
Dari pernikahan terlahirlah anak Sanghyang Tunggal namun berujud telor. Telor itu kemudian dipuja dan pecah, kulit luarnya yang keras menjadi anak laki-laki yang tampan diberi nama Tejamaya.
Putih telurnya juga menjadi anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Ismaya. Tidak terkecuali kuning telurnya juga menjadi anak yang tampan bernama Manikmaya.
Kita kembali kepada pembicaraan Wisanggeni dan Ontoseno. Setelah mereka berdiskusi panjang lebar. Akhirnya disepakati mereka menemui Sanghyang Wenang atau Sang Adihprana.
Sanghyang Wenang bertempat tinggal di Kahyangan Ondar-andir Bawana atau Kahyangan Alang-alang Kumitir. Sanghyang Wenang usianya sudah tidak terhitung lagi. Tetapi perwujudannya seperti anak balita. Sehingga yang tidak tahu dan tidak mengenalnya, sering meremehkannya. Padahal dia adalah dewa paling agung dan memiliki kesaktian luar biasa.
Kedatangan Ontoseno dan Wisanggeni ternyata sudah diketahui sang Asihprana. Karena itu kedatangannya langsung disambut Asihprana.
"Selamat datang cucu-cucuku. Semoga kalian semua sehat wal Afiat..!" Sapa Sanghyang Wenang.
"Terima kasih ,Kek...kami sehat-sehat saja Kek. Aku yakin Kakek Wenang sudah tahu maksud kedatangan kami. Karena itu aku tak akan banyak cerita. Kami hanya akan menunggu apa perintah Kakek Wenang..!" Ujar Wisanggeni yang juga mewakili Ontoseno.
" Ya aku tahu cucuku. Kalian kesini kan mau cari tahu. Bahwa dalam perang besar Baratayudha siapa yang bakal menang? Juga menanyakan apakah dewa kejahatan, yakni Batari Durga dan Batara akan membela Kurawa? Betul begitu bukan cucuku Ontoseno dan Wisanggeni..?" Tanya sang Asihprana.
"Benar sekali Kek..?" Jawab Ontoseno tegas.
"Baratayudha adalah perang suci, yaitu perang antara kebaikan lawan keburukan. Jika Pandawa dianggap mewakili kebaikan dan Kurawa adalah manifestasi kejahatan. Maka kalian dapat menduga yang akan menang siapa. Namun itu jika dewa kejahatan telah tiada. Telah musnah. Jadi artinya Batari Durga dan Batara Kala harus disingkirkan. Dan kalian bertanya apakah keduanya bisa dibunuh? Aku pastikan bisa, karena segala sesuatu yang diciptakan pasti akan sirna. Hukum alam dari tiada kembali kepada tiada...!" Jelas Sanghyang Wenang.
" Jadi Batari Durga dan Batara Kala bisa dibunuh Kek? Dengan apa Kek..!?" Tanya Ontoseno.
__ADS_1
"Ya keduanya bisa dibunuh. Dan yang membunuh adalah kalian...ini sudah menjadi takdir mereka dan juga kalian..!" Ungkap sang Asihprana.
"Dengan apa dan cara bagaimana kami bisa membunuh mereka..!?" Tanya Ontoseno lagi.
"Ohw ya dengan senjata Gada Intan yang akan kuberikan kepada Wisanggeni. Tetapi ada syaratnya..!? Kalian juga harus mati. Sebab kalau kalian hidup Baratayudha tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jika kalian masih hidup dan ikut dalam perang besar Baratayudha dalam sekejap Kurawa bisa habis. Dan ini jelas menyalahi kodrat dan takdir. Sebab aku katakan Baratayudha adalah perang suci. Siapa NANDUR bakal ngunduh. Siapa hutang harus membayar.
Dan itu sekali lagi sulit terjadi jika kalian masih hidup dan ikut dalam Baratayudha. Karena itu jangan kalian kira hanya pihak Kurawa saja yang punya hutang dan dosa.
Dosa dan hutang adalah milik manusia. Bahwa sebaik-baiknya manusia dipastikan pernah berbuat kesalahan. Itu sebagai fitrah manusia. Sebaliknya sejahat-jahatnya manusia pernah berbuat kebaikan.
Dicontohkan bahwa Abu Lahab dan Abu Jahal adalah tokoh kafir yang selalu memusuhi Rasullah. Namun secara diam-diam mereka juga senang mendengarkan Rasulullah mengaji.
Karena itu jika kalian benci kepada seseorang karena kejahatannya. Jangan kalian benci membuta. Sebab mungkin saja orang tersebut berbuat kebaikan yang kalian tidak ketahui.
