab pertanyaan ku...kok malah ketawa-ketiwi..!" Brotoseno mendesak puteranya untuk menjawab pertanyaannya.


"Terus terang Pak. Aku masih seneng melajang. Kemana saja bebas. Tidak ada yang melarang. Jadi kutolak bidadari-bidadari cantik itu. Suatu saat kalau aku sudah berniat nikah. Pasti mau Pak..?' jelas Ontoseno.


"Tetapi kamu sudah dewasa lho. Sudah seharusnya kamu nikah. Agar kamu masih sehat dan kuat saat anak-anakmu besar dan membutuhkan biaya banyak. Ayoh cari cewek...atau Bapakmu ini yang akan mencarikan cewek untukmu ya..!?" Ujar Brotoseno lagi.


Ontoseno diam dan masih tetap senyum menanggapi ucapan Brotoseno yang bersedia mencarikan Ontoseno cewek.


"Bapakmu akan mencarikan cewek untukmu yang cantiknya melebihi cantiknya bidadari. Kamu mau..!?" Brotoseno masih tetap mengulang pertanyaannya dan Ontoseno tetap senyum.


"Ah Bapak ada-ada saja...saya masih seneng kluyuran...main sama teman-teman. Sungguh deh Pak aku masih belum niat nikah..!" Ontoseno tetap dengan pendiriannya.


Sebaliknya Brotoseno pun bersikeras dengan keinginannya. "Anak bandel..aku sudah punya cewek pilihan yang aku yakin tidak mengecewakanmu. Kamu lihatkan kemarin, kakakmu Poncowolo menikah...dan dia kegirangan bukan main. Apakah kamu gak ngiri..!" Kejar Brotoseno, tetapi Ontoseno tetap mengatakan ogah.


Tanpa sepengetahuan Ontoseno, sebenernya Brotoseno telah menemui Djanoko. Djanoko punya isteri banyak dan anaknya juga banyak.


Selain Dewi Pergiwati yang baru saja dipersunting Poncowolo, Djanoko masih punya stok anak gadis banyak. Dan rata-rata anak gadisnya cantik-cantik tidak kalah dengan bidadari.

__ADS_1


Sebab selain Djanoko terkenal sebagai seorang lelaki yang sangat tampan. Para isterinya juga banyak dari kalangan bidadari. Jadi bisa dibayangkan, anaknya pasti cantik-cantik.


Dan Brotoseno tertarik kepada Dewi Djanokowati, anak gadis Djanoko. Lantaran gadis itu cantik sekali. Juga dia terlihat mandiri cekatan dan sangat supel. Pokoknya Djanokowati punya kriteria seorang wanita yang menjadi idaman Brotoseno.


Dulu Brotoseno menikahi Dewi Arimbi, anaknya Prabu Tremboko, Raja dari negara Pringgondani lantaran gadis Arimbi adalah gadis yang sangat cekatan dan simpati.


Karuan saja Brotoseno melihat tampilan Djanokowati dia jadi kesengsem dan ingin sekali menjadikan menantunya. Dan secara spontan waktu itu Brotoseno menyampaikannya kepada Djanoko. Bahwa dia ingin besanan dengan Pangeran Djanoko.


Pangeran Djanoko pun dengan sangat terbuka menerima pinangan spontan seperti itu dengan Brotoseno. Ada beberapa alasan yang mendasari Brotoseno ingin menjadikan Djanokowati sebagi menantunya.


Alasan pertama ya tadi, karena Djanokowati punya sifat-sifat seperti yang sudah disebutkan di atas. Dan yang kedua adalah untuk menyambung tali silaturahmi antara keluarga Brotoseno dan Djanoko agar tidak terputus persaudaraannya.


Seperti diketahui bahwa Brotoseno adalah orang nomor dua dari keluarga Pandawa yang berjumlah lima orang. Paling sulung adalah Puntadewa yang menjadi Raja Amarta.


Anak kedua adalah Brotoseno alias Werkudoro. Anak ketiga adalah Djanoko alias Harjuna alias Permadi. Anak keempat dan kelima yaitu anak kembar dan bernama Nakula -Sadewa alias Pingsen-Tangsen.


