Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
47. Prabu Bomanarakasura inginkan Putri Kencana


__ADS_3

"Aku yakin Wisanggeni yang akan mendapatkan Kencana Resmi. Kamu karena sikapmu yang melawan kebenaran. Aku juga yakin Djanoko kamu akan dibuat malu oleh anakmu. Biar kamu tahu rasa..!" Omel Brotoseno Kepada Djanoko.. Prabu Sutejo Bomanarakasura Juga Inginkan Dewi Kencana Resmi.


Tanpa mempedulikan sikap Djanoko, ayahnya yang tidak merestui Wisanggeni. Lantaran janji Ontoseno yang mendukung dan siap menjadi Wali nikahnya, Wisanggeni langsung pergi mencari pertapaan Cakrawala.


Di pertapaan Cakrawala pagi itu Pandita atau Resi Dewa Kartika tengah kedatangan tamu seorang Raja dari Kerajaan Trajutisna bernama Prabu Sutejo Bomanarakasura atau biasa disebut Sutejo atau Boma.


"Selamat pagi Tuan Muda. Anda sepertinya seorang Raja ya..!? Mohon tanya Raja darimana dan namanya siapa?" Sapa Resi Dewa Kartika melihat kehadiran Sutejo Bomanarakasura di pertapaannya.


"Maaf mengganggu paduka Bapak Resi. Nama saya adalah Prabu Sutejo Bomanarakasura dari Kerajaan Trajutisna. Apakah paduka benar Resi Dewa Kartika..!?" Boma balik bertanya.


"Wah..wah...wah.. saya benar Dewa Kartika. Nama Anda Tuan Muda sudah sangat masyhur. Ya saya sudah mendengar nama Prabu Sutejo Bomanarakasura.


Dan alhamdulillah...hari ini saya bisa ketemu Tuan. Ada apakah Tuan datang jauh-jauh menemui saya..!?" Ujar Resi Dewa Kartika menanyakan maksud kedatangan Sutejo ke Pertapaan Cakrawala.


"Ohw iya Bapak Resi...apakah Bapak punya anak gadis yang bernama Kencana Resmi..!? Kalau benar.. maksud kedatangan saya adalah untuk meminang Puteri Bapak. Untuk saya jadikan isteri...!" Ujar Boma terus terang.


"Benar anak Prabu...Kencana Resmi adalah anak saya. Tetapi soal perjodohan adalah hak individu anak saya. Jadi terserah kepada anak saya. Mau atau tidak..! Dan mohon tanya apakah anak Prabu belum punya isteri..!?" Tanya Resi Dewa Kartika lagi.


"Ohw Bapak... sesungguhnya saya sudah punya Permaisuri namanya Dewi Hatnyanawati. Tetapi dia selalu menolak berhubungan badan dengan saya. Belakangan dia ngomong bahwa dia melayani saya layaknya suami isteri. Asalkan saya kawin lagi dengan Puteri Bapak. Yakni Dewi Kencana Resmi...!!!" Jawab Boma yang membuat Resi Dewa Kartika terkejut.


Pada saat ketegangan tersebut munculah Ontoseno dan Wisanggeni.


"Selamat pagi Bapak..! Apakah benar ini pertapaan Cakrawala..!? Dan mohon tanya apakah Bapak Resi yang dihadapanku adalah Bapak Resi Dewa Kartika..!?" Ujar Wisanggeni kepada Resi Dewa Kartika.


"Ohw...ohw betul-betul Raden. Ini pertapaan Cakrawala. Dan perkenalkan nama saya Dewa Kartika..!" Jawab Resi Dewa Kartika.


" Ohw iya Bapak. Perkenalkan namaku adalah Wisanggeni dari Ksatrian Dursilageni..!" Jawab Wisanggeni singkat padat.


"Owalah..jadi ini tho Raden Wisanggeni yang tersohor itu!? Dan maaf yang di belakang Raden siapa dan maksud kedatangannya kesini untuk apa..!?' tanya Resi Dewa Kartika lagi.

__ADS_1


"Terus terang Bapak...aku ini masih bujangan dan kedatanganku kesini adalah untuk melamar Puteri Bapak. Yaitu Dewi Kencana Resmi. Sedang yang di belakangku adalah Kakakku yang mau kujadikan wali. Namanya Kakang Ontoseno. Jadi pertanyaanku. Diperbolehkan apa tidak puterimu kunikahi..!" Tegas Wisanggeni.


Betapa pusingnya, Resi Dewa Kartika sebab pertanyaan dari Prabu Suteja Bomanarakasura juga belum dia jawab. Ini datang lagi pelamar lain yang juga mengajukan pertanyaan yang sama.


"Hadeeeuh kok jadi begini rumitnya ya...terus aku musti bagaimana menjawab mereka agar tidak tersinggung dan marah akhirnya bisa mengakibatkan perang. Sementara anakku cuma satu kan tidak mungkin dibelah menjadi dua...!" Ujar Dewi Kartika berbicara kepada dirinya sendiri.


Disaat Resi Dewa Kartika kebingungan, mendadak datang Mahapatih Sengkuni yang diiringi pasukan bersenjata lengkap.


