
Ki Lurah Bodronoyo atau Ki Lurah Semar atau Ki Lurah Noyontoko akhirnya menceriterakan semuanya. Bahwa dia tidak hadir di Keraton Amarta atau Indraprasta juga Keraton Dwarawati selama lebih tiga bulan. Bukan lantaran sakit, atau karena bepergian kelain daerah atau negara lain, tidak.
"Saya selama ini sedih melihat kondisi masyarakat yang sudah banyak menyimpang dari ketentuan yang digariskan Hyang Maha Pencipta. Karena itu saya melakukan tapa Brata, meditasi dan mengamalkan wirid yang saya miliki. Tujuan saya satu, bagaimana caranya membentuk agar masyarakat tercipta ayem tenteram.
Akhirnya tirakat atau laku prihatin saya diterima yaitu anugerah yang bernama Wahyu Ketenteraman. Wahyu ini bukan untuk saya tetapi Wahyu itu akan saya berikan kepada para Gusti yang hadir disini.
Untuk menghadirkan para Gusti di Karangkadempel ini. Saya menggunakan cara yaitu meminjam pusaka andalan para Gusti. Seperti jimat Jamus Kalimusada punya Pandawa. Senjata Cakra dan Kembang Wijayakusuma milik Gusti Prabu Sri Kresna dan Nanggala serta Alugoro punya Gusti Baladewa.
Maka saya utus anak-anak saya yang ternyata dibantu para putera Pandawa, seperti Gatutkaca, Antareja dan Ontoseno. Mereka berhasil membawa pusaka-pusaka tersebut yang ternyata diikuti para pemiliknya...!" Tutur Ki Lurah Semar.
"Nah sekarang setelah kami hadir disini terus yang namanya Wahyu Ketenteraman kayak apa Kakang...?" Tanya Prabu Sri Kresna kepada Ki Lurah Semar.
"Sebentar Gusti Prabu... Sanghyang Asih Prana atau Sanghyang Wenang janji akan datang. Jika para Gusti telah hadir di Karangkadempel dan menyatakan siap menerima Wahyu tersebut. Tunggu saja sebentar pasti Sanghyang Asih Prana akan hadir..!" Jawab Ki Lurah Semar tenang.
Mendengar jawaban Ki Lurah Semar semuanya diam sambil menunggu dan berharap-harap. Tidak berapa lama muncullah cahaya menyilaukan dari langit.
Cahaya menyilaukan ternyata berasal dari lelaki bersorban dan bergamis, tubuhnya anak-anak tetapi berjenggot panjang mukanya memancarkan cahaya yang membuat dia sangat berwibawa.
Dialah Sanghyang Asih Prana atau Sanghyang Wenang dewa yang paling tinggi dan memiliki kesaktian yang sangat luar biasa.
"Wahai Ismoyo...para gustimu telah kumpul ya..!? Baiklah akan kuturunkan Wahyu Ketenteraman. Dan Ismoyo menjelaskan secara rinci isi dari Wahyu Ketenteraman ini... dan aku mohon pamit kembali ke Kahyangan Ondar-andir Bawana...selamat untuk kalian semua..!" Ujar Sanghyang Wenang dan langsung melesat ke langit dalam waktu singkat dia hilang dari pandangan mata.
Ketika Wahyu Ketenteraman diberikan, seperti muncul prahara yang menyejukkan. Dan prahara itu memasuki tubuh Prabu Puntadewa, Brotoseno atau Werkudara, Djanoko atau Harjuna. Juga memasuki tubuh Prabu Sri Kresna dan Prabu Baladewa.
__ADS_1
"Alhamdulillah Wahyu Ketenteraman telah memasuki tubuh-tubuh para Gusti semua.
Perlu diketahui bahwa Wahyu yang memasuki Gusti Prabu Puntadewa adalah Wahyu kanalendran. Artinya Wahyu yang diberikannya adalah agar Gusti Prabu Puntadewa dapat memerintah negara dengan adil dan bijaksana.
Wahyu yang diberikan kepada Gusti Brotoseno dan Djanoko adalah Wahyu Ksatrian. Yaitu agar Gusti Brotoseno dan Djanoko selalu unggul dalam perang Bharata Yudha.
Dan Wahyu yang diturunkan kepada Prabu Sri Kresna adalah Wahyu kewaskitaan. Agar beliau yang jadi botohnya para Pandawa dalam perang Bharatayudha dapat memilih dan tidak memilih para Senopati secara tepat yang akhirnya dapat membantu memenangkan Para Pandawa dalam perang Bharatayudha.
Dan terakhir Wahyu yang diturunkan kepada Gusti Prabu Baladewa adalah Wahyu kewibawaan dan pengayoman. Sebab setelah perang Bharatayudha Prabu Baladewa masih akan terus diberi umur panjang. Tujuannya untuk mengayomi para cucu Pandawa yang kelak memerintah negara Hastinapura.
