
Setelah Mahapatih Sengkuni memberi isyarat kepada Dursasana maka dengan segera pasukan khusus dan terlatih yang telah disiapkan Duryudana segera menyergap Raja Dwarawati.
Mereka mengikat kedua tangan dan kaki Prabu Sri Kresna yang diam saja diperlakukan demikian. Setelah terikat cukup kencang Dursasana perintahkan tubuh Sri Kresna ditandu keluar.
"Tolong taruh penjahat ini di tengah alun-alun. Disana sudah disiapkan kayu untuk membakar dirinya...ntar setelah jadi abu baru kita kirim ke Pandawa..!' ujar Dursasana memberi arahan kepada anak buahnya.
Sebenarnya Satyaki yang menjadi kusir Prabu Sri Kresna tahu, jika Raja Dwarawati tengah dipersekusi para Kurawa. Namun dia telah dicegat musuh bebuyutannya yang langsung mengajaknya duel.
Akibatnya Satyaki membiarkan Sri Kresna diikat dan hendak dibakar. Prabu Sri Kresna yang semula diam tiba-tiba berontak.
Tali yang mengikatnya putus semua, segera pasukan Kurawa mengepungnya dengan senjata terhunus. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Prabu Sri Kresna segera tiwikrama.
Setelah bertiwikrama berubahlah wujud Prabu Sri Kresna menjadi raksasa sebesar gunung anakan. Dan melihat raksasa yang sangat besar, semua pasukan Kurawa bubar.
Mereka lari tunggang langgang, lintang pukang menyelamatkan diri. Tumpukan kayu bakar yang sedang menyala diobrak-abriknya. Raksasa itu terus mengamuk, pohon ringin dan Cemara dicabuti seperti orang mencabut rumput.
Sudah puluhan bahkan ratusan prajurit Kurawa gugur. Mendengar suara ribut seperti gunung rubuh dan jeritan-jeritan minta tolong. Membuat Adipati Destarastra, ayah Duryudana yang tuna netra kaget.
"Ayo Gendari...itu ada apa...!? Ajak aku keluar dan ceritakan apa yang terjadi kepadaku..!" Pinta Destarastra kepada isterinya Dewi Gendari.
Karena tuna netra Destarastra hanya bisa mendengar. Untuk pandangan mata dia percayakan kepada ceritera isterinya, Dewi Gendari.
"Apa yang terjadi Gendari..!? Ayo kita lihat. Dan tolong kamu ceritakan kepadaku apa yang terjadi apa adanya. Jangan kamu tambahi atau kurangi..!!!!" Ujar Destarastra kepada isterinya, Dewi Gendari.
Dengan tertatih-tatih Destarastra dituntun Dewi Gendari. Karena Destarastra sudah tua dan buta, tentu saja jalannya terseok-seok.
__ADS_1
Dan untuk menghindari kesemrawutan dan mungkin bahaya Dewi Gendari sengaja memilih jalan pinggir benteng. Hanya saja jalan itu ternyata tidak aman. Karena raksasa jejadian Prabu Sri Kresna mengamuk membabi buta. Menerjang apa saja yang dihadapannya. Termasuk menerjang benteng.
Benteng keraton Hastinapura pun ambruk dan celakanya menimpa kedua lansia, Destarastra dan isterinya Dewi Gendari. Mereka tertimpa reruntuhan, sehingga mereka berdua tewas seketika.
Berita tewasnya mantan orang nomor satu di Hastina segera menyebar luas. Dan berita tersebut sampai juga kepada Prabu Duryudana yang membuatnya berduka. Sekaligus menambah kemarahannya.
"Pokoknya sudah tidak ada damai. Perang Bharatayudha pasti jadi. Akan kutumpas Pandawa dan semua anteknya..!" Ujar Duryudana menebarkan ancaman.
Sementara itu, akibat Prabu Sri Kresna bertiwikrama, Kahyangan Jonggringsalaka geger. Hawa panas luar biasa menyelimuti kahyangan, sehingga Batara Guru atau Sanghyang Jagadnata perintahkan Sanghyang Kanekaputera atau Sanghyang Narada turun ke bumi dan menemui raksasa jejadian itu.
"Eeeiitt...hayo Kresna sadarlah..!! Kembali ke wujud aslimu. Jika kamu tetap jadi raksasa, Bharatayudha bisa gagal.
Bharatayudha harus jadi Kresna. Biarlah tugas Pandawa yang akan menghancurkan Angkara murka.Tugasmu sudah cukup menjadi duta saja Kresna. Ayoh kembali ke wujudmu semula...!!!" Ujar Sanghyang Narada mengingatkan Prabu Sri Kresna, yang segera sadar dan kembali jadi aslinya.
