
Ontoseno dan Wisanggeni masih menikmati Euforia kemenangan. Sementara itu setelah menyembunyikan Prabu Duryudana, Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni. Batari Durga dan Batara Kala langsung terbang ke Kahyangan Suralaya atau Jonggringsalaka minta bantuan kepada Sanghyang Jagadnata atau Batara Guru atau Sanghyang Manikmaya.
Kebetulan Batara Guru sedang mengadakan pertemuan dengan sesepuh para dewa Sanghyang Kanekaputera atau Sanghyang Narada.
Pertemuan diadakan karena tiba-tiba Kahyangan yang biasanya sejuk mendadak panas luar biasa. Sehingga para dewa dan bidadari sama-sama mencari tempat berteduh. Karena sebagai Raja para dewa dan bidadari, Sanghyang Jagadnata perlu mengadakan rapat membahas masalah tersebut. Dan kemudian mencarikan jalan keluarnya.
"Selamat pagi...kita adakan rapat hari ini guna membahas soal hawa panas yang luar biasa ini yang terjadi disini. Apa pendapatmu Kakang Resi Kanekaputera..!?" Ujar Batara Guru membuka rapat dan langsung menanyakan persoalan tersebut kepada sesepuh para dewa.
"Ohw...ohw Adikku Batara Guru. Anda adalah Raja para dewa. Dan Anda mustinya lebih tahu daripadaku...!" Batara Narada ditanya balik nanya kepada Batara Guru.
"Benar Kakang..tetapi Kakang Kanekaputera harus ingat...Kakang adalah sesepuh para dewa. Kakang juga lebih sepuh dari saya. Maka wajar bila permasalahan ini saya tanyakan kepada Kakang..!?" Batara Guru tidak kurang akal, dia menyudutkan Sanghyang Kanekaputera sedemikian rupa.
Pada saat itulah Batari Durga dan Batara Kala tiba, "Selamat datang Durga....nah..nah inilah Adik Guru yang menyebabkan Suralaya panas..!" Sapa Batara Narada sekaligus secara sepintas dia mengatakan bahwa hawa panas timbul di Kahyangan Suralaya ada hubungannya dengan Batari Durga.
"Ada apa Durga...kok pagi-pagi sudah datang menghadapi..!?" Sapa Batara Guru.
"Maafkan kami Pukulun (panggilan kehormatan bagi para dewa). Saya menghadap tanpa disuruh Pukulun, karena keadaan yang memaksa..!" Papar Batari Durga.
"Keadaan yang memaksa bagaimana Durga..!? Coba jelaskan secara lengkap..!!!" Ujar Batara Guru lagi.
Setelah diminta menjelaskan secara detail, Batari Durga mengatakan bahwa Negara Hastina Dikuasai Ontoseno dan Wisanggeni. Raja Hastinapura, Prabu Duryudana kabur atau melarikan diri dan minta tolong kepada Batari Durga.
Ontoseno dan Wisanggeni yang melihat Prabu Duryudana, Pandita Durna, serta Mahapatih disembunyikan di Dandangamangore marah.
"Mereka ngamuk Pukulan semua orang di Dandangmangore, termasuk saya tidak ada yang mampu menandingi. Kami semua terpaksa kabur. Dan kami datang kesini untuk meminta pertolongan Pukulun untuk menyingkirkan Ontoseno dan Wisanggeni dari Dandangmangore..!" Jelas Batari Durga kepada Batara Guru.
__ADS_1
Mendengar penjelasan mantannya ini, Batara Guru mukanya merah padam. Dan segera meminta kepada Batara Narada untuk menunggui Kahyangan dan Batara Guru segera pergi ke Dandangmangore.
"Kakang Kanekaputera untuk sementara Kakang menggantikan saya di Jonggringsalaka. Saya mau menyelesaikan persoalan Dandangmangore..! Aku mohon pamit Kakang..!!!" Ujar Batara Guru yang langsung terbang menuju Pasetrangandamayit.
Di Pasetrangandamayit, Prabu Candrageni sedang asyik berbicara dengan Patih Candrawarih.
"Ternyata cuma begini saja ya Kakang Patih jadi Ratu. Sebelum jadi Ratu...aku kadang-kadang merasa iri dengan saudara-saudaraku yang pernah jadi Raja. Seperti Kakang Gatotkaca yang sampe saat ini masih menjadi Raja di Pringgondani. Atau Kakang Poncowolo dan Kakang Abimanyu meskipun hanya sebentar tetapi pernah jadi Raja. Dan Kakang Ontosena ya pernah jadi Raja di Kahyangan. Dan semua itu ternyata hanya indah dan nikmat di dalam cerita saja. Faktanya jadi Raja ya begini-begini saja..!?" Ujar Prabu Candrageni.
