Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
35. Sanghyang Jagadnata Kabur


__ADS_3

"Wahai Dewa Wicara dan saudaramu... menyingkirlah atau kamu akan hancur lebur terkena tombak pusakaku ini..!" Bentak Sanghyang Jagadnata mengingatkan Dewa Wicara.


Namun bentakan tersebut ditanggapi sinis Dewa Wicara.


"Ayoh keluarkan semua senjatamu. Aku tidak akan mundur...silahkan saja..!!" Tantang Dewa Wicara.


Dalam benak Sanghyang Jagadnata, Dewa Wicara maupun Herbanu dan Candrasengkala akan hancur lebur bila terkena tombak ini.


Mendengar ejekan Dewa Wicara, Batara Guru langsung menghujamkan tombak trisulanya ke dada lawannya. Namun betapa kagetnya dia, tombak trisulanya malah melengkung begitu mengenai dada Dewa Wicara.


Betapa malunya Batara Guru, dia tanpa banyak bicara kabur meninggalkan Dewa Wicara. Betul-betul kabur meninggalkan Kahyangan Suralaya. Para dewa dan anak buahnya pun ramai-ramai ikut kabur.


Otomatis Raja Dewa sudah tidak ada. Karenanya Herbanu kemudian mengukuhkan Dewa Wicara jadi Raja para Dewata menggantikan Batara Guru.


Dewa Wicara Raja para dewa dan Herbanu Patihnya sekaligus penasehatnya. Senopatinya dijabat Candrasengkala, ular besar yang menjadi sahabat dan diangkat adik Dewa Wicara.


Batara Guru atau Sanghyang Jagadnata yang dipermalukan Dewa Wicara dan kawan-kawan, kalang kabut mencari bantuan ke Negara Amarta atau Indraprasta. Lebih tepatnya minta bantuan Pandawa.


Kebetulan hari itu sedang ada pisowanan. Seluruh anggota Pandawa kumpul. Mereka adalah Raja Indraprasta Prabu Puntadewa, merupakan kakak tertua Pandawa.


Kedua adalah Brotoseno alias Werkudara merupakan kakak kedua dari Pandawa. Ketiga Djanoko atau Hardjuna adalah anak ketiga dari keluarga Pandawa.


Sedangkan anak keempat dan kelima adalah anak kembar yang disebut Pingsen dan Tangsen. Namun orang lebih mengenalnya dengan sebutan Nakula dan Sadewa.


Selain dihadiri Pandawa komplit pisowanan itu juga dihadiri Pujangga Kraton Indraprasta Prabu Sri Kresna yang juga Raja Dwarawati atau Dwaraka


Pisowanan ini selain masih membahas soal hilangnya Jimat Kalimusada. Juga membicarakan perginya Ontoseno yang hingga setahun lebih tidak pulang juga tidak memberi kabar dimana adanya.


"Apa kabar Kanda Prabu Sri Kresna!? Ya kita masih ngebahas soal hilangnya Jimat Kalimusada...apakah Kanda Prabu sudah punya gambaran...!?" Sapa Prabu Puntadewa kepada Prabu Sri Kresna.


"Alhamdulillah...sehat dan baik, Dinda Prabu. Yah...soal Kalimusada...memang benar-benar memusingkan. Dan ohw iya... bagaimana kabar anakmu Brotoseno... apakah dia sudah dapat titik terang mengenai hilangnya Kalimusada..!?" Tanya balik Sri Kresna.


"Belum ada kabar Kanda. Bahkan bertapa dimana juga kami tidak tahu. Dan sekarang ada dimana juga saya tidak tahu.

__ADS_1


Mungkin Kanda Kresna yang punya alat pelacak... seperti Cermin Paesan mungkin dapat melacak... silahkan Kanda..!" Jawab Brotoseno.


Memang orang yang mempunyai alat pelacak atau pendeteksi paling canggih di dunia perwayangan hanyalah sang Raja Dwarawati.


Alat pelacak itu bernama cermin atau lensa Paesan ada yang menyebutnya Cermin Kopian atau apalah. Yang jelas alat ini sebesar hp dapat melacak keberadaan orang hilang, melacak keberadaan musuh dan sebagainya.


Pokoknya alat lebih canggih daripada hp yang paling canggih sekalipun dan produk terbatas. Karena semua warga dunia perwayangan hanya Sri Kresnalah yang memiliki.


Sekarang Sri Kresna diminta melacak keberadaan Ontoseno dimana. Maka Raja Dwarawati segera mengambil tempat tangan dilipat dan mulut kumat-kamit. Lalu mengambil alat semacam hp android. Melihatnya dengan seksama. Lalu diam dan merenung sebentar.


" Brotoseno....!!" Tiba-tiba Prabu Sri Kresna memanggil Brotoseno.


