
Jarum jam menunjukan pukul 01.30 dini, pasukan pimpinan Bulus Petak sudah bersiaga di lokasi Buaya Sakti. Mereka sebenarnya sudah di area itu sejak pukul 23.00.
Namun karena kebiasaan Buaya Sakti maupun adiknya, Bajulsengara dugem di diskotik dan berjudi di Casino. Jadi mereka sudah menduga di sarang mereka tidak ada kecuali kedua tempat maksiat itu tutup atau mau nutup.
Sebenarnya mereka bisa saja menyergap Bajulsengara di nightclub atau Buaya Sakti di Casino. Namun tempat itu terlalu ramai, sehingga dikhawatirkan memakan korban orang-orang tidak bersalah.
Di samping itu peluang Bajulsengara maupun Buaya Sakti lolos cukup besar. Mereka bisa saja memanfaatkan orang-orang disekitarnya untuk tameng hidup. Selain itu hal tersebut juga dapat mengundang pihak keamanan ikut terlibat.
Padahal mereka tahu, bahwa banyak aparat keamanan yang telah disuap mereka untuk melindungi mereka barangkali ada penyergapan seperti saat ini. Karena itu Bulus Petak memerintahkan untuk menyergapnya di rumahnya.
Setelah lebih dua jam menunggu, mereka melihat sejumlah orang jalan sempoyongan. Diantaranya Bajulsengara, tetapi tidak terlihat Buaya Sakti.
Memang Buaya Sakti terpisah dari rombongan ini. Namun Casino biasanya nutup antara jam 01.30_02.00.
"Jadi teman-teman bersabarlah dulu, Buaya Sakti sebentar lagi pasti muncul...!" Ujar Kijing Bungkem, teman Cacing Anil yang mukim di Hongkong dan mbantu gerakan ini.
Apa yang disampaikan Kijing Bungkem tidak meleset Pukul 02.00 kurang sedikit. Nampak lelaki berewokan tinggi besar berjalan santai sambil bersiul.
"Ssstt...dialah Buaya Sakti...!" Ujar Bulus Petak semuanya mengangguk.
"Setelah masuk rumah kita sergap..!!' ujar Bulus Petak lagi. Dia kemudian menyuruh Cacing Anil memimpin penyergapan dari sebelah kanan.
Dan Sepat Jenar diperintahkan memimpin penyergapan sebelah kiri. Lingsang Seto dan Belut Putih memimpin penyergapan dari belakang dan atas. Dari pintu depan langsung dipimpin Bulus Petak.
Tepat pukul 02.30 Bulus Putih memberi isyarat dimulainya penyergapan. Maka segera mereka bergerak, Bulus Putih langsung menyerang dan mendobrak pintu depan. Para penghuni yang masih belum tidur kaget.
"Siapa kalian...ada apa kalian kemari.. mau cari mati ya..!?" Bentak Bajulsengara sembari menenggak minuman keras yang dibawanya dari diskotik.
Tanpa banyak bicara, Bulus Petak langsung mendupak Bajulsengara, tetapi yang bersangkutan berhasil menghindar.
__ADS_1
Sayangnya pengawal disamping tidak secekatan Bajulsengara. Sehingga pengawal tadi terkena dupakan Bulus Petak sehingga terjengkang kontak ambruk ke tanah.
"Siapa kalian heh...!!' Bajulsengara masih terus bertanya yang tidak digubris Bulus Petak.
Bulus Petak yang ingin segera meringkus Bajulsengara sengaja mengeluarkan pukulan andalannya, yakni Guntur Seketi.
Pukulan ini sangat luar biasa. Sebab bila mengenai tubuh, tubuh orang tersebut bisa hancur. Maka dapat dibayangkan betapa seramnya aura dari pukulan tersebut. Suaranya bersiut keras membuat bulu kuduk berdiri.
Dua orang pengawal mencoba menghadang pukulan Bulus Petak kontan ambruk dengan tubuh remuk. Tak pelak Bajusengara terkesiap kaget, Ece Mede.
Bahkan Kodok Brungkul langsung buka cendela sebelah kanan dan bermaksud kabur menghindar, tetapi langsung diserang oleh Cacing Anil.
Merasa sebelah kanan tidak dengan maksud yang sama Ece Mede juga bermaksud kabur. Namun dia pun diserang Sepat Jenar yang memang sudah menunggu.
Jadi pertempuran ramai banget. Hanya Buaya Sakti yang belum ketemu musuh. Dia masih melihat-lihat keadaan. Jika anak buahnya bisa mengatasi para penyergap dia akan tetap disitu.
Kembali kepada pertempuran Bajulsengara melawan Bulus Petak. Melihat pukulan Guntur Saketi yang dahsyat. Bajulsengara Matak ajian Tameng Waja. Dengan ilmu tersebut tubuh seperti dilapisi lempengan baja yang tahan terhadap pukulan.
