
"Kalau kulihat dari bendera yang mereka bawa, kayaknya dari Trajutisna...!" Tambah Punakawan Petruk.
Prabu Sri Kresna yang masih ada disitu segera minta Brotoseno untuk menggebah para penyerbu itu.
"Adikku Brotoseno..ini tugasmu untuk mengenyahkan pasukan Trajutisna. Memang Boma dasar tolol diapa-apakan ya tetap tolol..!" Ujar Prabu Sri Kresna begitu mengetahui bahwa pasukan raksasa yang menyerbu dari Trajutisna.
Brotoseno segera mencari panglima perangnya, yakni Patih Pantjatnyono. Dan tanpa sungkan lagi Brotoseno langsung menerjang Patih Raksasa itu.
Sudah beberapa kali sebenarnya Brotoseno berkelahi dengan Pantjatnyono. Dan selalu Brotoseno lah yang ungggul.
"Kamu gak ada kapok-kapoknya sih Pantjatnyono..!? Aku biarkan kamu hidup agar mau bertobat...eh lagi-lagi kamu bikin masalah..!" Ujar Brotoseno kepada Pantjatnyono.
"Benar...tetapi itu dulu. Sekarang aku punya ilmu baru. Kamu belum merasakan ya ? Nah inilah kamu terima ilmu baruku..!" Balas Pantjatnyono sambil menyerang dengan pukulan api.
Telapak tangan Pantjatnyono menyala dan mengeluarkan api. Dengan pukulan api itu, Pantjatnyono menyerang kepala Brotoseno. Tetapi dengan entengnya Brotoseno menangkis serangan itu dengan tendangan angin ****** beliung.
Tenaga tendangan tentu lebih kuat dari pukulan. Apalagi tendangan angin ****** beliung selain angin salju juga menebarkan tenaga yang luar biasa. Tak urung Pantjatnyono terdorong ke belakang.
"Hayoohh mana ilmumu yang kamu banggakan Pantjatnyono..!?" Ejek Brotoseno.
Pantjatnyono tidak menjawab ejekan Brotoseno. Sebab dia masih meringis kesakitan akibat tangannya kena tendangan ****** beliung dari Brotoseno.
Pantjatnyono tidak menjawab, tetapi dia malah melakukan serangan dengan guntingan kaki. Serangan itu berhasil dihindari Brotoseno dengan meloncat. Gantian Brotoseno membalas serangan Pantjatnyono dengan pukulan.
"prookk !!!"
Pukulan itu tepat bersarang di rahang sebelah kanan Pantjatnyono. Saking kerasnya pukulan itu, Pantjatnyono terjengkang ke belakang.
Melihat keadaan Pantjatnyono seperti itu Brotoseno bermaksud menghabisi Pantjatnyono. Tetapi Prabu Sri Kresna yang melihat Patih anaknya dalam keadaan berbahaya. Segera dia mencegah Brotoseno.
"Sudahlah adikku Werkudara....ampuni Pantjatnyono. Dan kamu Pantjatnyono sana pulang ke Trajutisna...tarik semua pasukanmu. Kalau tidak kalian bisa dihabisi disini..!"ujar Prabu Sri Kresna.
__ADS_1
Sadar bahwa dirinya telah diselamatkan Prabu Sri Kresna. Pantjatnyono segera memberi aba-aba kepada pasukannya agar kembali ke Trajutisna.
Setelah Pantjatnyono kabur, barulah Brotoseno dan Prabu Sri Kresna mengajak anak-anak mereka kembali ke Amarta atau Indraprasta.
"Anak-anakku kabeh, Pancawala, Ontoseno, Gatutkaca, Antareja, Abimanyu, Irawan dan semua saja. Ingat-ingat ini kata Pakdemu.
Bahwa pada waktunya nanti, dan saat itu dipastikan akan datang, Negara Hastina akan kembali ke tangan Pandawa. Sebab itu sudah menjadi kodrat yang tidak bisa dilawan oleh siapapun.
Karena itu yang sudah terjadi ya sudahilah. Kita kembalikan kepada Hyang Maha Kuasa.
Bahwa Hyang menciptakan bumi seisinya telah membuat kepastian. Bahwa suatu saat akan terjadi perang besar yaitu Perang Bharatayudha.
Perang Bharatayudha itu sudah dipastikan. Karena perang besar itu adalah sebagai sarana Hyang Maha Tunggal membersihkan bumi dari Angkara murka.
Baratayudha adalah pembersihan habis-habisan segala bentuk kejahatan dari muka bumi.
Seperti kita ketahui anak-anakku. Kurawa adalah wakil dari Angkara murka dan kejahatan. Pandawa adalah utusan kebaikan.
