Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
87. Batara Kala Bakal Buat Perhitungan


__ADS_3

"Maksudmu apa heh..!? Ayo bicara yang jelas..!!!" Bentak Batara Kala lagi karena Jarameo laporan dengan nada ketakutan.


"Kami mau menyerang lewat angkasa ... ternyata langit Wirata telah dijaga oleh Raden Wisanggeni. Kami akhirnya bertarung.. sayangnya kami berhasil dikalahkan .. Tuan. !!!" Jelas Jarameo. Belum habis laporan Jarameo, keburu Detya Palasiya datang.


"Ohw kamu Palasiya....bagaimana Pandawa!? Apa sudah kamu bunuh semua..!!!??" Tegur Batara Kala melihat kedatangan Detya Palasiya.


"Ampun ... mohon seribu ampun Tuan kami gagal membunuh Pandawa..!" Jawab Palasiya.


"Kamu kan sakti mandraguna pilih tanding. Mosok kalah sama Pandawa...!" Ujar Batara Kala.


"Bukan cuma kalah. Bahkan kami dihajar habis-habisan. Bukan itu saja Tuan


Dia menantang ... dia bilang begini. Ayoh bilang kepada Bosmu... Bosmu bakal kutendang bokongnya... begitu Tuan..!!" Jelas Palasiya ngomong apa adanya membuat Batara Kala Emosi.


"Eeeiittt... Palasiya yang ngomong begitu siapa? Biar nanti kutelan mentah-mentah dia..!?" Ujar Batara Kala dengan nada tinggi.


"Jadi begini Tuan.. sebelum saya sampai di Keraton Wirata. Di pintu gerbang saya ketemu Ksatria gagah mengaku bernama Ontoseno. Jadi kami belum sempat ketemu Pandawa.


Kepadanya saya ngomong apa adanya. Terus terang kami akan membunuh Pandawa. Eh.. dia marah langsung melabrak kami. Dan dia ternyata sangat sakti. Kami keroyok. Kami tendang. Kami pukul. Kami gigit tidak apa-apa..! Malah dia balas menyerang.


Serangannya luar biasa. Kami kesakitan. Akhirnya kami mundur dan lari menyelamatkan diri. Dan yang membuat kami jengkel dia malah menantang Tuan.


Katanya Tuan mau dibikin sate atau gulai.. wah pokoknya ngomongnya kurang ajar banget deh..! Orang semacam itu harus diberi pelajaran..Tuan..!!!" Jelas Palasiya kepada Batara Kala yang mendengarkan dengan muka merah padam.


"Hmmm... aku kenal Ontoseno. Awas nanti kubikin perhitungan dengannya. Kupreteli lengan dan kakinya biar tahu rasa...kurang ajar..!!" Ujar Batara Kala dengan emosi.

__ADS_1


Kendati sangat emosi, tetapi Batara Kala pakai perhitungan. Jika Palasiya dan Jarameo berhasil dengan mudah mereka kalahkan. Tentu mereka sangat berisi dan yakin tidak sendirian.


"Ontoseno pasti punya teman yang sangat sakti. Aku tidak boleh gegabah..!" Ujar Batara Kala dalam hati.


Berpikir seperti itu Batara meskipun jengkel, dia perlu menguji dulu seberapa besar sebenarnya kekuatan Ontoseno dan temannya. Karena itu dia memilih dua atau empat Senopati Dandangmangore menjajal benteng Pandawa.


Untuk ini Batara Kala memanggil Senopati Radomiya, Senopati Sadomiya, Senopati Tekteplung, dan Senopati Rikma Cepak. Mendapat panggilan dari Tuan mereka yang super galak. Keempat Senopati segera menghadap.


"Tuanku memanggil kami ada perintah apa ? Kami selalu siap...!!!" Ujar Radomiya, mewakili ketiga rekannya kepada Batara Kala.


"Bagus... aku senang. Kalian selalu ready... itu memang yang kuharap. Dengan prinsip lebih cepat lebih baik. Kita bisa selalu di depan...!


Ya aku dan atas nama Ibu Batari Durga. Menginginkan agar kalian membunuh Pandawa. Caranya terserah kalian, yang penting Pandawa. Titik..!


Dan aku tidak ingin Misi kalian gagal. Maka kuminta agar kalian bersungguh-sungguh. Bawa perlengkapan perang. Jangan sampai tertinggal.


Keempat Senopati yang sekarang memang berbeda dari sebelumnya. Keempat Senopati jauh lebih sakti dan punya kelebihan sendiri-sendiri.


