Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
48. Kurawa Nekad Lawan Ontoseno.


__ADS_3

"Aduh Paman...kok ada Ontoseno. Silahkan Paman mau saya dikatakan pengecut tidak apa-apa. Yang penting saya selamat. Tidak babak belur Paman .! Tepatnya saya tidak berani nek lawan Ontoseno..!" Jawab Dursasana lugas.


Meskipun Dursasana sudah menyatakan kalah sebelum berperang, masih saja ada Kurawa yang membandel. Diantaranya Kartomarmo. Dia maju melawan Ontoseno.


"Ayoh Ontoseno akulah lawanmu...!!!" Tantang Kartomarmo kepada Ontoseno.


"Ohw Pakde Kartomarmo....mau lawan aku Pakde..!?" Tanya Ontoseno.


"Sudah jangan banyak cakap kamu Ontoseno. Ayoh lawan aku..!" Ajak Kartomarmo.


"Aduh Pakde...apa Pakde sudah lupa ya? Kapan Pakde menang tanding lawan aku... dan Pakde lupa ya kalau berantem lawan aku Pakde selalu babak belur..!" Ledek Ontoseno.


Tanpa banyak bicara, Kartomarmo langsung menghujani pukulan dan tendangan kepada Ontoseno. Dan Ontoseno tidak menangkis atau menhindar. Dia menyerahkan dada dan perutnya jadi sasaran pukulan dan tendangan.


Entah berapa puluh kali Kartomarmo dihujani pukulan, yang terang bergeser pun tidak. Pukulan dan tendangan Kartomarmo tidak berarti apa-apa.


"Ayoh Pakde teruskan kamu pukul dan tendang aku...sepuasmu. jika kamu sudah puas ntar giliran aku yang Mukuli kamu Pakde..!" Ejek Ontoseno dan Kartomarmo tidak menjawab sekecap pun.


Dan benar karena banyaknya tenaga yang dikeluarkan untuk memukul dan menendang Ontoseno, sehingga Kartomarmo terengah engah kepayahan.


"Nah sekarang giliran aku Pakde. Terimalah tendanganku...hiaaatt.. !!!" Teriak Ontoseno sambil menendang ke arah iga Kartomarmo "huk..!!!" Dan Kartomarmo jatuh terguling-guling dan meringis menahan sakit luar biasa.


"Ayoh bangun Pakde...!!!" Ontoseno masih menggoda Kartomarmo. Merasa kondisinya tidak karuan, Kartomarmo pilih lempar handuk menyerah tanpa syarat.


Setelah Kartomarmo mundur, gantian Kartowiyogo maju. Namun nasibnya sama saja dia seperti Kartomarmo, menyerah dan harus ngacir meninggalkan lawannya.


Setelah Kartowiyogo tinggal Durmogati dan Tjitraksi yang belum maju.


"Ayoh Tjit kamu mau maju...!?" Ajak Sengkuni.


" Siapa lawannya Paman..!?" Tanya Tjitraksi dan Durmagati berbarengan.

__ADS_1


"Ontoseno Tjit...!!!" Jawab Sengkuni pendek.


"Waduh kalau lawan Ontoseno...saya prei saja Paman. Sebab saya pasti kalah. Jadi daripada saya menyalahi pakem...saya walk out saja lawan Ontoseno Paman..!" Kilah Tjitraksi.


Durmagati pun idem dengan Tjitraksi. Menurut Durmagati, musuh Ontoseno sangat dilematis. Disisi lain orang perang rata-rata inginnya menang. Begitupun dengan Durmagati. Dia pun ingin menang.


Namun kalau benar terjadi, Durmagati menang perang lawan Ontoseno. Dalang yang mementaskan lelakon tersebut pasti dicaci maki penonton.


Buntutnya dalang tersebut tidak akan dipakai lagi. Sebab dianggap dalang kentir mosok Durmagati menang perang lawan Ontoseno.


"Untuk kemaslahatan semua orang, saya pilih gak usah tanding Paman. Saya pulang saja. Lagian kenapa kita mumet-mumet pikirin Lesmana. Kita lebih baik cari selamat, Paman. Saya pilih mundur Man...!" Ujar Durmagati setelah menguraikan alasan-alasannya.


Melihat fakta bahwa para jawara Kurawa takut atau keok lawan Ontoseno. Sengkuni terpaksa mau tidak mau harus pulang ke Hastinapura dengan tangan hampa.


Sementara itu meskipun, pasukan Kurawa sudah mundur. Pertarungan masih tetap berlanjut. Karena masih ada Prabu Suteja Bomanarakasura dan Wisanggeni yang sama-sama ngotot ingin mendapatkan Dewi Kencana Resmi.


Saat itulah Resi Dewa Kartika menemui mereka.


"Dengarkan ini anak-anakku...bahwa puterimu boleh diboyong siapapun...asal si calon suami mampu menunjukan senjata Cakra dan cupu mustika bergambarkan dunia. Ini berlaku untuk pelamar dari Hastinapura..!" Ungkap Resi Dewa Kartika yan disambut suka cita Prabu Suteja Bomanarakasura.


