
Di Kerajaan Hastinapura, sedang terjadi ontran-ontran yang dipimpin Prabu Rengganis Sura, Raja dari Negara Puser bumi. Prabu Rengganis Sura dibantu Patih Naga Pertala mengobrak-abrik Hastina. Sehingga Prabu Duryudana mengadakan rapat darurat.
Rapat pagi ini dihadiri Patih Sengkuni alias Haryo Syuman, Pendeta Durna atau Resi Kumbayana, Adipati Karno, Raja Awangga, Dursasana, Kartomarmo. Juga Kartowiyogo.
Materi rapat adalah membahas serangan dari Negara Puserbumi.
"Paman Patih Haryo Sengkuni dan Bapa Pandita Durna, Kanda Adipati Karno, dan para pejabat terkait lainnya...kalian pasti tahu atau sudah menduga bahwa rapat hari ini adalah bagaimana sikap kita menghadapi ontran-ontran yang dilakukan Prabu Rengganis Sura.. ya sikap kita musti bagaimana..!?" Duryudana mencoba membuka rapat.
Pandita Durna yang paling pro aktif, dia menyatakan bahwa perbuatan Prabu Rengganis Sura tidak benar karena dia telah merusak-rusak tatanan.
"Dan Negara Hastinapura adalah negara merdeka..tidak bisa Rengganis Sura seenaknya sendiri mengacak-acak kedaulatan Hastinapura. Bukan begitu adik Patih Sengkuni..!?" Ujar Pandita Durna.
"Benar sekali Kakang Pandita..ya dia harus kita ganyang...!!!" Timpal Sengkuni alias Harya Syuman.
"Dinda Prabu..selagi saya masih hidup jangan khawatir. Saya yang akan memotong kepala Rengganis Sura..!" Janji Senopati perang Hastinapura, Adipati Karno kepada Prabu Duryudana.
"Terima kasih dengan suport kalian. Aku jadi bersemangat. Sekarang Paman Patih siapkan pasukan untuk menangkap Rengganis Sura dan Patihnya, Naga Pertala...!!!" Prabu Duryudana memberikan perintah dan Sengkuni segera ke alun-alun untuk menggelar pasukan khusus guna menumpas ontran-ontran.
Kartomarmo, Kartowiyogo, Dursasana dan para pentolan Kurawa mereka sudah membawa senjata lengkap. Bahkan Tjitraksi dan Tjitraksa perwira Kurawa yang paling kocak, membawa bambu runcing yang dipasangi bendera Israel.
'Pa...pa..man..Pa..Patih Sengkuni...ka...kami sudah siap...i..ini bambu runcing ku ampuh lho Pa..Paman" ujar Perwira Tjitraksi yang memang cedal, tetapi sok semangat, sok berani pokoknya yang paling sok.
Bagi Patih Sengkuni celotehan para Kurawa dianggap biasa. Karena saben harinya begitu. Ketika masih di rumah, belum ketemu musuh. Mereka sok berani.
Tetapi begitu berhadapan dengan musuh. Apalagi berperang, mereka selalu keok dan ngacir pergi meninggalkan gelanggang.
"Ayolah...kalian jangan cuma banyak omong. Ayolah ringkus atau bunuh si Rengganis Sura maupun Naga Pertala...!!!" Patih Sengkuni jengkel juga terhadap tingkah laku para Kurawa. Sehingga dia langsung perintahkan serang langsung.
Para Kurawa langsung menyerang Prabu Rengganis Sura dari Puser bumi. Paling depan Karto Marmo dengan bersenjatakan linggis menerjang Rengganis Sura.
Serangan Kartomarmo yang setengah ngawur dengan mudah ditepis. Sehingga linggis Kartomarmo menancap dipohon pisang.
__ADS_1
Tidak puas dengan serangan pertama yang gagal total. Setelah mencabut linggisnya dari pohon pisang. Dia menghantamkan linggisnya ke kaki Rengganis Sura.
Namun dengan mudahnya Rengganis Sura menghindar, sekaligus membalas serangan tersebut dengan tendangan yang tepat.
"Bugh..!!!"
Mengenai tengkuk Kartomarmo, sehingga dia jatuh tengkurap dan langsung pingsan.
Melihat Kartomarmo ambruk, Dursasana yang bertubuh tinggi dan amat gemuk seperti babi bunting, maju.
Dursasana membawa "alu" sebagai senjata.
Seperti Kartomarmo, Dursasana pun menyerang Rengganis Sura tanpa peringatan terlebih dahulu. Alu yang cukup besar itu dihantam ke kaki Rengganis Sura.
Kali ini Rengganis Sura tidak menghindar. Tetapi dia sengaja mengadu betisnya dengan Alu tersebut. "Krak..!!!" Begitu bunyi yang sangat keras akibat benturan tersebut.
