
Cerita kita alihkan ke Pertapaan Yasarata. Karena ini masih ada mata rantainya dengan kisah sebelum dimulainya Perang Bharatayudha Jayabingun.
Bahwa kisah penolakan Duta Pandawa oleh Prabu Duryudana dengan cepat tersebar kemana-mana. Semua relasi kedua pihak, baik Kurawa maupun Pandawa semua sudah tahu. Bahwa perang besar tersebut segera dimulai.
Pertapaan Yasarata adalah milik Pandita (Resi) Jayawilapa. Dia salah satu mertuanya Djanoko putera ketiga (panengah) Pandawa.
Dari pernikahannya dengan Puteri Resi Jayawilapa, Djanoko dikarunia seorang putera yang bernama Raden Irawan.
Rencana akan terjadinya perang juga diketahui Irawan. Sebagai anak lelaki dia dituntut menunjukan dharma bhaktinya sebagai seorang ksatria.
Dia ingin sekali pergi ke Negara Wirata untuk bergabung dengan saudara-saudara Pandawa yang lain. Tetapi Irawan bingung, sebab Ibunya dan mungkin kakeknya tidak bakal menyetujui. Sebab perang hanya ada dua kemungkinan membunuh atau dibunuh.
Karena itu, hari-hari terakhir ini Irawan banyak melamun. Dan ini membuat Resi Jayawilapa gundah.
"Irawan Cucuku yang ganteng... kenapa kamu gak mau makan dan tidak mau bicara sama Kakek ada apakah gerangan Cucuku!?" Tegur Resi Jayawilapa kepada Irawan.
Irawan yang duduk tidak jauh dari Kakeknya, tetap diam tidak mau menjawab. Seolah dia tidak mendengar teguran Kakeknya. Sehingga Resi Jayawilapa mengulangi pertanyaan yang sama.
"Ayo jawab Irawan ada apa sih !? Kamu sudah tiga hari jarang makan. Sampai Ibumu pun mengadu kepadaku tentang sikapmu...!?" Ujar Resi Jayawilapa terus mendesak agar Irawan mau bicara.
"Ayo bicaralah Irawan jangan takut..!!!" Cecar Resi Jayawilapa.
***
Pada hari yang sama di Istana Gua Barong, istana para demit dan siluman juga terjadi keadaan yang sama. Putera mahkota istana Gua Barong Detya Kalasrenggi sedang marah-marah kepada Ibunya dan Pamannya yang sementara menjadi Raja di Istana Gua Barong.
__ADS_1
"Hayooh.... Ibu dan Paman... saya sudah besar. Saya sudah dewasa. Tetapi saya tidak tahu siapakah Bapak saya..!?" Ujar Kalasrenggi kepada Jatagimbal, pamannya dan Srenggiwati ibunya.
Memang sampai saat ini Kalasrenggi tidak tahu bahwa Bapaknya Prabu Srenggiyaksa.. mati dibunuh Djanoko, lantaran dia mau merebut isterinya, yaitu Dewi Sumbodro.
Jatagimbal dan Srenggiwati sengaja tidak mau terus terang kepada Kalasrenggi. Sebab kuatir anaknya yang kurang pengalaman dan berangasan bakal mencari Djanoko dan balas dendam. Padahal Djanoko sangat sakti dan bisa jadi Kalasrenggi malah akan terbunuh.
Namun Kalasrenggi yang memang arogan dan tidak mau dinasehati Ibunya atau pamannya, dengan terpaksa Jatagimbal berkata terus terang.
"Baiklah anakku kuceritakan apa adanya... Bapakmu itu ya Kakakku... juga Kakak Ibumu. Waktu itu Bapakmu ya Kakang Srenggiyaksa sedang kedanau... jatuh cinta banget sama Dewi Sumbodro... dan pada saat yang sama ibumu juga jatuh cinta mati-matian kepada Djanoko.
Padahal Djanoko dan Dewi Sumbodro itu suami isteri. Jadi jika menginginkan mereka harus siap bertarung dengan Djanoko. Untuk menghindari pertempuran terpaksa Kakang Srenggiyaksa merubah wujudnya menjadi Djanoko. Tujuannya agar bisa mendekati Sumbodro.
Celakanya, pada saat yang sama Kakang Mbok Srenggiwati juga mengubah wujudnya menjadi Sumbodro agar dapat cintanya Djanoko.
Maka bertemulah Djanoko palsu dan Sumbodro tiruan. Dari hubungan tersebut lahirlah kamu Kalasrenggi. Begitu mengetahui kejadian tersebut Kakang Srenggiyaksa malu dan marah. Kemarahannya dia tumpahkan kepada Djanoko.
Itulah kisahnya. Anakku... aku tidak mau balas dendam, karena aku tahu Kakangku yang salah dan Djanoko membunuh karena terpaksa.