Misalnya Senopati Radomiya, raksasa berwajah kepiting dan di kepalanya terdapat Sumpit. Sumpitnya bukan sembarang Sumpit, karena selain besar dan sangat tajam. Juga sangat kuat dan keras melebihi baja. Bahkan besi jika terkena sumpit ini bisa patah. Bahkan batu terkena sumpitnya bisa remuk.


Senopati Sadomiya lain lagi. Raksasa berkepala babi hutan punya taring mencuat sangat panjang. Bentuknya mirip pedang dan juga sangat tajam dan kuat. Sekuat baja. Dia juga punya sayap. Sayapnya juga sangat kuat dan keras. Sayap ini jika dikepakan menimbulkan suara gemuruh mirip baling-baling pesawat terbang. Dan sayap ini juga merupakan senjatanya yang cukup ampuh.


Lain lagi Senopati Tektekplung. Dia seorang raksasa tetapi badannya sangat kurus sehingga lebih menyerupai tengkorak hidup. Hidungnya cuma berbentuk lobang. Mulutnya kosong melompong tidak punya gigi. Tetapi Tektekplung ini makhluk yang sangat mengerikan. Selain suaranya seperti ditenggorokan. Dari mulutnya dapat menyemburkan uap beracun yang sangat mematikan. Betapa tidak, sebab racun yang ditimbulkan bisa ratusan kali lebih kuat dari bisa kobra.


Terakhir Senopati Rikma Cepak. Raksasa ini bertubuh tinggi besar, dan mukanya mirip orang Afrika tetapi berhidung pesek dan bermata lebar seperti telor dadar. Senjatanya terletak di matanya dan suara khasnya. Matanya yang lebar dan besar bisa mengeluarkan semacam laser yang bisa membakar apapun yang diinginkan. Selain itu suaranya yang sangat besar dan keras juga dapat memecahkan gendang telinga. Jika orang biasa mendengar suara teriakannya bisa kendang telinganya pecah.

__ADS_1


"Maaf Tuanku... kapan kami harus berangkat ke Wirata..!?" Tanya Radomiya mewakili ketiga temannya.


"Aku pikir lebih cepat lebih baik..!!!" Tegas Batara Kala.


"Jika begitu... sekarang juga kami mohon pamit Tuan..!!!" Ujar Sadomiya.


"Ya kudoakan...semoga kalian sukses. Bawa pasukan perlengkapan secukupnya ... berangkatlah. Bunuhlah Pandawa..!" Tegas Batara Kala.


Mereka sengaja membagi pasukan menjadi dua kelompok, kelompok pertama dipimpin Senopati Sadomiya dan Senopati Rikma Cepak akan menempuh jalan angkasa. Jadi mereka akan menyerang lewat udara.


Akan halnya kelompok kedua dipimpin Senopati Radomiya dan Senopati Tektekplung akan menempuh jalan darat.


Mereka berangkat dengan pasukan sekitar seratus orang tiap kelompok dengan persenjataan cukup lengkap. Pasukan ini berpisah setelah berada di luar Pasetrangandamayit. Masing-masing menempuh jalannya sendiri.


Sementara itu, setelah serangan pertama dari pasukan siluman anak buah Batari Durga dan Batara Kala. Atas instruksi Prabu Sri Kresna penjagaan diperketat. Wisanggeni tetap berjaga di wilayah udara Wirata.


Wisanggeni sekarang ditemani Gatutkaca.


Akan halnya Ontoseno tetap menjaga wilayah daratan ditemani Raden Abimanyu alias Angkawijaya. Sebenarnya baik Wisanggeni maupun Ontoseno. Mereka mampu menjaga wilayah Wirata tanpa dibantu siapa pun. Namun karena atas kehendak Gatutkaca dan Abimanyu sendiri. Sehingga baik Ontoseno maupun Wisanggeni tidak bisa menolaknya. Terlebih juga atas saran Raja Dwarawati.


***


Kita kembali kepada Prabu Sri Kresna sebagai utusan Pandawa untuk minta kembali negara Hastinapura. Seperti kita ketahui bahwa Prabu Duryudana secara dengan sengaja dia ingkar janji. Bahkan duta Pandawa Raja Dwarawati nyaris dibunuhnya.


Dengan kegagalan tersebut Prabu Sri Kresna menyatakan bahwa Perang Bharatayudha

__ADS_1


hayabinangun segera dimulai.


Prabu Sri Kresna segera berkoordinasi dengan Prabu Maswapati dan Sanghyang Ismaya. Dan Prabu Maswapati telah menyiapkan tiga orang puteranya untuk menjadi Senopati di awal perang Bharatayudha dari pihak Pandawa.


__ADS_2