Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
90. Irawan Gugur Korban Salah Sasaran.


__ADS_3

Meskipun, sudah berusaha semaksimal mungkin Resi Jayawilapa mencegah agar Raden Irawan tidak jadi ikut Perang Bharatayudha. Ternyata gagal, Irawan tetap pergi menuju ke arah Wirata.


Irawan setengah berlari dari pertapaan Yasarata menuju ke Wirata. Sementara Resi Jayawilapa terus mengejar dan berusaha mencegahnya.


"Aduhhh... Irawan kamu jangan pergi..!!! Ini hari naas bagimu. Aku khawatir ada apa-apa di jalan ...woooiiii Irawan kembalilah Cucuku..!" Ujar Resi Jayawilapa sambil terus mengejar.


Sayangnya Irawan anak muda yang cekatan, sehingga dia bisa berjalan cepat. Sedangkan Resi Jayawilapa karena usianya sudah sepuh jalan tertatih-tatih. Sehingga jarak mereka semakin jauh.


Lain lagi Ibu Irawan, Dewi Saraswati melihat anaknya tetap pergi ke Wirata dia hanya bisa menangis. Sebab dia sadar tidak mungkin bisa mengejar Irawan juga tidak mungkin dia mencegah anaknya. Meskipun hatinya resah dan tidak tenang dengan terpaksa dia membiarkan Irawan.


"Aduh Dewa yang Maha Agung...lindungilah anakku..!" Hanya doa saja yang bisa dilakukan Saraswati.


Karena berjalan dengan sangat cepat, Irawan sudah memasuki tlatah Wirata. Sementara itu hampir bersamaan Kalasrenggi juga sampai di tempat Irawan berada.


Karena sudah memasuki Wilayah Wirata, Kalasrenggi memasang mata melihat dan mencari tahu barangkali ada Djanoko. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, jika dia ketemu orang yang berciri-ciri seperti yang diungkapkan Jatagimbal dia langsung akan menyerangnya dan membunuhnya.


Secara fisik Irawan memang mirip sekali dengan Bapaknya, Djanoko. Perawakannya kuning Langsat wajahnya tampan. Maka begitu Kalasrenggi melihat Irawan dari angkasa dia langsung menyerangnya.


Serangan mendadak tersebut berhasil digagalkan, Irawan sempat mengelak. Kali ini Kalasrenggi menyerang lebih dahsyat lagi


Kalasrenggi menyerang tidak dengan memukul atau menendang. Tetapi dia mencoba merangkul Irawan. Dan rangkulan ini tidak bisa dielakkan. Irawan dirangkul dan digigit lehernya dengan siung Kalasrenggi yang mirip gergaji. Sehingga putuslah leher Irawan. Dia gugur karena salah korban dari Kalasrenggi.


Kejadian tersebut diketahui Pamannya, Jatagimbal yang merasa tidak tega melepas keponakannya sendirian ke Wirata.


"Aduh....anakku...ini yang kau bunuh bukan Djanoko. Kamu salah sasaran..!!!" Ujar Jatagimbal yang menyayangkan tindakan Kalasrenggi yang sangat gegabah.


"Tak peduli siapa dia...pokoknya bila kutemukan orang-orang berciri seperti Djanoko aku langsung membunuhnya..!" Jawab Kalasrenggi tak ada sedikit pun rasa penyesalan dalam dirinya. Jatagimbal yang menyaksikan perilaku keponakannya hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Ingat keponakanku...apa yang kau tanam kamu juga yang akan menuainya..!" Ujar Jatagimbal dengan nada putus asa karena semua nasehatnya tidak digubris sama sekali.


Setelah Irawan tergeletak tidak bernyawa dan leher hampir putus akibat gigitan Detya Kalasrenggi. Resi Jayawilapa baru sampai ke lokasi kejadian. Dan melihat cucunya tak bernyawa, Resi Jayawilapa langsung menubruknya dan menangis sejadi-jadinya.


"Irawan Kakek sudah ngomong. Bahwa hari ini hari Rajeg Wesi. Hari dimana sebaiknya kamu tidak pergi...tetapi kamu nekad. Kamu tidak percaya omongannya orang tua. Ini akibatnya kamu terbunuh sebelum kamu ketemu Bapakmu..!" Ujar Resi Jayawilapa sambil menangis sesenggukan.


Akhirnya dengan bantuan masyarakat jenasah Irawan dibawa ke Wirata untuk disowankan kepada Djanoko.


Di Wirata, Pangeran Djanoko yang melihat anaknya telah terbujur kaku, sangat sedih dan marah


"Wahai Irawan Anakku yang kusayang. Aku tidak tahu siapa yang membunuhnya. Tetapi aku bersumpah akan membalaskan dendammu. Jika kelak orang yang membunuhmu bertemu aku di Perang Bharatayudha. Aku pasti akan membunuhnya. Aku akan memotong kepalanya sebagaimana dia melakukannya kepadamu..!" Ujar Djanoko.


