Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
95. Ontoseno dan Wisanggeni Pasrah


__ADS_3

Setelah Sanghyang Wenang atau Sang Asih Prana membeberkan sebab musabab mengapa Batari Durga dan Batara Kala harus musnah di tangan Wisanggeni dan Ontoseno. Keduanya hanya bertunduk pasrah kepada kehendak Sanghyang Wenang.


"Sekarang ini kami hanya pasrah kepada kehendak Kakek Wenang...!" Ujar Wisanggeni mewakili keduanya.


"Ada lagi yang belum kuceritakan kepadamu. Cucuku Wisanggeni... padahal kamu pernah mengalaminya. Namun saat itu umurmu masih sangat muda. Mungkin malah sudah lupa... maka ini kuingatkan lagi kepadamu Cucuku..!" Ungkap Sanghyang Wenang.


"Kamu apa ingat kenapa kamu lahir di dunia ini...!? Baiklah jika kamu lupa akan kuingatkan kembali...?" Ujar Sanghyang Wenang.


Waktu itu, papar Sang Asih Prana, kamu masih berusia tujuh bulan di kandungan Ibumu. Tetapi karena anak Batari Durga yakni Dewa Srani menghendaki Ibumu."Kamu dipaksa keluar dari rahim Ibumu...jika orang sekarang mengatakan. Bahwa kamu dilahirkan secara prematur..!" Jelas Sanghyang Wenang.


Itu semua karena kejahatan Batari Durga yang ingin menghabisi bayi dalam kandungan Dewi Darsanala. Tidak hanya itu, Wisanggeni yang masih bayi langsung dimasukan ke dalam kawah Candradimuka.


Untung Sanghyang Wenang mengetahuinya, sehingga dengan kesaktiannya dia berhasil menyelamatkan Wisanggeni. Bahkan dengan kesaktiannya pula Wisanggeni diubah dari bayi kecil langsung jadi pemuda.


"Jadi hitung-hitungannya Batari Durga telah berhutang nyawa kepadamu. Sehingga sangat lumrah jika dia akhirnya mati atau musnah di tanganmu Cucuku...!" Ujar Sanghyang Wenang dan Wisanggeni mengangguk-angguk samar-samar dia ingat semua itu. Sehingga dia diangkat Cucu Sanghyang Wenang dan menjadi dewa penutup.


"Dan sekarang tugas kalian .. Ontoseno dan Wisanggeni. Sudah selesai.. jadi seperti kataku. Kalian pun harus kembali kepada Hyang Maha Kuasa..!" Tegas Sanghyang Wenang.


"Kami sudah siap Kek..!" Ujar Ontoseno pasrah.


Ada perasaan sedih, gembira campur aduk di benak Sanghyang Wenang. Sedih karena dia bakal kehilangan Cucu angkat kesayangannya Wisanggeni dan Ontoseno untuk selamanya.


Gembira karena Ontoseno dan Wisanggeni telah menjalankan tugas memusnahkan bibit Angkara murka dengan lancar dan sukses.


"Jika kalian sudah siap baiklah Cucuku. Aku minta kalian menutup sembilan lubang dalam diri kalian. Yakni dua mata kalian tutup untuk tidak melihat apa pun. Dua telinga kalian tutup untuk tidak mendengar apapun. Menutup dua lubang juga ditutup untuk tidak membaui apa pun.

__ADS_1


Mulut ditutup untuk tidak makan dan minum serta berbicara apa pun. Terakhir harus menutup lubang ******** dan *****. Setelah itu tangan kalian dirapatkan dengan pikiran tertuju kepada Hyang Maha Pencipta dan isinya cuma pasrah..! Aku akan membantu dari luar...!" Ujar Sanghyang Wenang memberi wejangan kepada Wisanggeni dan Ontoseno.


Segera keduanya mengambil posisi. Demikian pun Sanghyang Wenang dia pun mengambil posisi serupa dengan apa yang dilakukan Ontoseno maupun Wisanggeni.


Setelah mereka bersikap seperti meditasi dan dalam keadaan hening. Diam tidak ada suara apapun. Bahkan nafas mereka pun tidak kedengaran. Tiba-tiba dari tubuh Ontoseno dan Wisanggeni keluar empat macam cahaya sebesar kunang-kunang.


Cahaya merah mewakili unsur api. Cahaya kuning mewakili unsur angin. Cahaya ungu mewakil unsur air dan cahaya hitam mewakili unsur tanah.


Empat cahaya tadi mendekati tubuh Sang Asih Prana yang pada saat yang sama tubuhnya diliputi kabut putih yang menyerupai kabut salju.


Cahaya-cahaya tadi menerobos masuk ke dalam kabut tubuh Sang Asih Prana. Dengan seketika kabut itu seperti menelan cahaya kehidupan Ontoseno dan Wisanggeni.


