
Setelah menguasai keadaan Wisanggeni mulai berpikir, "Wah... wah Batara Kala memang harus kumusnahkan. Jika tidak Pandawa dalam bahaya....!" Ujar Wisanggeni dalam hati.
Ontoseno yang menyaksikan pertempuran tersebut juga kaget. Ternyata Batara Kala memang digdaya.
"Untung Kakek Wenang memberi pusaka Gada Intan...jika tidak. Wah...wah Pandawa bisa cilaka. Mudah-mudahan adik Wisanggeni segera gunakan Gada Intan. Agar dewa jahat ini cepat modar...!!!" Gumam Ontoseno.
Sementara itu, melihat serangannya cukup berhasil. Terbukti dengan sempoyongannya Wisanggeni. Itu menunjukan bahwa ilmunya cukup berhasil.
Karena itu kali ini, Batara Kala akan menggunakan kekuatan penuh. Dengan pemikiran kalau tidak Wisanggeni yang mati, Batara Kala pun sudah pasrah dengan takdirnya.
Maka seperti sebelumnya Batara Kala membuat gerakan berputar mirip gangsing. Dengan tangan membentuk cengkeraman yang menimbulkan suara mengerikan. Dan ini tentu saja sangat berbahaya karena sepertinya Batara Kala mau mengadu jiwa.
"Ini tak boleh kubiarkan. Sudah saatnya kugunakan Gada Intan pemberian Kakek Wenang..!" Ujar Wisanggeni dalam hati.
Berpikir demikian, Wisanggeni segera menyiapkan Gada Intan di tangan kanannya. Sementara Batara Kala tidak menyadari jika lawannya telah menyiapkan senjata pamungkas. Dia terlalu asyik dan terlalu percaya diri dengan kemampuannya.
Karena itu Batara Kala terus melancarkan serangan kepada Wisanggeni. Sebaliknya Wisanggeni sudah menyiapkan serangan terakhirnya dengan senjata pemberian Sanghyang Wenang.
Begitu Batara Kala mendekat, tanpa ragu Wisanggeni menghantamkan Gada Intan kepadanya. Batara Kala mengaduh kesakitan.
"Aduh... Sakiiitt...!!!" Jerit Batara Kala. Setelah itu suara dan tubuhnya hilang. Dia hancur lebur menjadi debu. Gugurlah Batara Kala dewa kejahatan yang sangat ditakuti.
"Baguslah adikku... kamu sudah membunuh Batara Kala, sekarang kita tinggal menghabisi Batari Durga. Maka selesailah tugas kita. Selesailah kita dalam mengamankan para orang tua kita para Pandawa...!!!" Ujar Ontoseno kepada Wisanggeni.
"Benar Kakang Ontoseno. Tetapi membunuh Batari Durga tidaklah gampang. Kita perlu mengatur siasat...!!" Papar Wisanggeni.
__ADS_1
Mengenai siasat apa yang harus dilakukan, Wisanggeni memaparkan rencananya.
"Kakang Ontoseno...jika Batari Durga tahu bahwa anaknya telah meninggal dunia..dan tahu kita punya Ganda Intan. Dia pasti tidak akan berani mendekat...!" Ungkap Wisanggeni.
Karena itu Wisanggeni harus menyamar sebagai Batara Kala. Setelah Batari Durga mendekat, "Baru kita bunuh dengan Gada Intan..!" Ujar Wisanggeni kepada Ontoseno.
Maka Wisanggeni kemudian merubah wujudnya menjadi Batara Kala. Setelah itu dia terbang menuju ke Pasetrangandamayit atau Dandangmangore.
Setelah sampai di istana Batari Durga, Wisanggeni yang telah berujud Batara Kala berteriak, "Aduh Ibu...tolonglah anakmu ini. Aku pikir hanya engkau saja Ibu yang bisa mengalahkan Ontoseno dan Wisanggeni...!* Rengek Wisanggeni eh Batara Kala kepada Batari Durga.
Semula Batari Durga meragukan, jika yang berteriak dan mengaduh itu adalah anaknya. Karena itu dia awalnya diam dan dia mengintip untuk memastikan. Apakah betul yang mengaduh dan minta tolong anaknya.
Wisanggeni juga paham bahwa Batari Durga dewa yang sangat licik, karena itu dia pun semakin membuat penampilan meyakinkan agar Batari Durga percaya bahwa Wisanggeni ini benar-,benar Batara Kala.
Oleh sebab itu kembali Wisanggeni berteriak dan mengaduh sebisa mungkin mirip Batara Kala. Dan taktiknya ini berhasil, Batari Durga pelan-pelan mendekatinya.
"Aduh anakku sayang...mana yang luka Nak. Aku akan mengobatinya....Kala..!!!" Ujar Batari kepada Wisanggeni.
Begitu Batari Durga mendekat dan mau memeriksa dirinya, secepat kilat Wisanggeni menyerang dada Batari Durga dengan Gada Intan. Seketika Batari Durga meraung kesakitan. Selanjutnya diam, karena tubuhnya telah hancur lebur terkena hantaman Gada Intan.