Luar biasa, begitu sumpah diucapkan petir menyambar-nyambar di langit Wirata. Ini pertanda bahwa sumpah Pangeran Djanoko di ijabah. Dan memang kelak saat Perang Bharatayudha Kalasrenggi muncul dan langsung menyerang Djanoko seperti saat dia menyerang Irawan.


Karena itu kali ini pun Kalasrenggi menyerang Djanoko dari angkasa. Celakanya, Djanoko bukanlah Irawan. Djanoko tahu bahwa bayang-bayang hitam di angkasa mirip awan itu. Sebenarnya adalah musuh yang siap menyerangnya.


Maka begitu panah dilepaskan dan mengarah ke leher Kalasrenggi. Maka tidak ampun lagi, leher Kalasrenggi terpotong dan kepalanya menggelinding terlepas dari badannya.


Jatagimbal melihat kejadian tersebut ngeri juga. Namun demi membela keponakannya Jatagimbal pun segera turun tangan. Djanoko yang sudah siaga penuh segera mengantisipasi serangan Jatagimbal dengan melepaskan panah sakti Sarutama.


Sarutama tidak kalah hebat dari Pasupati. Panah ini terlepas dari busurnya dan langsung menghujam dada sebelah kiri Jatagimbal.


Dada kiri Jatagimbal langsung bongkah. Dan dia ambruk tewas menyusul keponakannya. Kejadian ini terjadi kelak di Perang Bharatayudha di hari ke dua sampai ketiga terjadinya.


* Kejadian ini sengaja penulis cuplikan sebagai pelengkap dari sumpah Djanoko atas kematian puteranya Raden Irawan yang terbunuh oleh Kalasrenggi karena dikira Pangeran Djanoko yang telah membunuh ayahnya.


***

__ADS_1


Kita kembali kepada pasukan Dandangmangore yang kali kedua juga gagal membunuh Pandawa. Dan mereka tidak sekedar gagal, lebih dari itu. Mereka juga kehilangan empat orang Senopati yang sangat diandalkan.


Keempat Senopati tersebut, yaitu Senopati Radomiya, Senopati Sadomiya, Senopati Tektekplung dan Senopati Rikma Cepak. Tidak hanya keempat Senopati, mereka juga kehilangan puluhan pengikutnya karena tidak sempat menyelamatkan diri.


Batara Kala yang mendapat laporan tentang gugurnya para anak buahnya tidak lagi dapat menahan emosinya.


"Benar aku harus bikin perhitungan dengan mereka. Kutelan mentah-mentah mereka. Awas jangan lari..!!!" Ujar Batara Kala.


Tanpa memberitahu Ibunya, Batari Durga, Batara Kala langsung terbang ke Wirata guna mencari Ontoseno dan Wisanggeni.


" Hmm...Ontoseno dan Wisanggeni... tunggulah aku....!!!" Gumam Batara Kala. Batara terbang super cepat ke Wirata. Karena dia emosi banget. Rasanya pengin mengunyah Ontoseno dan Wisanggeni. Dia pikir Ontoseno dan Wisanggeni makanan empuk baginya.


Memang disaat mudanya, Batara Kala makanannya daging manusia. Sehingga suatu ketika penduduk desa di suatu kabupaten habis dimakan Batara Kala.


Dari kejadian itu Dewa Hyang Maha Agung mulai resah. Karena jika Batara Kala dibiarkan. Bisa jadi umat manusia bakal habis.


Lantas Dewa Hyang Maha Agung mengutus Dewa Pemelihara Kedamaian, Batara Wisnu untuk turun ke dunia guna menghentikan aksi Batara Kala.


Batara Wisnu kemudian menyamar sebagai dalang wayang kulit. Karena masyarakat Jawa suka dengan pertunjukan wayang kulit.


Sambil menjadi dalang dan menamakan dirinya Ki Dalang Kandabuwana. Ki dalang pun berdakwah, bila ada suatu daerah yang dilanda buana datanglah kepadanya. Dia berjanji akan menolongnya.


Maka berbondong-bondonglah masyarakat minta tolong kepada Ki Dalang Kandabuwana. Melihat masyarakat yang mau menjadi mangsanya berlindung kepada Ki Dalang Kandabuwana Batara Kala marah.


Tetapi Ki Dalang Kandabuwana orang yang pandai membaca tato di tubuh Batara Kala. Dan itu merupakan kelemahan Batara Kala. Begitu tato ditubuhmya yang bernama Raja Sikalacakra dibaca Batara Kala langsung lumpuh semua kesaktiannya hilang.


Karena itu sejak itu Batara Kala boleh memangsa manusia tetapi tidak sembarang manusia. Manusia yang boleh dimakannya adalah manusia yang pantas mati.

__ADS_1


__ADS_2