Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
66. Prabu Sri Kresna Menyembah Petruk


__ADS_3

Karena semua perangkat mundur atau minta cuti, dan rajanya kabur. Sehingga Keraton Dwarawati seperti keraton mati. Dan untuk mengisi kekosongan Petruk lebih banyak nonton hpnya, terutama melihat-lihat konten janda di you tube yang belakangan ini makin marak. Dan mereka rata-rata cantik muda dan kaya.


Punakawan Petruk Kantong Bolong sedang santai nikmati konten para janda di Youtube, sehingga dia tidak menyadari kehadiran Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna bersama Sabda Sakti, Sabda Sejati dan Sabda Luhur.


"Petruk kamu sedang santai ya !? Sebaiknya kamu kembalilah ke Karangkadempel. Kerajaan Dwarawati bukan tempatmu. Serta bawalah serta anak buahmu....!!!" Ujar Prabu dengan nada pelan namun pasti.


"Pulang...!? Pulang...sekarang negara Dwarawati milikku jadi tempat ini ya milikmu. Kecuali kamu bisa mengalahkan kami..!" Jawab Petruk.


"Kalau tidak mau pergi maafkan aku. Jika terpaksa kugunakan kekerasan...ayo Sabda Sakti, Sabda Sejati dan Sabda Luhur ikat Petruk dan masukan ke penjara..!" Perintah Prabu Sri Kresna kepada Sabda bersaudara.


Mendengar Petruk diancam akan diikat


dan dimasukin penja, Yaksa Cakra dan Yaksa Kusuma langsung menerjang Sabda Sakti dan Sabda Sejati juga Sabda Luhur.


Pertarungan dua lawan tiga ramai sekali, saling pukul dan saling tendang. Mereka dua lawan tiga seperti berimbang, tidak jelas yang bakal menang.


Sementara Petruk dan Prabu Sri Kresna hanya menonton saja pertarungan tersebut dengan sekali-kali memberi suport kepada mereka.


Yaksa Cakra mengigit leher Sabda Jati tetapi tidak mempan. Taring tajam Yaksa Cakra seperti memakan bantalan karet. Demikian pula Yaksa Kusuma coba menggigit punggung Sabda Luhur juga gagal, karena badan Sabda Luhur keras laksana batu.


Sebaliknya, Sabda Sejati mengirim pukulan mautnya dan mengenai dengan telak dada kiri Yaksa Cakra tetapi seperti tidak berbekas. Padahal pukulan-pukulan dan tendangan Sabda Luhur maupun Sabda Sejati sangat luar biasa. Terlihat dari suara angin pukulan yang menderu-deru. Dan saat pukulan itu mendarat di batang kayu, bahkan batu besar hancur lebur.


Demikian pun taring Yaksa Kusuma maupun Yaksa Cakra bukan sembarangan. Mereka pamerkan ketajaman dan kekuatan taring mereka dengan cara taring itu digunakan untuk mengunyah pedang dan Limpung. Pedang dan Limpung ketemu taring Yaksa Kusuma dan Yaksa Cakra seperti kerupuk.

__ADS_1


Sehingga jika pertempuran ini hanya dengan cara memukul dan menendang serta mengigit tidak jelas kapan rampungnya. Juga tidak jelas siapa yang akan kalah dan menang.


Sepertinya paham, bahwa mereka sama-sama digdaya dan saktinya. Karena itu mereka kemudian mengubah pertarung dengan saling bergumul. Tiga lawan dua tetapi saat bergumul seperti menjadi satu. Pergumulan itu seru banget karena itu menimbulkan debu yang pekat.


Dan tiba-tiba terjadi ledakan-ledakan cukup keras. Juga menimbulkan nyala api. Itu terjadi beberapa detik lantas setelah keadaan mulai terang. Mereka yang bergumul lenyap. Tidak ada bangkai Yaksa Cakra, Yaksa Kusuma, maupun bangkai Sabda Sakti, Sabda Sejati dan Sabda Luhur.


Hilangnya tubuh mereka digantikan oleh lima buah pusaka yang tengah dicari-cari. Yaitu senjata Cakrabraswara dan Kembang Wijaya Kusuma milik Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna.


Dan Jimat Kalimusada, Tombak Karawelang dan Payung Tunggul Naga pusaka milik Pandawa. Sekarang tinggal Prabu Sri Kresna dengan Petruk.


Sadar yang dihadapannya bukan Petruk sebagai Punakawan, tetapi Petruk yang di dalamnya ada Sanghyang Wisnu. Prabu Sri Kresna langsung berlutut dan menyembah Petruk. Petruk disembah sampai lima kali. Barulah Batara Wisnu keluar dari tubuh Petruk. Dan sebelum kembali menyatu kepada Prabu Sri Kresna. Batara Wisnu memberi wejangan.


