Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
70. Kresna Dipanah Kresna


__ADS_3

"Sebentar Pakde... dia selalu ngumpet di belakang Batara Kala...!" Jelas Ontoseno.


"Truk...Petruk...aku minta tolong panggilkan Bapakmu. Hanya Kakang Semar yang bisa mengatasi keruwetan ini..!" Perintah Prabu Sri Kresna. Mengapa dia memanggil Ki Lurah Semar? Karena yang dihadapi adalah dewa senior musti dilawan dewa tua semacam Sanghyang Ismaya atau Ki Lurah Semar.


Benar juga, ketika Raja Dwarawati, Prabu Sri Krisna mencari Kresna tiruan yang muncul Batara Kala.


"Ontoseno... biarlah kamu gak perlu menghadapi Batara Kala. Pada saatnya kelak, setelah tiba saatnya kamulah yang bakal menghabisinya. Tetapi untuk saat ini biarlah aku yang akan menghadapinya dan membiarkan dia hidup sampai datangnya Perang Suci Bharatayudha Joyobinangun... menyingkirkan kamu Ontoseno..!" Ujar Prabu Sri Kresna mengingatkan Ontoseno.


Memang saat ini belum saatnya Ontoseno perang tanding dengan Batara Kala. Perang tanding sesungguhnya besok akan terjadi menjelang Bharayudha.


"Heiii.. Kresna kamu mau apa!? Mau kumakan mentah-mentah ya..!?" Ujar Batara Kala melihat Prabu Sri Kresna dihadapannya.


Prabu Sri Kresna memang lebih muda daripada Batara Kala. Jika dia mengancam demikian wajar saja.


"Wahai Kala...Kresna memang anak kemarin sore. Jika kamu mengancam mau mencaplokku wajar... tetapi lihatlah dengan jelas siapa aku...hai Kala. Lihatlah..!" Bentak Prabu Batara Kresna, dan yang sekarang muncul dihadapan Batara Kala. Bukanlah Prabu Sri Kresna tetapi Ki Dalang Kandabuwana atau Batara Syuman atau disebut Batara Wisnu.


Begitu mengetahui bahwa Prabu Sri Kresna juga Ki Dalang Kandabuwana hilang seluruh kekuatan Batara Kala. Badannya lemas seolah tidak bertulang.


"Aku tobat Ki Dalang. Mohon ampun Ki Dalang. Aku masih mau hidup...!" Rengek Batara Kala.


Saat jaman Purwa Carita, ketika Batara Kala lahir. Semua penduduk dunia dilanda kecemasan. Karena mereka takut dijadikan mangsa Batara Kala.


Diutuslah Batara Syuman, sebagai dewa ketenteraman untuk turun ke dunia guna mencegah sikap Angkara murka Batara Kala. Seperti sudah saya ceiterakan Batara Kala ini lahir dari sikap Angkara Batara Guru terhadap Dewi Permoni (Pramoni) atau Dewi Uma.

__ADS_1


Waktu itu Batara Guru atau Sanghyang Jagadnata sedang dimabok asmara dengan Dewi Permoni. Mereka bermesraan dengan menaiki Lembu Andini. Lembu Andini adalah seekor sapi betina yang dapat terbang.


Saat berada di atas Samodra Batara Guru nafsu seksnya menggelora. Dia mau gituin Dewi Permoni. Tetapi ditolak karena mereka berada di luar dan sedang di atas Lembu Andini.


Saking nafsunya, sampai ****** Batara Guru keluar dan jatuh ke dalam Samodra dan berubah menjadi bayi raksasa yaitu Batara Kala.


Batara Kala itu sukanya daging manusia dan dia memburu manusia. Sehingga dunia ribut. Berita ini menjadi viral. Karena Hyang Maha Kuasa mengutus Batara Syuman atau Wisnu turun ke dunia. Untuk menghentikan keganasan Batara Kala.


Sanghyang Syuman menyamar menjadi seorang dalang wayang kulit dengan nama Ki Dalang Kandabuana. Ki Dalang ini sesumbar jika ingin selamat dari mangsa Batara Kala. Nontonlah pertunjukan wayangnya.


Dan benar juga pertunjukan wayangnya jadi ramai. Banyak orang menontonnya agar selamat dari keganasan Batara Kala. Dewa Kejahatan merasa makanannya ada yang mengganggu mendatangi dalang Kandabuana.


Batara Syuman tahu bahwa Batara Kala ini punya kelemahan ditubuhnya. Bahwa di dahinya, di dadanya, di punggungnya dan di pusarnya ada rajahan.