Meskipun begitu Bajulsengara masih belum mau pasang badan mencoba pukulan maut tersebut. Saat dirinya masih bimbang tiba-tiba datang pukulan yang sangat cepat dan keras dari Bulus Petak.
Memang tubuhnya tidak remuk, tetapi dia sempat terpental ke belakang dan mengaduh kesakitan. Bajulsengara jadi menimbang bahwa dengan lambaran ajian Tameng Waja saja bisa tembus. Maka dapat dibayangkan jika dia tidak punya ilmu tersebut pasti sudah kojur.
Berpikir semacam itu merinding bulu kuduk Bajulsengara. Terlebih dia melihat rekannya Ece Mede dan Kodok Brungkul juga menghadapi lawan yang tidak enteng.
Melihat semua itu mental Bajulsengara melorot, luluh. Apalagi dia melihat kakaknya juga tengah menunggu waktu yang tepat untuk kabur.
Melihat lawannya bimbang Bulus Petak semakin meningkatkan serangannya. Tidak hanya menggeber pukulan Guntur Saketi saja. Namun Bulus Petak juga mengeluarkan ilmu andalan lainnya, Pupuh Bayu.
Orang yang terkena ajian Pupuh Bayu hampir sama dengan ilmu Lampah-lumpuh. Mereka bisa lemas seperti tidak bertenaga. Maka begitu ajian tersebut diterapkan
__ADS_1
Bajulsengara seperti orang tak bertenaga. Sementara pukulan Guntur Saketi berseliweran mengancamnya.
Melihat kondisi tersebut, Buaya Sakti yakin dia harus kabur dari sini. Karena itu dia terus menerobos berusaha kabur lewat pintu belakang. Tetapi betapa kagetnya dia, karena langsung disambut serangan Lingsang Seto dan Belut Putih.
Maka terjadilah pertempuran yang tidak kalah serunya dibanding pertempuran yang lain. Dalam hati Buaya Sakti mengatakan hari ini benar-benar hari yang apes.
Ya bagaimana tidak apes, lawan Belut Putih saja belum tentu menang. Ditambah Lingsang seta, wah pasti remuk, pikir Buaya Sakti. Niat untuk kabur sangat kuat, tetapi Mintuno sudah mengultimatum kepada Belut Putih atau Lingsang Seto. Buronan Buaya Sakti tidak boleh lolos.
Sementara itu Bajulsengara yang terkena daya ajian Pupuh Bayu akhirnya harus ambruk setelah dikepalanya dipukul Bulus Petak.
Bajulsengara ambruk tetapi masih bernafas. Karena itu Bulus Petak mendekatinya dan berkata; " Kamu menyerah atau segera kukirim ke neraka...!?"
Tidak ada alasan dan pilihan lain bagi Bajulsengara. Menyerah atau mampus. Pikiran sehat Bajulsengara mengatakan, lebih baik menyerah tho peluang untuk menang sudah tertutup.
"Baiklah Tuan...saya menyerah. Tetapi tolong jangan bunuh saya..!" Ujar Bajulsengara memelas.
"Tidak...kamu akan kuserahkan kepada Sanghyang Resi Mintuno. Biarlah beliau yang menentukan...!" Jawab Bulus Petak sambil mengikat tangan Bajulsengara.
Disisi lain, Sepat Jenar dan Cacing Anil sudah pula berhasil meringkus Ece Mede dan Kodok Brungkul. Sepat Jenar berhasil mematahkan kaki Kodok Brungkul sehingga dia tidak lagi bisa berdiri.
Sementara Ece Mede digebug dadanya sampe bengek dan sulit bernafas. Diapun menyerah dengan nafas kembang kempis. Keduanya pun minta diampuni dan minta agar tidak dibunuh.
Sekarang tinggal Buaya Sakti yang masih bertempur. Tetapi mentalnya telah benar-benar down. Lingsang Seta dan Belut Putih mengetahui lawannya mentalnya jatuh segera meningkatkan serangannya. Lingsang Seto dengan ajian Waringin sungsang mengurung Buaya Sakti dengan pukulan-pukulan mematikan.
Belut Putih pun tidak mau ketinggalan, dia mengeluarkan pukulan Semut Rangrang yang mempunyai aura panas menyengat. Karuan saja Buaya Sakti semakin kelabakan.
Dan nasib naas benar-benar berpihak kepada Buaya Sakti.
Secara hampir berbarengan Lingsang Seta dengan ajian Waringin Sungsang dan Belut Putih dengan pukulan Semut rang-rang berhasil mendaratkan pukulannya di dada Buaya Sakti. Sehingga Buaya Sakti terjerambab ambruk langsung pingsan.
__ADS_1