
Tidak berselang lama muncul Ontoseno, Gatutkaca, Antareja. Mereka pun mengatakan, bahwa kedatangannya ke Karangkadempel karena mendukung niat Ki Lurah Semar akan membangun mental spiritual Bangsa Amarta.
Kedatangan Brotoseno dan Sadewa memberi semangat Ki Lurah Semar. Apalagi anak-anak mereka pun datang ikut mendukung. Karena itu Ki Lurah Semar mengadakan rapat membahas keadaan bangsa Amarta yang cukup memprihatikan.
"Coba saya ingin mendengar pendapat Raden semua... mengapa bangsa Amarta belakangan ini semakin berbuat yang melanggar hukum dan adat..!?" Tanya Ki Lurah Semar kepada Brotoseno, Sadewa dan yang lainnya.
"Aku tidak tahu Kakang Semar..!" Jawab Brotoseno yang dibenarkan Sadewa. Mereka semua menyatakan tidak tahu. Sehingga Ki Lurah Semar minta ijin untuk melakukan meditasi, menanyakan persoalan tersebut kepada para dewa.
Selanjutnya Semar melakukan meditasi, sukmanya lepas menuju Kahyangan Alang-alang Kumitir atau Ondar-andir Bawana, menemui Sanghyang Wenang.
Singkat cerita, Ki Lurah Semar ketemu Sanghyang Wenang. Semua persoalan yang ada di Amarta diceritakan semua, "Saya yakin Pukulun Sanghyang Wenang sudah mengetahuinya. Dan saya kemari Pukulun saya mohon petunjuk atau solusi mengatasinya..!' ujar Ki Lurah Samar kepada Sanghyang Wenang.
"Ya Semar...aku tahu...karena itu akan aku jadikan tiga Pusaka Amarta itu wujud ksatria yang akan membasmi para jin, setan iblis yang merasuki rakyat Amarta, karena mereka bangsa halus. Maka merekapun perlu kita lawankan dengan bangsa halus Semar. Coba kemarikan tiga pusaka tersebut..!" Ujar Sanghyang Wenang meminta pusaka Pandawa itu.
Dan Semar pun menyerahkan ketiga pusaka itu yang kemudian dijadikan tiga orang ksatria gagah dan tampan. Mereka diberi nama Sabda Sakti (jelmaan dari jimat Kalimusada), Sabdo Sejati (jelmaan tombak Karawelang) dan Sabda Luhur (jelmaan dari payung Tunggul Naga).
"Ketiganya kuserahkan kepadamu Semar. Mereka akan disertai prajurit kadewatan yang cukup untuk mengusir para jin setan iblis yang merasuki bangsa Amarta.
Sekarang kamu kembalilah ke jagad raya. Aku akan memantaumu dari sini..!" Ujar Sanghyang Wenang.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Sanghyang Wenang Ki Lurah Semar pamitan pulang ke Karangkadempel.
Di Karang Kadempel, semua orang tengah menunggui Ki Lurah Semar yang sedang melakukan meditasi. Dan mereka kemudian dikagetkan Ki Lurah Semar yang telah bangun dari meditasinya.
__ADS_1
"Den Brotoseno cukup lama ya menunggu.. !?" Tanya Ki Lurah Semar kepada Brotoseno, yang menjelaskan bahwa mereka menunggu Ki Lurah Semar lebih kurang dua jam.
"Apakah Kakang Semar sudah dapat petunjuk dari dewa..!?" Tanya Brotoseno kepada Ki Lurah Semar.
"Alhamdulillah dapat Den..!" Jawab Semar. Ki Lurah Semar menceritakan, bahwa terjadinya perubahan perilaku masyarakat Amarta secara umum adalah karena pengaruh iblis setan jin dedemit yang merasuki mereka.
Iblis jin setan akan mudah memasuki manusia-manusia yang tipis imannya. Dan kebetulan karena terjadi krisis ekonomi, ditambah penyakit pandemi seperti Corona atau Covid 19. Membuat masyarakat tergerus keimanannya disaat itu dewa kejahatan Batari Durga dan Batara Kala dimintai tolong Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna untuk menggagalkan upayaku dalam membangun spiritual Bangsa ini.
Pembangunan mental spiritual ini oleh Raja Dwarawati dipelintir sebagai membangun Kahyangan.
"Ya bener sih membangun kahyangan. Tetapi membangun kahyangan bukan dalam bentuk pembangunan secara fisik..!' ungkap Ki Lurah Semar.
Pembangunan yang diupayakan pembangunan gedung megah, gedung bertingkat dan sebagainya.
