Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
62 Ontoseno Meraga sukma Kepada Bagong


__ADS_3

"Baiklah...baiklah. Aku percaya kepadamu Den Bagus Ontoseno... cuma sekarang bagaimana caramu menolongku.. agar tidak ketahuan Satyaki..!? Karena bagaimana pun Satyaki Pamanmu..!" Tanya Bagong ingin tahu. Sebab Bagong yakin Ontoseno tidak mungkin mau terang-terangan lawan Satyaki.


"Kamu bingung ya Gong. Bagaimana caranya aku menolongmu sementara aku harus berhadapan dengan Paman Satyaki. Ya benar itu tidak mungkin. Kurang etis dan tidak beradab Gong. Karena itu akan meraga sukma masuk ke dalam tubuhmu. Saat aku sudah menyatu denganmu. Kamu bakal kebal. Anti pukulan dan bacokan.


Kamu dapat terbang dan amblas bumi. Kamu tidak bisa dibunuh dan dilukai..!" Jelas Ontoseno.


"Wah asyik banget...beneran nih..!?" Bagong masih ngeyel.


"Buktikan saja Gong. Sekarang kamu tahan nafas. Aku mau masuk ke tubuhmu..!" Ujar Ontoseno sembari mengatupkan kedua tangan mata terpejam. Tiba-tiba tubuh Ontoseno lenyap menjadi asap tipis dan masuk ke tubuh Bagong lewat ubun-ubun.


"Udah masuk Den..!?" Tanya Bagong.


"Sudah Gong...jika kamu pengin terbang jejak bumi tiga kali kamu langsung terbang. Jika mau amblas bumi kamu tahan nafas dan bilang masuk. Kamu akan amblas ke bumi...!" Terang Ontoseno.


"Baik Den.. sekarang aku mau terbang.. bismillahirohmanir Rohim...terbang..!" Ujar Bagong dan dia terbang. Celakanya, Bagong tak biasa terbang. Sehingga dia terbang dengan posisi jungkir balik. Karuan saja kepalanya menjadi pusing.


Ontoseno kemudian mengajarkan, bahwa Bagong diminta bersikap wajar. Karena terbang sesungguhnya seperti orang berjalan dan lari. Demikian saat amblas bumi, Bagong juga diminta bersikap wajar. Sehingga tidak akan jungkir balik sebagaimana sebelumnya.


"Terima kasih Den atas penjelasannya..!" Ujar Bagong senang.


"Sama-sama Gong. Silahkan kamu coba amblas bumi..!"


Dan Bagong benar-benar amblas bumi. Dari dalam tanah dia bisa melihat ketela pohon atau singkong dengan leluasa. Pokoknya seluruh tumbuh-tumbuhan yang ada di tanah Bagong samperi. Bahkan mayat dan septictank juga dikunjungi.


"Wah di dalam bumi ternyata enak ya Den..!? Baiklah sekarang aku mau tantang Satyaki..!" Ujar Bagong dengan berani.


Begitu muncul ke permukaan, Bagong langsung sesumbar.

__ADS_1


" Hai...Satyaki...kamu jangan sombong. Ayo lawan aku kalau benar kamu laki-laki. !!!" Tantang Bagong, dan Satyaki yang tidak memperhatikan perkembangan yang terjadi.


Dia masih menganggap Bagong yang dulu.


Maka begitu mendengar tantangan Bagong dia menyerang dengan tendangan terbang. Tendangan ini sangat dahsyat bila mengenai kepala kerbau bisa pecah berantakan.


Maka jika tendangan itu mengenai dada Bagong yang dulu. Dijamin dadanya bisa melesak dan Bagong dipastikan modar.


Namun betapa terkejutnya Satyaki, Bagong bukannya lari atau menghindari tendangan tersebut. Bahkan dia buka baju dan dibiarkan tendangan itu mendarat di dadanya.


Ajaib, Bagong luka pun tidak terkena tendangan dahsyat itu. Dia tetap di posisinya tanpa tergeser sedikitpun. Justeru Satyaki yang menendang malah terpental jatuh.


Tendangan Satyaki, seolah-olah mengenai setumpukan karet yang sangat kenyal.


"Edan...kok Bagong jadi hebat begini ya !? Kutendang bukannya jatuh malah aku yang terpental..!" Ujar Satyaki dalam hati. Sejalan dengan itu Satyaki mulai hati-hati. Dia tidak gegabah menyerang Bagong. Sebab Bagong yang sekarang lain dari sebelumnya.


"Ayo Satyaki keluarkan ilmumu. Jangan kayak perempuan...ha ha ha..!!!" Ejek Bagong yang membuat Satyaki geram.


Akibatnya Satyaki tidak berkutik. Selanjutnya Bagong meninju dan menendang muka Satyaki dengan leluasa.


