Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
68. Jarameya Dibikin Keok Memalukan


__ADS_3

Kecurigaan Ontoseno dan Bagong semakin kuat jika Prabu Baladewa yang mereka hadapi adalah Baladewa gadungan. Karena itu Ontoseno yang semula ragu-ragu berperang melawan Prabu Baladewa, sebab bagaimanapun Baladewa ini termasuk Pakdenya.


Namun melihat gerak-gerik Baladewa ini lain yang Ontoseno kenal, dia semakin mantap bertarung melawan Baladewa.


"Akan kubuktikan bahwa Engkau adalah Pakde Baladewa palsu...!' ujar Ontoseno dalam hati. Dan ternyata dihadapannya telah berdiri orang asing, yang jelas bukan penduduk Mandura atau Dwarawati.


"Maaf Kisanak...Anda siapa dan dari mana serta mau apa..!?" Tanya Ontoseno kepada orang asing dihadapannya.


"Perkenalkan namaku David Meong...aku seorang raja dari negeri seberang. Aku diutus Prabu Baladewa untuk menghajar Punakawan Bagong. Apakah kamu Bagong..!?" Tanya Prabu David Meong.


"Aku bukan Bagong. Kenapa kamu orang asing ingin mencelakai Bagong heh!? Salah apa dia denganmu heh..!?" Bentak Ontoseno dengan geram.


"Aku membunuh orang tidak perlu alasan. Karena Prabu Baladewa Bagong dihajar. Ya akan aku hajar...!?" Kilah David Meong.


"Kurang ajar... rasakan nih tendanganku bangsat..!" Tidak banyak bicara lagi Ontoseno langsung menerjang David Meong dengan tendangan tanpa bayangan dan tepat mengenai dadanya "bug!!!", Sehingga terlempar ke belakang.


Tak menunggu lama Ontoseno menyusuli dengan tendangan berantai model Jet Lee, sehingga membuat Raja Sebarang kelabakan. Dan diakhiri dengan pukulan Lebur Seketi yang tepat menghantam rahangnya. Sehingga David Meong tewas seketika.


Jarameya yang melihat anak buahnya Raja Seberang tergeletak tanpa nyawa langsung menerjang Ontoseno, tetapi dengan mudahnya mengelak. Sebaliknya Ontoseno membalas dengan tendangan yang tepat mengenai pinggulnya.


Jarameya meskipun dia bangsa siluman tetapi dia pun bisa merasakan sakitnya tendangan Ontoseno. Sambil meringis menahan sakit di pinggulnya Jarameya kembali pasang kuda-kuda.


Kedua tangan Jarameya membentuk cakar, jadi dia seperti tengah menyiapkan serangan dengan jurus elang menerkam Wirog.


Dengan diiringi suara "ciaaattt..!" Jarameya menyerang Ontoseno dengan sepenuh tenaga. Sasarannya adalah dada. Dengan harapan melalui serangan itu membuat dada Ontoseno berlubang.

__ADS_1


Dasar Ontoseno, seperti halnya Bagong. Dia ambil drum bekas aspal untuk menahan serangan cengkeraman Jarameya. Akibat cengkeraman itu mengenai aspal yang masih lunak. Sehingga Jarameya kelabakan melepaskannya. Karena aspal yang masih lunak itu sangat lengket.


Kesempatan tersebut kembali digunakan Ontoseno untuk menendang pinggul Jarameya. Sehingga tubuhnya berguling-guling bersama drum aspal yang masih melekat di tangannya.


Cara Ontoseno maupun Bagong bertempur inilah yang ditakuti para Kurawa. Cara bertempur mereka ngawur dan di luar kelaziman. Mereka kalau bertempur tidak peduli kotoran manusia atau binatang. Pasti mereka gunakan sebagai senjata untuk menyerang lawannya.


Jarameya masih beruntung. Coba kalau di depannya ada WC pasti WC itu dijebol Ontoseno dan kepala Jarameya dimasukan ke dalamnya. Apa tidak celaka?


Para Kurawa terutama Durmagati, Citraksi dan Citrakso. Bahkan Kartomarmo dan Aswatama pernah bertempur dengan Ontoseno dan Bagong. Secara kebetulan dihadapan Bagong ada kotoran kerbau.


Tanpa ragu Bagong meraup kotoran kerbau itu dengan tangannya. Dan dilemparkan ke muka Durmagati. Bisa dibayangkan muka Durmagati seperti bedakan dengan telepong.


Pengalaman serupa di alami Aswatama saat perang lawan Ontoseno. Ontoseno tidak menggunakan jurus silat, karate atau kungfu.


Tetapi dia menggunakan jurus kuda betina. Seolah-olah dirinya kuda betina. Dipukul maupun ditendang Aswatama, Ontoseno tidak membalas. Justeru dia meledek Aswatama seolah-olah dirinya kuda betina.


