
Selama jagad ayem tentram, pikiran manusia pun berkembang. Mereka tidak cuma memikirkan diri sendiri. Tetapi juga memikirkan kehidupan orang lain. Bahkan mulai memikirkan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Negara Amarta atau Bangsa Amarta selama ini dianggap sebagai bangsa beradab, bangsa yang sopan santun dengan unggah-ungguh yang sering dijadikan tauladan.
Hanya belakangan, sejalan dengan adanya kemajuan teknologi, dimana batas satu negara dengan negara lain, seperti tidak ada jaraknya lagi. Batas-batas antar negara sepertinya telah tergerus oleh kemajuan teknologi itu.
Dan akibat tergerusnya sekat-sekat tersebut, tak urung imbas kemajuan teknologi ikut pula menggerus perdaban Amarta yang adiluhung. Hal inilah yang membuat sesepuh Negara Amarta, Ki Lurah Semar, atau Brodonoyo menjadi prihatin.
"Jika kita tidak segera menyadari keadaan. Dan membiarkan perdaban kita yang luhur ini tergusur oleh budaya asing. Bangsa ini bisa celaka...!" Ujar Ki Lurah Bodronoyo dalam hati.
Kegelisahan Ki Lurah Bodronoyo dilanjutkan dengan laku batin. Dia melakukanya tirakat wirid dan puasa. Sehingga Hyang Maha Agung akhirnya memberitahu Ki Lurah Semar bahwa agar cita-cita dia membangun mental spiritual Bangsa Amarta agar lebih baik. Sekaligus membangun benteng masuknya budaya asing kepada anak bangsa. Ki Lurah Semar harus didampingi tiga pusaka Negara Amarta.
Tiga pusaka utama Negara Amarta, yaitu Tombak Karawelang kesatu, kedua Payung Tunggul Naga, dan ketiga adalah Jimat Kalimusada. Mendengar petunjuk dewa itu Ki Lurah Semar pusing tujuh keliling dan dia terpaksa jatuh sakit.
Sebab untuk meminjam ketiga pusaka kepada Pandawa bukan perkara gampang. Sebab harus atas persetujuan kelima orang anggota Pandawa. Jika satu anggota Pandawa tidak setuju berarti gagal. Inilah yang membuat Ki Lurah Semar jatuh sakit.
Melihat Ki Lurah Semar jatuh sakit. Semua anaknya ikut pusing. Karena Ki Lurah Semar tidak mau makan, sehingga badannya kurus dan wajahnya pucat.
"Bapakku...yang sangat kami sayangi Bapak sakit apa sih? Kemarin kami panggil dokter Umar memeriksa Bapak. Katanya gak ada penyakitnya.
Dokter Puskesmas pun mengatakan yang sama. Tetapi faktanya Bapak gak doyan makan, badannya kurus dan mukanya pucat. Bapak bicaralah sebenarnya Bapak sakit apa..!?" Tanya Petruk, putera kedua Ki Lurah Semar.
"Ya benar Bapak...Bapak ingin apa sih..!? Bagong siap mencarikan apa yang Bapak inginkan. Bahkan saya siap kehilangan nyawa untuk Bapak..!?" Tanya Bagong, putera bungsu Ki Lurah Semar.
Mendengar suara Bagong, Ki Lurah Semar yang semula matanya menutup tiba-tiba membuka.
__ADS_1
"Aduh anakku yang paling cakep Bagong kemarilah...!!!" Ujar Ki Lurah Semar lemah. Bagong yang dipanggil segera mendekat. Diikuti Petruk dan Gareng. Setelah ketiga anaknya ngumpul, barulah Ki Lurah Semar bicara.
"Begini anak-anakku...aku sakit karena memikirkan negara bangsa Amarta. Bahwa bangsa kita belakangan ini, terutama di era millenial ini, lambat namun pasti peradaban kita telah tergerus dan tergantikan oleh budaya asing.
Dimana budaya itu sesungguhnya tidak pantas kita adopsi. Karena kultur bangsa kita berbeda dengan mereka. Keprihatinanku mendorongku untuk bermeditasi. Dan dari hasil meditasi itu, aku mendapat petunjuk.
Petunjuk itu mengatakan bahwa agar aku bisa dan sukses membangun mental spiritual Bangsa Amarta ini aku harus dibekali tiga pusaka.
Nah ketiga pusaka inilah yang membuatku sakit. Namun aku kemudian tergugah oleh janji anakku Bagong bahwa dia mau mencarikan apa yang kuinginkan dengan taruhan nyawanya... aku terharu dan timbul semangatku..!" Jelas Ki Lurah Semar.
