
"Tetapi Kek. Mereka kan dewa. Batari Durga dan Batara Kala keduanya adalah dewa. Dan sifat dewa bisa kita sakiti, tetapi tidak bisa dibunuh. Bagaimana kami bisa menyingkirkan mereka..!?" Tanya Ontoseno kepada Sanghyang Wenang.
"Kamu benar Ontoseno. Mereka tidak dapat dibunuh dengan senjata apapun. Tetapi mereka masih dapat dimusnahkan dengan cara dan syarat. Pertama kalian akan kuberikan Gada Intan. Gada ini sanggup melebur Batara Kala dan Batari Durga.
Kedua kalian juga harus merelakan mati untuk ini. Setelah kalian menghabisi keduanya kalian kembali kemari untuk menyerahkan hidup kalian buat tumbal...!" Ujar Sanghyang Wenang.
"Kami tidak keberatan Kek. Kami siap korbankan nyawa kami demi Pandawa...!" Tegas Wisanggeni.
" Baiklah... terimalah Gada Intan ini dan lakukan tugasmu dengan baik Cucu-cucuku...!" Ujar Sanghyang Wenang seraya menyerahkan Gada Intan kepada Ontoseno dan Wisanggeni.
Sementara itu duta Pandawa yang tengah menuju Hastinapura di tengah perjalanan mereka dicegat Sanghyang Kaneka Putera atau Sanghyang Narada yang didampingi Sanghyang Rama Parasu dan Sanghyang Rama Bergawa.
Ketiga dewa tersebut sengaja turun ke dunia untuk menemui Prabu Sri Kresna atas perintah Sanghyang Jagadnata. Mereka bertiga bareng Prabu Sri Kresna pergi ke Hastinapura.
Tugas ketiga dewa tersebut adalah untuk menjadi saksinya tentang bagaimana sikap Prabu Duryudana dalam menghadapi dan menerima duta Pandawa yang terakhir.
" Kresna....kamu mungkin sudah mengerti mengapa aku datang kesini. Aku diperintah Sanghyang Jagadnata untuk menjadi saksi apakah Duryudana memenuhi janjinya atau tidak. Juga untuk memastikan perang Bharatayudha atau tidak. Aku bersama Parasu Rama dan Rama Bergawa...!" Ujar Sanghyang Narada kepada Prabu Sri Kresna.
"Mangga saja Pukulun bareng sama kami malah lebih baik jadinya...!' jawab Prabu Sri Kresna yang mempersilahkan tiga dewa dari Kahyangan untuk bersama naik kereta ke Hastinapura.
Di Hastinapura Prabu Duryudana sudah bersiap menyambut kedatangan duta Pandawa, termasuk Sengkuni yang sudah menyiapkan pasukan rahasia guna meringkus duta Pandawa sekaligus membunuhnya. Dan Duryudana meminta Sengkuni untuk bersabar, jangan bertindak gegabah, menunggu sinyal darinya baru bergerak.
Prabu Duryudana menyambut kedatangan duta Pandawa dengan seramah mungkin.
"Terima kasih Kanda Prabu mau mampir ke Hastina. Selamat datang Kanda. Bila sambutan kami dianggap kurang. Mohon dimaafkan Kanda Prabu...!" Ujar Prabu Duryudana menyambut kedatangan Prabu Sri Kresna.
__ADS_1
Selain Prabu Duryudana, Mahapatih Sengkuni dan Pandita Durna ikut menyambut.
"Silahkan Anak Prabu...kami memang sudah menunggumu..!" Ujar Sengkuni yang diiyakan Pandita Durna.
"Terima kasih Bapak Pandita Durna...terima kasih Dinda Prabu...dan terima kasih Paman Sengkuni..!" Balas Prabu Sri Kresna.
Dan Dinda Prabu, lanjut Prabu Sri Kresna, sudah tahu kan maksud kedatangan saya kesini. Terus terang kami datang kesini dimintai tolong para Adikku Pandawa agar meminta kembali Negara Hastina pura berikut sejajahannya.
Juga saya diminta untuk meminta kembali Amarta atau Indraprasta sejajahannya. Karena Pandawa telah menyelesaikan hukuman buang di Hutan Kamiaka selama dua belas tahun.
Dan mereka telah menjalani hukuman penyamaran selama satu tahun. Jadi total hukum tiga belas tahun telah dijalani Pandawa dengan sempurna.
Sehingga saatnyalah sekarang, Dinda Prabu secara jentelmen mengembalikan negara yang bukan haknya kepada yang berhak.
Dan dalam hati Prabu Sri Kresna paham. Itu hanya akal-akalan Duryudana saja untuk mengulur-ulur waktu. Setelah diberi kesempatan mereka berunding, Prabu Sri Kresna menegur.