"Stop Satyaki, stop..Engkau bisa melanjutkan duel lawan Burisrawa di perang Bharatayudha. Karena perang Bharatayudha sudah pasti jadi. Kita kembali ke Wirata dan kita minta Pandawa menyiapkan pasukan menggempur Hastinapura. Bharatayudha segera dimulai Satyaki...!" Ujar Prabu Sri Kresna kepada Satyaki.
Mendengar seruan Raja Dwarawati, Satyaki segera menghentikan duelnya.
"Kita tunda dulu... ntar kita lanjutkan di perang Bharatayudha sampai diantara kita ada yang gugur...!" Ujar Satyaki sembari meninggalkan Burisrawa yang masih bengong.
"Baiklah Satyaki..ntar kucari kamu dan kita duel sampai mati..!" Akhirnya Burisrawa menjawab. Sementara Satyaki sudah membedal kendaraannya kembali ke Wirata
***
Sementara itu, setelah menerima Gada Intan dari Sanghyang Wenang, Ontoseno kembali ke Ksatrian. Namun mendengar kegagalan misi diplomasi Raja Dwarawati. Ontoseno segera mengontak Wisanggeni.
__ADS_1
"Adik Geni sudah tahu kan !? Bahwa misi diplomatik Pakde Kresna gagal. Bahkan Pakde Kresna berusaha dibunuh Duryudana. Ini artinya apa..? Bharatayudha pasti jadi, dan jika jadi pasti Duryudana minta kepada Dewa Kejahatan, yakni Batari Durga dan Batara Kala untuk segera membunuh Pandawa.
Dengan terbunuhnya Pandawa, terutama Bapakku Brotoseno dan Bapakmu yakni Paman Djanoko pasti Duryudana lebih mudah menyingkirkan Pakde Puntadewa dan Paman Nakula dan Paman Sadewa.
Karena itu ayoh kita jaga kawasan Wirata dari kemungkinan masuknya golongan makhluk halus yang ingin membunuh orang tua kita. Adik Geni... jaga wilayah atas atau angkasa wilayah Wirata dan aku jaga wilayah daratan. Pokoknya bila kita temui hal-hal yang mencurigakan dari golongan siluman, demit ataupun iblis. Langsung kita sikat tidak kenal kompromi..!" Ujar Ontoseno kirim WA kepada Wisanggeni.
"Okey Kakang Ontoseno...segera aku menuju Wirata..!" Jawab Wisanggeni juga melalui WA kepada Ontoseno.
Setelah mendapat WA dari Ontoseno, Wisanggeni pun menjaga angkasa Wirata dengan ketat. Akan halnya Ontoseno yang menjaga wilayah daratan.
Dan dugaan mereka terbukti, serombongan lelembut dari berbagai jenis tiba-tiba mendatangi wilayah Wirata. Mereka ada yang berwajah Babi hutan. Ada yang bermuka harimau dan singa. Tidak sedikit pula raksasa yang berkepala ular dan binatang-binatang menjijikan lainnya. Rombongan ini dipimpin oleh raksasa yang berwajah hijau tua dan kulitnya merah menyala.
Melihat kedatangan para dedemit ini Wisanggeni yang menjaga angkasa Wirata segera menghentikannya.
"Eiiittt...berhenti dulu siapa kalian dan ada apa mendatangi Negara Wirata malam-malam..!?" Tanya Wisanggeni kepada rombongan dedemit itu.
"Ha ha ha.. hei manusia namamu siapa? Kok menghentikan kami..!?" Ujar raksasa bermuka hijau tua tadi.
"Dasar iblis... kutanya tadi tidak menjawab... eh malah balik nanya... Setan alas...!!! Baiklah namaku Wisanggeni yang menjaga wilayah Wirata. Sekarang jelaskan siapa kalian dari mana dan mau apa..!?" Kejar Wisanggeni.
"Ha..ha..ha..kamu mau mati saja. Kok perlu tahu nama kami... tetapi baiklah. Agar kamu tidak mati penasaran...ketahuilah Namaku Jarameo, pangkatku di Negara Pasetrangandamayit Tumenggung. Kami abdinya Batari Durga dan kami kesini mau membunuh Pandawa. Kamu mau apa heh..!?" Ujar Jaremeo dengan penuh kesombongan dihadapan Wisanggeni.
"Kamu anak buahnya Batari Durga.. wah.. wah .. wah.. kebetulan sekali. Sebab aku sebenarnya mau mencari kalian berikut bosmu akan kubunuh semua tahu...!!!" Bentak Wisanggeni.
" What...!!!?? Kurang ajar.. kamulah yang akan kubikin mampus...!!!" Teriak Jarameo sekaligus menyuruh anak buahnya menyerang Wisanggeni.
__ADS_1