
Tidak ada pilihan, tidak ada jalan lain, jika masih ingin hidup dia musti bertobat dan mengikuti kemauan Ontoseno. Di samping itu mitra terdekatnya pun, yaitu Durna dan Sengkuni sudah ikut Ontoseno, jadi memang dia harus bertobat.
Soal apakah tobat sungguhan, atau hanya pura-pura, itu bukan masalah yang terpenting sekarang adalah hidup. Itulah yang jadi pemikiran Prabu Duryudana saat ini.
"Persetan dengan tobat...tetapi sekarang dalam keadaan begini. Aku di posisi lemah... ya apa boleh buat. Aku harus berpura-pura tobat...!" Ujar Raja Julig, Duryudana.
"Baiklah kamu kuampuni Pakde. Tetapi mulai detik ini. Jadilah Raja Hastinapura yang benar. Jangan lalim. Jangan kejam. Harus melakasanakan ibadah. Harus banyak beramal. Dan ajak semua anggota Kurawa bertobat. Dan jika Pakde mengetahui ada perangkat Pakde yang berbuat jahat. Jangan ragu-ragu ditindak. Aku akan selalu mengawasimu disini Pakde. Si Mbah Durna dan si Mbah Sengkuni juga akan ikut mengawasi...!" Ujar Ontoseno.
Duryudana hanya bisa mengangguk dia tidak punya nilai tawar apapun di mata Ontoseno.
Ontoseno tidak peduli, tho dia saban akan mengawasi pemerintahan Hastinapura. Dan dia berjanji jika temukan penyelewengan, kejahatan sebiji merica sekalipun. Dia tidak akan segan-segan menindaknya, tanpa terkecuali.
Sejak Prabu Duryudana menyatakan tobat, pemerintahan Hastinapura berjalan lebih tertib. Suasana lebih ayem tenteram dan rakyat Hastinapura merasa mendapatkan kehidupan lebih baik.
Sehari dua hari, sepekan dua pekan, bulan pun berganti. Sudah setahun lebih pemerintah Hastinapura dibawah pengawasan Ontoseno berjalan lebih baik. Dan itu diakui oleh Pandita Durna maupun Mahapatih Sengkuni. Bahkan Prabu Duryudana pun mengakui adanya perubahan cukup signifikan ini.
Sehingga terbit keinginan Duryudana menjadikan Ontoseno Raja di Hastinapura. Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni pun setuju terhadap gagasan itu.
"Anakku Ontoseno..secara jujur Pakde akui. Sejak pemerintahan Hastina dibawah pengawasanmu kita banyak mengalami kemajuan yang cukup berarti.
Rakyat merasa terayomi dan terlindungi. Usaha tambah maju. Pertanian dan perikanan hasilnya melimpah. Semua rakyat merasakan suka cita. Karena itu aku ingin menjadikan Raja di Hastinapura ya..!? Bapak Pandita dan Paman Sengkuni setuju. Bagaimana Ontoseno..!?'" ujar Prabu Duryudana.
"Maaf Pakde...tujuannya kesini bukan mau jadi Raja disini. Tujuanku kesini hanya pengin menuntun Pakde menjadi orang baik, benar dan lurus itu saja. Jadi saya tolak tawaran Pakde..!" Tegas Ontoseno.
__ADS_1
Prabu Duryudana bingung, semula dia berpikir dan menduga bahwa Ontoseno berbuat macam sekarang, karena pengin jadi Raja.
"Ohw ya maaf Ontoseno...tetapi melihat perkembangan yang ada Hastinapura memang membutuhkan orang semacammu Ontoseno..!" Desak Prabu Duryudana kepada Ontoseno.
"Tetapi aku benar-benar minta maaf Pakde. Aku tidak bisa jadi Raja. Pakde bisa bayangkan apa jadinya kalau aku jadi Raja. Aku tidak bisa berbahasa halus. Aku tidak bisa tata krama dan unggah-ungguh. Apa jadinya jika negara dipimpin orang sepertiku. Tidak mau Pakde. Terimakasih..!' Ontoseno semakin menegaskan pernyataannya.
"Ontoseno.. tetapi kami benar-benar membutuhkanmu.. bagaimana jika kuangkat kamu jadi Pujangga Keraton Hastinapura...!?" Ujar Prabu Duryudana.
"Benar Cucuku..kamu jadi Pujangga. Aku siap menjadi anak buahmu bocah Ganteng..!" Timpal Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni ikut mengangguk dan mengacungkan jempol.
Akhirnya Ontoseno menerima jabatan sebagai Pujangga Keraton Hastinapura. Sebab sebagai Pujangga tidak perlu banyak aturan. Tidak perlu bisa berbahasa halus. Tidak perlu tata Krama, unggah-ungguh yang begitu njlimet dan membosankan. Disamping itu sebagai Pujangga Keraton Ontoseno bisa leluasa dan mengawasi jalannya pemerintahan.