"Bagaimana Dinda Prabu..saya kira waktu yang saya berikan cukup. Saya mohon ketegasan..!" Ujar Prabu Sri Kresna dengan suara agak keras. Sehingga Duryudana dan Sengkuni segera menghampirinya.
"Begini Kanda Prabu... mengingat jumlah Kurawa itu seratus dan selama ini mereka hidup dari Pemerintahan Hastinapura. Sehingga kalau Hastina diberikan semua kepada Pandawa. Kami ini akan tinggal dimana Kanda!?
Karena itu menurut Paman Sengkuni. Bagaimana kalau Negara Hastina dibagi dua. Sebagian saya berikan kepada Pandawa. Sebagian biar untuk kehidupan kami. Bagaimana Kanda..!?" Ujar Prabu Duryudana menawar.
"Mohon maaf Dinda Prabu...saya tidak punya kewenangan nilai tawar. Karena itu sebaiknya negara ini diberikan secara utuh kepada Pandawa. Kalau pun Dinda Prabu dengan alasan seperti tadi minta separuhnya. Itu bisa dibicarakan kembali langsung dengan Pandawa.
Saya kesini ini sebagai duta tidak diberi kewenangan untuk tawar menawar. Jadi dengan terpaksa tawaran Dinda Prabu saya tolak...!" Ujar Prabu Sri Kresna.
__ADS_1
Mendengar penolakan Prabu Sri Kresna sesungguhnya Duryudana dan Sengkuni sudah sangat marah. Dan hampir saja Duryudana memerintahkan Sengkuni untuk segera mengerahkan pasukan rahasia yang sudah disiapkan.
Tetapi niat itu segera diurungkan, karena disitu ada tiga orang dewa yang menjadi saksi. Disamping itu ibunda Para Kurawa, yakni Dewi Gendari yang rupanya mencuri dengar pembicaraan itu segera keluar menemui Duryudana.
"Sabar...sabar....Duryudana anakku. Apa yang disampaikan Anak Prabu Sri Kresna betul. Dia cuma seorang duta. Utusan yang tidak punya hak melakukan tawar-menawar. Karena itu berikanlah Hastinapura seperti yang diminta Anak Prabu Sri Kresna.
Adapun kalau kamu mau meminta separuh negara ini. Ibu yakin Pandawa tidak akan keberatan. Karena aku tahu watak para Pandawa, terutama Anakku Puntadewa. Jadi soal itu bicarakan di lain hari..sekarang kamu berikan apa yang diminta Anak Prabu Dwarawati..!" Ujar Dewi Gendari.
Terhadap Ibunya Duryudana sangat takut dan patuh. Patih Julig Sengkuni pun tidak berkutik, bila berhadapan dengan kakak kandungnya. Dan para dewa yang ada dan menjadi saksi semuanya membenarkan apa yang disampaikan Prabu Sri Kresna.
Karena itu Duryudana mengiyakan.
Setelah Duryudana mengiyakan para dewa yang menjadi saksi itu segera balik ke Kahyangan. "Kresna...dan kamu Duryudana kami segera kembali ke Kahyangan untuk memberi laporan kepada Sanghyang Jagadnata. Semoga semuanya lancar....kami pamit..!!!" Sanghyang Narada, Sanghyang Parasu Rama dan Sanghyang Rama Bergawa dalam sekejap mereka hilang dari pandangan.
Dewi Gendari pun segera pergi meninggalkan pertemuan. Melihat semua itu Prabu Sri Kresna segera mengeluarkan surat tanda penyerahan negara dari Duryudana kepada Pandawa.
Surat itu diberikan kepada Duryudana untuk segera ditandatangani. Tiba-tiba tanpa terduga, Duryudana bangkit dengan mata melotot dan merah padam menyobak surat itu.
"Selama aku masih hidup Hastina tidak akan kuserahkan kepada siapa pun. Surat-surat apa.. Paman Sengkuni kamu.. tugasmu...!" Ujar Duryudana sembari berkacak pinggang dan memberi kode kepada Mahapatih Sengkuni, bahwa inilah saatnya pasukan rahasia bergerak meringkus dan membunuh duta Pandawa.
Sementara Prabu Sri Kresna hanya tersenyum melihat kelakuan Duryudana. Dia sudah tahu bahwa akan berakhir kayak begini. Sebab semua terangkum jelas dalam Kitab Sara. Bahwa Bharatayudha pasti akan terjadi.
Karena itu, meskipun bahaya tengah mengancam dirinya, Prabu Sri Kresna tenang-tenang saja. Sebab kitab Sara dengan gamblang menjelaskan bahwa dalam perang Bharatayudha yang mengatur Senopati pihak Pandawa adalah dirinya. Sehingga sangat tidak masuk akal jika Prabu Sri Kesna tewas atau gugur sebelum Bharatayudha.
"Akan kulihat kau Duryudana..apa yang bisa kamu lakukan terhadapku..!" Ujar Prabu Sri Kresna dalam hati.
__ADS_1