Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
53. Prabu Sri Kresna Jadi Penengah


__ADS_3

Sesungguhnya Gatutkaca pun punya taring, sebab dia adalah cucunya raksasa yang juga bertaring. Tetapi Gatutkaca malu dan tidak pernah menggunakannya. Karena tanpa taring pun Gatutkaca punya segudang ilmu yang biasa diandalkan.


Pertempuran Prabu Suteja Bomanarakasura melawan Gatutkaca terus berlangsung ramai. Adu pukul dan adu tendangan terus berlangsung. Tidak tahu kapan akan berakhir, keduanya sama-sama sakti dan tidak ada yang mau mengalah.


Sehingga Brotoseno atau Werkudara yang bermaksud menghajar Ontoseno karena adanya pertempuran antara anaknya, Gatutkaca melawan Raja Trajutisna, Prabu Suteja Bomanarakasura yang -berlangsung cukup ramai. Karena itu Brotoseno jadi lupa bahwa kedatangannya ke Hastinapura adalah untuk memberi hajaran kepada Ontoseno. Werkudara terlalu asyik menonton perkelahian tersebut.


Perkelahian itu sendiri kapan berakhirnya belum ketahuan. Prabu Sri Kresna yang melihat perkelahian itu segera melerai.


"Stop. Boma anakku... stop Gatutkaca. Hentikan tingkah laku anak-anak kalian...ayoh berhenti..!" Bentak Prabu Sri Kresna sambil menerjang ke tengah-tengah gelanggang membuat keduanya terpisa.h.


Setelah terpisah, Prabu Sri Kresna segera menarik tangan Prabu Suteja Bomanarakasura menjauh.


"wahai Boma anakku..g*bl*g kok semakin tambah sih? Kamu berkelahi dengan Gatutkaca.. karena dijanjikan akan diberi Negara Hastinapura ya!? Betul... apa betul..!? " Prabu Suteja Bomanarakasura tertunduk malu diomeli Bapaknya.


"Kamu percaya dengan omongan Duryudana ya..!? Disinilah g*bl*gmu. Mana Duryudana tepati janji..!? Yang jelas kamu dibohongi. Lagi pula Negara Hastinapura itu milik siapa!? Duryudana !? Bukan..! Itu milik Pandawa. Duryudana hanya dipinjami. Lha wong negara pinjaman kok mau dibagi-bagi. Itu gendeng namanya. Dan kamu percaya. Berarti kamu bego. Bego kok dipelihara...ayoh pulang Boma..!" Bentak Prabu Sri Kresn sambil menyuruh Prabu Suteja Bomanarakasura pulang.


Suteja sendiri langsung dengan menaiki Garuda Wilmuna langsung pergi dengan hati penuh dongkol. Dalam perjalanan Prabu Suteja memanggil Patihnya Pantjatnyono.


Dengan bersungut-sungut Suteja menceriterakan. Bahwa Bapaknya, Prabu Sri Kresna sangat menjengkelkan.


"Benar pendapat Paman Pantjatnyana, Bapak memang tidak adil. Bapak pilih kasih..!" Ujar Prabu Suteja Bomanarakasura kepada Patih Pantjatnyana.


Perlu diketahui, bahwa sebelum menjadi Patih Negara Trajutisna Patih Pantjatnyana adalah Patih Negara Surateleng dengan Rajanya bernama Bomantara.


Raja Surateleng mengamuk di Kahyangan Jonggringsalaka, karena lamarannya ditolak. Prabu Bomantara menginginkan isteri seorang bidadari dari Kahyangan. Para dewa menolak dan para bidadari pun tidak ada yang mau diperisteri Prabu Bomantara.

__ADS_1


Sebab Prabu Bomantara adalah Raja yang berujud raksasa dan wajahnya sangat menyeramkan.


Karena itu tidak heran Patih Pantjatnyana juga seorang raksasa. Dan seluruh rakyat Surateleng adalah raksasa. Baru setelah menjadi Trajutisna banyak manusia yang tinggal di negara tersebut.


Saat ngamuk di Kahyangan tidak ada satu pun dewa yang mampu menandingi kesaktian Bomantara. Sehingga dewa akhirnya minta bantuan kepada anaknya Batara Wisnu dari pernikahannya dengan Dewi Pertiwi, yaitu Raden Suteja.


Dan karena Batara Wisnu menitis kepada Noyorono atau Sri Kresna. Sehingga Suteja jadi anaknya Sri Kresna juga.


Raden Suteja yang dijadikan jagonya para dewa akhirnya bertarung sengit melawan Bomantara. Entah mungkin telah menjadi kehendak Hyang Maha Kuasa. Bomantara berhasil dikalahkan.


