
Usai menginspeksi pasukannya, Batara Bayu langsung menghadap Sanghyang Baruna. Melihat kedatangan Bayu, Sanghyang Baruna segera menyapa.
"Adinda Bayu bagaimana kabarmu? Bagaimana kondisi Senopati dan pasukan kita setelah serangan brutal pasukan Mina Lodra yang dipimpin Detya Kalamenjing...!?" Tanya Baruna yang langsung dijawab Batara Bayu.
"Semuanya dalam keadaan baik. Serangan itu hanya sempat mengagetkan kita tetapi tidak berpengaruh apa-apa..!!" Katanya.
"Syukurlah aku harap demikian...dan itu mudah-mudah dapat jadi pelajaran buat Mina Lodra untuk tidak gegabah melakukan serangan...!!!' kilah Sanghyang Baruna.
Tetapi Batara Bayu membantah dengan mengatakan,
"Saya kok berpikir sebaliknya Kakang. Mina Lodra tidak akan kapok. Bahkan saya pikir mereka akan menyerang kita kembali sampai keinginan politiknya tercapai..!" Papar Batara Bayu.
"Maksudmu...!?" Tanya Baruna minta penjelasan Batara Bayu.
"Seperti Kakang ketahui Mina Lodra punya watak sombong. Dia selalu ingin menangnya sendiri. Tentu dia tidak berhenti sampai di sini.
Dia saya yakin dan pastikan bakal menyerang kembali dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Bahkan bukan mustahil dia akan turun tangan sendiri. Mina Lodra baru akan menghentikan peperangan.
Jika Kakang Baruna dan para Dewata mengakui kekuasaan Mina Lodra dan dia dinobatkan menjadi dewa Samodra...!!!" Jelas Bayu.
Mendapat penjelasan dari Batara Bayu, Sanghyang Baruna manggut-manggut. Kemudian dia bertanya lagi kepada Batara Bayu.
"Terus bagaimana kelanjutannya..!?".
"Masih sulit diprediksi Kakang. Sebab kita belum tahu persis seberapa besar kekuatan dan kesaktian Mina Lodra yang sesungguhnya..!" Ujar Batara Bayu setengah mengeluh.
Sementara itu setelah berhasil melepaskan diri dari tangan Batara Bayu, Detya Kalamenjing diikuti para Senopati langsung menghadap Mina Lodra yang saat itu tengah berbaring.
__ADS_1
Melihat kedatangan Kalamenjing dan kawan-kawan Mina Lodra sempat terkejut. Sehingga mengernyitkan dahi.
Wajah Mina Lodra semakin beringas merah dadu melihat tampilan Senopati yang gembrojos penuh keringat. Sebagian lagi bahkan pakaian compang-camping disana-sini ada bekas goresan senjata tajam dan nampak keluar darah segar.
"Heeeeeiiiii....kalian apa-apaan datang seperti orang ketakutan. Apakah kalian dipecundangi si Baruna..atau apa? Hayo ceritakan kepadaku...!!!" Bentak Mina Lodra kepada Kalamenjing dan kawan-kawan.
Sambil berkacak pinggang Mina Lodra perintahkan cerita hasil penyerangan yang dipimpinnya. Kalamenjing tidak berani main-main. Sebab jika Mina Lodra sudah marah begitu, dia bisa membunuh seseorang tanpa berkedip.
Pokoknya Mina Lodra di mata anak buahnya sangat mengerikan sekali. Sehingga tanpa banyak bicara lagi Kalamenjing menceriterakan kronologi penyerangan yang dipimpinnya.
"Berkat doa dan restu Tuan...sebenarnya serangan kami kali ini cukup berhasil. Jika harus melenyapkan anak buah Baruna itu sangat mudah. Yang di luar perhitungan kita ternyata para dewa. Tidak hanya Bayu, tetapi puluhan bahkan lebih, tiba-tiba datang.
Mereka langsung menyerang kami. Padahal kami sudah di atas angiin. Tuan boleh cross check kepada Senopati Buaya Sakti atau yang lain...!" Urai Kalamenjing.
"Betul Tuanku waktu itu saya tinggal membekuk Geger Lintang..tiba-tiba saya diserang tanpa memberitahukan lebih dahulu. Sehingga saya kebingungan...saya kira saudara yang lain juga merasakan yang sama..!" Ujar Bajulsengara mendukung penuturan Buaya Sakti kepada Mina Lodra.
"Kurang ajar...!!! Bangsat kamu Baruna..!!! Kamu sengaja pengin menjajal kesaktianku..."" Geram Mina Lodra sambil mengepalkan tinjunya.