" Ada apa Kanda?" Tanya Brotoseno.


"Sebentar lagi kita bakal kedatangan tamu. Tamu ini yang akan mengurai persoalan kita. Barangkali ini adalah jalan untuk menemukan Ontoseno dan juga Jimat Kalimusada..!" Terang Sri Kresna.


Dan benar saja. Baru selesai Prabu Dwarawati bicara, datanglah Sanghyang Jagadnata dan Sanghyang Kanekaputera kehadapan para Pandawa.


Semua orang kaget, setelah membalas salam, Prabu Puntadewa mempersilahkan Batara Guru dan Batara Narada mengambil tempat duduk.


"Mohon tanya para Kakek terhormat datang kemari. Adakah kami punya kesalahan sehingga para Kakek ini datang untuk menegur kami..!?" Tanya Prabu Puntadewa dan Prabu Sri Kresna secara hampir berbarengan.


" Tidak cucuku... kalian tidak melakukan kesalahan apapun. Hanya saat kedewataan sedang terkena musibah. Kami diserang musuh. Dan Kahyangan Suralaya diduduki... kami semua terusir.


Dan yang jadi Raja para dewa itu adalah para musuh tadi. Karena itu kami kabur kemari... karena menurut wangsit yang kuterima kalianlah yang bisa mengatasi para musuh tadi...!" Papar Batara Guru.


Sri Kresna tanggap dan dia segera mengutus Brotoseno dan Djanoko untuk ke Kahyangan melawan para musuh tadi.


"Dinda Brotoseno dan Djanoko segeralah ke Kahyangan basmi para musuh tadi...!" Perintah Prabu Sri Kresna kepada Brotoseno dan Djanoko.


Keduanya segera bergegas ke Kahyangan yang diikuti Sri Kresna, Batara Guru dan Batara Narada.


Sesampai di Kahyangan Suralaya atau Jonggring Salala, Brotoseno dan Djanoko langsung menemui Raja para dewa yang baru, yakni Prabu Dewa Wicara atau Dewa Kuncara.

__ADS_1


"Maaf... saudara-saudara ini siapa mau kemana ya..!?' sapa Prabu Dewa Wicara kepada Brotoseno dan Djanoko.


"Perkenalkan sang Prabu. Saya ini Djanoko panengah Pandawa. Ini sebelah saya adalah Kakak saya, Kanda Brotoseno.


Adapun maksud kedatangan kami kemari adalah untuk menemui Prabu Dewa Wicara. Siapakah sang Prabu ini..!?" Ujar Djanoko.


"Ohw..ohw...jadi kalian Pandawa dari Negeri Amarta ya..!? Ya perkenalkan...akulah Dewa Wicara..dan ini patihku, Kakang Herbanu.


Dan yang melingkar disana..dipojok itu...dia adalah adikku yang berujud ular dan bernama Candrasengkala.


Dan sekarang maksud kedatangan kalian kemari mau apa..!?" Setelah memperkenalkan diri Prabu Dewa Wicara balik bertanya.


"Singkat saja, kedatanganku kesini adalah menginginkan kalian segera pergi dari Kahyangan. Dan kembalikan kekuasaanmu


kepada yang lebih berhak..!" Tegas Djanoko.


"Lebih berhak..!? Siapa maksudmu yang lebih berhak wahai Djanoko..!?" Bantah Dewa Wicara.


"Ya tentu Sanghyang Jagadnata dong! Beliau kan dewa, sedang kamu manusia biasa sepertiku..!" Kilah Djanoko.


"Ohw..ohw aku tahu. Kamu kemari karena dimintai tolong Batara Guru. Dan kamu menganggap Batara Guru makhluk yang paling suci ya..!?


Ketahuilah Djanoko, Batara Guru dewa yang paling busuk. Untuk mendapatkan tahta di Kahyangan dia tega memfitnah kakak-kakaknya.


Dan demi cintanya kepada Batari Uma yang telah berubah ujud menjadi Batari Durga dia tidak segan-segan melindungi kejahatan.


Bahkan dia tidak jarang membelokan kebaikan menjadi kejahatan.Sebaliknya menyulap kesalahan menjadi kebenaran.


Kalau kamu pengin bukti ini...aku punya memori kejahatan yang pernah dibuat Batara Guru... itu kucatat di buku memori yang kupunya..!" Jelas Dewa Wicara sembari menunjukan buku memorinya.


"Ayoh baca Djanoko...biar kamu tidak goblog dan hanya nuruti kemauan Batara Guru.


Itu sebabnya pula aku mengusir Batara Guru dari Kahyangan.. dan aku merasa lebih berhak menjadi Raja disini..." Kilah Dewa Wicara.

__ADS_1


__ADS_2