"Wahai Kresna...syukur kamu sudah sadar. Dan aku harap kamu selalu berada di jalan yang benar. Awas jika kamu ulangi perbuatan burukmu aku pasti akan meninggalkanmu. Demikian juga senjata Cakra dan kembang Wijayakusuma. Sebab benda-benda itu milikku dan pasti akan meninggalkanmu. Jika kamu melanggar sifat-sifat luhur.. sekarang aku masuk ke jasadmu lagi..!" Ujar Batara Wisnu.


Sementara itu Prabu Sri Kresna yang telah sadar akan kekeliruannya kembali mengundang para perangkat kerjanya, baik yang mengajukan cuti maupun mengundurkan diri.


"Ayo Satyaki kembali bekerja jadi Senopati Dwarawati seperti sebelumnya. Juga Engkau Kakang Udawa kembalilah jadi Patih Dwarawati.


Biarlah yang lalu biar berlalu. Sekarang kita mulai dengan lembaran baru. Bila aku punya kesalahan kepada kalian aku minta maaf.


Ayoh Kakang Udawa kita tata kembali pemerintahan yang kacau balau. Dan insya Allah aku tidak akan mengulang perbuatanku lagi..!" Ujar Prabu Sri Kresna kepada orang-orang dekatnya.


Melihat dan mendengarkan ketulusan dan kesungguhan Prabu Sri Kresna, Raden Satyaki dan Udawa menerima ajakan tersebut. Dan keduanya berharap agar Prabu Sri Kresna benar-benar mematuhi dengan apa yang diucapkannya.

__ADS_1


Sementara Petruk kembali ke Karangkadempel disambut Ki Lurah Bodronoyo.


"Petruk anakku yang paling ganteng, kemana saja.!? Katanya kamu menguasai Kerajaan Dwarawati ya..!?" Tanya Ki Lurah Semar.


Mendapat pertanyaan Bapaknya, Petruk menceritakan. Bahwa dirinya meninggalkan Karangkadempel karena mengikuti perintah Batara Wisnu yang memasuki tubuhnya.


Batara Wisnu yang ada dalam tubuhnya membawanya ke Dwarawati. Pertama dia ke Dwarawati untuk menyelamatkan kerajaan tersebut dari kemungkinan dikuasai Batari Durga yang saat itu mengetahui jika Prabu Sri Kresna kejiwaannya sedang tidak stabil.


Kedua untuk mengingatkan Prabu Sri Kresna, agar tidak jumawa, tidak sombong dan merasa paling hebat sendiri. Faktanya seorang Punakawan bisa saja derajatnya lebih tinggi daripada raja. Karena di mata Hyang Maha Kuasa kehebatan manusia diukur dari ahlaknya.


Buktinya seorang raja Prabu Sri Kresna harus menyembah Petruk. Bahkan sampe lima kali. Ini terjadi lantaran Prabu Sri Kresna telah kehilangan akhlaknya.


"Alhamdulillah.. Semuanya berjalan baik. Gusti Prabu Sri Kresna telah sadar dan Batara Wisnu telah kembali ke tubuhnya, serta senjata Cakrabraswara dan Kembang Wijaya Kusuma juga telah kembali ke pemiliknya dan aku telah kembali ke Karangkadempel kumpul kembali sama Bapak dengan membawa serta tiga pusaka Amarta, yaitu jimat Kalimusada, Tombak Karawelang dan Payung Tunggul Naga..silahkan Bapak terima..!" Ujar Petruk sambil menyerahkan tiga pusaka andalan Pandawa kepada Ki Lurah Bodronoyo.


"Terima kasih anakku..!" Ujar Ki Lurah Semar.


Selanjutnya ketiga pusaka Amarta itu diserahkan kepada Brotoseno atau Werkudara.


"Karena ketiga pusaka telah purna tugasnya maka ketiganya saya kembalikan kepada pemiliknya. Monggo Den Brotoseno terimalah ketiga pusaka ini. Dan terima kasih atas dukungannya sehingga membuat Amarta adem ayem. Semua warga sudah kembali pulih kepada jatidirinya.


Harapan saya selamanya ya begini... sampaikan ucapan dan terima kasih saya kepada Prabu Puntadewa yang selalu berada di posisi orang kecil...!" Ujar Ki Lurah Semar.


Raden Brotoseno dan Sadewa yang merasa tugasnya telah selesai mohon pamit untuk kembali ke Amarta. Untuk anak-anak Pandawa diserahkan kepada masing-masing. Artinya jika mereka masih betah di Karangkadempel silahkan saja, mau pulang ya silahkan.

__ADS_1


__ADS_2