Prabu Bomantara dikalahkan Suteja, bukan karena dibunuh. Tetapi secara sukarela Bomantara menyatu dengan tubuh Suteja. Sejak itu nama Suteja menjadi Suteja Bomanarakasura.


Penyatuan itu ternyata membawa pengaruh buruk terhadap Suteja. Dia yang semula adalah satria tampan dan lemah lembut. Sekarang dengan menyatunya tubuh Bomantara kepada dirinya. Perangainya berubah jadi kejam. Iri hati, pendengki dan pendendam.


Itu sebabnya Suteja yang berwatak pendengki dan pendendam sangat tidak puas dengan sikap Prabu Sri Kresna soal perkelahiannya dengan Gatutkaca.


"Jadi begini Paman Pantjatnyana...meskipun aku secara lahir menerima keputusan Bapakku. Tetapi aku minta Paman Patih kerahkan seluruh kekuatan kita serang habis-habisan Hastina. Jangan kasih ampun mereka..!" Perintah Prabu Suteja Bomanarakasura kepada Patih Pantjatnyana.


Patih Pantjatnyana yang memang sedang menunggu perintah semacam ini dengan segera menyiapkan Senopati dan prajurit dengan senjata lengkap meluruk ke Hastina.


Cerita kita bergeser ke Brotoseno, setelah pertempuran anaknya, Gatutkaca dengan Prabu Suteja telah berakhir. Dia baru ingat bahwa tujuannya ke Hastinapura adalah untuk menyadarkan Ontoseno.


" Hai...bocah degleng..Ontoseno. kemari kamu..!" Hardik Brotoseno kepada Ontoseno dan Ontoseno yang sangat paham kelakuan Bapaknya segera menghampiri Bapaknya.


"Kamu merebut Hastina dan mengusir Duryudana dan para Kurawa ya..!? Dan kamu sekarang jadi Raja. Benar tidak..!?" Tanya Brotoseno.

__ADS_1


"Nah... nah inilah jika orang kurang gaul. Informasi yang Bapak terima salah dan tuduhan Bapak ngawur..!" Bantah Ontoseno.


"Bocah edan...apa yang kukatakan adalah kenyataan. Buktinya, Hastina sepi dari Kurawa. Dan Duryudana tidak ada. Itu kan fakta bahwa kamu telah menguasai Hastinapura..!?" Cecar Brotoseno.


"Apa yang Bapak sampaikan sebagian benar, tetapi sebagian lagi salah. Salahnya dimana? Banyak Pak. Pertama saya tidak pernah menguasai Hastina. Juga tidak pernah ingin jadi Raja. Bahkan Kakang Pancawala pun tidak. Kami sebagai anak-anak muda. Anak millenial demo. Mengapa kami demo?


Karena Pakde Duryudana menduduki tahta tidak Syah. Bukankah negara sejatinya milik para Pandawa. Tetapi mengapa saat ini masih dikuasai Pakde?


Kemudian kami pun tahu bahwa ada hal mistis singgasana asli Kerajaan Hastinapura. Bahwa singgasana tersebut hanya bisa diduduki orang yang benar berhak.


Aku dan Kakang Pancawala, dan saudara yang lain ternyata juga tidak. Kami melakukan test psikis...dan ini tidak mungkin dilakukan selama Pakde Duryudana ada disini.


Test psikis dan mistis kita mengandalkan gajah pusaka Kyai Antisura. Bahwa siapapun dia yang dikehendaki Kyai Antisura, dialah yang berhak atas tahta ini


Dan ternyata Kyai Antisura memilih adikku Abimanyu yang dia gendong dan dudukan di singgasana asli keraton Pak.


Kami semua puas Pak. Ternyata adikku Abimanyu dan keturunannya lah yang kuat menduduki tahta Hastinapura.


Setelah semua terungkap. Silahkan negara mau diambil kembali ambilah. Kami juga capai mau istirahat Pak..!" Ujar Ontoseno melaporkan secara tujuan dan sasaran gerakannya ini.


Brotoseno yang sebelumnya sangat marah. Juga sekarang mereda setelah mendapat penjelasan dari anaknya. Soal senjata Nanggala milik Prabu Baladewa yang direbut Ontoseno sudah suruhan Punakawan Petruk untuk mengembalikan kepada pemiliknya.


Disaat Brotoseno atau Raden Werkudara tengah menanyai Ontoseno perihal mengapa dia merebut Istana Hastinapura. Tiba-tiba para punakawan berteriak-teriak.


" Hoooi...kita kedatangan musuh. Mereka pasukan raksasa....jumlahnya cukup banyak..!" Teriak Punakawan Bagong.

__ADS_1


__ADS_2