Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
24. Konflik di Madukara


__ADS_3

Resi Durna atau Pandita Durna atau Begawan Kumbayana adalah seorang agamawan yang doyan suap. Dia adalah pandita paling kaya dibanding para pandita lainnya.


Itu tidak mengherankan karena dia dijadikan guru serta sesepuh kerajaan Hastina sebuah kerajaan besar sangat kaya raya dan memiliki jajahan yang banyak.


Raja Hastina adalah Duryudana atau Suyudana atau Jaka Pitana, seorang raja bengis dan sangat sombong serta mabok pujian.


Disinilah peran Durna, karena dia adalah pendeta yang suka memain-mainkan dan menjual ayat. Menjadi pasangan yang cocok untuk raja lalim, semacam Suyudana.


Saat ini Durna sedang mengemban tugas untuk melamar dan menegoisasikan antara anaknya Suyudana yang bernama Raden Lesmana Mandrakumara dengan nama beken Sarju Kesuma dengan Puteri Pangeran Janoko dari Ksatrian Madukoro yang bernama Pergiwati.


Padahal sesungguhnya Pergiwati sudah dijodohkan dengan Pancawala, putera Raja Indraprasta. Cuma karena Lesmana ngotot harus nikah dengan Pergiwati. Dan karena Pandita Durna telah disuap Raja Suyudana.


Sehingga Durna memaksakan kehendak agar perjodohan Pergiwati dengan Raden Pancawala dibubarkan.


Djanoko tidak berkutik. Sebab Durna adalah gurunya yang sangat dia hormati. Disamping itu Durna juga mengiming-imingi Djanoko dengan emas kawin yang sangat luar biasa.


Sehingga Djanoko tega mengkhianati janji yang dia buat dengan Raja Puntadewa. Dan sekaligus memutuskan cinta kasih antara Raden Pancawala dan Dewi Pergiwati.


Nah disinilah Raden Pancawala yang patah hati mau bunuh diri dengan menyerahkan dirinya untuk dimangsa binatang buas atau apa saja.


Hal inilah yang membuat keprihatinan para Punakawan Pandawa, diantaranya Petruk dan Bagong yang mendampingi Pancawala di hutan.


Para Punakawan heran dan mempertanyakan akal sehat Pangeran Djanoko.


"Seharusnya Pangeran Djanoko paham ya Gong. Siapa Sarju Kusuma itu dan siapa Raden Pancawala..!?" Ujar Petruk kepada Bagong.


Bagong mengiyakan dan Petruk melanjutkan, "Lihat Raden Pancawala orangnya ganteng pendidikannya tinggi pokoke keren banget deh..! Bandingkan dengan Sardju Kesuma atau Lesmana Mandrakumara.


Meskipun dia anak Raja besar...tetapi dia seperti Wandi, senang pake daster dan lipstikan. Dia degleng..soalnya...pokoke pekok. Benar kan Gong?" Kembali Bagong mengiyakan.


"Bahkan dia ikut markirin mobil di mall. Dan gemar mencari katak serta ikan gabus Truk.." jelas Bagong.

__ADS_1


"Kamu benar Gong. Dan aku kira Pangeran Djanoko tahu semua.. namun gara-gara si Pendita busuk Durna itu sehingga Pangeran harus mengingkari janji yang pernah dibuatnya dengan Gusti Prabu Puntadewa untuk menjodohkan putera Puteri mereka. Begitu ya Gong...!?" Terang Petruk.


"Sekarang kita harus membujuk juragan Pancawala agar bersabar...jangan bunuh diri. Itu perbuatan dosa yang sangat besar. Kita Carikan solusinya...!" Ujar Bagong.


Pada saat dua Punakawan itu sedang bimbang dan mencari solusi untuk menolong juragan mereka. Saat itulah Ontoseno mendatangi mereka. Dan Bagong langsung bertanya.


"Mohon tanya siapakah Anda wahai laki-laki gagah...dan mau kemana..!? Bolehkah kami tahu..!?" Tanya Bagong kepada Ontoseno.


Ontoseno terkesiap dan tersenyum lucu karena melihat penampilan Bagong dan saudaranya Petruk. Bagong bertubuh gemuk pendek. Bermuka lebar bulat. Matanya lebar membelalak. Dan mulutnya Ndower lebar.


Sementara Petruk bertubuh tinggi lebih tinggi dari ukuran orang biasa. Dan hidungnya mirip Pinokio. Pokoknya, keduanya lucu habis.


" Ohw ya maaf...aku sangat terkesima melihat sampean jadi lupa belum njawab pertanyaannya. Coba ulangi pertanyaannya...!?" Ujar Ontoseno kepada Bagong.


Bagong dengan sabar mengikuti kemauan Ontoseno. Dan Ontoseno mengangguk- angguk paham mengenai pertanyaan Bagong.


