
Setelah berdiskusi panjang antara Ontoseno dan Wisanggeni mengenai bagaimana cara mencoba Gada Intan dan mengetahui bagaimana caranya mengetahui kemampuan sesungguhnya kekuatan Batari Durga dan Batara Kala.
Sekarang tinggal menentukan hari baik untuk ngerjain Prabu Duryudana, agar dia pergi meninggalkan istana dan mengungsi ke Kahyangan Dandangmangore.
"Menurutmu kapan Adikku Wisanggeni kita ngluruk ke Hastinapura..!?" Tanya Ontoseno kepada Wisanggeni.
"Menurutku saat hari Anggoro Kasih Kakang. Itu hari baik untuk sebarang kerjaan...!" Jelas Wisanggeni.
"Berarti lusa besok kita ngluruk ke Hastinapura ya Adikku..!" Ujar Ontoseno.
Seperti yang telah disepakati, hari Anggoro Kasih Ontoseno dan Wisanggeni menemui Raja Hastinapura, Prabu Duryudana dan tanpa basa-basi Ontoseno langsung ngomong, bahwa dia membutuhkan tahta Hastinapura, karena dia minta Prabu Duryudana, dan seluruh perangkatnya menyingkir.
"Jika kalian bandel dan tidak mau menyingkir, maka aku tidak ragu-ragu untuk memukuli dan menendangi kalian sampai babak belur..!" Ancam Ontoseno yang membuat Mahapatih Sengkuti dan Pandita pucat pasi.
"Ya..ya..sebentar Ontoseno kukemasi kitab-kitabku dulu lalu pergi...sabar ya Ontoseno sabar ya Cucuku yang ganteng...aku akan segera pergi..!" Ujar Pandita Durna dengan terbata-bata dan keringat dingin mengucur deras.
"Aku sudah siap pergi Ontoseno...selamat bersenang-senang. Aku pergi dengan ikhlas.. baik-baiklah kamu disini ya Ontoseno.. bye.. bye..!" Ujar Mahapatih Sengkuni yang meskipun muka dan mulutnya dipasang seramah mungkin. Tak urung celananya basah saking takutnya Sengkuni sampai ngompol.
Berbeda dengan sikap anak buahnya, Prabu Duryudana malah menantang duel dengan Ontoseno. Tentu saja tantangan itu disambut gembira. Bahkan Ontoseno meminta Wisanggeni mengikat tangan kanannya. Karena untuk menghadapi Prabu Duryudana cukup dengan tangan kiri saja.
"Untuk melayani Pakde Duryudana, aku cukup dengan tangan kiri saja. Ayo dong Pakde serang aku..!" Ejek Ontoseno.
Duryudana tahu persis bahwa dia bukanlah lawan Ontoseno. Hanya karena gengsi ditonton anak buahnya. Terpaksa harus berantem dengan resiko babak belur.
Dan meskipun hanya gunakan tangan kiri saja, Ontoseno berhasil memukuli Prabu Duryudana sehingga benjol- benjol.
"Ayo .. . kapokmu kapan Pakde...! " Ujar Ontoseno sembari mencoba melorotkan celana Duryudana.
Karuan saja Raja Hastina semakin ketar-ketir. Menjaga gensi tetapi ditelanjangi di muka umum. Wah ini lebih memalukan. Karena Prabu Duryudana sambil meloncat menghindar, dia berseru.
__ADS_1
"Ayoh Paman Sengkuni dan Bapak Pandita...kita kabur ke Dandangmangore..!"
Dugaan Ontoseno dan Wisanggeni benar, Prabu Duryudana pasti minta perlindungan Batari Durga.
"Ayo Paman kita laporkan semua kejadian disini kepada Batari Durga. Biar dibalaskan sakit hati kita..!" Ujar Duryudana yang segera kabur diikuti Pandita Durna dan Sengkuni menuju Pasetran Gandamayit.
Dandangmangore juga disebut Pasetran Gandamayit. Disebabkan kawasan hutan itu sangat lebat dan gelap dan berbau mayat amis anyir dan bau-bauan lain yang sangat mengerikan.
Ada istilah "jalma mara jalma mati" artinya siapapun orangnya yang lancang mencoba memasuki kawasan itu pasti bakal cilaka. Rata-rata tewas dengan sangat mengenaskan.
Karena para penghuni Dandangmangore adalah para iblis, jin setan demit siluman yang dapat merubah wujud jadi Singa, Harimau, Ular, Babi Hutan dan hewan-,hewan buas yang lain yang rata-rata ditakuti manusia.
Tetapi bagi Prabu Duryudana, Sengkuni maupun Durna. Dandangmangore tidak lebih seperti taman bermain. Mereka sangat akrab dan familier dengan kawasan Dandangmangore. Bahkan bagi Prabu Duryudana tempat itu lebih nyaman dan aman dari tempat manapun dijagadraya.
"Mbah Batari Durga...tolonglah kami. Saya Duryudana dan ini Bapak Pandita Durna dan Paman Patih Harta Sengkuni...!" Teriak Duryudana begitu sampai di pohon beringin besar dengan daun yang sangat rindang.
