
Setelah menyelesaikan tugas, yakni membunuh Dewa Kejahatan, Batari Durga dan anaknya, Batara Kala. Ontoseno segera mengajak Wisanggeni untuk menghadap Sanghyang Wenang.
Tujuan menghadap Sanghyang Wenang atau Sang Asih Prana yang Pertama adalah melaporkan tentang pemusnahan Dewa Kejahatan, Batari Durga dan Batara Jalan.
Kedua, adalah seperti janji mereka, Ontoseno dan Wisanggeni telah berjanji bahwa mereka siap berkorban menyerahkan jiwa atau hidup mereka kepada Sang Asih Prana asal ada jaminan bahwa korban mereka tidak sia-sia. Artinya Pandawa dipastikan memenangkan Perang Bharatayudha.
Akhirnya dengan berketetapan hati, Ontoseno dan Wisanggeni menghadap Sang Asih Prana. "Selamat pagi Kakek Wenang... sesuai dengan janji kami Kek. Sekarang kami menghadap..!" Ujar Wisanggeni begitu sampai di Kahyangan Alang-alang Kumitir atau Kahyangan Ondar-andir Bawana.
Berbeda dengan Kahyangan lain, seperti misalnya Kahyangan Jonggringsalaka. Kahyangan terletak di puncak Gunung Mahameru (menurut versi Jawa)atau menurut versi India di puncak Gunung Himalaya.
Atau seperti Kahyangan Dandangmangore ini terletak di Hutan Krendawana. Akan halnya Kahyangan Ondar-andir Bawana ini sangat spesial.
Kahyangan tersebut terletak bukan di bumi. Kahyangan menggelantung di langit. Berada di atas awan yang menempati hanya Sanghyang Wenang saja. Tetapi Sanghyang Wenang sejatinya dua orang. Ketika dia disebut Sanghyang Padawenang. Ini mengandung pengertian bahwa Sanghyang Wenang telah menyatu dengan Sanghyang Tunggal.
Sanghyang Tunggal adalah ayah dari Batara Guru atau Sanghyang Manikmaya, Ki Lurah Semar atau Sanghyang Ismaya, dan Ki Lurah Togog atau Sanghyang Tejamaya.
Sejatinya Sanghyang Wenang adalah ayah Sanghyang Tunggal. Karena para dewa hidup abadi, dan untuk lebih memudahkan mereka dalam mengelola para dewa. Sehingga Sanghyang Wenang dan Sanghyang Tunggal menyatu. Sejak itu namanya jadi Sanghyang Pada Wenang. Tentu saja umur mereka jutaan tahun.
"Ohw iya Cucuku Ontoseno dan Wisanggeni jadi kalian sudah melaksanakan tugasmu. Batara Kala dan Batari Durga sudah musnah..!?? Mari silahkan duduk dan ceritakan apa yang sudah kalian kerjakan..!!" Balas Sang Asih Prana.
Dalam perwujudan hasil penyatuan Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Tetap menggunakan perwujudan Sanghyang Wenang bukan perwujudan Sanghyang Tunggal.
Perwujudan Sanghyang Wenang adalah bentuk tubuhnya menyerupai anak balita. Sehingga sepintas lalu dia kerap diremehkan atau disepelekan karena dianggap anak-anak. Meskipun sesungguhnya dia adalah seorang dewa yang sakti tiada tandingannya.
"Maaf Kakek Wenang kami kira sudah mengetahui apa yang terjadi...!!!" Bantah Wisanggeni.
"Benar... aku memang sudah mengetahui semuanya.. tetapi etikanya kalian tetap harus melaporkan kepadaku..Benar tidak..!?" Sergah Sanghyang Wenang.
__ADS_1
"Benar begitu Kek..!" Jawab Ontoseno lantas dia menceritakan kronologis kejadiannya. Karena kegagalan Duta terakhir Pandawa, yakni Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna. Bahkan nyaris saja Prabu Sri Kresna terbunuh karena kelicikan Kurawa.
Jadi permintaan Pandawa agar Kurawa mengembalikan Negara Indraprasta berikut jajahannya, serta Negara Hastina separo tidak berhasil. Bahkan Raja Hastinapura, Prabu Duryudana menantang Perang Bharatayudha.
Maka tantangan itu langsung direspon Pandawa dengan menyiapkan pasukan tempurnya dan mengundang serta negara-negara yang bersimpati kepada Pandawa, seperti Negara Wirata, Negara Dwarawati. Negara Pancala dan lain sebaginya.
"Meskipun Kurawa menantang perang tetapi sebenarnya mereka ketakutan kepada kekuatan dan kesaktian para Pandawa..!!!" Papar Ontoseno.