"Namun yang saya bangun adalah jiwa psikhis masyarakat Amarta yang telah goyah akibat pandemi Covid 19 dan juga krisis ekonomi akibat perang yang terjadi di negara tetangga..!" Papar Ki Lurah Semar.
Dan ini yang membuat dewa kejahatan punya alasan mengerahkan pasukannya yang berupa makhluk halus seperti iblis , setan, jin, siluman dan makhluk jahat lainnya menyerbu wilayah Amarta.
"Karena itu saya temui Sanghyang Wenang minta keadilan, orang berniat baik kok dituduh macam-macam. Saya dapat bantuan tiga ksatria dari makhluk gaib beserta pasukan dewa yang cukup untuk menanggulangi wabah ini Den..!" Jelas Ki Lurah Semar.
"Bagaimana caranya Kek..!?" Tanya Ontoseno kepada Semar.
"Ohw itu mudah pasukan dewa saya kerahkan terjun langsung merasuki jiwa-jiwa bangsa Amarta guna mengusir penghuni-penghuni gelap. Sedang ketiga ksatria utama, yaitu Sabdo Sakti, Sabda Sejati dan Sabda Luhur untuk mencari para Patih, hulu balang, maupun tumenggung dari para siluman dan Gandarwo. Kuberikan kalau mau pulang suruhlah pulang. Jika membandel habisin saja...! Sekarang mereka sudah mulai bekerja..lihat saja efeknya..!" Terang Ki Lurah Bodronoyo.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Ki Lurah Semar Ontoseno jadi penasaran. Dia langsung turun ke jalan untuk melihat dari dekat adakah perubahan perilaku dalam masyarakat atau tidak.
Jika sebelumnya banyak tempat beribadah yang berubah fungsi jadi diskotik. Sekarang dia mulai melihat bahwa tempat-tempat ibadah telah kembali berfungsi. Meskipun belum banyak orang yang beribadah. Tetapi lumayanlah satu dua orang mulai ingat menyembah kepada Hyang Maha Kuasa.
Dan yang menarik lagi sikap polisi yang sekarang lebih responsif. Jika sebelumnya mereka membiarkan perjudian seolah-olah tidak melihat. Dan bahkan beberapa oknum nekad jadi bandar. Sekarang mereka melakukan razia. Bahkan abang-abang becak yang main judi kartu tidak segan-segan mereka tindak.
Para pemotor yang biasanya menggeber motornya dan knolpot bocornya juga mulai dibersihkan dari jalanan.
"Perubahan yang terjadi memang belum maksimal tetapi apa yang dikatakan Kakek Semar benar dan balatentara makhluk halus yang baik telah mulai bekerja..!" Ujar Ontoseno dalam hati. Tetapi Ontoseno menimbang mungkin para pentolannya masih belum kena
"Baiklah Kakek Semar...aku akan cari pentolan-pentolan Pasetrangandamayit seperti Jarameya...Palasiya dan lainnya..!" Janji Ontoseno kepada dirinya sendiri.
Ternyata keinginan Ontoseno sudah kalah duluan, karena Sabda Sakti sudah ketemu Jarameya. Dan keduanya lantas bertempur menggunakan kesaktian masing-masing.
Mengingat Sabda Sakti merupakan jelmaan dari Jimat Kalimusada dan jimat tersebut tersebut adalah dahulunya di jaman Purwacarita adalah seorang Raja yang sangat sakti mandraguna bernama Prabu Kalimantara.
Tentu saja Jarameya tidak mampu menandingi kesaktian Sabda Sakti begitu dipukul dadanya Jarameya ambruk dan berteriak minta ampun.
"Ampuni saya Tuan...saya menyerah saya akan pulang dengan membawa semua pasukan saya..!" Pinta Jarameya kepada Sabda Sakti.
Di lain tempat Gandarwo Palasiya tengan berhadapan dengan Sabda Sakti. Dan seperti rekannya, Palasiya pun kabur kembali ke Dandangmangore.
Akan halnya sisa-sisa pentolan demit lainnya dibereskan Sabda luhur. Keadaan ini membuat Raja para iblis Batari Durga dan Batara Kala mencak-mencak.
__ADS_1
Namun mereka akhirnya menyadari bahwa jika mereka bertindak secara terang-terangan maka akan berhadapan dengan Sanghyang Ismaya alias Ki Lurah Semar. Akhirnya Batari Durga menarik seluruh pasukannya kembali ke Dandangmangore.
"Biarlah kali ini kalah...tho masih ada kesempatan lain...!" Ujar Batari Durga kepada para iblis, setan, siluman dan jin dedemit para pengikutnya.