
Pertempuran antara Prabu Minangkuda dan Prabu Rengganis Sura terus berlangsung seru. Saling tendang dan adu pukulan terus terjadi. Dari tenaga atau kekuatan Prabu Rengganis Sura nampak lebih unggul dibanding lawannya. Dan bukan mustahil kalau perkelahian model begini Minangkuda bisa kalah.
Dan benar tendangan melingkar Rengganis Sura tak bisa dihindari Minangkuda. Sehingga tendangan tersebut tepat mengenai kepala kanan Minangkuda. Dia terlempar dan terjengkang.
"Bagaimana keadaanmu Anak Prabu..!!!?" Teriak Pandita Durna yang khawatir melihat Minangkuda terjengkang dan meringis kesakitan.
"Jangan khawatir Bapak saya tidak apa-apa. Jatuh hanya karena terpeleset...!" Prabu Minangkuda sengaja berbohong. Pura-pura jatuh karena terpeleset.
Padahal Ontoseno yang melihat pertandingan itu dengan mata kepala sendiri. Bahwa Minangkuda jatuh karena tendangan. Dan Ontoseno pun melihat bahwa Minangkuda kesakitan.
" Wah...wah ini orang ternyata doyan ngedebus... pantaslah jadi komplotannya Pandita Durna, pandita palsu tukang tipu dan doyan ngedebus..!" Ujar Ontoseno dalam hati.
Sementara itu, meskipun Minangkuda bilang tidak apa-apa. Faktanya dia bangkit dengan susah payah. Tidak itu saja, dia pun tidak berusaha kembali menyerang Rengganis Sura. Malah dia berlari kearah Pandita Durna menunggu dan menonton di kendaraan yang mereka tumpangi.
Ternyata Prabu Minangkuda lari mengambil busur dan anak panah. Busur dan anak panah inilah justeru inti kesaktian Minangkuda.
Setelah mementang busur dan mengambil anak panah yang memiliki aura luar biasa. Karena anak panah itu memancarkan cahaya terang sekali seperti layaknya matahari.
Dan pada saat diambil dan diarahkan kepada Rengganis Sura keluar suara gemuruh yang membuat bulu kuduk merinding.
Bahkan Rengganis Sura yang melihat panah yang diarahkan kepadanya nampak surut ke belakang. Itulah panah Pancasona yang sanggup menembus baja atau perunggu setebal apapun.
Maka dapat dibayangkan betapa hebat dan dahsyatnya panah tersebut. Ontoseno sendiri yang menonton pertempuran itu secara sembunyi-sembunyi ikut terkejut dan ngeri melihat pusaka tersebut.
"Pantas Batari Durga memilihnya untuk melawan Prabu Rengganis Surya..!" Ujar Ontoseno dalam hati.
Melihat musuh mengeluarkan senjata sakti, Rengganis Sura segera menggosok tangannya. Dan tiba-tiba di tangannya telah tergenggam senjata gada intan.
__ADS_1
Gada intan juga senjata kadewan yang keampuhannya sungguh sangat luar bisa. Gada intan sanggup membobol orang sekebal apapun. Bahkan para dewa yang biasanya kebal terhadap senjata apapun takut dengan gada intan.
Setelah gada intan di tangan gada itu diputar menguarkan suara menderu disertai embun yang sangat dingin. Melihat gada intan, Minangkuda pun sempat terkesiap dan matanya membelalak ngeri.
Sementara para penonton yang melihat pertandingan dari luar ikut-ikutan dag Dig dug.
Semuanya bingung dan tidak bisa menebak atau memperkirakan siapa yang bakal menang dan siapa pun yang tewas.
Dan bersamaan panah terlepas dari busurnya, Rengganis Sura juga melemparkan Gada intannya ke arah kepala Prabu Minangkuda.
Dan kedua senjata sakti itu tepat mengenai kedua sasaran. Gada intan tepat mengenai kepala Minangkuda. Sedang panah Pancasona menembus dada Rengganis Sura dan bobol ke belakang menembus Patih Nagapertala yang berdiri di belakang Rengganis Sura.
Setelah tertembus panah sakti tubuh Rengganis Sura hilang berubah ujud jadi Brotoseno atau Werkudoro, ayah dari Ontoseno yang hilang dari Ksatrian Jodipati tanpa kabar berita.
Dan Nagapertala yang juga tertembus panah sakti, tubuhnya lenyap berubah menjadi Raden Srenggini putera keempat Brotoseno hasil pernikahannya dengan Puteri (siluman) kepiting yang bernama Dewi Rekatawati.