Di Perang Baratayudha segala bentuk hutang akan dibayar. "SOPO NANDUR BAKAL NGUNDUH". Jadi mereka yang berbuat baik, hari itu akan dibalas kebaikannya. Dan siapa berbuat jahat juga akan dibalas setimpal dengan perbuatannya.
Nah di Perang Baratayudha itulah semuanya dituntaskan. Dibayar kontan..paham..!" Papar Prabu Sri Kresna kepada para anak-anak Pandawa.
Prabu Sri Krisna yang titisan Batara Wisnu masih terus membeberkan bab perang Baratayudha.
"Karena itu anakku Ontoseno dan semua anakku para putera Pandawa. Aku larang kalian minta paksa Kerajaan Hastinapura.
Sebab kalau hal itu dibiarkan Perang Baratayudha batal. Sebab Hastinapura tanpa Baratayudha sudah berhasil diambil kembali.
Berarti ketetapan atau janji dewa batal iya kan...!? Ini tidak boleh terjadi karena yang kalian lakukan sudah bikin berantakan kodrat irodatnya Hyang Pencipta Makhluk.
Pembersihan makhluk-makhluk jahat secara periodik terus dilakukan oleh Hyang Maha Kuasa.
__ADS_1
Contohnya Allah Subhanahuwata'ala pernah memusnahkan sebagian besar umat Nabi Nuh Alaihi Salam dengan mendatangkan banjir yang sangat dahsyat.
Juga memusnahkan umat Nabi HUD AS yang jahat. Umat Nabi Luth AS umat-umat yang telah berbuat melampaui ketentuan Allah.
Di jagad wayang pun Hyang Maha Kuasa atau dewa yang paling agung dan berkuasa menjatuhkan sangsi yang sama.
Misalnya perang Alengka-Pancawati, yaitu perangnya antara Raja Angkara Prabu Rahwana melawan Raja para ksatria yang berbudi luhur, yaitu Prabu Ramawijaya.
Akibat perang itu, seluruh bala tentara dan para Senopati Alengka tewas, termasuk Rahwana. Negara Alengka pun musnah.
Dan masih banyak perang-perang lain yang kisahnya hampir sama.
Memusnahkan kejahatan dari bumi Pertiwi. Jadi semua ini untuk pembelajaran buat kalian.. dan bisa menjadi bahan renungan bersama...!" Jelas Prabu Sri Kresna.
Merasa sudah cukup memberi wewarah kepada kaum millenial, Prabu Sri Kresna mengajak semuanya kembali ke Amarta.
Akan halnya Negara Hastinapura dititipkan kepada Raja Mandura, Prabu Baladewa sambil menunggu kedatangan Prabu Duryudana kembali dari pengungsian.
Begitu mendengar Ontoseno kembali ke Amarta dan Kerajaan Hastina dititipkan kepada Prabu Baladewa. Prabu Duryudana segera menghubungi Maha patih Sengkuni.
"Paman Sengkuni.. tolong segera para Kurawa agar segera merapat. Dan kita kembali ke Hastinapura sekarang juga. Tak lupa tolong sampaikan kepada Anak Prabu Suteja Bomanarakasura terima kasihnya. Telah menampung dan membela kami..!" Ujar Duryudana kepada Sengkuni.
Karena jaman teknologi canggih, maka secepat itu pula berita bahwa agar para kurawa segera konsolidasi.. menyebar luas.
Begitu pun Duryudana yang sudah agak lama meninggalkan singgasananya segera ingn kembali menduduki singgasana tersebut.
Permaisuri Hastinapura, Dewi Banowati yang sempat diterpa isue miring. Bahwa setelah suaminya, Prabu Duryudana kabur, dia digondol selingkuhannya yaitu Pangeran Djanoko. Ternyata kabar itu kabar hoaks yang dilansir stasiun televisi Asal Berita.
Sementara itu para Pandawa setelah tragedi penguasaan Hastinapura oleh Ontoseno. Sekarang lebih fokus bagaimana mengembangkan negara Amarta menjadi negara besar. Terutama besar pengaruhnya.
Karena itu dalam rapat terbatas, Raja Amarta, Prabu Puntadewa meminta kepada seluruh aparat agar dapat menjaga Marwah dan jati diri sebagai bangsa Amarta.
__ADS_1
"Berbuat baiklah kepada semua orang. Jika mampu bantulah orang yang membutuhkan pertolongan tanpa harus menuntut imbalan.
Sebagai pejabat, kalian harus memberi tauladan. Sedikit berbicara banyak bekerja...! Dan kalian anak-anak muda harus banyak belajar dari para senior, ambilah yang baik-baik dan buanglah jauh-jauh yang kurang baik..!?" Ujar Prabu Puntadewa kepada adik-adik dan anak-anaknya.