Dengan lenyapnya ke empat cahaya tadi yang melebur ke dalam tubuh Sang Asih Prana. Mendadak lenyaplah tubuh Ontoseno dan Wisanggeni. Mareka telah muksa. Dan Sang Asih Prana atau Sanghyang Wenang segera membuka mata.


"Cucuku Ontoseno dan Wisanggeni... selamat jalan. Kalian telah kembali kepada Hyang Maha Pencipta. Pengabdian mu selama ini di dunia telah diterima Hyang Maha Pencipta.


***


Seperti kita ketahui bahwa kelahiran Ontoseno dan Wisanggeni memang terjadi seperti dalam keadaan memaksa. Di saat alam para dewa dan manusia dalam keadaan penuh keprihatinan.


Dimana Ontoseno dilahirkan dalam keadaan umat manusia dan para dewa sedang dilanda keprihatinan. Akibat tindakan Raja Siluman Mina Lodra.


Mina Lodra adalah siluman yang bertubuh Raksasa dan berkepala ikan yang sangat sakti luar biasa. Meskipun dia sudah diberi kesaktian yang sangat dahsyat oleh Hyang Maha Pencipta. Juga telah diberi kekuasaan untuk merajai dan menguasai semua makhluk hidup yang berada di air tawar. Sebab lautan sudah menjadi kekuasaan Sanghyang Baruna.


Tetapi dia tidak terima dan protes. Karena keberadaan Sanghyang Baruna. Dan dia pada akhirnya tidak hanya protes terhadap keberadaan Sanghyang Baruna. Dia pun menuntut agar kekuasaan Batara Guru juga diserahkan kepadanya.

__ADS_1


Karena itu Mina Lodra mengobrak-abrik Kahyangan Suralaya atau Kahyangan Jonggringsalaka. Semua dewa termasuk Batara Guru atau Sanghyang Jagadnata dihajarnya habis-habisan.


Di situlah Ontoseno dilahirkan guna melawan Mina Lodra. Ontoseno lahir dari seorang Ibu yang juga sebangsa siluman bernama Dewi Urang Ayu. Siluman cantik ini adalah Puteri dari Resi Mintuno.


Resi Mintuno adalah siluman yang sangat Soleh sehingga dia menjadi seorang Resi atau Pertapa di Gisik Samodra, sebuah kawasan yang sangat indah yang terletak di bibir pantai.


Dari situ, Raja Para dewa, Sanghyang Jagadnata mendapat wangsit. Bahwa bayi Ontoseno itulah yang akan mampu mengalahkan dan membunuh siluman Mina Lodra.


Maka meskipun masih bayi belum tahu apa-apa Ontoseno putera dari Brotoseno disuruh perang tanding melawan Mina Lodra dengan dibawah pengawasan dan bimbingan Kakeknya, Resi Mintuno.mengalahkan dan membunuh siluman Mina Lodra.


Dan Ontoseno berhasil membunuh Mina Lodra. Ontoseno tidak mau menerima imbalan yang diberikan para dewa. Karena itu dewa memberikan hadiah kepada kakeknya. Kakek Ontoseno, Resi Mintuno diangkat menjadi dewa dan penguasa air tawar. Dan itulah kehidupan Ontoseno, jika akhirnya dia harus mukso. Mungkin itulah takdirnya.


Tidak jauh berbeda dengan Wisanggeni. Hidup anak Djanoko dari isterinya Dewi Darsanala juga punya cerita yang penuh misteri. Coba bayangkan saat dia dipaksa lahir oleh Dewi Kejahatan Batari Durga. Waktu itu usianya baru tujuh bulan dalam kandungan.


Karena Batari Durga tidak menghendaki anak Djanoko. Sebab Dewi Darsanala akan dinikahkan dengan anaknya, Dewa Srani.


Tidak hanya dilahirkan secara paksa, Wisanggeni yang masih bayi itu pun dibakar di kawah candradimuka ganti gosong. Namun ternyata Wisanggeni malah sehat wal Afiat.


Bahkan Wisanggeni tumbuh dewasa dan ngamuk kepada para dewa. Semua dewa bisa dikalahkan karena Wisanggeni berada di jalur kebenaran. Sementara para dewa sudah melakukan kejahatan. Yaitu menganiaya orang-orang yang tidak bersalah. Bahkan mereka tega membunuh bayi yang tidak berdosa. Sehingga dibuat malu oleh ulahnya sendiri.


Itulah perjalanan hidup Wisanggeni yang dialami sebelum dia lahir sampai dewasa. Djanoko, ayah Wisanggeni diberi hadiah nikahi Dewi Darsanala, Puteri dari Sanghyang Brahma karena keberhasilan Djanoko yang telah mengalahkan musuh para Dewata.


TAMAT....


Terima kasih saya ucapkan kepada para reader yang sudah setia dengan karya saya sampai tamat..😊😍 Maaf tidak bisa membalas koment kalian satu per satu... 🙏 Sekali lagi terima kasih ya ...

__ADS_1


Jangan lupa nantikan novel berikutnya, secepatnya... 😍😊


__ADS_2