Ontoseno yang menonton secara tersembunyi segera menampakan diri dan menghambur kepada Brotoseno.
"Duh Bapak...kok menghilang tidak memberi kabar. Kami anak-anak Bapak mencari kesama-kemari. Untung ada Sanghyang Kanekaputera yang memberitahuku... agar mengikuti dengan sabar insiden yang ada di negara Hastinapura kalau aku ingin menemukan Bapak.
Ohw ternyata Bapak jadi Raja adikku Srenggini yang jadi Patih. Aduh Bapak segeralah pulang. Ibu Dewi Arimbi menangis terus mencari Bapak. Dengan Bapak kembali ke Ksatrian Jodipati. Kakang Gatotkaca dan Kakang Ontoreja bisa segera pulang tidak terus-terusan mencari Bapak..!" Papar Ontoseno kepada Brotoseno.
Srenggini juga ikut menimpali dan mendukung ajakan Ontoseno agar ayahnya segera kembali ke Amarta.
"Ya Bapak...kita harus segera kembali ke Amarta. Saya juga kangen sama kakak-kakak saya dan Ibu Dewi Arimbi...!" Timpal Srenggini.
"Aduh...duh Anakku...muridku...ternyata kalian adalah Brotoseno dan Anakku Djanoko..!" Ujar Pandita Durna yang ikut-ikutan heboh.
__ADS_1
" Ya... ya lakon ini sudah berakhir... Hastinapura telah kembali ke tangan kita. Tinggal sekarang kita jemput Anak Prabu Duryudana di Sandangmangore untuk segera kembali ke Hastinapura..!' imbuh Mahapatih Sengkuni yang mendadak ikut sibuk.
"Ya..ya adik Patih. Kita nanti susul Anak Prabu Duryudana...sekarang kita ucapkan terima kasih dahulu kepada Brotoseno dan Djanoko....terima kasih ya anak-anakku atas pembelajaran yang telah kalian berikan kepada kami....!" Ujar Pandita Durna kepada Brotoseno dan Djanoko.
"Sama-sama Bapak Guru... maafkan juga kami yang membuat kalian jadi repot..!" Ujar Brotoseno.
"Kami juga segera mohon pamit Bapak..kami sudah lama meninggalkan Amarta. Kami mohon diri Bapak..dan Paman Sengkuni..!" Ujar Djanoko.
Setelah pamitan, Djanoko, Brotoseno, Ontoseno dan Srenggini kembali ke Amarta.
Usai Brotoseno cs sudah tidak kelihatan bayangannya, Pandita Durna segera mengajak Mahapatih Sengkuni ke Dandangmangore.
Di Dandangmangore, ternyata Batari Durga sudah mendapat laporan dari tim khusus yang disuruh membayang-bayangi Pandita Durna. Tim yang dipimpin Jarameo secara rinci menceriterakan semua kejadian di Kerajaan Hastinapura maupun di Kerajaan Pasir Angin.
"Ohw...ohw jadi semua ini karena ulah dan permainan orang Pandawa. Tenang cucuku Duryudana... suatu ketika kita balas perbuatan mereka..!" Ujar Batari Durga kepada Duryudana.
Duryudana cuma mengangguk-angguk senang. Pada saat itulah Pandita Durna dan Mahaputih Sengkuni datang.
"Selamat datang Bapak Pandita dan Paman Sengkuni..!" Sapa Duryudana kepada Durna dan Sengkuni.
"Alhamdulillah anakkku...semuanya berjalan lancar. Semuanya sudah selesai. Anak Prabu bisa kembali memimpin Hastina..!" Ungkap Durna.
"Terima Bapak Pandita...ya kita segera pulang dan Paman Sengkuni segera hubungi keluarga kita...para Kurawa agar segera merapat ke Hastinapura. Dan Paman tolong segera lakukanlah konsolidasi..!" Perintah Duryudana kepada Sengkuni.
Setelah berbasa-basi dengan Batari Durga. Prabu Duryudana, Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni segera mohon diri untuk kembali ke Hastinapura.
" Ya..ya selamat jalan cucu-cucuku. Insya Allah kalian semua selamat sampai ditujuan. Dan kalau terjadi apa pada kalian. Jangan sungkan-sungkan kalian mengontak aku...ya Durna kamu yang paling sepuh harus jadi pelopor..!" Pesan Batari Durga kepada Prabu Duryudana dan kawan-kawan.
__ADS_1