
Hari ini, Keraton Amarta atau Indraprasta sedang kedatangan tamu Pandita Durna. Semua keluarga Pandawa kumpul. Dari anak pertama yakni Prabu Puntadewa atau Dharmakusuma, atau Yudistira. Anak kedua yakni Brotoseno alias Werkudara Alia Bimasena. Anak ketiga, yakni Djanoko Alia Harjuna alias Permadi. Dan keempat dan kelima, merupakan anak kembar, yakni Nakula dan Sadewa, atau Pingsen dan Tangsen.
Semua kumpul menyambut Pandita Durna yang memang guru mereka.
"Selamat datang Bapak Durna di Amarta. Apa kabar Bapak..!?" Sapa Prabu Dharmakusuma kepada Durna.
"Alhamdulillah kabar baik Anak Prabu Dharmakusuma. Semoga Anak Prabu dan keluarga juga dalam keadaan sehat wal Afiat..!" Jawab Pandita Durna.
" Ohw ya tumben Bapak bisa hadir di Amarta. Ada keperluan apakah Bapak !? Apa yang dapat kami bantu..!?" Tanya Prabu Dharmakusuma lagi kepada Pandita Durna.
"Ohw iya Anak Prabu. Sebenarnya kepentinganku sama Anakku Djanoko. Tetapi berhubung ketemunya di sini ya kusampaikan saja permasalahannya disini. Boleh kan Anak Prabu? Dan mudah-mudahan ini tidak mengganggu semuanya...!?" Tanya Durna lagi.
"Silahkan-silahkan Bapak. Kami senang kok. Silahkan ngomong apa saja Bapak. Disini bebas..!' Ujar Brotoseno mewakili Kakaknya, Prabu Puntadewa.
Setelah dipersilahkan bicara bebas, baru Pandita Durna menceriterakan, bahwa kedatangannya ke Amarta menghadap Prabu Puntadewa karena diperintah Raja Hastinapura, Prabu Duryudana.
"Aku diutus Anak Prabu Duryudana karena sudah tiga bulan terakhir, Putera Mahkota Kerajaan Hastinapura, yaitu Raden Lesmana Mandrakumara alias Sadjukusuma tengah tergila-gila kepada seorang gadis...!" Ungkap Pandita Durna.
Dari pengalaman yang sudah-sudah, meskipun Lesmana Putera Raja Besar, tetapi setiap melamar cewek ditolak.
"Melamar Dewi Pergiwati ditolak. Melamar Dewi Pergiwa ditolak. Melamar Dewi Djanokowati ya ditolak. Melamar putri Dwarawati ditolak. Bahkan melamar penjual bakmi di pasar juga ditolak..! ' papar Durna.
Karena terus-terusan ditolak, papar Pandita Durna, Prabu Duryudana mengadakan rapat darurat. Rapat bertujuan mencari yang tepat untuk dimintai tolong melamarkan Lesmana.
"Nah sekarang Lesmana sedang tergila-gila dengan gadis asal Pertapaan Cakrawala. Gadis itu bernama Kencana Resmi, Puteri dari Resi Dewa Kartika...!" Ungkap Pandita Durna.
Minta tolong Raja Mandura, Prabu Baladewa yang bersangkutan angkat tangan.
"Baladewa Menyerah. Aku pun tidak sanggup..!" Jelas Durna.
__ADS_1
Nah rapat darurat memutuskan, agar minta tolong kepada Raden Djanoko. Sebab semua orang tahu bahwa ketampanan Raden Djanoko tidak ada yang mengalahkan di dunia ini.
"Setiap Puteri yang dikehendakinya pasti kecantol. Karena Anak Prabu Duryudana dan Permaisuri Dewi Banowati mengusulkan agar minta tolong kepada Djanoko..Anakku untuk melamarkan Lesmana..!" Kilah Durna.
Mendengar penuturan Pandita Durna, Prabu Puntadewa menyerahkan persoalan tersebut kepada Djanoko langsung. Karena itu tanpa berpikir panjang Raden Djanoko menyanggupi keinginan Durna.
Syaratnya dia harus ketemu dan ngomong dulu empat mata dengan Dewi Banowati.
Mendengar kesanggupan Djanoko untuk melamarkan Lesmana Mandro Kumara, Brotoseno marah.
"Heeii...Djanoko. Kamu menyanggupi melamarkan bocah degleng Lesmana..Apa sudah kamu perhitungkan untung ruginya. Ingat lho Djanoko jika kamu gagal nama baik Pandawa ikut rusak. Padahal kamu tahu Lesmana meskipun dia anak raja besar. Tetapi semua jijik melihatnya. Bahkan tukang mie saja menolak dilamar dia. Kok kamu berani nekad menyanggupi..Hai Djanoko..!?" Bentak Brotoseno kepada adiknya.
Mendengar Omelan kakaknya Djanoko pilih diam. Sebab Brotoseno paling tidak suka jika ada orang yang membantah kehendaknya.
