Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
17. Mencoba Menghilangkan Jejak


__ADS_3

Untuk melacak keberadaan sisa-sisa laskar Mina Lodra ternyata tidak mudah. Misalkan Yuyu Rumpung yang biasa tinggal dan hidup di hutan Bakau Pulau Nusakambangan, dilacak ke tempat tersebut sarangnya kosong dan berantakan seperti tidak pernah ditinggali.


Demikian pula Buaya Sakti dan Bajul Sengara yang sebelumnya sering hilir mudik di Sungai Bengawan Solo sekarang tidak nampak disitu. Bahkan seolah-olah keduanya tidak pernah tinggal disitu.


Orang yang tinggal dekat sarang mereka saat ditanya geleng kepala. Entah mereka memang tidak tahu. Atau mereka sengaja tidak mau memberitahukan kepada Cacing Anil, maupun Sepat Jenar. Karena diancam. Entahlah..! Tetapi yang jelas mereka seperti telah menghilang jejak.


Bahkan jejak digital merekapun telah dihapus, seperti Ece Mede sebelumnya dia sering membuat postingan di Facebook atau instagram. Sekarang jejak digitalnya dihapus. Bahkan no wa nya di group wa pun sudah tidak nampak.


Tidak cuma Ecemede, pegiat media sosial seperti Kodok Brungkul pun sudah menghapus semua akunnya. Sehingga Cacing Anil dan Sepat Jenar terus bekerja ekstra keras untuk menemukan jejak mereka.


"Biar pun kalian ngumpet didasar bumi sekalipun aku pasti akan menemukannya...?" Ujar Cacing Anil sambil menggertakan gigi. Rekannya Sepat Jenar cuma senyum-senyum.


"Pasti ada cara menemukan mereka Cacing...!" Ujar Sepat Jenar untuk mengusir ketegangan diantara mereka.


"Ya aku percaya itu...!" Jawab Cacing Anil penuh semangat.


Untuk mengungkap keberadaan mereka harus dirunut kebiasaan mereka. Orang rata-rata sulit menghilangkan kebiasaan mereka, seperti Bajulsengara yang suka dugem. Kemungkinan besar dia ada disana.


Hanya masalah Bajulsengara dugem di club' atau diskotik mana, ini yang tidak mudah dilacak. Maka Cacing Anil segera menghubungi semua kenalannya diberbagai kota lewat group wa.


"Mudah-mudahan cara ini berhasil..!" Ujar Cacing Anil kepada Sepat Jenar.


"Ya betul. Segala cara kita coba..!" Jawab Sepat Jenar penuh semangat.


Sementara itu tidak terasa telah hampir sepekan mereka melacak, namun belum juga ditemukan tanda-tanda keberadaan mereka.


Padahal mereka sudah mendatangi berbagai kota menggunakan kendaraan super cepat yang di dunia nyata belum ada.


Namun tetap saja kewalahan. Sampai suatu malam ponsel Sepat Jenar berbunyi.

__ADS_1


"Hallooo...!?? Maaf ini siapa ya...!?" Tanya Sepat Jenar.


Setelah menanyakan kabar dan bla...bla...orang tersebut menjelaskan. Bahwa dia teman SMA sepat Jenar.


Namun sekarang dia tinggal di Hongkong, dan dia dapat cerita ini dari temannya di group wa, bahwa Sepat Jenar tengah mencari Bajulsengara dan kawan-kawan.


Dan teman Sepat Jenar kebetulan tengah berada diskotik di Hongkong, yang juga secara kebetulan sekali disitu tengah terjadi keributan.


Ada seorang pengunjung diskotik bergaya preman ngamuk dengan sebab yang tidak jelas. Setelah ditelusuri dia mengaku bernama Bajulsengara asal tidak jelas.


Mendapat keterangan semacam itu, Sepat Jenar senang bukan kepalang. Dia langsung menggamit tangan Cacing Anil untuk segera ke Hongkong menemui teman Sepat Jenar.


Dalam hitungan menit mereka sudah sampai ke lokasi teman Sepat Jenar. Sayangnya keributan di diskotik telah bubar. Dan orang yang bernama Bajulsengara sudah pergi dengan dikawal beberapa temannya.


Meskipun tidak ketemu langsung dengan Bajulsengara. Tetapi mereka setidaknya sudah sebagian dari bekas-bekas anak buah Mina Lodra.


Kebiasaan Bajulsengara lainnya adalah dia jarang berpisah dengan kakaknya, yakni Buaya Sakti. Berarti Buaya Sakti tidak akan jauh-jauh dari Hongkong.


Pantas, kata Cacing Anil mereka dicari di kota-kota Nusantara tidak ada. Ternyata mereka ngumpet di luar negeri. Rupanya mereka meniru para koruptor dan penjahat lainnya yang pilih kabur daripada mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Dengan ditemukannya jejak Bajulsengara. Maka peluang untuk menemukan yang lain akan lebih mudah. Dan mumpung masih ada waktu Cacing Anil dan Sepat Jenar minta ijin temannya, yang ternyata bernama Kijing Bungkem untuk tinggal sementara di Hongkong.