Disitulah Gusti Prabu Baladewa akan menjadi Pujangga di Keraton Hastinapura. Sekaligus mengenang para cucu Pandawa...!" Ujar Ki Lurah Semar dan mereka semua yang menerima Wahyu tersebut menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga.
Kisah Prabu Baladewa jadi Pujangga Keraton Hastinapura terjadi di jaman Prabu Parikesit sampai jaman Prabu Udrayana. Pada waktu terjadi Perang suci Bharatayudha Jayabingun.
Raden Abimanyu yang semula kebal terhadap segala macam senjata, tiba-tiba kekebalan hilang karena panah gading dari Djayadrata.
Setelah tubuhnya tertancap panah gading. Semua panah-panah balatentara Kurawa menancap di tubuhnya. Sehingga Abimanyu atau Raden Angkawijaya gugur dengan tubuh penuh anak panah.
Panah-panah itu menancap diseluruh tubuhnya, seperti duri landak. Ada yang menyebut bukan karena panah gading yang menyebabkan Raden Abimanyu gugur. Dia gugur karena termakan sumpahnya.
Ketika dia mau menikahi Dewi Utari Puteri dari Raja Maswapati dari Negara Wirata. Dewi Utari sempat bertanya, apakah Abimanyu sudah punya isteri apa belum?
Abimanyu jawab belum, dan kalau dia bohong. Maka dia bersedia matinya besok dikerubut banyak panah. Dan Abimanyu ternyata bohong, sebab dia sudah punya isteri Dewi Sundari puteri dari Raja Dwarawati.
__ADS_1
Dan seperti diketahui Bharatayudha adalah perang suci. Abimanyu pernah bohongi Dewi Utari, karena bohong dianggap sebagai hutang. Maka kematian Abimanyu yang tragis sebagai pembayar hutang karena pernah bohongi isterinya.
Raden Abimanyu gugur pada saat perang suci Bharatayudha menginjak hari kedua. Pada saat mau maju perang karena dia ditunjuk menjadi Senopati perang pihak Pandawa. Dewi Utari sudah mengingatkan akan sumpah dan kebohongannya. Karena itu isterinya melarang Abimanyu maju perang.
Apalagi saat itu Dewi Utari tengah hamil tua. Dia tidak ingin suaminya gugur sehingga ketika anaknya lahir tidak bisa lagi melihat orang tuanya. Tetapi Abimanyu seorang ksatria tulen. Dia lebih mementingkan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi.
Raden Abimanyu dengan berbagai cara mengelabui isterinya, Dewi Utari sehingga dia berhasil maju perang menjadi Senopati dan akhirnya gugur sebagai Kusuma bangsa.
Dan perkiraan para sesepuh benar. Dewi Utari akhirnya melahirkan seusai Perang Bharatayudha yang berlangsung selama delapan belas hari.
Bayi dari Raden Abimanyu dengan Dewi Utari berupa laki-laki dan diberinama Raden Parikesit. Dan dialah penerus Kerajaan Hastinapura dengan mengangkat Prabu Baladewa jadi Pujangga Keraton.
Sejak saat itulah Prabu Baladewa dijadikan Pamongmong para cucu Pandawa. Baik Cucunya Prabu Puntadewa, Djanoko, Nakula dan Sadewa. Juga cucu-cucu dari Dwarawati dan Jodipati maupun Pringgondani.
Jadi Wahyu Ketenteraman yang diterima Prabu Baladewa baru berlaku setelah perang Bharatayudha atau di jaman Prabu Parikesit sampai jaman Prabu Udrayana, putera dari Parikesit.
Sekilas tentang kisah Prabu Parikesit. Setelah Pandawa menang Perang Bharatayudha. Prabu Puntadewa jadi raja di Hastinapura. Cuma tidak lama Pandawa memerintah Hastinapura. Sebab setelah itu mereka menyerahkan kekuasaannya kepada Cucu Djanoko ya Raden Parikesit.
Karena Parikesit masih anak-anak ditunjuk Prabu Baladewa jadi pemangku raja. Dan Baladewa kemudian mengajak semua cucu keturunan Pandawa untuk bergabung membantu pemerintahan Prabu Parikesit.
Tercatat nama Bambang Djayasumpena, anak dari Gatutkaca, Cucu Brotoseno. Bambang Jayasena, anak dari Ontoseno.
Danurwindu, anak dari Raden Pancawala, Cucu Puntadewa. Dan cucu Pandawa yang lain.
__ADS_1
Perlu diketahui anak-anak Pandawa, terutama anak Djanoko sebenarnya banyak. Tetapi mereka telah tewas oleh Djayadrata saat perang Bharatayudha. Dan sisanya dibunuh Aswatama, saat mereka tertidur pulas. Jadi yang tersisa hanya cucunya saja.