Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
36. Brotoseno dan Djanoko pun Kalah


__ADS_3

"Ya...semua itu kan menurutmu. Kalau menurutku Sanghyang Jagadnata yang lebih berhak.


Karena itu aku minta kepadamu secara baik-baik, kalian tinggalkan Kahyangan sekarang juga daripada kulabrak..!!!' bentak Djanoko sembari mengancam.


"Kalau kami tidak mau pergi, kamu mau apa Djanoko..!?" Jawab Dewa Wicara.


Brotoseno yang sejak tadi diam, mendengar ucapan Dewa Wicara tersulut emosinya. Tanpa sungkan lagi, Brotoseno langsung menerjang Dewa Wicara dengan tendangan dahsyatnya.


Namun dengan gerakan yang sangat indah Dewa Wicara dengan mudahnya menghindari tendangan halilintar Brotoseno.


Serangan yang pertama gagal Brotoseno kembali menyerang dengan pukulan yang sangat kuat dan keras luar biasa.


Namun dengan santainya Dewa Wicara menggerakkan telapak tangannya, dan mengatakan, "Lumpuh..!!!" Seketika Brotoseno nglumpruk tidak berdaya. Lumpuh.


Djanoko yang menyaksikan kejadian ini kaget. Bahwa Dewa Wicara ternyata bukan manusia biasa. Karena Djanoko mengambil busurnya yang terkenal sangat ampuh.


Dia menyerang Dewa Wicara dengan Panah Pasopati, panah yang bagian tajamnya berbentuk bulan sabit dengan ketajaman melebihi pisau cukur.


Panah diarahkan kebagian leher Dewa Wicara. Sekedar catatan Panah Pasopati sudah merenggut puluhan bahkan ratusan musuh sakti.


Panah ini selalu tepat sasaran. Apalagi yang memanah Djanoko yang dikenal ahli panah terhebat di dunia.


Panah Pasopati sudah terlepas dari busurnya. Ia mengarah ke leher Prabu Dewa Wicara. Tetapi sungguh ajaib kurang sejengkal dari leher Dewa Wicara panah itu turun nancap ke bumi.


Gagal dengan Pasopati, Djanoko mengeluarkan panah lainnya yang tidak kalah hebat dari Pasopati, yaitu Panah Pulanggeni.


Panah Pulanggeni mengeluarkan aura panas luar biasa, dan saat lepas dari busurnya mengeluarkan suara gemuruh seperti badai. Orang yang melihat panah ini pasti merinding. Dan tidak dapat membayangkan apa jadinya jika Prabu Dewa Wicara terkena panah ini.


Nyatanya? Seperti Pasopati, nasib Pulanggeni pun sama. Setelah berjarak sejengkal dari leher Dewa Wicara panah ini pun rontok.


Djanoko kaget bukan main, benar-benar hebat Dewa Wicara.

__ADS_1


"Kamu hebat Dewa Wicara tetapi sekarang terimalah pukulan Lebur Saketiku...!!!" Ujar Djanoko dan langsung menyerang dengan pukulan.


Dengan disertai Geraman Djanoko melancarkan pukulan Lebur Saketi sebuah pukulan dahsyat yang mampu menghancurkan gunung,


Lagi-lagi dengan gerakan santai, Dewa Wicara melambaikan tangannya dan bilang "Lumpuh..!!!" Seketika Djanoko lumpuh. Dan Dewa Wicara melempar keduanya, Brotoseno dan Djanoko keluar.


Nasib Brotoseno dan Djanoko benar-benar bernasib sial. Mereka adalah jagoan-jagoan hebat dan pilih tanding. Namun sekarang jadi tidak berguna sama sekali. Mereka seperti anak-anak yang baru belajar berantem. Memalukan.!


Prabu Sri Kresna yang melihat keadaan Brotoseno dan Djanoko tidak berdaya. Langsung membopong keduanya menyingkir dari situ.


Setelah agak jauh Sri Kresna coba menanyai Brotoseno dan Djanoko.


"Wahai Brotoseno dan kau Djanoko...masih berani maju lagi...atau sudah menyerah keok..!?" Tanya Sri Kresna sambil bercanda.


Sementara itu Brotoseno dan Djanoko keduanya saling pandang. Dan keduanya seperti sepakat, sama-sama gelengkan kepala.


"Jadi kalian benar-benar keok ya..!?" Sri Kresna manyakan ulang kepada kakak beradik Pandawa tersebut. Keduanya mengangguk.


Sri Kresna segera mengambil dari sakunya alat pelacak canggih yang disebut Kaca Paesan. Alat ini sebesar hp android. Namun kecanggihannya luar biasa.


Jika alat pelacak tercanggih yang dipunyai manusia saat ini hanya mampu mendeteksi benda-benda yang kasat mata saja. Berbeda dengan Kaca Paesan.