Berawal dari rasa takut yang berlebihan itulah, ungkap Ontoseno, sehingga Prabu Duryudana bersama Pandita Durna meminta tolong Batari Durga dan Batara Kala untuk membunuh Pandawa sebelum Perang Bharatayudha dimulai. Sehingga dalam perang nanti Kurawalah yang menang.
Maka dikirimlah pasukan siluman dan demit dari Dandangmangore.
"Dan untung kami berjaga di Wirata. Aku berjaga di wilayah daratan. Adik Geni menjaga wilayah udara...!" Jelas Ontoseno.
Pasukan Dandangmangore menyerang mengerahkan semua kekuatannya.
Dan berkat Gada Intan pemberian Sanghyang Wenang Batara Kala berhasil dibunuh.
"Batara Kala berhasil kita bunuh tetapi Batari Durga ngumpet. Tidak muncul...!" Tegas Wisanggeni. Maka untuk menipu dan memancing mantan isteri Batara Guru keluar yakni Batari Durga atau Gendeng Pramoni. Wisanggeni merubah wujudnya jadi Batara Kala.
Dengan menyamar sebagai Batara Kala, Wisanggeni mendatangi Pasetran Gandamayit atau Dandangmangore. Dan dengan akalnya Batari Durga bisa keluar menemui Wisanggeni.
"Saat itulah aku kepruk pakai Gada Intan. Seketika Batari Durga hancur luluh Kek...! Demikianlah kisahnya Kek..!" Ujar Wisanggeni mengakhiri paparannya.
Setelah mendengar cerita Ontoseno dan Wisanggeni, nampak Sang Asih Prana manggut-manggut telihat puas.
"Kalian sudah menyelesaikan kepastian dari Hyang Maha Agung. Memang menurut suratan takdir bahwa dewa kejahatan akan mati di tanganmu..!" Jelas Sang Asih Prana.
__ADS_1
Sanghyang Wenang menjelaskan bahwa semua itu terjadj karena perbuatan kita sendiri. Seperti awal kelahiran Batara Kala. Dia lahir ke dunia hasil hubungan yang kurang pantas yang dilakukan Batara Guru terhadap isterinya Dewi Uma.
Pada saat itu Batara Guru sedang ngajak Dewi Uma berwisata dengan menaiki Lembu Andini. Lembu Andini adalah seekor sapi sakti yang dapat terbang.
Saat melintas diatas Samudera, tiba-tiba kain yang dipakai Dewi Uma tersingkap karena tertiup angin. Sehingga betis Dewi Uma yang putih mulus terlihat jelas.
Batara Guru yang melihat kemulusan betis Dewi Uma terangsang. Dia tidak kuat menahan birahinya. Batara Guru minta begituan di atas Lembu. Dewi Uma menolak karena itu tempat terbuka dan diatas lembu lagi.
Namun nafsu Batara Guru sudah diubun- ubun, dia tetap memaksa Dewi Uma untuk melayani. Akibat bersenggama di tempat yang tidak semustinya. Maka tanpa disadari ****** Batara Guru tumpah ke lautan.
Dan ****** yang tumpah itu berubah menjadi bayi Raksasa yang menjadi Batara Kala. Jadi karena dia terbentuk oleh nafsu bejat. Hingga Batara Kala pun mati dengan cara demikian.
Dewi Uma adalah Puteri Raja Persia. Namun sejak muda dia berkeingan menjadi seorang bidadari. Berbagai ritual mistis dia lakukan. Sampai kemudian terpantau Batara Guru.
Dia mendatangi Dewi Uma, bahwa Batara Guru sanggup menjadikan Dewi Uma sebagai seorang bidadari. Asal Dewi Uma mau jadi isterinya.
Akhirnya Dewi Uma mau diperistri Batara Guru, sampai kemudian terjadi peristiwa di atas Lembu Andini. Dan karena penolakan Dewi Uma, Batara Guru sangat marah.
Dewi Uma disumpahi sehingga wajah yang cantik kontan berubah jadi wajah raksasa perempuan atau raksesi. Dan namamya diganti menjadi Batari Durga atau Batari Gendeng Pramoni.
Memang cita-cita Dewi Uma terkabul yakni jadi bidadari tetapi karena wataknya kurang baik maka dia jadi bidadari tetapi berwajah metongos menyeramkan.
Dan Batara Guru memberikan Kahyangan Pasetran Gandamayit dengan diberi kekuasaan bahwa semua siluman, segala macam dedemit, iblis dan setan dibawah kendalinya.
Dan Batari Durga diberi berbagai macam kesaktian untuk berbuat. Tetapi dia akan dapat dimusnahkan oleh Gada Intan.
"Jadi inilah pengertian bahwa siapa menanam dia juga yang akan menuai...dan semuanya sudah terbukti bukan..!?" Jelas Sanghyang Wenang kepada Ontoseno dan Wisanggeni.
__ADS_1