"Apa yang kamu rasakan aku juga pernah merasakan Adik Prabu. Karena jadi orang jangan sok iri hanya karena melihat dan mendengar. Karena semua itu tipuan yang nyata. Betul kata Ustadz Zainuddin MZ bahwa setan dalam menggoda manusia dari berbagai arah sudut dan cara. Yang paling lazim yaitu melalui mata, mulut dan telinga. Maka sering-sering istighfar semoga Hyang Maha Tunggal mengampuni dosa-,dosa kita..!" Timpal Patih Candrawarih.
Saat mereka asyik ngobrol, tiba-tiba datanglah Batara Guru. Tanpa mengucapkan salam Batara Guru langsung menegur Prabu Candrageni.
"Baik Cucuku Wisanggeni dan Ontoseno. Apakah kalian sudah lama di Dandangmangore ini..!??"
"Ya denganmu Wisanggeni..!" Bentak Batara Guru.
"Maaf disini..aku adalah Prabu Candrageni dan itu Patihku Candrawarih. Jadi disini tidak ada Wisanggeni yang ada adalah Prabu Candrageni..!" Tegas Prabu Candrageni.
"Alaaah...kamu jangan macem-macem Wisanggeni. Ayo ganti pakaianmu.. dan pulang. Ini bukan tempatmu. Ini Kahyangan Pasetrangandamayit. Bukan tempatnya manusia. Ini tempatnya para jin setan iblis siluman dan para dedemit. Ayo cepat kembali kamu jangan merusak tatanan...!" Batara Guru marah, tetapi Prabu Candrageni menanggapinya dengan santai.
"Kalau aku gak mau pergi. Kamu mau apa..!?" Tantang Prabu Candrageni.
"Kamu berani ya..!? Kamu menantang ku ya..!? Baik rasakanlah ilmuku ini...hai Guntur Angin dan Guntur Bumi...luluh lantakanlah Wisanggeni ini..!!!" Teriak Batara Guru. Tiba-tiba dari badannya keluar semacam badai yang sangat panas di satu sisi, di sisi lain keluar angin bersalju yang sangat dingin.
Guntur Angin dan Guntur Bumi menerjang Prabu Candrageni, tiba-tiba seperti kerupuk tersiram air. Badai nan dahsyat dan mengerikan itu mengenai tubuh Prabu Candrageni berubah menjadi angin sepoi-sepoi.
__ADS_1
Karena itu, Wisanggeni menerima serangan tersebut dengan senyum-senyum.
"Sekarang giliranku menyerangmu Pukulun. Terimalah Ganda Intan pemberian dari Sanghyang Wenang, jika kamu sakti..!" Ejek Wisanggeni sambil menyebut Gada Intan dan Sanghyang Wenang.
Mendengar nama Gada Intan dan sang Asihprana, Batara Guru tanpa malu- malu kabur meninggalkan gelanggang diiringi tertawaan Prabu Candrageni dan Patih Candrawarih.
"Ohw cuma segitu ya...kemampuan Raja Dewa..!?" Ejek Ontoseno, sementara Batara Guru sudah tidak nampak bayangannya.
Dalam perjalanan kabur dari Wisanggeni eh Prabu Candrageni, Batara Ngedumel.
"Kok Durga gak ngomong ya... kalau Wisanggeni dibekali senjata Gada Intan dari Sanghyang Wenang. Kalau aku tahu sebelumnya aku gak akan datang ke Dandangmangore. Gara-gara ketidaktahuanku aku jadi bahan tertawaan Ontoseno dan Wisanggeni...huh asem..!!!" Gerutu Batara Guru.
Setelah agak jauh Batara Guru mulai mikir, kemana dia harus minta tolong untuk menyadarkan Ontoseno dan Wisanggeni?
"Ah..aku terpaksa harus minta bantuan Pandawa dan Prabu Sri Kresna...!" Ujar Batara Guru dalam hati. Karena dia segera melanjutkannya ke negara Amarta yakni negaranya para Pandawa.
Raja Amarta atau Indraprasta, Prabu Puntadewa sedang mengadakan pertemuan yang dihadiri Pandawa komplit, yakni Puntadewa, Brotoseno, Harjuna atau Djanoko, Nakula dan Sadewa. Juga hadir Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna selalu pujangga Keraton Amarta.
Pertemuan tersebut membahas tentang tindakan Wisanggeni dan Ontoseno yang dianggap menyalahi aturan yang ada.
"Jadi kami keluarga Pandawa merasa perihatin terhadap perkembangan terakhir politik yang ada. Yakni perkembangan atas tingkah laku anak-anak kita. Ontoseno dan Wisanggeni Kanda Prabu Sri Kresna...!" Ujar Puntadewa membuka pertemuan.
"Ya benar Dinda Prabu Puntadewa. Perbuatan anak-anak menurut tatanan adat yang ada ya kurang benar dan itu wajib kita ingatkan..!" Ujar Prabu Sri Krena menanggapi keluh kesah Puntadewa.
”Terus solusinya bagaimana menurut Kanda Prabu..!?" Tanya Prabu Puntadewa.
__ADS_1