Alat pendeteksi itu justeru mampu menembus alam ghoib. Mampu membuka dan membaca misteri. Inilah yang sangat luar biasa.


Maka setelah alat canggih itu dikeluarkan dan diprogram tentang siapakah yang dapat mengalahkan Dewa Wicara dan kawan-kawan Sri Kresna segera mengajak Brotoseno dan Djanoko.


"Ayoh Brotoseno dan kamu Djanoko. Memang Dewa Wicara bukan lawan kalian. Kita Carikan lawannya...ayoh kalian ikut aku..!" Ajak Sri Kresna kepada Brotoseno dan Djanoko.


Dalam Kaca Paesan diketahui, bahwa Dewa Wicara hanya bisa dikalahkan seorang pertapa yang saat ini sedang menjalani "Tapa Ngrame".


Pertapa itu tengah duduk di perempatan Jalan Negara Amarta. Pertapa tua bertubuh kurus kering memakai sorban ungu dan jubah coklat tua.

__ADS_1


Pertapa tua dengan wajah sumringah ini tengah menggelar ilmunya di pinggir perempatan. Masyarakat dipersilahkan untuk sekedar konsultasi berbagai persoalan hidup atau sekedar minta diobati dengan doa pandita tadi. Dan doanya gratis tidak dipungut bayaran sepeser pun.


Sehingga Prabu Sri Kresna, Brotoseno dan Djanoko tidak begitu susah mencarinya. Namun mereka belum mau mendekati dulu. Karena banyak warga yang antri minta jasa pandita tua tadi.


Melihat penampilannya yang sangat bersahaja, dan bentuk tubuhnya yang sedang-sedang saja. Bukan tinggi besar, mukanya pun cukup simpatik, meskipun tidak begitu cakap Brotoseno sempat meragukannya.


" Kanda Kresna...terus terang aku ragu, apakah pendita itu mampu melawan Dewa Wicara. Sedang tampang dan bentuk tubuhnya sangat kurang meyakinkan. Bagaimana Kanda!?" Ujar Brotoseno kepada Prabu Sri Kresna.


"Adikku Brotoseno...jangan menilai orang dari tampang dan bentuk tubuhnya. Tetapi percayalah alat pendeteksi ku tidak pernah salah. Dia memang orangnya..!' kilah Sri Kresna.


Dengan jawaban Prabu Sri Kresna, percaya atau tidak Brotoseno dan Djanoko harus meyakini apa yang diucapkan Raja Dwarawati itu. Karena Brotoseno dan Djanoko pilih diam dan mengikuti apa yang dikemukakan Sri Kresna.


Setelah pasien yang bermaksud minta jasa bantuan pandita misterius itu berkurang, Prabu Sri Kresna mencoba mendekatinya.


"Permisi...bolehkah kami mengganggu Tuan Pandita...!?" Ujar Sri Kresna kepada Pandita misterius itu.


"Ohw...silahkan Tuan...maaf dari pakaian yang sampean kenakan sepertinya sampean bukan orang sembarangan. Mohon tanya tuan Raja dari mana, dan siapa nama tuan, dan tuan kemari untuk apa..!?" Tanya Pandita misterius.


"Baiklah Tuan Pandita...nama saya Sri Kresna. Benar saya adalah Raja. Raja dari Negara Dwarawati...dan perkenalkan dua orang yang ikut saya kemari adalah adik-adik saya. Itu yang tinggi besar dan bercambang namanya Brotoseno.


Dan itu sebelahnya, yang tampan adalah adiknya yang bernama Djanoko. Mereka dari negara Amarta atau Indraprasta.


Dan maksud kedatangan kami kesini adalah untuk minta tolong tuan. Menyibak tabir kesulitan yang menimpa kami...tolonglah Tuan.


Dan maaf bolehkah kami mengetahui nama besar Tuan Pandita...!?" Sri Kresna balik menanyakan siapa nama Pandita misterius itu.


"Ohw iya....namaku Pandita Djajalsengara... aku tidak punya negara...aku juga tidak punya rumah dan tempat tinggal. Aku hidup luntang-lantung seorang diri.


Sebelumnya aku menjalani Tapa...lha tiba-tiba ada seorang dewa turun mendatangiku. Aku disuruh bangun...dan supaya menjalani "tapa ngrame". Dewa menunjukan supaya aku ke negara Amarta. Karena disitu tenagaku bisa dimanfaatkan, katanya.


Jadi aku kesini dan dalam rangka mewujudkan darma bakti ku. Aku siap menolong siapa saja. Termasuk aku bersedia membantumu Sang Prabu...! Mohon tanya ada permasalahan apakah yang membuat kalian bersedih..!?" Ujar Pandita Djajalsengara.

__ADS_1


__ADS_2