Dan sakitng marahnya dari mata Mina Baruna keluar cahaya biru bak senter. Sinar biru itu menerjang apa saja langsung hancur, remuk menjadi debu.
Anak buahnya yang melihat kemarahan Mina Lodra dan kesaktiannya yang di luar akal manusia semakin ngeri. Mereka membayangkan bagaimana jadinya jika sinar itu menerpa mereka. Pasti mereka akan hancur menjadi debu.
Selain kengerian mereka sekaligus bangga mempunyai Raja yang sakti mandraguna. Sehingga mereka yakin jika Mina Lodra turun tangan sendiri. Pasti Baruna dan para dewa lainnya akan lari tunggang langgang atau akan hancur menjadi debu.
"Baiklah...kalian sudah menjalankan perintahku. kuapresiasi kalian. Kalamenjing...kau perintahkan mereka yang terluka segera diobati. Pakaian-pakaian yang robek segara ganti yang baru. Juga perhatian anak buah kalian..!" Perintah Mina Lodra kepada Kalamenjing dan kawan-kawan.
"Serangan berikutnya...biar aku pimpin langsung. Aku ingin bikin mampus para dewa licik itu..!" Ujar Mina Lodra memotivasi anak buahnya.
__ADS_1
"Tetapi serangan berikutnya musti dirancang lebih matang...dan kalian yang sudah beberapa kali ikut perang tentu tahu siapa-siapa yang harus kalian hadapi. Targetnya kita harus menang...dan Baruna harus enyah dari dasar Samodra..!" Tegas Mina Lodra.
"Siap Tuanku..!!!" Teriak Kalamenjing dan kawan-kawan secara serentak.
Kita menengok dulu keadaan Resi Mintuno dan anaknya, Urang Ayu, serta cucunya Ontoseno. Mintuno dan Urang Ayu sangat prihatin melihat perkembangan dan pertumbuhan Ontoseno. Sekarang usianya sudah menginjak hampir dua puluh tahun.
Namun meskipun usianya sudah cukup dewasa Ontoseno masih berwujud bayi, belum bisa ngomong, juga belum bisa jalan. Sehingga membuat orang tuanya prihatin.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengobati Ontoseno agar perkembangan dan pertumbuhan fisiknya seperti anak normal. Tetapi upaya itu selalu menemui jalan buntu. Semua obat dicoba. Semua dukun dan tabib dihubungi. Tetapi gagal dan mereka angkat tangan.
Bahkan yang membuat Mintuno dan Urang Ayu kesal, karena saben hari Ontoseno kerjanya menangis. Dan anehnya tangis itu berhenti dan berubah jadi gelak tawa, jika ketemu laut.
Meskipun berwujud bayi tetapi Ontoseno pandai berenang dan menyelam. Dia mampu bertahan berjam-jam dalam air dan dia seperti tidak merasakan cape.Inilah yang membuat Mintuno heran dan takjub.
"Ini anak kok aneh banget..dia belum bisa jalan tetapi kok pandai berenang...dan tahan dalam air...!" Ujar Mintuno dalam hati.
Karena kondisi yang lain daripada yang lain, Mintuno dengan sabar mendampingi dan menunggui sang cucu bermain di laut. Dan yang aneh banyak hewan laut menghampiri Ontoseno. Namun hewan-hewan itu tidak mau mengganggu. Malahan hewan-hewan itu seperti menjaga dan melindungi Ontoseno.
Seperti ular laut, ular ini berenang mengitari tubuh mungil Ontoseno tanpa mengganggu sedikitpun. Demikian halnya gurita, ikan hiu dan hewan laut ganas lainnya. Mereka ada disekitar Ontoseno tetapi cuma menjaganya tanpa mengganggu.
Hampir setiap hari Mintuno kerjanya cuma mengantar cucu bermain air. Bahkan kadang malam pun Ontoseno minta mencebur ke laut.
Resi Mintuno membiarkan cucunya berenang dan menyelam. Kadang-kadang Mintuno geleng-geleng tentang keanehan cucunya. Dia pun berulang kali memohon kepada dewa untuk kesembuhan cucunya.
Namun dewa pun sepertinya tidak peduli. Sampe akhirnya Mintuno pasrah kepada kehendak yang maha kuasa.
Di luar sepengetahuan Mintuno sebenarnya Tuhan sedang menyiapkan Ontoseno menjadi manusia yang luar biasa. Manusia yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
__ADS_1
Bahkan kelak Ontoseno bakal menjadi jagonya para dewa. Itulah kehendak Tuhan Yang Maha Esa yang mengatasi segala kemampuan manusia.