Rajahan itu beranama Rajah Kalacakra. Dan siapa bisa membaca rajahan tersebut, maka Batara Kala tidak akan berani melawannya. Maka saat berhadapan dengan Dalang Ki Kandabuana dan langsung dibaca rajahan yang ada ditubuhnya. Seketika Batara Kala lemes tak berdaya. Dan dia berjanji tidak akan berani lagi memangsa manusia kecuali seijin Dalang Ki Kandabuana.


"Aku mohon diri Ki Dalang mohon maaf...aku harus pergi..!" Ujar Batara Kala langsung menghilang. Sekarang tidak ada penghalang lagi. Sehingga Prabu Sri Kresna tiruan muncul.


"Hai manusia iblis kembalilah ke wujud aslimu..!" Bentak Raja Dwarawati. Tetapi rupanya Sri Kresna palsu ini muka tembok. Dia tidak mau mengakui jatidirinya, malah ngotot menuduh Raja Dwarawati sebagai Kresna palsu.


"Baiklah kalau kamu nekad tidak mau kembali ke wujud aslimu. Rasakan panah Cakrabraswaraku akan melumatkanmu...!" Habis mengancam Prabu Sri Kresna langsung mengarahkan panah Cakranya ke dada Kresna palsu.


"Duarrr..!!!" Terdengar ledakan cukup keras ketika panah Cakrabraswara menghantam dada Kresna palsu. Tubuh itu hancur dan dari remukan tulang belulang Kresna palsu munculah Batari Durga.

__ADS_1


"Nah...inilah musuh Kakang Semar. Batari Durga yang menghadapi Kakang Semar..!" Ujar Prabu Sri Kresna sembari melirik ke arah Ki Lurah Semar yang cepat tanggap dan langsung memburu Batari Durga.


Batari Durga melihat kedatangan Ki Lurah Semar pucat ketakutan. "Ada apa Kakang Semar..!? Ujar Batari Durga seolah-olah tidak tahu.


"Ohw Durga...Durga...jangan pura-pura tidak tahu..!" Jawab Ki Lurah sambil semakin mendekati Batari seperti mau menciumnya.


"Aduh Kakang... jangan dekat-dekat dong... aku risih..! " Ujar Batari Durga sambil mundur.


"Ah kamu...!" Ujar Ki Lurah Semar dan malah makin merangsek Batari Durga yang menjadi salah tingkah.


Seperti tidak peduli dengan rengekan Batari Durga, Ki Lurah terus mendekat dan merangsek. Sementara Batari Durga tidak mungkin mengusirnya dengan kesaktian yang dimiliki sebab dipastikan Ki Lurah Semar bisa mengatasinya.


Jalan satu-satunya hanya kabur atau kembali ke Dandangmangore. Kalau pulang kesitu, dipastikan Ki Lurah Bodronoyo tidak akan mengejarnya.


Ki Lurah Semar pun tidak akan membunuhnya, karena dia tahu kapan waktunya Batari Durga dimusnahkan. Disebutkan jika sampai perang suci Bharatayudha terjadi dan Batari Durga masih hidup dia akan membantu Kurawa. Sebab dia adalah dewa kejahatan dan Kurawa adalah biangnya kejahatan.


Karena itu sebelum hari dimulanya perang suci tersebut Batari Durga harus mati. Matinya Batari Durga bersamaan matinya Batara Kala.


Perang Bharatayudha sendiri, hakekatnya tidak hanya soal memperebutkan Negara Hastinapura. Bukan cuma itu, tetapi upaya alam membersihkan dari sumber kejahatan.


Seperti halnya Allah menenggelamkan Fir'aun dan bala tentaranya di lautan atau membenamkan umat Nabi Luth di bumi, dan sejarah banyak membuktikan bahwa kejahatan pasti akan dibersihkan dari muka bumi ini dengan caranya masing-masing.


Perang Bharatayudha juga adalah tempat bertransaksinya segala amal baik buruk manusia. Jadi orang yang berbuat baik, disitu akan dibalas kebaikannya.

__ADS_1


Sebaliknya mereka yang berbuat kejahatan juga akan dibalas dengan setimpal. Semua itu sudah menjadi garis takdir manusia. Jadi tidak cuma mendapat balasan di akherat kelak. Tetapi di dunia pun kita sudah mendapatkan balasannya.


Karena itu Allah SWT telah menurunkan agama agar menjadi tuntunan buat manusia. Supaya manusia tidak tersesat, namun begitu harus diperjuangkan. Artinya kebaikan itu tidak bersifat otomatis tetapi harus diupayakan.


__ADS_2