"Mengapa Bapak sakit sih..??" Tanya Petruk.
"Ketahuilah anakku. Ketiga pusaka itu adalah punya Para Pandawa. Dan untuk meminjam pusaka itu tidaklah mudah. Sebab pusaka itu adalah mati hidupnya Pandawa. Dan Pandawa ada lima orang. Satu saja tidak setuju maka pusaka itu tidak boleh dibawa. Padahal itu harus ada. Apa gak bikin Bapakmu ini pusing dan akhirnya jatuh sakit...!" Papar Semar.
"Ya aku sih berharap tidak akan terjadi apa-apa dan aku yakin tidak sampai ada yang mati. Namun lepas dari itu Bapakmu tergugah karena semangat Bagonglah.
Bagong bersemangat dan aku percaya sama dia. Karena Bagong kalau bicara dibuktikan benar-benar. Bukan seperti Gareng... ngomongnya saja, tetapi tidak pernah menepati janji. Iya kan Reng...!?" Jelas Semar.
Gareng yang disebut Ki Lurah Semar cuma ngomong doang hanya senyum-senyum.
"Jadi aku berangkat kapan Bapak untuk pinjam pusaka itu..!?" Tiba-tiba Bagong menanyakan keberangkatannya kapan ke Negara Amarta.
"Ya kalau kamu senggang ya berangkat sekarang sana..!' perintah Ki Lurah Semar.
"Ok Bapak. Aku mohon ijin Bapak...!' ujar Bagong, setelah memakai celana training merah Bagong langsung pergi ke Amarta naik Honda bebek 70 nya.
__ADS_1
Karena pas hari Respati Legi di Keraton Amarta sedang diadakan pisowanan (pertemuan). Hadir Pandawa lengkap dan hadir Pujangga Keraton Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna dan Bagong datang saat tamai-ramainya bicara.
Bagong tanpa basa-basi menceriterakan kepada Prabu Puntadewa bahwa dia diutus Bapaknya, Ki Lurah Bodronoyo.
Bagong juga mengatakan bahwa Bapaknya tidak bisa datang sendiri karena sakit parah. Dan Bagong mengatakan bahwa Semar sakit lantaran mikirin rakyat Amarta.
Dikatakannya, bahwa Semar sangat prihatin melihat kondisi rakyat Amarta belakangan ini. Mereka seperti telah kehilangan jati diri.
Karena Semar termasuk pamong Pandawa, merasa ikut bertanggungjawab terhadap situasi tersebut. Semar ingin membangun mental spiritual Bangsa Amarta.
"Bapak dengan niat tulus ingin mengembalikan jatidiri anak bangsa ini. Tetapi untuk dapat terlaksananya niat luhur tersebut, Bapak mohon dipinjami tiga pusaka Amarta.
Ketiga pusaka tersebut adalah Tombak Karawelang, Payung Tunggul Naga dan Jimat Kalimusada. Jadi mohon perkenan Prabu Puntadewa meminjamkan ketiga pusaka tersebut...!" Pinta Bagong.
"Bagong... bagiku tidak masalah Kyai Semar mau pinjam tiga pusaka Amarta tersebut. Sekarang aku serahkan kepada adik-adikku. Bagamana pendapat mereka aku serahkan kepada masing-masing..!!!" Jawab Prabu Puntadewa, yang selanjutnya dia menanyakan kepada Brotoseno.
Brotoseno menyatakan boleh karena bagaimana pun Pandawa banyak berhutang Budi kebaikan kepada Semar. Terlebih Semar meminjam pusaka itu juga demi kebaikan Bangsa Amarta. Jadi Brotoseno setuju pusaka itu dipinjamkan kepada Ki Lurah Semar lewat Bagong.
Giliran ditanyakan kepada Djanoko, Hardjuna pun setuju pusaka itu dipinjamkan kepada Ki Lurah Semar dengan pendapat sama seperti Kakaknya, Brotoseno.
Demikian pula si kembar Nakula dan Sadewa juga berpendapat sama. Jadi kelima anggota Pandawa semuanya setuju. Dan itu membuat Bagong gembira sampai dia jingkrakan.
Namun keceriaan Bagong mendadak sirna ketika Raja Dwarawati Prabu Sri Kresna mendadak maju dan mencegah Pandawa meminjamkan pusaka kepada Bagong.
"Maaf Dinda Prabu Puntadewa... sebaiknya dipikir dahulu. Jangan buru-buru pusaka itu dipinjamkan. Lagi pula yang pinjam hanya seorang Punakawan, seperti Semar. Sebaiknya tunda dulu..!" Cegah Prabu Sri Kresna yang membuat Bagong tercekat dan melongo.
__ADS_1