Teriakan Duryudana segera mendapat tanggapan. Pohon beringin yang sangat besar tiba-tiba terbukalah pintu dan nampak Batari Durga sedang berkacak pinggang.
Mereka bertiga masuk, dan ternyata di dalamnya sangat luas. Di dalam pohon beringin itu ternyata ada bangunan istana megah berlantai tiga dengan penerangan yang cukup prima.
"Mari...mari masuk. Anggaplah ini istanamu sendiri..!" Sambut Batari Durga dengan gopoh.
Durna dan Sengkuni memandang bingung dan melongo karena takjub. Ternyata keadaan terang dan penuh cahaya di dalam bukan karena listrik. Namun itu semua karena cahaya permata intan berlian yang sangat banyak. Dibantu binatang sejenis kunang-kunang yang juga jumlahnya jutaan.
"Ini ada apa Duryudana...kok kamu sampai benjol-benjol dan pakaianmu compang-camping..!?" Tanya Batari Durga.
Dengan terus terang Duryudana menceriterakan. Bahwa kerajaan sekarang kembali dikuasai Ontoseno dan Wisanggeni. Dia berusaha mempertahankan tetapi bisa dikalahkan Ontoseno. "Karena itu Mbah kami datang kemari mohon pertolongan Mbah Batari untuk menghajar Ontoseno dan merebut Istana kami..!" Ungkap Duryudana kepada Batari Durga.
"Ya..ya.. istirahatlah dulu Duryudana. Masalah Ontoseno dan Wisanggeni ntar kita bicarakan, yang penting kamu disini aman dan santailah... " Ujar Batari Durga ramah.
__ADS_1
Sementara itu Wisanggeni dan Ontoseno sedang gembira karena pancingannya berhasil. Maka dengan alasan mengejar buronan Hastinapura, mereka bisa memerangi Dandangmangore. Bahkan menguasainya.
"Umpan kita berhasil Adikku Wisanggeni. Dengan alasan mengejar Duryudana, kita bisa mengacak Dandangmangore sambil melihat sejauh mana keampuhan Gada Intan.. !" Ujar Ontoseno kepada Wisanggeni.
Mereka sepertinya tidak mau ketinggalan momentum. Wisanggeni langsung mengajak Ontoseno segera ke Dandangmangore. Sehingga belum selesai berbasa-basi, Batari Durga sudah menghadapi Ontoseno.
"Wahai Cucuku Ontoseno tumben datang ke Dandangmangore !? Ada apakah gerangan..!?" Tanya Batari Durga kepada Ontoseno dan Wisanggeni.
"Mbah Batari Durga..jangan pura-pura ah... kamu sudah tahu aku memburu buruanku yang kamu sembunyikan..!" Yang menjawab Wisanggeni, dan Ontoseno hanya senyum-senyum saja.
"Maksudmu apa heh Wisanggeni..!?" Tegas Batari Durga.
"Kamu menyembunyikan dan melindungi Pakde Duryudana. Ayo kasihkan atau kuobrak-abrik Dandangmangore..!" Tegas Wisanggeni.
"Kamu berani melawanku heh..!!? Hei Wisanggeni..!!!" Bentak Batari Durga.
"Kenapa tidak berani..!? Ayo lawanlah Gada Intenku yang akan menghancurkan mu..!!!" Gertak Wisanggeni, dan benar sekali.
Mendengar Gada Intan tanpa pamit Batari Durga kabur mengajak Batara Kala. Tidak hanya Batari Durga dan Batara Kala, tetapi para jin setan iblis dan siluman ikutan kabur. Termasuk Prabu Duryudana, Durna dan Sengkuni. Sehingga Dandangmangore sepi ditinggal para penghuninya.
Dan karena Pasetrangandamayit ditinggal Rajanya, yakni Batari Durga Wisanggeni mengajak Ontoseno menguasai Dandangmangore.
"Karena sepi tidak ada Raja disini...maka akulah yang jadi Raja. Namaku Prabu Candrageni..! Dan kamu Kakang jadilah Patihku..!" Ujar Wisanggeni.
"Baiklah aku jadi Patih...namaku Patih Candramawa..!" Jawab Ontoseno.
"Boleh-boleh Kakang...tetapi namamu bukan Candramawa. Kamu tahu Candramawa artinya Kucing. Namamu Candrawarih saja lebih pas...!" Tegas Wisanggeni.
Prabu Candrageni alias Wisanggeni sekarang sudah menyadari. Bahwa apa yang dikatakan Sanghyang Wenang terbukti. Nyatanya Batari Durga baru dengar nama Gada Intan dia sudah kabur dengan membawa Batara Kala. Tidak hanya itu, semua bangsa Iblis, jin, setan, siluman semua ikut kabur.
__ADS_1
"Wah perbawa Gada Intan ini benar-benar luar biasa Kakang Patih Candrawarih...!" Ujar Prabu Candrageni.
"He eh Adik Prabu...aku sekarang sangat percaya terhadap omongan Sanghyang Wenang...!!!" Ujar Ontoseno.