Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
32. Sri Kresna Curang, Djanoko Turun Tangan


__ADS_3

Setelah merenung beberapa saat Pangeran Djanoko, segera beranjak,


"Wah ini curang...Sri Kresna Curang. Tidak fair. Aku harus turun tangan..!" Ujar Djanoko seperti berbicara kepada dirinya sendiri.


Selanjutnya dia terbang dan menggunakan ajian halimunan, sehingga hilang tidak kelihatannya menuju ke arah Samba yang masih berkacak pinggang dan tertawa jumawa.


Djanoko terbang diatas kepala Samba tanpa diketahui yang bersangkutan. Setelah mengamati beberapa saat, Djanoko turun dan langsung mengambil kembang Wijayakusuma dibaju Samba tanpa terasa.


Samba yang tidak tahu bahwa jimatnya telah diambil tetap berkoar-koar nantang Ontoseno. Djanoko kemudian mendekati Ontoseno, dan mengobati sakitnya dengan kembang Wijayakusuma.


"Ontoseno..sekarang kamu sudah sehat wal Afiat.. ayoh silahkan maju dan hajar ketengilan Samba..! Ujar Djanoko dan dengan semangat baru Ontoseno langsung menerjang Samba dengan pukulan keras sekali.


Samba yang tidak sadar bahwa jimatnya telah raib, membiarkan pukulan itu mengenai badannya dan "bug..!!!" Suara keras banget mendarat tepat didadanya.


Samba mengaduh keras banget dan langsung pingsan. Bomanarakasura yang kebetulan ada disitu segera membopong Samba menjauh sembari melemparkan handuk kepada Ontoseno, pertanda bahwa Samba kalah dan menyerah.


" Maafkan aku Kangmas Samba...!" Ujar Ontoseno saat melihat tubuh Samba dibopong Bima dalam keadaan pingsan.


Setelah Samba dibawa pergi, Djanoko baru bercerita kepada Ontoseno. Bahwa Samba menjadi sakti mandraguna karena dipinjami Prabu Sri Kresna Kembang Wijayakusuma.


Jimat itu kemudian diambil Djanoko tanpa sepengetahuan Samba.


Karena itu ketika dipukul dadanya oleh Ontoseno dia terpental dan terjengkang dan semaput.


Sementara itu Sri Kresna yang mendapati anaknya pingsan dibopong anak sulungnya, yakni Bomanarakasura. Dia tetap tenang.


Tidak lama kemudian Pangeran Djanoko datang sembari mengembalikan Kembang Wijayakusuma kepada Sri Kresna.


"Ini jimat Kangmas Prabu saya kembalikan... maaf tadi saya ambil dari Ananda Samba..!" Ujar Djanoko saat mengembalikan jimat Kembang Wijayakusuma kepada Prabu Sri Kresna.


Sri Kresna menerima jimatnya dengan rasa malu bukan kepalang. "Justeru akulah yang harus minta maaf kepadamu Dinda Djanoko. Juga kepada Ontoseno. Sebab aku telah lancang berbuat curang. Maafkan ya Dinda sampaikan maafku kepada Ontoseno dan kepada Dinda Brotoseno..!" Pinta Sri Kresna kepada Djanoko.


Pangeran Djanoko mengiyakan dan pamitan mohon diri. Djanoko kembali dan menemui Brotoseno. Menceritakan semua yang terjadi dan tidak lupa menyampaikan permohonan maaf Sri Kresna kepada Brotoseno maupun Ontoseno.

__ADS_1


Kembali kepada Prabu Sri Kresna. Setelah kembang Wijayakusuma ditangannya. Kemudian dia mengobati Raden Samba yang pingsan. Begitu Samba sadar, Sri Kresna mempertanyakan.


"Wahai anakku masihkah kamu maju perang lagi lawan Ontoseno..!?" Tanya Sri Kresna tajam.


"Tidak Ayah. Saya memang kalah jauh...!" Jawab Samba.


"Kamu kapok..!?" Tanya Sri Kresna lagi.


"Ya Ayah...!!!"


Makanya kuingatkan kepadamu. Jangan kamu ulangi ketololanmu. Untung Kakakmu Sutejo Bomanarakasura memberitahuku bahwa kamu sedang ikut perang tanding memperebutkan Dewi Djanokowati di sini.


Coba kalau kakakmu tidak memberitahuku. Siapa yang bakal menolongmu. Lain kali jangan lalaikan orang tua komunikasi itu penting dan harus. Tolong camkan ini..!" Ujar pitutur Sri Kresna kepada anaknya.


Raden Samba diam dan tertunduk malu. Apa yang disampaikan ayahnya tidak salah. Dia memang terlalu sembrono. Sangat gegabah kurang perhitungan dan cuma mengikuti hawa nafsu.


Setelah kejadian ini, baru Samba sadar dan menyadari. Bahwa apa dilakukan ayahnya adalah benar. Dan dia mengakui masih terlalu muda untuk bisa memahami kehendak orang tua. Samba berjanji dalam hatinya, lain kali dia akan lebih berhati-hati lagi. Dan ikuti seluruh nasihat orang tua.