"Baiklah Pakde jabatan tersebut kuterima. Kepada si Mbah Durna aku mohon dibantu. Dan jika aku berbuat salah jangan ragu tegurlah aku. Hukumlah aku.
"Baiklah Cucuku Ontoseno. Aku akan membantumu seratus persen, lahir bathin. Jangan khawatir. Adik Patih juga pasti akan menyokongmu Ontoseno. Benar bukan adik Patih..!?" Jawab Pandita Durna, sekaligus dia minta pendapat Mahapatih Sengkuni yang langsung menyatakan dukungan seribu persen.
Jadi sejak itu Ontoseno jadi Pujangga Keraton Hastinapura. Dunia geger, sebab negara yang dikenal sebagi pengekspor kejahatan, sekarang menjadi negara yang gemah Ripah loh jinawi.
Negara Hastina yang penuh dengan kejahatan, berubah menjadi negara penuh berkah. Negara donatur yang luar biasa. Dan nama Ontoseno tersebar kemana- mana. Inilah yang justeru Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna khawatir.
"Lho nek begini Bharatayudha Jayabiingun tidak bakal terjadi. Dan ini berarti telah merusak tatanan. Menjungkirbalikkan apa yang telah digariskan oleh Hyang Maha Kuasa..!" Papar Prabu Sri Kresna dihadapan Raja Amarta, Prabu Puntadewa dan para anggota Pandawa yang lain.
"Ini tidak boleh terjadi...garis kodrat mau di rusak-rusak Ontoseno. Karena itu saya minta Adik Prabu Puntadewa mengambil sikap. Ajak Ontoseno kembali ke Amarta..!!!" Tegas Prabu Sri Kresna.
__ADS_1
"Jadi begitu ya Kanda Prabu..!?" Ujar Prabu Puntadewa minta penjelasan kepada Prabu Sri Kresna.
"Ya begitu Adik Prabu. Karena perang Bharatayudha itu perang suci. Perangnya manusia-manusia luhur lawan manusia bejad. Perang ini musti terjadi sebagai sarana pembersihan terhadap segala macam bentuk kejahatan di bumi." Jelas Prabu Sri Kresna
"Maaf Kanda Prabu. Bukankah cara Ontoseno itu bagus. !? Artinya jika Kurawa sudah menjadi manusia baik, Bharatayudha tidak perlu ada. Dan juga tidak perlu ada korban jiwa. Mengapa Kanda Prabu mengatakan itu tidak baik...!?" Bantah Djanoko yang hadir dalam pertemuan itu.
"Ohw kamu keliru...bahwa watak orang Jawa mengatakan watak itu dibawa ngurek. Artinya watak jahat itu sulit diperbaiki. Jika memang itu sudah digariskan Hyang Maha Pencipta. Watak jahat tetap selamanya akan begitu.
Ini watak lho. Namun jika kejahatan itu berasal dari luar. Berbuat jahat hanya karena pergaulan. Ini masih mungkin bisa diperbaiki. Tetapi kalian harus ingat. Bahwa Ibu para Kurawa, yakni Dewi Gendari sebenarnya tidak menyukai suaminya, Destrarata.
Dewi Gendari menghendaki diperistri oleh Pandu Dewanata, adiknya Destrarata, yaitu ayah kalian. Namun Pandu ayah Para Pandawa menolak, karena tahu perwatakan Dewi Gendari itu culas, serakah dan licik. Karena itu Dewi Gendari diberikan kepada kakaknya yang tuna netra, yakni Destrarata.
Nah disini Dewi Gendari mau diperistri Destrarata asal dia berkuasa dan punya anak banyak serta menguasai Kerajaan Hastinapura.
Dan keinginan itu terwujud, dia punya anak seratus orang yang disebut Kurawa. Dan Destrarata yang dipinjami Prabu Pandu Dewata jadi Raja sampai menunggu Pandawa dewasa. Dia ingkar janji, malahan kerajaan diberikan kepada Duryudana.
Dari keturunan semacam itu, dari gen yang kurang baik. Mana mungkin menghasilkan manusia baik. Benarkan? Baca hukum Mendel dan genetika..!?
Karena itu meskipun Ontoseno sekarang telah membuat mereka menjadi baik. Itu bersifat sementara saja. Karena watak mereka memang jahat. Begitu Ontoseno pergi atau kembali ke Amarta. Saya yakin penyakit jahat mereka kambuh lagi.
Karena itu Hyang Maha Kuasa telah menetapkan perang Bharatayudha. Ya gunanya untuk memangkas kejahatan sampai ke akar-akarnya..!" Tegas Prabu Sri Kresna.
Dengan uraian Prabu Sri Kresna secara panjang lebar, para Pandawa akhirnya menyadari. Bahwa perbuatan Ontoseno sia-sia dan hanya membuang-buang waktu.
__ADS_1