Tamatlah sudah riwayat Dewa Kejahatan, Batara Kala dan Batari Durga telah tamat dari peredaran. Mereka tidak bakal lagi merecoki Pandawa dan membuat kejahatan bagi umat manusia.
Dengan matinya Batari Durga dan Batara Kala, berarti hidup Wisanggeni dan Ontoseno juga harus berakhir. Sebab seperti janji Sanghyang Wenang bahwa Jika Bharatayuda Pandawa ingin menang. Selain membunuh dua dewa Kejahatan yakni Batara Kala dan Batari Durga Wisanggeni juga harus rela menyerahkan nyawanya sebagai tumbal.
Memang dalam perang Bharatayudha masing-masing pihak, baik Kurawa maupun Pandawa jika ingin menang harus menyerahkan tumbal berupa nyawa manusia.
__ADS_1
Dan soal tumbal manusia, antara Kurawa dan Pandawa berbeda penafsiran. Jika Pandawa mencari tumbal manusia yang dengan secara ikhlas menyerahkan nyawanya. Berbeda dengan Kurawa.
Kurawa tidak peduli dia ikhlas atau tidak pokoknya harus dibunuh. Maka sudah puluhan jiwa rakyat kecil yang tidak berdosa harus menemui ajalnya. Hanya gara-gara Kurawa butuh tumbal.
Akibatnya, banyak arwah-arwah penasaran dari tumbal manusia itu yang membalas dendam disaat perang Bharatayudha. Salah satunya adalah tukang perahu yang dibunuh Dursasana jadi tumbal Kurawa.
Karena tukang perahu dia mati terpaksa dan tidak ikhlas. Arwahnya kemudian kelak membalas dendam saat Dursasana perang berhadapan dengan Brotoseno.
Karena bantuan tukang perahu itu yang semula Brotoseno kesulitan membunuh Dursasana. Akibat bantuan arwah tukang Perahu, Dursasana yang licik itu berhasil ditangkap Brotoseno kemudian tubuhnya dimutilasi. Gugurlah Dursasana.
Dari pihak Pandawa selain korban tumbal Perang Bharatayudha, Ontoseno dan Wisanggeni. Juga Raden Ontorejo atau Antareja. Dikisahkan, jika Raden Antareja tidak dikorbankan kemungkinan-kemungkinan besar Raja Mandura Prabu Baladewa akan ikut Perang Bharatayudha Prabu Baladewa di pihak Kurawa.
Dan dalam perang Prabu Baladewa akan berhadapan dengan Antareja. Jika itu terjadi Prabu Baladewa akan gugur. Karena telapak kakinya dijilat Antareja. Karena jilatan Antareja mempunyai atau mengandung bisa yang mematikan.
Dan jika itu terjadi, maka tidak ada orang yang bisa ngemong. Anak cucu Pandawa dalam memerintah Hastinapura setelah selesai perang.
Karena Prabu Baladewa yang kemudian menjadi pandita bernama Resi Jaladara memang telah dipersiapkan jadi Pujangga Keraton Hastinapura. Maka Prabu Sri Kresna yang memiliki Kitab Sara sebuah kitab yang mengatur soal Perang Bharatayudha dan kehidupan sesudahnya. Prabu Sri Kresna kemudian menyuruh Antareja untuk menjilat telapak kakinya sendiri. Dan gugurlah Antareja.
Sementara Resmi Jaladara menjadi penasehat Kerajaan Hastina dari Cucu Harjuna, Prabu Parikesit sampai kepada anaknya Prabu Udrayana atau Udayana.
Masih ada lagi tumbal Pandawa, yaitu tiga orang brahmana yang dengan ikhlas dan sukarela mati (dikorbankan) demi kemenangan Pandawa.
Mereka rela melakukannya demi membalas Budi baik Pandawa yang telah menyelamatkan mereka dari keganasan Prabu Baka seorang raja raksasa yang doyan makan daging manusia.
Jadi ada perbedaan antara Kurawa dan Pandawa. Cerita ini mengingatkan kepada peristiwa Qobil dan Habil. Dimana Habil saat berkorban menyerahkan ternaknya yang paling bagus. Sedangkan Qobil memberikan korban dengan ternak yang terjelek yang dimiliki. Dan Allah SWT akhirnya menerima korban Habil sekaligus menolak korban Qobil.
__ADS_1
Demikian halnya Pandawa mengorbankan manusia atas kemauannya sendiri dengan harapan Dewa Hyang Maha Agung dapat menerima pengorbanan mereka dan akhirnya Pandawa unggul dalam Perang Bharatayudha.
Sebaliknya Kurawa mengorbankan manusia secara paksa. Para korban yang menolak jadi korban dianiaya sampai tewas. Dan para korban ini sebelum tewas mengutuk para pelaku. Dengan kutukan mereka tidak bakal memenangkan Perang Bharatayudha. Dan kutukan itu terbukti kelak, Pandawalah yang unggul.