Pangeran Djanoko setelah mengembalikan Kembang Wijayakusuma kepada Prabu Sri Kresna segera menemui Brotoseno dan Ontoseno lagi.


Putera Brotoseno itu pilih diam yang menjawab justeru Brotoseno.


"Ya benar...terus kapan kita langsungkan pernikahannya hai Djanoko...!?" Tanya Brotoseno kepada adiknya, Djanoko.


"Mustinya lebih cepat lebih baik...sebentar saya akan cari hari yang baik untuk hajatan. Setelah itu saya beritahu Kangmas jadwalnya. Pokoknya Kangmas siap-siap saja..!" Ujar Djanoko dan Brotoseno cuma mengangguk setuju.


Sementara Ontoseno mukanya tetap membeku, sampai saat ini dia belum mau menikah. Masih ingin bujangan dan bebas main kesana kemari. Kalaupun dia terjun dalam pertempuran perebutan Djanokowati, itu bukan karena menginginkan gadis cantik tersebut.


Tetapi itu dilakukan karena mengikuti kemauan ayahnya semata. Disamping untuk menyalurkan hobby berantemnya. Itu saja tidak lebih. Karena itu dia tidak peduli mau nikah atau tidak. Emang gua pikirin, katanya.


Ontoseno boleh saja belum niat nikah. Tetapi ayahnya, Brotoseno sudah membuat janji bahwa pekan kedua bulan depan. Akan dilangsungkan pernikahan Dewi Djanokowati dengan Raden Ontoseno.


Bahkan Brotoseno sudah memesan undangan dan sudah bocking catering yang cukup beken di negara Indraprasta. Tidak tanggung-tanggung Brotoseno mengundang semua kenalan dan orang-orang dekatnya.

__ADS_1


Dan tentu saja paling sibuk Petruk dan Bagong. Karena kedua Punakawan ini menjadi ujung tombaknya perhelatan tersebut. Bagong dan Petruk ini sengaja oleh Brotoseno dibelikan motor trail baru.


Tujuannya agar mobilitasnya tinggi, Bagong dan Petruk ini yang mengantarkan semua undangan.


Tidak itu saja, Bagong dan Petruk ini juga diserahi tugas mencari hiburan yang paling terkini untuk meramaikan pernikahan Ontoseno.


Bagong disuruh mencari penyanyi yang sedang ngetop dan viral. Berapapun tarifnya tidak jadi persoalan, yang penting ngetop dan disukai kaum milenial.


Dibanding anak-anak Brotoseno yang lain, mungkin Ontoseno yang paling spektakuler. Waktu pernikahan Raden Antareja, maupun Raden Gatutkaca tidaklah semeriah ini.


Tetapi untuk Ontoseno benar-benar sangat istimewa.


Tibalah hari pernikahan Ontoseno. Dua gapura Ksatrian Madukara dan Ksatrian Jodipati dihias meriah. Bahkan hiburan pun digelar di dua tempat. Masing-,masing menampilkan artis yang sedang ngetop.


Aneka makanan dan jajanan melimpah ruah, dan ini merupakan berkah bagi Petruk dan Bagong. Karena kesempatan seperti ini rasanya baru seumur hidup dirasakan.


Sementara itu Ontoseno dirias laiknya seorang mempelai pria. Dia nampak ganteng dan gagah sekali. Dan tidak kalah menariknya adalah Dewi Djanokowati.


Setelah dirias sedemikian rupa, Puteri Pangeran Djanoko berubah menjadi gadis yang sangat jelita. Bahkan banyak orang menilai, kecantikan Djanokowati mengalahkan kecantikan para bidadari.


Dan sekarang Ontoseno setelah memperhatikan dengan seksama dan mencermati dengan teliti. Mau tidak mau dia mengakui kecantikan Djanokowati.


Dan dia benar-benar jatuh cinta kepada isterinya. Ontoseno juga secara tidak sadar mengakui bahwa pilihan Bapaknya, Brotoseno tidak salah.


"Terima kasih ayah...!" Gumam Ontoseno, sekaligus memuji Bapaknya.


Pesta pernikahan Ontoseno dan Djanokowati berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Berbagai hiburan ditampilkan di dua tempat, yakni Ksatrian Madukara dan Ksatrian Jodipati.


Dengan pesta pernikahan tersebut, rakyat Indraprasta terhibur. Dan rakyat berbaur antara orang-orang kota dan desa.


Seperti pepatah, bahwa pesta kayak apapun pada akhirnya akan berakhir. Dan setelah tujuh hari tujuh malam non stop. Akhirnya pesta usai tepat pada hari ketujuh.


Waktu pesta yang berlangsung cukup lama memberi keberuntungan bagi Ontoseno. Sebab waktu memberi kesempatan buatnya untuk semakin mengenal isterinya.

__ADS_1


Berlakulah pepatah "Witing Tresna Jalaran Saka kulina".


__ADS_2