"Kenapa kalian melongo .!? Kalian tidak mau mati ya..!?" Desak Sanghyang Wenang.
"Ohw tidak Kek. Demi orang tua dan demi Bhakti anak kepada orang tua kami bersedia mati Kek. Asal ada jaminan Para Pandawa akan menang dalam perang Baratayudha..!" Ujar Ontoseno.
"Ohw begitu ya...kan sudah kujelaskan bahwa kalian harus mati setelah memusnahkan Batari Durga dan Batara Kala. Jaminannya apa !? Ya aku inilah jaminannya. Apakah kalian tidak percaya..!?" Tanya Sanghyang Wenang, dan Ontoseno dan Wisanggeni hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan sang Asihprana.
"Setelah kalian paham dan percaya kepada omonganku. Maka terimalah senjata Gada Intan ini. Tetapi ini yang memegang harus Wisanggeni ya .!?'" ujar sang Asihprana seraya memberikan jimat Gada Intan kepada Wisanggeni.
__ADS_1
Sanghyang Wenang juga menjelaskn mengapa Gada Intan yang pegang Wisanggeni. Memang garis kodratnya harus begitu. Tetapi Sanghyang Wenang juga menjelaskan saat menghabisi Batari Durga dan Batara Kala harus berdua, yakni Wisanggeni dan Ontoseno.
"Jadi kuminta Ontoseno harus legowo ikhlas garis kodrat irodatnya musti begitu..!"jelas sang Asihprana.
Sebelum mereka meninggalkan sang Asihprana, Ontoseno menyampaikan banyak terima kasih atas wejangan, petunjuk dan pitutur dari Sanghyang Wenang. Mereka berdua akhirnya kembali ke Jagatraya.
Namun dasar Ontoseno tukang ngeyel, meskipun sudah dijelaskan secara panjang lebar oleh sang Asihprana dia masih ingin bukti. Karena itu dia minta Wisanggeni mencoba keampuhan Gada Inten. Sekaligus menjajal seberapa besar kekuatan Dandangmangore atau Pasentran Gandamayit.
"Langkah pertama kita harus serang Prabu Duryudana...dan aku yakin mereka akan minta bantuan Batari Durga. Dan karena alasan mengejar Duryudana dan dengan alasan Batari Durga telah ikut campur. Kita serang Dandangmangore...menurutmu bagaimana adikku Wisanggeni ideku ini..!?" Ujar Ontoseno kepada Wisanggeni.
Wisanggeni tidak menjawab, cuma dia memberikan tanda jempol kepada Ontoseno."Jadi kamu setuju dengan ideku ya..!?" Tegas Ontoseno dan Wisanggeni mengangguk.
Setelah disepakati untuk menjajal keampuhan pusaka Gada Intan, sekaligus menakar kekuatan Dandangmangore dengan cara mengobrak-abrik Kerajaan Hastinapura. Dan setelah Hastinapura berantakan diperkirakan mereka akan minta bantuan kepada Pasetran Gandamayit.
Sebelumnya, mereka pernah minta bantuan kepada Negara Trajutisna atau Prabu Suteja Bomanarakasura. Kenyataannya Raja Trajutisna tidak bisa berkutik melawan anak-anak Pandawa.
Dengan pemikiran seperti itu, diyakini Duryudana tidak bakalan minta bantuan kepada Prabu Suteja lagi. Tetapi dia akan langsung minta bantuan kepada Batari Durga.
Batari Durga dan Batara Kala adalah dewa utama yang dipuja dan disembah Duryudana dan para pejabat Hastinapura. Bahkan di Keraton Hastinapura dibangun altar Batari Durga dan Batara Kala yang cukup besar dan mewah. Bahkan Prabu Duryudana menginstruksikan kepada aparat bawahannya. Agar di setiap rumah dibuat altar persembahan untuk Batari Durga dan Batara Kala.
Perlu diketahui Dandangmangore adalah suatu Kahyangan untuk hidup seluruh iblis, jin, setan, siluman atau para dedemit. Bagi manusia awam Dandangmangore adalah kawasan hutan belantara yang tidak pernah terjamah oleh manusia.
__ADS_1
Tetapi jika dilihat dengan mata bathin, Dandangmangore adalah sebuah istana kerajaan yang sangat indah besar dan canggih. Pohon-pohon besar di hutan tersebut sesungguhnya sebuah pemukiman yang mewah dan serba Lux. Yang terlihat semak-semak dan bebatuan sesungguhnya adalah mall-mall dan pertokoan modern.