"Baiklah namaku adalah Ontoseno aku dari pertapaan Gisik Samudera. Aku putera Ibu Urang Ayu. Aku kesini mau ke negara Amarta. Apakah ini Amarta atau Indraprasta? Aku ke Amarta tujuanku ke Ksatrian Jodipati untuk mencari Bapakku..yakni Bapak Brotoseno..!" Jelas Ontoseno.


"Jika Raden bertanya hutan ini masuk wilayah mana bisa saya jelaskan. Bahwa hutan ini termasuk negara Amarta atau Indraprasta...!" Jelas Petruk.


"Tadi Raden mengatakan sedang mencari Bapak Raden. Mohon diulangi siapakah nama Bapak Raden..!?" Tanya Petruk.


" Wahai...orang lucu. Nama Bapakku adalah Brotoseno atau Werkudoro...dari Ksatrian Jodipati..!" Urai Ontoseno.


Petruk kaget, mengamati perawakan dan wajah Ontoseno. Memang mirip ... Juga mirip Werkudoro.


"Pasti diapun sakti luar biasa...inilah kesempatan dalam 9. Akan kupakai dia untuk menolong Tuanku Pancawala..!" Ujar Petruk membatin.


Karena itu tanpa ragu Petruk pun mengaku bahwa dirinya adalah Brotoseno. Tentu saja Ontoseno kaget. Menurut cerita Ibunya bahwa ayahnya tinggi besar dan ganteng.


Orang yang mengaku Brotoseno dan dihadapannya ini memang tinggi. Tidak tampan tidak brewokan dan hidungnya kok mirip Pinokio.

__ADS_1


"Ah mosok Bapakku.. menurut Ibu ganteng bukan tampang seperti marmut ini. Juga hidunge mancung tetapi bukan seperti Pinokio..!" Gumam Ontoseno.


Melihat Ontoseno ragu terhadapnya, Petruk tidak kurang akal. Dia menceriterakan bahwa sesungguhnya dia pria yang sangat tampan, gagah dan tidak seperti ini.


Bahwa wajahnya rusak dan tidak tampan lagi gara-gara saat dia panjat pohon kelapa terpeleset jatuh dan luka cukup parah, terutama bagian mukanya.


Karena itu dia harus menjalani operasi. Dan harus bedah plastik, dengan resiko mukanya jadi remuk tidak tampan lagi. Tetapi nyawanya berhasil diselamatkan.


"Jadi begitulah ceritanya Ontoseno. Kenapa wajah Bapakmu jadi kayak begini..!" Jelas Petruk meyakinkan.


Karena alasan Petruk bisa diterima akal, disamping itu dia tidak membawa foto Brotoseno. Sehingga mau tidak mau Ontoseno harus mengakui Petruk sebagai Bapaknya.


Melihat muslihatnya berhasil, Petruk melanjutkan siasatnya. Kali ini meminta Poncowolo memasuki Kaputren Madukara guna membawa lari Dewi Pergiwati. Sedang Ontoseno diminta menjaga keselamatan dan keamanan Poncowolo.


"Wahai anakku Ontoseno...aku minta kamu jagain Raden Poncowolo. Siapa saja yang mengganggu dan memasuki wilayah ini harus kamu gebuk. Tidak peduli siapapun pokoke gebuk ya..!?" Ujar Petruk kepada Ontoseno.


Dan dengan patuhnya Ontoseno menjaga pintu Kaputren. Sehingga Poncowolo sangat aman memadu kasih dengan kekasihnya, Dewi Pergiwati.


Sementara itu Resi Durna atau Begawan Kumbayana masih terus mendesak Pangeran Djanoko agar segera menikahkan putrinya, Dewi Pergiwati dengan Lesmana Mandrakumara.


Dan Djanoko nampak tidak berdaya terhadap desakan gurunya. Pada saat rundingan tengah berlangsung seru, tiba-tiba seorang pembantu Kaputren tergopoh-gopoh menghadap Pangeran Djanoko.


"Ada apa Yu Wartiyem sampean tergopoh-gopoh kemari..!?" Tanya Djanoko kepada pembantu Wartiyem.


"Aduh celaka Tuanku. Ada pencuri..!!!" Ujar Wartiyem.


'Pencuri apa yang jelas Yu..!? Jelaskan selengkapnya..!" Bentak Djanoko dengan emosi.


"Anu...anu...Non Pergiwati sedang berduaan dengan seorang lelaki...!" Terang Wartiyem sambil megap-megap.


Pandita Durna yang mendengar bahwa calonnya Lesmana Mandrakumara tengah berduaan dengan seorang lelaki. Spontan Durna minta kepada Brotoseno yang kebetulan hadir disitu untuk segera menangkap si pencuri hati itu.

__ADS_1


Dasar Brotoseno orangnya berangasan dan cepat emosi, tanpa berpikir panjang langsung lari ke arah Kaputren Madukara. Selain Brotoseno bala tentara Kurawa yang mengawal Durna dan Lesmana ikut menerjang ke Kaputren.


__ADS_2