Karena Aswatama adalah anak kuda. Sehingga kaki Aswatama seperti kaki kuda.


Sejarahnya begini, ketika ayahnya yakni Pandita Durna saat masih muda bernama Bambang Kumbayana. Bambang Kumbayana ini anak Raja di Negara Atas Angin bernama Prabu Baratwaja.


Bapaknya menginginkan dia jadi putra mahkota, tetapi Bambang Kumbayana tidak mau. Dia ingin berpetualang jauh ke Tanah Jawa.


Karena pulau yang ditinggali Bambang Kumbayana dan Pulau Jawa dipisahkan dipisahkan oleh lautan yang luas dan saat itu belum ada kapal very, Bambang Kumbayana bingung. Bagaimana caranya dia sampai ke tanah Jawa.


Akhirnya Bambang Kumbayana mengeluarkan sumpah yang disaksikan para dewa. Bahwa siapa pun atau apapun yang bisa menyeberangkan dirinya ke Tanah Jawa. Jika itu lelaki maka dia bersumpah akan mengangkat dan mengakuinya sebagai saudara.

__ADS_1


Sebaliknya jika dia perempuan apapun bentuknya dan apapun jenisnya maka akan dijadikan isteri. Kebetulan sumpahnya di dengar Kuda Sembrani perempuan. Kuda Sembrani ini kuda bersayap dan bisa terbang.


Karena sudah bersumpah, mau tidak mau Bambang Kumbayana naikin kuda tersebut. Dan karena lautan yang diseberangi cukup luas. Sehingga perjalanan mereka memerlukan waktu beberapa hari.


Saat itulah, ketika dalam perjalanan dan Bambang Kumbayana berada di atas punggung kuda Sembrani gairah seksnya tiba-tiba muncul. Terlebih wajah kuda itu sering berubah jadi perempuan cantik.


Memang aslinya kuda ini adalah seorang bidadari bernama Dewi Wilitomo. Karena bidadari ini ketahuan selingkuh dengan seorang dewa. Dan dianggap perbuatannya tersebut mencemari nama baik para dewa.


Sehingga Sanghyang Jagadnata marah dan mengutuk Batari Wilitomo menjadi kuda betina yang sekarang sedang dicumbu Kumbayana. Dari percumbuan itu kemudian melahirkan Aswatama.


Maka ketika orang menyindirnya sebagai anak kuda Aswatama marah bahkan bisa menangis sedih. Tata cara perkelahian model awur-awuran itulah yang ditakuti Kurawa. Bahkan Dursasana yang terkenal doyan berantem, jika dengar bahwa musuhnya Bagong atau Ontoseno. Dia pilih WO alias menyerah tanpa syarat.


Sekarang, Jarameya sedang menghadapi Ontoseno, salah satu sosok yang paling dihindari Kurawa. Selain Bagong dan apa yang sering di desas-desuskan Kurawa benar.


"Wah yang diomongkan Kurawa benar. Mereka bilang, jika bertempur dengan keluarga Pandawa. Hindari bertemu Ontoseno atau Bagong. Menang belum pasti. Jika kalah dipermalukan habis-habisan.


Dan nyatanya aku sulit menang, tetapi sudah dibuat begini rupa. Setelah pakai drum aspal entah pakai apa lagi. Kalau berumur panjang dan harus berantem lagi lawan Ontoseno. Aku pilih mundur dan karena mundur aku dipecat. Ya silahkan..!" Ujar Jarameyo dalam hati.


Sementara itu melihat Jarameyo seperti malas untuk menyerangnya, Ontoseno mengatakan.


"Mau nyerah nih ye...!? Sudah kalau males bertempur denganku pulang saja sana..!!!" Ejek Ontoseno kepada Jarameyo.


Ya lebih baik kabur saja, pikir Jarameyo.


Dan benar dia lebih suka meninggalkan gelanggang. Bahkan suitan dan perintah Prabu Baladewa untuk tidak mundur. Dia tidak menggubris yang ada dalam pikirannya cari selamat daripada kalah memalukan.

__ADS_1


Prabu Baladewa benar-benar dibikin pusing tujuh keliling. Betapa tidak para Raja Seberang yang ngakunya digdaya sakti mandraguna dibikin modar atau keok oleh putera-putera Pandawa yang memang memback-up Ki Lurah Bodronoyo.


Para iblis jin setan maupun siluman semua takut sama sungut Ontoseno. Baladewa mau maju sendiri, tidak bawa Nanggala atau Alugara. Juga sepertinya ada yang dikhawatirkan. Mungkin seperti kecurigaan Ontoseno, Prabu Baladewa ini adalah gadungan. Begitu pun Prabu Sri Kresna dia pun menghindar untuk berhadapan langsung tempur melawan Ontoseno bersaudara.


__ADS_2