Dan ternyata bukan kaki Rengganis Sura yang patah.
Akibat hantaman tersebut wajah Dursasana jadi memble sebelah. Dan Dursasana pun pilih pingsan daripada melanjutkan pertempuran yang pasti tambah bonyok.
Strategi Kartowiyogo lebih nyentrik lagi.
Melihat saudara-saudaranya babak belur dan tergeletak pingsan. Tanpa ragu-ragu dan malu, Kartowiyogo langsung menjatuhkan diri dan pura-pura pingsan.
Melihat tindakan Kartowiyogo yang ngawur keblablasan, Tjitraksi justeru mendekati Rengganis Sura dengan diplomatis, " Mohon maaf ya Tu..tuan Rengganis...sa..saya tidak ingin perang..se..sebab perang itu tidak ada untungnya. Menang atau ka...kalah sama ruginya...jadi kita damai saja. Bukankah perdamaian membawa keberkahan..!!" Ujar Tjitraksi kepada Prabu Rengganis Sura.
"Jadi maksudmu apa hei orang cedal..!?" Bentak Rengganis Sura.
" Maksudku kita tidak usah perang. Jika saya yang menang...semua pembaca novel ini pasti ngakak. Nama penulis novel ini pun buruk, mosok bikin cerita...Tjitraksi bisa menang perang. Dan kalau saya kalah..itu sudah menjadi langganan.
Lebih baik kita bersaudara, damai..damai tidak usah perang. Salam untuk keluarga Tuan Rengganis..dari Perwira Kurawa yang paling keren...Raden Harya Tjitraksi. Terima kasih Tuan. Selamat berjuang sampai jumpa lagi..Sayonara...!!!" Kilah Tjitraksi yang ditanggapi Prabu Rengganis Sura dengan tersenyum geli terhadap ulah tokoh Kurawa yang satu ini.
__ADS_1
Mahapatih Sengkuni atau Harya Syuman yang menyaksikan pertempuran antara Kurawa dan Prabu Rengganis Sura dari jarak cukupan perutnya jadi mulas. Hatinya dongkol bukan main. Dan otaknya senut-senut.
Karena apa yang dilakukan para jagoan Kurawa benar-benar tidak masuk akal. Nek mereka bicara seolah-olah di dunia yang paling hebat, paling berani, paling sakti mereka.
Tidak ada manusia di jagad raya ini yang melebihi kesaktian mereka. Terutama Dursasana. Faktanya? Cuma badannya saja yang gede. Tetapi sekali pukul langsung pingsan.
Terlebih si tukang bual Tjitraksi. Melihat Mahapatih Sengkuni tengah menunggu kabarnya. Tjitraksi pelan-pelan menghampirinya.
" Bagaimana kabarnya Tjit..!? Kamu sudah perang lawan Rengganis Sura..!?" Tanya Sengkuni.
"Sudah ...Man..!" Jawab Tjitraksi pendek.
"Menang apa kalah..Tjit...!?" Tanya Sengkuni lagi.
"Menurut sampean seharusnya aku kalah apa menang Man..!?": Tanya balik Tjitraksi.
" Seharusnya menang dong. Mosok kalah melulu...!?"
" Ohw...ohw..Paman Patih ini sepertinya gak pernah nonton wayang ya..!? Nek Tjitraksi perang kalah itu biasa Man. Beda nek perang aku menang. Kasihan dalangnya Man. Dalang bisa dipukuli penonton gara-gara Tjitraksi perang menang.
Tidak cuma dikeroyok penonton...dalangnya juga bisa dimaki-maki orang. Dan akibatnya karena dianggap dalang gendeng dan menyalahi pakem. Dalang tersebut tidak dipakai lagi. Itu kan kasihan...jadi biarlah aku kalah tetapi pertunjukan wayang tetap jalan...!" Kilah Tjitraksi.
" Kamu belum jawab pertanyaan ku...kamu menang apa kalah Tjit..!?" Tanya Sengkuni dengan dongkol kepada Tjitraksi.
" Alhamdulillah perang tadi seri Man..aku tidak menang juga tidak kalah... Alhamdulillah berlangsung damai Man..!!!" Jawab Tjitraksi.
"Maksudmu apa Tjit!? Coba jelaskan..!!" Desak Sangkuni.
"Ohw...alaahh...inilah jika orang kuno. Sampean gak pernah kuliah..ya Man? Omonganku begitu mudah kok gak bisa dipahami....jadi kami gak bertarung Man.
Justeru kami menjalin persaudaraan..antara aku dan Rengganis Sura, Man. Kan banyak saudara lebih bagus daripada banyak musuh..iya kan Man..!?" Jawab Tjitraksi santai.
__ADS_1
" Wah dasar..pekok..!" Umpat Sengkuni.