Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
23. Gerombolan Mina Lodra Habis


__ADS_3

Dengan keberhasilan Bulus Petak dan kawan-kawan meringkus Bajulsengara dan Buaya Sakti beserta konco-konconya, berakhir sudah sudah sisa-sisa gerombolan pemberontak Mina Lodra.


Setelah mengikat semua tawanan Bulus Petak CS kemudian meninggalkan Hongkong kembali ke Gisik Samudra. Dan meskipun mereka adalah para pemberontak dan menjadi tahanan tetap diperlakukan dengan baik.


Perjalanan dari Hongkong ke Gisik Samudera berjalan cukup lancar. Ontoseno yang menjadi supervisor Bulus Petak sudah kembali dahulu dan melaporkan semua kejadian di Hongkong kepada Mintuno.


Sehingga ketika siang hari rombongan Bulus Petak sampai ke Gisik Samudera Sanghyang Resi Mintuno segera menyambutnya.


Setelah menyalami dan merangkul para misionaris ini, Mintuno menyuruh mereka beristirahat terlebih dahulu. Dengan sendirinya setelah mereka memasukan para tahanan ke dalam penjara.


"Aku tahu kalian masih cape. Kupersilahkan kalian istirahat. Besok baru aku ingin mendapatkan laporan kalian secara lengkap...! " Ujar Mintuno seraya dia menutup pertemuan tersebut.


Setelah semua bubar Mintuno sempat memperhatikan cucunya, Ontoseno terlihat kusam tidak bergairah, sehingga Mintuno harus menanyakan perihal tersebut kepadanya.


"Ontoseno...cucuku. kulihat kau seperti sedang bersedih. Bukankah seharusnya kamu bergembira karena misi yang kau emban berhasil dengan gemilang...!" Ujar Mintuno ingin tahu.


Mendapat teguran semacam itu, Ontoseno sempat terperangah. Namun keadaan itu hanya sebentar. Karena dengan cepat Ontoseno segera memperbaiki diri.


"Tidak ada Kek...hanya aku merasa capek.


!" Ujar Ontoseno pelan.


"Kamu tidak usah berbohong Ontoseno... Kakekmu ini cukup berpengalaman. Katakan terus terang ada apa? Barangkali kakek bisa membantumu..!" Desak Mintuno.


Semula Ontoseno tidak ingin menceritakan kegundahan hatinya kepada Sanghyang Resi Mintuno tetapi rupanya si kakek tahu akan isi hatinya.


"Baiklah Kek....aku sebenarnya tidak ingin ceritakan isi hatiku kepada Kakek. Namun sepertinya Kakek tahu apa yang kusimpan dalam sanubariku..!' berhenti sejenak Ontoseno sembari melihat reaksi kakeknya.


"Ayolah Cucuku...katakan saja kepadaku apa yang ada di hatimu...!" Desak Mintuno.


"Baiklah akan kukatakan terus terang, tetapi Kakek tidak marah ya..!?"

__ADS_1


"Tidak...tidak...aku gak akan marah. Kamu adalah cucuku satu-satunya dan sangat kusayangi..!" Ujar Mintuno yang membuat Ontoseno tidak punya alasan menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


Begini Kek, kata Ontoseno mulai membuka diri. Selama ini saya bingung Kek. Semenjak aku menjadi manusia dewasa kok aku tidak pernah melihat Ayahku.


Padahal setiap manusia dilahirkan oleh seorang Ibu, tetapi kan rata-rata punya Ayah.


"Mustinya aku pun demikian bukan Kek !? Nah kalau benar aku punya Ayah. Dimanakah Ayahku, dan siapa namanya Kek.. !?" Tanya Ontoseno.


"Ohw begitu rupanya...jadi kamu pengin tahu siapa Bapakmu. Benar begitu..!?' Mintuno balik tanya.


"Ya Kek...aku pengin seperti manusia normal yang punya ibu dan juga punya Bapak..!" Jawab Ontoseno.


"Oh...oh..tentu..tentu. Kamu ya..pasti punya Ayah atau Bapak...!" Jelas Mintuno.


"Lho kalau aku punya Bapak. Bapakku namanya siapa dan dimana dia kok sudah lebih dua puluh tahun gak nengok Ibu..!?" Ujar Ontoseno.


"Bapakmu bernama Brotoseno... atau Werkudoro... atau Bimasena. Dia adalah seorang ksatria Pandawa. Bapakmu berkedudukan di negara Amarta...tinggalnya di Ksatrian Jodipati.


Tetapi Kakek bisa memahami karena sejak dia menikah dengan Ibumu dia pun ngomong begitu Ontoseno..!" Urai Mintuno.


"Ya cerita Kakek cukup jelas. Dan berhubung tugas membasmi sisa-sisa gerombolan Mina Lodra sudah tuntas. Ijinkan aku mau mencari Bapak Kek..!" Ujar Ontoseno.