Sebab di dunia ini yang punya senjata Cakra adalah Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna. Dan pemilik cupu mustika bergambarkan dunia adalah Dewi Pertiwi, ibunya Suteja karuan saja senang.


Berbeda dengan Wisanggeni, begitu Resi Dewa Kartika menyebutkan minta syarat dua pusaka tadi, rasa-rasanya dia ingin mati saja.


"Ayo Kakang Ontoseno kita pulang saja... aku pengin mati rasanya. Sebab dua benda tadi dimiliki orang tua Kakang Suteja. Jadi mana mungkin kita bisa mendapatkan benda tersebut...!" Ujar Wisanggeni memelas.


"Aduh adikku Wisanggeni. Jangan dulu patah semangat. Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu menikahi Kencana Resmi. Syarat tersebut tidak berat Adikku. Masih ada cara untuk mendapatkan dua benda tersebut. Kamu percayakan saja kepadaku yang penting kamu bisa nikah..!" Janji Ontoseno.


Seusai menjanjikan begitu, Ontoseno mengajak Wisanggeni ke tempat yang lebih tertutup. Selanjutnya dia dengan ilmu "Aji Pameling" memanggil Gatotkaca dan Antareja.


Tidak lama kemudian datanglah Gatotkaca dan Antareja.

__ADS_1


"Begini Kakakku berdua. Aku minta bantuan kepada Kakang Gatotkaca agar pergi ke Dwarawati. Menemui Pakde Sri Kresna untuk meminjam senjata Cakra.


Dan aku minta kepada Kakang Antareja untuk pergi ke Saptapertala untuk meminjam cupu mustika bergambarkan dunia kepada Bibi Pertiwi. Dua pusaka diperlihatkan kepada calon pengantin Puteri. Sebagai syarat pernikahan tersebut.


Kedua Kakakku semoga kalian berhasil. Kalau gagal aku tidak akan mengakui kalian sebagai Kakakku lagi. Selamat jalan Kakang..!" Ujar Ontoseno.


Secepat kilat Gatotkaca pergi ke Dwarawati. Dan Antareja segera masuk ke dalam bumi menuju Pertapaan Saptapertala.


Sementara itu Mahapatih Sengkuni kembali ke Hastinapura dengan tangan hampa. Karena pasukan Kurawa telah diobrak-abrik dan dipermak oleh Ontoseno.


Setelah menyampaikan kegagalannya, Sengkuni minta kepada Pandita agar memaksimalkan peranan Djanoko.


Apalagi sekarang Resi Dewa Kartika menyampaikan pesan penting. Siapapun dapat menjadi pendamping hidup puterinya, Dewi Kencana Resmi. Asal mampu menunjukan senjata Cakra dan cupu mustika yang bergambarkan dunia.


"Jadi Kakang Durna...Lesmana masih punya kesempatan menggondol Kencara Resmi asal mampu membawa dan menunjukan senjata Cakra dan cupu mustika bergambarkan dunia di depan Dewi Kencana Resmi.


Dan saya katakan punya peluang, karena Kakang punya Pangeran Djanoko yang saya yakini mampu meminjam senjata Cakra itu dari Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna. Dan mengingat hubungan baik Pangeran Djanoko dengan para bidadari selama ini.


Saya kira Pangeran Djanoko tidak bakal kesulitan meminjam cupu mustika bergambarkan dunia kepada Dewi Pertiwi. Karena Pertiwi juga termasuk bidadari Kahyangan Jonggringsalaka..!" Papar Sengkuni dengan mantap dihadapan Durna dan Prabu Duryudana.


"Saya kira benar apa yang disampaikan Paman Patih Sengkuni, Bapak. Sekarang tinggal bagaimana Bapak mempengaruhi Djanoko agar mau mengupayakan dua pusaka yang menjadi syarat pernikahan anak saya Lesmana, Bapak..!" Timpal Prabu Duryudana sehingga membuat mata Pandita Durna terus berkedip.


Bagi orang yang mengenal Pandita Durna secara lebih dekat. Tanda mata sang pandita berkedip cepat. Menunjukan dia sedang stress. Bagaimana tidak stress, meskipun yang dikatakan Mahapatih Sengkuni benar.


Tetapi untuk mendapatkan dua pusaka itu tidak mudah. Memang Djanoko berada dipihaknya. Tetapi tetap saja tidak mudah. Karena pesaing mereka juga berat dan sangat berat.


Pertama, Prabu Suteja adalah anak Prabu Sri Kresna dan Dewi Pertiwi adalah ibunya.


Kedua, Raden Wisanggeni adalah Cucu Batara Brahma, seorang dewa. Prabu Sri Kresna adalah uwaknya. Pasti juga tidak bakal kesulitan mendapatkan dua benda pusaka itu.


Dan di belakangnya masih ada Ontoseno yang menyatakan siap berbuat apa saja demi pernikahan Wisanggeni. Jadi cukup berat dan inilah yang membuat Pandita Durna stress.

__ADS_1


__ADS_2