Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
28. Djanokowati Diperebutkan Banyak Cowok


__ADS_3

Mengetahui dari cerita bakul cendol langganannya, hati Pandita Durna makin dag-dig-dug. Dia khawatir lantaran sikap Brotoseno yang tidak pandang bulu.


" Wah cilaka tenan...ntar kalau Brotoseno tahu bahwa kedatanganku ke Madukara adalah untuk menjodohkan Lesmana dengan Djanokowati...wah aku bisa diinjak Brotoseno..!" Ujar Durno dalam hati.


Berbeda dengan sikap Durna, Baladewa terhadap informasi itu cuek bebek. Tho dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri. Bahwa dia tidak akan ikut campur. Bahkan tidak ikut ngomong. Jadi mengapa musti takut?


Lain lagi dengan bocah kentir Sarju Kusuma, tidak ada sedikit pun rasa cemas. Sebab dia akan terus terang minta kepada Ontoseno. Agar Djanokowati diberikan kepadanya.


Selain itu, dia juga dapat kabar bahwa Ontoseno sebenarnya belum pengin nikah.


"Kalo Ketemu Ontoseno aku langsung minta agar Djanokowati dikasihkan kepadaku... asyik..!!!" Ujar Lesmana sambil berjingkrak kegirangan.


...***...


...Sementara kita alihkan kisah ini ke negara Trajutisna. Karena bagaimanapun alur ceritanya juga akan menyambung kesini....


Kerajaan Trajutisna dipimpin oleh Prabu Sutejo Bomanarakasura. Dia adalah anak sulung dari Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna. Pagi itu ada yang istimewa karena dia kedatangan adik laki-lakinya yang bernama Raden Samba alias Wisnubrata.


"Selamat pagi adikku yang paling ganteng. Tumben kamu mengunjungi seorang diri. Selama ini kamu datang kesini selalu didampingi ayah Prabu. Ada apa gerangan adikku ? Coba katakan terus terang barangkali kakak bisa membantu..!" Sapa Prabu Bima kepada Raden Samba.


Selain Raden Samba, juga menghadap Patih Pancatnyana. Sebelum menjawab pertanyaan Bima, Samba melirik ke arah Pancatnyana yang duduk disebelahnya.


Dan nampak sekali Wisnubroto risi. Bahkan akhirnya minta ijin untuk duduk lebih dekat dengan kakaknya.


Bima cukup memahami karena itu dia membolehkan Samba duduk dengannya.


"Silahkan adikku... ayoh ceritakan masalahmu..!?" Bima mengulang pertanyaannya kepada Samba.


"Maaf Kakak aku mau cerita ada kasus yang cukup serius. Namun aku minta Kakak berjanji dulu... benar-benar mau membantuku..!" Papar Raden Samba berhenti sejenak sambil melirik wajah Kakaknya.


Setelah yakin bahwa Bima benar-benar akan membantunya. Samba baru bicara terus terang. Bahwa sebulan yang lalu dia bermimpi didatangi seorang gadis yang sangat cantik jelita.

__ADS_1


Gadis itu mengaku bernama Djanokowati, Puteri Pangeran Djanoko dari Ksatrian Madukara. Sejak mimpi tersebut, wajah Djanokowati terus terbayang-bayang.


"Aku sulit melupakannya Kakak. Karena itu aku datang kesini untuk minta tolong kepada Kakak melamarkan Djanokowati ke Madukara...!!" Ungkap Raden Samba.


"Duh...aduh adikku..ini hal yang salah. Sebab kamu masih punya Bapak. Mustinya Bapaklah yang harus melamar untukmu. Bukan aku adikku...!?" Bantah Bima.


"Tidak Kakak. Malah kalau cerita kepada Bapak. Masalah ini bisa berantakan...!!" Kilah Samba.


"Sebaliknya, adikku kalau aku turuti kemauanmu. Berarti aku melangkahi kewenangan orang tua. Dan Bapak bisa marah...!!" Bima tetap bersikeukeuh.


"Tidak Kakak...aku lebih tahu tentang Bapak. Sebab aku saben hari bersama Bapak. Itulah sebabnya aku kemari. Jika Bapak seperti yang kakak maksudkan tentu aku tidak kemari. Jadi kakak mau bantu tidak


.!?" Samba setengah emosi mendesak. Akhirnya Bima agak luluh juga.


"Adikku aku ingin tahu apakah kamu benar-benar mencintai Djanokowati..!?" Tanya Bima.


"Benar Kakak. Aku sangat mencintainya. Bahkan aku rela mati darpada tidak mendapatkan Djanokowati..!" Ujar Samba meyakinkan.


"Baiklah... akan kuantar kamu ke Madukara. Apa berangkat sekarang ..!?" Ajak Bima.


"Tolong Paman Pancatnyana...kamu tunggu disini. Jaga kerajaan selama aku pergi ngantar adikku ke Madukara..!' pesan Bima kepada Patih Pancatnyana.