Dari cerita yang berkembang bahwa keributan Bajulsengara dikawal beberapa orang. Dan dari ciri-ciri yang disebutkan seperti orang-orang yang mereka. Namun untuk memastikan benar tidaknya mereka harus tinggal di Hongkong.


Mereka menyempatkan datang ke kawasan judi di Macau untuk mencari tahu adakah kemungkinan Buaya Sakti ke kawasan itu.


Dan dugaan mereka tidak meleset. Buaya Sakti memang sering kesitu. Ini berdasarkan keterangan kasir judi yang kerap melayani Buaya Sakti tukar koin.


"Tetapi kita belum menemukan tanda-tanda Yuyu Rumpung sampai saat ini.Padahal dia tokoh utamanya dan harus kita temukan...!" Ujar Cacing Anil dan Sepat Jenar cuma mengangguk.

__ADS_1


Sepat Jenar mengusulkan agar mereka fokus dulu kepada Bajulsengara dan kawan-kawan. Pastikan dulu bahwa teman-temannya itu adalah Kodok Brungkul, Ecemede.


Meskipun begitu mereka sangat yakin bahwa diantara orang- orang yang mengawal Bajulsengara tidaklah mungkin ada Kalemenjing dan Yuyu Rumpung.


Dimanakah keberadaan Yuyu Rumpung dan Kalamenjing, bagi Cacing Anil dan Sepat Jenar tidak perlu dipikirkan sekarang. Keduanya sekarang harus memastikan dimanakah domisili Bajulsengara maupun Buaya Sakti.


Memang mereka di Hongkong, tetapi Hongkong cukup luas, agar mereka tidak salah sasaran. Mereka musti tahu lokasi real mereka.


Karena mereka menanti di sekitar tempat dugem, bahkan mereka telah meminta kepada Kijing Bungkem untuk menyebar orang guna mendeteksi kehadiran Bajulsengara di tempat dugem.


Untuk Buaya Sakti Cacing Anil dan Sepat Jenar juga sudah mengerahkan orang-orang upahan untuk mengawasi kemunculan Buaya Sakti.


Sebenarnya jika tempat tinggal Bajulsengara sudah ditemukan, tentu tidak sulit menemukan tempat tinggal Buaya Sakti. Sebab keduanya bisa tinggal satu rumah, atau paling jauh mereka bertetangga.


Tepat pukul 23.00 hp Kijing Bungkem berdering. Dia diberitahu temannya bahwa target sedang berjoged ria di salah diskotik. Kijing Bungkem segera memberitahu Cacing Anil. Dan secepat kilat ketiganya pergi ke lokasi target.


Ternyata benar. Bajulsengara sedang joged bersama perempuan dalam keadaan sempoyongan mabuk. Cacing Anil dan Sepat Jenar menyamar sehingga dia tidak dikenali oleh Bajulsengara dan teman-temannya.


Ya ternyata Bajulsengara bersama Ece Mede dan Kodok Brungkul, beserta empat orang preman lokal. Jadi mereka sudah menjalin hubungan dengan preman-preman lokal. Hal ini penting diketahui untuk menakar seberapa kekuatan mereka.


Setelah pukul 02.00 diskotik tutup. Bajul Sengara dan rombongan keluar diikuti oleh Cacing Anil dan Sepat Jenar. Keduanya sengaja mengambil jarak yang cukup agar tidak dicurigai memata-matai mereka.


Karena itu rombongan Bajulsengara tenang-tenang saja, sambil bercanda mereka kembali ke tempat tinggal mereka. Dan ternyata mereka tinggal di sebuah rumah besar bertingkat yang dijaga puluhan preman orang-orang lokal.


Dan ternyata pula Ece Mede dan Kodok Brungkul tinggal bareng disitu. Bisa jadi Buaya Sakti pun ada disitu. Cacing Anil dan Sepat Jenar kemudian menghitung berapa orang preman bayaran yang menjaga rumah tersebut.


Untuk lebih mengetahui banyak tentang kekuatan Bajulsengara dan kawan-kawan. Cacing Anil kembali minta bantuan Kijing Bungkem untuk menyusupkan orang di kalangan preman itu.


Kebetulan Kijing Bungkem memang mengenal salah seorang preman bayaran. Dengan iming-iming upah yang tinggi Kijing Bungkem berhasil menyusupkan orangnya dikelompok itu.

__ADS_1


Tugas orang upahan ini adalah untuk menyadap apa yang sedang direncanakan Bajulsengara, Buaya Sakti berikut temannya.


Juga diminta mencari informasi keberadaan Yuyu Rumpung dan Kalamenjing. Sementara Cacing Anil dan Sepat Jenar sudah meninggalkan Istana Gisik Samudra lebih sepuluh hari. Dan sudah hampir waktunya mereka melaporkan hasil investigasinya.


__ADS_2