Namun Pandita yang khawatir jika Djanoko takut takut. Dia bisa batal tidak mau melamarkan Lesmana, segera menjawab Omelan Brotoseno.
"Aduh duh muridku Brotoseno. Kamu jangan begitu. Kamu muridku yang paling ganteng. Tolong bantu Gurumu...jangan marahi Djanoko..!" Ujar Pandita Durna.
" Apa kamu berbuat begitu karena Banowati ya..? Hei ingat Djanoko...Banowati masih punya suami, yaitu Duryudana. Kamu jangan macem-macem. Ayo batalin kesanggupanmu..!" Omel Brotoseno.
Pada saat itulah tiba- tiba muncul Ontoseno yang menggiring Wisanggeni menghadap Prabu Dharmakusuma.
"Ohw..ohw Anakku Wisanggeni dan Ontoseno, ada apa kok secara tiba-,tiba kalian menghadapi..!?" Sapa Prabu Puntadewa kepada Wisanggeni dan Ontoseno.
"Ya..maafkan kami Wak Prabu. Karena sesungguhnya kami kesini sedang mencari Bapak Djanoko..!" Ujar Wisanggeni mewakili dirinya dan Ontoseno.
"Ada apa anakku....!?" Ujar Djanoko kepada Wisanggeni.
"Begini Bapak...aku datang kesini sebenarnya aku minta restu dari Bapak. Karena aku mau nikah dan atas saran Kakang Ontoseno agar minta restu kepada Bapak..!" Ungkap Wisanggeni.
__ADS_1
"Terus gadis yang mau kamu nikahi gadis mana? Namanya siapa? Orang tuanya siapa..!?" Tanya Djanoko.
"Gadis itu bernama Dewi Kencana Resmi Puteri dari Resi Dewa Kartika dari pertapaan Cakrawala..!' papar Wisanggeni.
Betapa terkejut Brotoseno maupun Djanoko begitu mengetahui bahwa gadis yang akan dinikahi adalah gadis yang sama yang bakal dilamar Djanoko atas permintaan Lesmana.
"Nah...lu. Biar kapok kamu Djanoko. Kamu pilih belain anak atau pilih bantu Lesmana.. ha ha ha...!?' Brotoseno tertawa senang, karena terbukti benar.
Akan halnya terhadap keinginan Wisanggeni ini betul-betul kepalanya pusing tujuh keliling. Maka cukup lama Djanoko termenung. Dia baru sadar setelah Wisanggeni mengulang ucapannya.
"Bapak aku mohon Restu ya..!?' tanya Wisanggeni lagi.
"Wisanggeni anakku...aku akan merestuimu. Jika kamu menikahi gadis lain selain Kencana Resmi...!" Jawab Djanoko yang langsung ditimpali Pandita Durna.
"Iya benar Cucuku Wisanggeni...jangan kamu nikahi Kencana Resmi ya..!? Kamu cari gadis lain... nanti semua biaya pernikahan kami tanggung..!" Ujar Durna.
"Tidak Bapak...aku tetap akan nikahi Kencana Resmi. Baik Bapak memberi restu atau tidak...!" Tegas Wisanggeni, yang justeru disambut tepukan tangan Brotoseno.
"Ayo teruskan Wisanggeni soal kerepotan biaya. Biar aku yang nanggung. Bapakmu Djanoko memang sudah edan...kok lebih memilih bocah degleng Lesmana daripada anak kandungnya..!" Ujar Brotoseno menyemangati Wisanggeni. Bahkan Ontoseno pun memberi support kepada Wisanggeni.
"Jangan kuatir Adikku. Aku siap menjadi wali nikahmu. Meskipun Paman Djanoko tidak mendukungmu..!" Ujar Ontoseno.
Melihat kekerasan kepala Wisanggeni Djanoko tersulut.
"Anak kurang ajar... kularsng kok kamu membantah..!" Bentak Djanoko.
"Maaf Bapak..masalah cinta tidak bisa seenaknya diubah. Aku tetap akan nikahi Kencana Resmi. Baik dengan restu Bapak atau tidak. Bahkan aku berani bertaruh sama Bapak...aku atau Bapak yang akan meluluhkan hati Kencana Resmi..!' balas Wisanggeni sembari menggertakan gigi yang kembali membuat Brotoseno senang dan bertepuk tangan.
Melihat keteguhan tekad Wisanggeni, Djanoko hanya bisa geleng-geleng kepala. Berbeda dengan Pandita Durna melihat sikap Wisanggeni dia bersungut.
__ADS_1
"Wah...wah anak miilenial memang sulit diatur, maunya seenaknya sendiri. Sudah Anakku Djanoko..kita lupakan saja Cucuku Wisanggeni. Ayoh kita ke Hastinapura. Ananda Banowati sudah menunggu kita...!" Pandita Durna sengaja menyentil nama Permaisuri Dewi Banowati untuk memancing Djanoko mengikutinya kembali ke Hastina.