"Ayo bergerak Satyaki... kumasukin tubuhmu semua ke dasar bumi kamu tahu rasa...!" Ancam Bagong, Satyaki tidak berkutik. Mau minta ampun kepada Bagong malu. Tetapi kalau tidak minta ampun. Ancaman cukup mengerikan lho? Mau menarik tubuh Satyaki seluruhnya ke dalam tanah.


"Kalau itu terjadi aku tamat sudah...!" Ujar Satyaki dalam hati, karena itu dia berdoa kepada dewa agar melindunginya dan menyadarkan Bagong.


Ontoseno yang ada di dalam Bagong tahu. Dalam keadaan Euforia semacam ini Bagong bisa saja melaksanakan ancamannya. Yakni membenamkan tubuh Satyaki seluruhnya ke dalam bumi.


Melihat gelagat yang tidak baik, Ontoseno segera keluar dari tubuh Bagong. Maka saat Bagong bermaksud menyelam ke bumi, jidatnya menghantam tanah tidak bisa amblas malah kepalanya bocor. Ontoseno yang melihat kejadian lucu ini tertawa geli.

__ADS_1


"Eh Den Ontoseno keluar tidak ngomong-ngomong. Akibatnya kepalaku benjol..ohw..!!" Gumam Bagong.


"Ya aku keluar darimu Gong. Biar kamu tidak sombong dan berbuat sewenang-wenang.. kasihan Paman Satyaki..!" Jelas Ontoseno, dan dia langsung menghampiri Satyaki dan menarik tubuhnya dari dalam bumi.


"Maafkan aku Paman Satyaki..!" Ujar Ontoseno lagi.


"Jadi Karena kamu Bagong jadi sakti ya.. Ontoseno..!?" Tanya Satyaki.


"Benar sekali Paman. Aku terpaksa membantu Bagong karena perintah Bapak Werkudara. Sebab alasan Bapak kami putera-putera Pandawa harus membela Bagong. Karena Bagong di posisi yang benar.


Akan halnya, Pakde Sri Kresna pada posisi yang salah. Hanya karena iri dan dengki kepada Kakek Semar. Pakde Dwarawati menyebarkan fitnah terhadap Kakek Semar dan anak-anaknya.


Itu sebabnya Bapak perintahkan kami untuk melindungi Bagong. Dan kalau Paman Satyaki tetap mengikuti perintah Pakde Kresna. Berarti Paman akan berhadapan denganku atau Bapakku..!' ungkap Ontoseno. Mendengar paparan Ontoseno, Satyaki ngeper juga.


"Ya sudah Ontoseno..maafkan Pamanmu ini. Aku mau istarahat..pulang saja ke rumah..!" Akhirnya Satyaki memutuskan pulang ke rumah.


Setelah Satyaki pergi, giliran Ontoseno mendekati Patih Dwarawati, yaitu Udawa. Karena diapun mendapat perintah yang sama, harus menangkap Bagong, atau menghalanginya sehingga Bagong tidak bisa kembali ke Karangkadempel .


"Selamat siang Pakde Udawa sedang apa disini..!?" Tegur Ontoseno begitu melihat Udawa tengah duduk di jembatan seperti tengah menunggu seseorang.


"Ohw Ontoseno anakku....anu...anu..aku la.. lagi santai...!" Jawab Udawa gelagapan dan sepertinya sedang menunggu seseorang.


"Pakde Udawa sedang nunggu Bagong ya. !? Karena diperintah Pakde Kresna..!?" Tanya Ontoseno benar-benar menohok, sehingga membuat Udawa salah tingkah dan gelagapan menjawabnya.


"Be...benar...benar Ontoseno..!" Akhirnya Udawa jujur.


"Maaf Pakde....aku peringatkan. Sebaiknya Pakde pulang saja. Dan abaikan perintah Pakde Kresna. Karena perintahnya tidak benar. Justeru Kakek Semar dan Bagonglah yang benar. Oleh sebab itu jika Pakde tetap membandel mengikuti perintah Pakde Kresna. Akulah lawanmu. Aku tak sungkan-sungkan menghajarmu Pakde..!?

__ADS_1


Hal yang sama juga aku sampaikan kepada Paman Satyaki. Dan Paman nurut. Paman Satyaki pulang dan abaikan perintah Pakde Kresna. Ayoh Pakde pulang saja atau terpaksa aku gunakan kekerasan...!??" Ancam Ontoseno.


"Baiklah...baiklah anakku Ontoseno aku pulang saja. Kebetulan Isteriku tadi minta aku ngantar ke salon....baiklah, aku pulang. Selamat tinggal anakku Ontoseno..!" Ujar Udawa, dalam hati Udawa senang banget.


__ADS_2