"Selamat pagi menjelang siang... Tuan Resi. Saya Patih Sengkuni dari Kerajaan Hastinapura. Mohon maaf saya langsung saja ngomong. Bahwa saya dengan pasukan lengkap, bermaksud mau meminang Puteri Tuan yang bernama Kencana Resmi untuk kami nikahkan dengan Cucu kami yang juga Putera Mahkota Kerajaan Hastinapura.


Tekad dan niat kita kesini adalah untuk memboyong Puteri Tuan baik secara baik-baik ataupun cara kasar. Artinya kami melamar harus diterima. Jika Tuan menolak terpaksa kami gunakan kekerasan. Dan kami sudah siapkan pasukan bersenjata lengkap untuk meratakan pertapaan ini..!" Ancam Mahapatih Sengkuni kepada Resi Dewa Kartika.


Ancaman Sengkuni tentu saja membuat kepala Resi Dewa Kartika senut-senut. Dua persoalan belum diselesaikan. Kini muncul persoalan ketiga yang lebih gawat.


Wisanggeni yang melihat Resi Dewa Kartika kesusahan dan seperti orang linglung segera menginjak kaki Ontoseno agar menghadapi arogansi Mahapatih Sengkuni.


"Lho...lho ini Ontoseno....kamu disini tho..!?" Ujar Mahapatih Sengkuni sangat terkejut. Karena tiba-tiba muncul dihadapannya manusia yang paling ditakuti, dan disingkiri di dunia ini, yakni Ontoseno.


Sengkuni sangat takut sama Ontoseno, karena kalau bertarung seenaknya sendiri. Dia tidak peduli dengan aturan. Misalnya Ontoseno melihat kotoran kerbau, ya kotoran itu diambil dilemparkan kepada musuhnya.


Bahkan air kencing dan kotoran manusia dia gunakan.


Dan Sengkuni pernah mengalaminya. Disamping dia babak belur dibogem mentah. Mukanya dan bajunya kotor serta bahu, sebab muka dan pakaiannya dilumuri kotoran manusia.


Maka begitu yang menghadapinya Ontoseno, sebenarnya hati Sengkuni menjerit. Dia ketakutan setengah mampus.


"Ayoh Mbah Sengkuni...ancaman apa yang tadi kamu sampaikan. Biar aku saja yang menghadapimu..!' tegas Ontoseno, justeru inilah yang membuat Sengkuni kencing dicelana.


Menghadapi Ontoseno benar-benar Sengkuni mati kutu. Bahkan untuk menjawab omongan Ontoseno suaranya tidak bisa keluar.

__ADS_1


"Aduh modar aku kok ya ketemu bocah gemblung disini...!?" Ujar batin Sengkuni.


Karena nunggu cukup lama tidak ada jawaban dari Mahapatih Sengkuni. Maka Ontoseno yang mengambil inisiatif.


"Mbah Patih masih mau tetep disini terus akan saya taboki..atau keluar dan kerahkan seluruh kekuatan mu. Aku tak kan mundur...!" Ancam Ontoseno.


Mendapat ancaman Ontoseno lutut Sengkuni lemas. Lebih kecut lagi, ternyata disitu ada Wisanggeni. Dia tidak ada bedanya dengan Ontoseno, tidak peduli Sengkuni orang sepuh, jika ketemu Wisanggeni bisa dipermak habis.


Karena itu dengan tertatih-tatih Sengkuni keluar dari pendapa Pertapaan Cakrawala.


"Mbah Sengkuni jika kurang puas sama Kurawa. Keroyoklah Ontoseno..!" Gertak Ontoseno sampai-sampai Sengkuni nyaris jatuh saking takutnya kepada Ontoseno.


Di luar Pendopo, Dursasana sudah menunggu.


"Bagaimana Paman Patih !? Kita serang sekarang atau kapan!?" Tanya Dursasana. Sedangkan Mahapatih Sengkuni yang ditanya masih trauma, tidak menjawab seketika.


"Bagaimana Paman...kita jadi perang atau pulang saja..!?" Desak Dursasana kepada Sengkuni.


"Sabar...sabar Dur. Tolong barangkali ada Aqua. Aku minta Dur..!" Ujar Sengkuni dengan nafas tersengal.


Setelah minum Aqua dan nafasnya mulai teratur. Barulah Sengkuni menceriterakan.


"Begini Dur...aku tadi sudah ngomong dengan Resi Dewa Kartika agar anaknya diserahkan atau kami ngamuk dan membumi hanguskan Pertapaan Cakrawala..!" Papar Sengkuni.


"Eh...Dewa Kartika tidak jawab malah yang muncul Ontoseno...dia ngomong sama aku..


Mau tetap di pendopo dan akan dikepruki Ontoseno. Apa mau keluar dan selamat.


Ya terang aku pilih keluar daripada bonyok. Dan Ontoseno ngomong. Jika Kurawa tidak puas...silahkan keroyok Ontoseno. Begitu Dur..dan apakah kamu berani lawan Ontoseno, Dur...!?" Tanya Sengkuni.

__ADS_1


__ADS_2