Aku dan ibumu sengaja merahasiakannya kepadamu. Karena kami tahu watakmu berangasan. Jika kami beritahu kamu pasti akan balas dendam. Dan kalau itu terjadi kami khawatir nasibmu akan sama dengan Bapakmu. Karena itu aku dan Ibumu pilih diam..!!!" Papar Jatagimbal dan mendengar penjelasan Jatagimbal, bukannya merenung dan interospeksi diri. Kalasrenggi justeru marah-marah.
"Bangsat kamu Djanoko... tunggu balasanku. Paman kenapa diam saja sih..!? Harusnya Paman sudah membunuh Djanoko...tetapi biarlah aku yang akan membunuh Djanoko !!!
Tolong Paman sebutkan ciri-ciri Djanoko.. dan dimana tempat tinggalnya pasti akan kulacak. Dan pasti ketemu..!!!" Ujar Kalasrenggi dengan geram.
Dengan gamblang Jatagimbal menjelaskan bahwa Djanoko itu adalah anggota keluarga Pandawa. Djanoko pria yang sangat tampan, tubuhnya sedang, kulitnya kuning langsat. Dan bicaranya sangat santun.
__ADS_1
Namun Djanoko terkenal sakti mandraguna. Dia jago memanah di dunia ini sulit yang bisa menandingi Djanoko dalam soal memanah. Dan dia punya panah-panah sakti yang bisa membunuh musuh-musuhnya.
Banyak musuh sakti yang berhasil dibunuh. Termasuk Bapaknya Kalasrenggi. Karena itu dan mengingat kesaktian Kalasrenggi belum sepadan dengan Bapaknya, Jatagimbal tidak mau cerita tentang penyebab Kematian Srenggiyaksa.
Djanoko biasanya tinggal di Ksatrian Madukara. Tetapi sekarang, mendekati saatnya Perang Bharatayudha Hayabinangun Djanoko bareng anggota Panda&wa lainnya tinggal di Wirata.
"Jadi kalau mau cari Djanoko saat ini ya di Wirata. Tetapi kalau menurutku sih jangan dipaksakan. Dan lebih baik lupakan saja soal balas dendam anakku..!!!" Ujar Jatagimbal masih ingin menasihati keponakannya.
"Tidak Paman... aku harus balas dendam. Nyawa dibalas nyawa..!!" Kalasrenggi tetap dengan pendiriannya.
"Jika begitu terserah kamu.. tetapi tetap kamu harus berhati-hati..!!' ujar Jatagimbal masih mencoba menasehati keponakannya.
Setelah pamitan kepada Ibunya, Kalasrenggi langsung terbang menuju wilayah Negara Wirata.
Sementara itu Raden Irawan yang sedang bersedih karena keinginannya untuk ikut Perang Bharatayudha belum diperkenankan Ibunya, Dewi Saraswati terus merengek kepada Kakeknya agar bisa membujuk Ibunya dan mengijinkannya pergi ke Wirata bergabung dengan pasukan Pandawa.
"Jadi boleh ya Kek. Aku ikut Perang Bharatayudha. Betapa malunya Kek.. kalau aku tidak ikut perang. Pasti orang-orang akan mencibirku... dimana darah ksatriaku, jika para saudara tengah berperang. Sementara aku berpangku tangan. Benar tidak Kek..!!?" Ujar Irawan mencoba membujuk Kakeknya.
"Cucuku Irawan apa yang kamu omongkan betul semua. Tetapi baik aku maupun Ibumu... belum lega melepas dirimu. Karena kamu Cucuku satu-satunya. Juga anak Ibumu satu-satunya.
Karena itu aku atau pun ibumu pasti tidak akan ikhlas melepas dirimu. Karena perang itu paling kecil dapat cidera dan paling besar kematian. Karena hukum perang dibunuh atau membunuh...!" Ujar Resi Jayawilapa coba berdalih.
"Dan lagi pula hai Irawan...bahwa hari ini dan bulan ini adalah saat Rajeg Wesi. Saat Rajeg Wesi menurut perhitungan Jawa itu saat yang tidak baik. Banyak halangan. Apalagi ini kamu mau berangkat perang...wah itu sangat tidak baik. Jadi tolong urungkan ya Cucuku niatmu itu. Niat itu sangat baik...hanya kebetulan bukan di hari yang tepat...!" Ujar Resi Jayawilapa mencoba mencegah niat Irawan.
Berbagai cara Resi Jayawilapa coba urungkan niat Raden Irawan. Sebaliknya Raden Irawan makin ngotot untuk pergi ke Wirata.
__ADS_1
"Maaf Eyang dan Ibu... saya terpaksa harus pergi. Ini karena panggilan hati ....Ibu..!" Ujar Irawan dalam hati dan dia tetap nekad pergi ke Wirata meskipun diberi peringatan bahwa hari kepergiannya hari tidak baik.