Setelah beberapa saat keduanya diam dan bergulat dengan pikirannya masing-masing Brotoseno kembali memulai perbincangannya dengan anaknya, Ontoseno.


"Bagaimana kalau bojomu yang Carikan Bapak...!?" Brotoseno masih mencoba membujuk.


"Mohon maaf Pak..sudah aku katakan...aku belum mau nikah Pak..!" Tegas Ontoseno.


"Awas kamu...kalau sikapmu seperti itu..kamu bisa jadi bujang lapuk tahu...!?" Ancam Brotoseno.


"Tidak apa Pak. Tho yang menjalani aku..bukan. Bapak..!!!"

__ADS_1


"Benar kamu yang melakoni tetapi aku kan Bapakmu. Kalau kamu sampe menjadi bujang tua...aku ikut malu...!" Brotoseno ngotot tidak mau ngalah.


"Lagian cewek itu siapa sih? Aku belum mengenalnya. Belum mengetahuinya. Mosok disuruh nikah....ya nek cocok...ya nek bener-bener cantik. Jika ternyata dia jelek dan aku tidak cocok. Apa ini tidak namanya pelanggaran HAM Pak..!?" Ontoseno beralibi.


"Kalau kamu mau tahu..dia adalah putrinya Pamanmu Djanoko. Dia gadis sangat cantik. Namanya Djanokowati..!" Jelas Werkudoro alias Brotoseno.


Sesaat Ontoseno diam dan dia kembali mengatakan,


"Aku belum kenal Pak. Aku belum mengetahuinya. Jadi perlu kenalan dulu. Pendekatan. Baru bicara pernikahan kalau cocok..!" Ujar Ontoseno.


"Ya terserah kamu bagaimana mengaturnya... tetapi aku pastikan. Kamu harus jadi suaminya Djanokowati...!" Tegas Brotoseno sambil berlalu meninggalkan Ontoseno yang terus bergumam tidak jelas.


...**...


Sementara itu jauh, di Kerajaan Hastina, putra mahkota Raden Lesmana Mandrakumara setelah gagal menikahi Pergiwati, sekarang justeru tengah kasmaran dengan adiknya Pergiwati, yakni Djanokowati.


Lesmana betul-betul tergila-gila dengan Djanokowati. Sampe gardu ronda pun dirayu karena dimatanya adalah Djanokowati. Bahkan Pandita Durna yang berusaha merukyah dan menyembur Lesmana agar tidak degleng (kentir) malahan ditubruk karena dianggap Djanokowati.


Lebih parah lagi nasib Mahapatih Hastina, yakni Haryo Suman atau yang lebih beken disebut Sengkuni. Mahapatih yang berusaha mereda kegilaan Lesmana, justeru dia ditubruk si bujang tua tersebut.


Tidak hanya ditubruk, Sengkuni juga diciumi habis-habisan sehingga megap-megap minta tolong. Tidak hanya sampai disitu Sengkuni yang dalan pandangan Lesmana adalah Djanokowati dilucuti pakaiannya sampe telanjang bulat. Dan jadi tontonan orang-orang.


Entah jadi apa nasib Sengkuni, Jika Pandita Durna tidak segera menolongnya. Pandita Durna yang dibantu Aswatama, anak Durna, berhasil memegang dan mengikat Lesmana, sehingga Sengkuni bisa lepas dari upaya pemerkosaan yang dilakukan Lesmana Mandrakumara.


Perbuatan Lesmana benar-benar membuat keluarga istana geger. Betapapun Lesmana adalah putra mahkota, perbuatannya yang diluar adat dan nalar manusia lumrah menjadi perbincangan ramai di istana.

__ADS_1


Kisah upaya perkosaan tidak hanya terjadi kepada Sengkuni, bahkan penjual sarapan pagi yang biasa keliling di sekitar istana. Mengaku dikejar dan dibekap Lesmana. Tidak hanya itu kainnya dilucuti dan diperkosa dipinggir jalan dan jadi tontonan orang.


Berita tidak sedap ini menjadi alasan ayahnya Raja Hastina yakni Prabu Duryudana mengundang para sesepuh dan para pejabat penting di lingkungan istana untuk menghadiri rapat darurat.


__ADS_2