Dengan munculnya nama Raden Samba yang berhasrat meminang Dewi Djanokowati. Setidaknya sudah ada tiga cowok yang ingin serius dengannya. Kecuali Ontoseno, dua orang, yakni Lesmana dan Raden Samba adalah putera raja besar. Yang satu Lesmana putera Raja Hastina dan Samba putera Raja Dwarawati.


Namun dari tiga cowok yang ingin mendapatkan hati Djanokowati adalah Lesmana Mandrakumara. Sebab dia sudah memakai busana pengantin pria. Dia sangat pede sekali karena orang tuanya sudah menjanjikan bahwa berapapun mas kawin yang diminta Djanokowati akan disanggupi Duryudana.


Bahkan yang melamarkan Lesmana adalah Pendeta Durna seorang pendeta tersohor ahli hipnotis dan ahli kemat. Dengan ilmu gendam dan ilmu kemat yang dimiliki, pasti Durna akan mudah menaklukan Pangeran Djanoko dan akhirnya menuruti kemauannya.


Di atas kertas memang demikian. Bahkan dalam angan-angan Lesmana pun seperti itu. Terlebih Durna adalah gurunya Djanoko, pasti itu akan semakin memudahkan Lesmana membawa Djanokowati ke Hastina. Namun kenyataannya?


Begitu pedenya, sehingga Lesmana mengajak Durna dan Baladewa lari untuk segera mencapai Madukara. Sesampai didepan rumah Lesmana langsung teriak.

__ADS_1


"Aduh gadis cantik Djanokowati...aku datang Dinda..dan akan segera membawamu boyongan ke Hastina..!" Ujar Lesmana dengan suara seperti bunyi jerapah.


"Paman Djanoko..puterimu mau kupondong aku mohon ijin jangan marah ya Paman...!" Masih lengking Lesmana.


Pandita Durna nafasnya benar-benar ngos- ngosan diajak lari Lesmana seperti mau lepas rasanya nafas Ontoseno.


Sudah ngos-ngosan begitu sampe di Pendopo Pandita Durna pucat pasi. Sebab disitu sudah ada Brotoseno dan Ontoseno. Juga Raden Samba.


Sementara itu dengan pakaian pengantin dan jalan terseok-seperti orang kena stroke, Lesmana langsung sungkem kepada Djanoko dengan mulut bau ciu.


Djanoko cukup menyadari bahwa Lesmana adalah orang gila. Jadi Djanoko membiarkan Lesmana.


Yang gregetan tentu saja Ontoseno. Tetapi dia tahan. Nanti kalau ada kesempatan pasti kunyuk ini kuhajar habis, katanya dalam hati.


Sementara Pandita Durna karena dihadapannya sudah ada Brotoseno, terpaksa Durna hanya bisa nyengir kuda. Tidak bisa berkata apa pun, mulutnya seperti terkunci.


"Wahai Bapak Durna, sampean datang kesini mau nglamar Djanokowati untuk si gendeng Lesmana ya..!?" Karena Durna mulutnya seperti terkunci akhirnya Brotoseno yang membuka pertanyaannya.


Ditanya begitu Durna semakin gelagapan. Akan halnya Baladewa dengan alasan mau lihat-lihat pemandangan. Dia menghindari dialog sembari bersiul-siul tidak jelas.


"Anu...anu ya benar...mau melamar si neng Djanokowati Brotoseno...!"jawab Pandita Durna dengan terbata-bata.


Sementara karena anaknya diminati banyak cowok, Djanoko menyerahkan semua urusan ini kepada Kakaknya, yakni Brotoseno.


Karena Djanoko menghindari seperti kejadian sebelumnya ketika pernikahan Poncowolo dan Pergiwati, anaknya.


Karena kesalahannya Djanoko sempat diamuk kakaknya, yakni Prabu Puntadewa yang kemudian berubah ujud jadi raksasa dan ngamuk di Madukara.


"Sekarang permasalahan Djanokowati saya serahkan kepada Kang Mas Brotoseno..!" Ujar Djanoko kepada Brotoseno.


Brotoseno menyampaikan juga mandat yang diberikan Djanoko kepada dirinya terhadap Resi Durna.

__ADS_1


"Bapakku Durna...masalah Djanokowati diserahkan kepadaku. Karena adikku Djanoko tidak ingin terulang kasus Poncowolo..Bapak..!' jelas Brotoseno kepada Durna.


"Monggo saja Brotoseno....aku ngikuti apa katamu..!" Ujar Durna melemah. Kali ini Durna pun sepertinya kapok. Gara- gara ulahnya sok kuasa dia dihajar habis-habisan oleh Ontoseno. Bahkan kalau tidak kabur menyelamatkan diri bisa saja tubuhnya gepeng karena diinjak raksasa Puntadewa.


__ADS_2