"Boleh..boleh tetapi kamu musti minta ijin Ibumu dulu ya...!?" Ujar Mintuno.


Setelah mendapat jin dari Sanghyang Resi Mintuno, Ontoseno segera bergegas menemui Ibunya untuk minta ijin.


Dewi Urang Ayu sempat kaget dikunjungi Ontoseno mendadak. Lebih kaget lagi ketika Ontoseno minta ijin pergi mencari suaminya, Brotoseno.


"Ontoseno..Ontoseno...kamu jangan macam-macam. Aku tidak suka kamu mencari Kang Mas Brotoseno. Biarin saja aku tidak butuh dia. Kamu jangan pergi. Aku tidak suka itu..!' Dewi Urang Ayu ngambek, tetapi Ontoseno mengetahui bahwa Ibunya sebenarnya sangat merindukan Ayahnya. Karena itu Ontoseno mencoba merayu Urang Ayu dengan jurus.


"Ibu...aku mencari Bapak dengan maksud untuk mengajak Bapak kesini. Ibu pasti rindu bukan..!?" Berhenti sejenak Ontoseno memperhatikan roman muka Ibunya. Dan ternyata wajah Urang Ayu berseri-seri.

__ADS_1


Sehingga Ontoseno melanjutkan rayuannya.


"Jadi setelah nanti aku ketemu Bapak. Bapak akan kupaksa dengan cara apapun agar ke Gisik Samudera menemui Ibu. Bagaimana Bu? Apa Ibu ijinkan..!?" Rayu Ontoseno.


"Baiklah...baiklah kuijinkan. Tetapi jangan pakai lama ya...begitu kamu ketemu Kang Mas Brotoseno. Kamu harus cepet pulang..!" Urang Ayu nampak bergairah banget dan Ontoseno senang sekali karena umpannya berhasil dengan baik.


"Itu pasti Ibu. Aku akan segera kembali begitu ketemu Bapak..!" Ujar Ontoseno dengan sumringah. Dan Urang Ayu pun tidak hanya mengijinkan Ontoseno untuk mencari Brotoseno. Namun Urang Ayu pun rela membongkar celengannya untuk saku Ontoseno ke negara Amarta.


"Nih...kukasih uang celenganku...sisanya akan kubelikan sprei baru untuk menyambut Bapakmu. Ingat...ingat ya Bapakmu Brotoseno itu berperawakan tinggi besar ganteng sekali. Dia berewokan. Kamu harus tahu itu..!' jelas Urang Ayu seraya memberikan uang kepada Ontoseno.


Dapat ijin dan dapat uang saku Ontoseno jingkrakan senang bukan kepalang.


"Baiklah Ibu terima kasih. Semua pesan Ibu akan aku perhatikan. Sekarang juga aku mohon pamit Ibu...! " Seru Ontoseno setelah sungkem, dia langsung pergi untuk berpamitan dengan Kakek angkatnya, Sanghyang Baruna.


"Di jalan hati-hati dan cepat kembali...!" Ujar Urang Ayu, sementara Ontoseno sudah melesat jauh ke dasar Samudera untuk menemui Sanghyang Baruna.


Kebetulan hari itu Sanghyang Baruna lagi senggang. Sehingga Ontoseno sempat berbincang dengan kakek angkatnya.


Selian menjelaskan secara lengkap siapa Raden Brotoseno, Batara Baruna juga menambahi bekal ilmu kepada Ontoseno.


"Ingat ya Ontoseno. Bapaknya gagah tinggi besar ganteng. Sayangnya dia seperti kamu tidak bisa berbahasa dengan halus dan tidak bisa duduk.


Tetapi dia orang yang berhati luhur baik Budi dan welas asih. Juga sakti mandraguna...nah jika ketemu orang semacam itu. Dialah Bapakmu...ya !?" Jelas Baruna.


"Terima kasih Kek...akan aku perhatikan dan aku mohon pamit ya Kek..!?" Ujar Ontoseno sambil melesat terbang ke angkasa.


...***...


Cerita bergeser ke hutan di kawasan negara Amarta atau Indraprasta tersebutlah Raden Pancawala, putera Raja Indraprasta, yakni Prabu Puntadewa.


Pancawala sengaja mengasingkan diri ke hutan lantaran hatinya tengah galau. Sebab cinta kasihnya dengan Dewi Pergiwati bisa gagal. Lantaran Ayahanda Pergiwati yaitu Pangeran Janoko tengah menjodohkan puterinya dengan Raden Lesmana Mandrakumara.

__ADS_1


Meskipun banyak orang menyayangkan sikap Janoko, tetapi nampaknya Janoko tidak peduli. Karena dia juga mendapat tekanan dari gurunya, Pandita Kumbayana alias Resi Durna.


__ADS_2