Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
52. Abimanyulah Orangnya


__ADS_3

Karena kita semua tahu bahwa Pakde Duryudana sama sekali tidak punya hak atas tahta Hastinapura. Sebab kerajaan ini sesungguhnya punya Mbah Pandudewayana berarti punya Bapak-bapak kita.


.


Tetapi seperti kita ketahui, dengan seenak jidatnya Pakde Duryudana jadi raja disini, tanpa memikirkan para orang tua kami. Jadi kami merebut memang yang menjadi hak kami.


Kendati begitu, aku maupun Kakang Pancawala tidak ingin menguasai kerajaan ini. Adapun Kakang Pancawala disini dan sekarang menjadi raja itu bersifat sementara. Sebab tahta ini menurutku dan Kakang Pancawala akan diberikan kepada yang paling berhak. Siapa dia...siapa saja dari keluarga kita yang kuat menduduki singgasana asli...Pakde Duryudana selama ini duduk di singgasana duplikat. Nah itulah Kakang Gatutkaca.


Dan kebetulan kalian telah datang, berhubung semua pejabat kerajaan kabur. Maka aku usulkan Kakang Gatutkaca dan Kakang Antareja jadi Patih luar. Sedang aku Patih dalam. Senopati aku serahkan kepada adikku Abimanyu dan Irawan...jadi sekarang mulai kerja Kakang..!" Tegas Ontoseno. Gatutkaca dan Antareja saling pandang dan akhirnya mengiyakan.


Tugas Raden Gatutkaca dan Raden Antareja sebagai Patih Luar adalah mereka harus mampu mencegah dan menanggulangi siapapun musuh yang bakal mengganggu ketenteraman kerajaan.


Senopati perang seperti Raden Irawan maupun Raden Abimanyu, mereka dibawah perintah Patih. Maka ketika Prabu Suteja Bomanarakasura datang dan meminta kembali Negara Hastinapura atas perintah Prabu Duryudana yang menghadapi langsung Gatutkaca.


"Hai Ontoseno kuminta kamu segera pergi dari Hastinapura sebelum kupukuli..!" Ancam Prabu Suteja Bomanarakasura lewat pengeras suara yang sengaja dibawanya.


"Kok aneh.. apa hubungan Negara Hastinapura dan Trajutisna..!? Juga apa hubungannya Pakde Duryudana dan Kakang Bomanarakasura..!?" Tanya Gatutkaca sebagai pejabat Patih Luar Negeri Hastinapura.


Mendapati Gatutkaca di Hastinapura, hati Prabu Bomanarakasura agak tercekat. Dia kaget, sebab meskipun Prabu Suteja Bomarakasura punya ilmu Pancasonya yang luar biasa. Namun dia amat segan dengan Gatutkaca, sebab meskipun pemilik ajian Pancasonya tidak bisa dibunuh. Namun Gatutkaca yang juga bernama Bambang Tutuka juga tidak bisa dilukai oleh senjata apapun.


Karena kulit Gatutkaca adalah tembaga dan tulangnya berat, urat-uratnya dari baja. Dia masih mempunyai senjata topeng waja.


Topeng waja bila dipakai matanya bakal mengeluarkan cahaya yang bisa membakar apa saja. Bahkan lempengan baja sekalipun bila dipandang menggunakan topeng waja bisa mencair.


Sehingga walaupun Suteja tidak bisa dibunuh, namun apakah dia mampu bertahan dari sorotan topeng waja?


Inilah yang membuat Prabu Suteja Bomanarakasura selalu gentar menghadapi Gatutkaca. Akan halnya andalan Suteja satu-satunya adalah siungnya atau taringnya.

__ADS_1


Suteja bertaring, karena bagaimanapun dia adalah cucunya raja ular yaitu Sanghyang Nagaraja. Siung Prabu Suteja sangat berbisa. Siapa yang kena gigit pasti tewas.


Sementara Gatutkaca sedang berhadapan dan bersitegang dengan Prabu Suteja Bomanarakasura. Di negara Amartapura atau Indraprasta yang sedang mengadakan pertemuan dengan dihadiri Raja Dwarawati, Prabu Sri Kresna tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Raja Mandura, Prabu Baladewa secara tiba-tiba.


"Mohon maaf adik Prabu Puntadewa aku yang datang..!" Ujar Prabu Baladewa menyapa Prabu Puntadewa.


"Ohw Monggo...Monggo Kakang Prabu. Ada apakah gerangan Kakang Prabu datang secara mendadak..!?" Tanya Prabu Puntadewa.


Secara singkat namun sangat jelas Prabu Baladewa menceriterakan bahwa Negara Hastina telah dikuasai Ontoseno dan Pancawala. Prabu Duryudana disebutnya telah melarikan diri.


"Bahkan senjata andalan saya yaitu Nanggala. Telah dikuasai Ontoseno. Jadi saya mohon adik Prabu Puntadewa dapat menyadarkan Ontoseno agar kembali ke jalan yang lurus dan benar..!' ujar Prabu Baladewa.


Dan masih banyak uraian Prabu Baladewa yang membuat telinga Pandawa panas. Paling tidak bisa menahan kesabaran tentu saja Brotoseno.


Raden Brotoseno alias Werkudoro tanpa banyak bicara langsung menghambur keluar menuju Hastinapura. Bahkan Brotoseno tanpa pamit kepada, Kakaknya Prabu Puntadewa.


Pada saat yang sama seperti kita ketahui, bahwa baik Ontoseno maupun Pancawala sama menyatakan bahwa mereka menguasai kerajaan Hastinapura untuk sementara. Mereka akan menyerahkan tahta kepada seseorang siapapun dia yang didudukan Gajah Pusaka Antisura di Singgasana asli Kerajaan Hastinapura.


Dan pada saat itu gegerlah semua orang di istana, karena secara tiba-tiba Gajah "pusaka" Kyai Antisura mendadak memberontak dari kandangnya. Dia dengan kekuatan ajaibnya memutus rantai yang mengikat dirinya.


Dan tanpa terduga dia berlari ke arah Raden Abimanyu yang tengah bersender di pohon besar taman hutan istana. Dengan belalainya Gajah Kyai Antisura membopong Raden Abimanyu dan menaikannya di punggungnya.


Kemudian gajah pusaka tersebut berlari dengan membawa Abimanyu di punggungnya menuju singgasana asli Kerajaan Hastinapura.


Dan dengan hati-hati gajah pusaka itu mendudukan Raden Abimanyu di singgasana asli. Semua orang geger, bahwa orang yang memang berhak atas tahta Hastinapura adalah Raden Abimanyu juga Raden Angkawijaya anak dari Pangeran Djanoko.


"Alhamdulillah...ternyata adikku Abimanyu adalah orangnya..yang dapat Wahyu Raja... mohon Kakang Pancawala tidak jeuleus ya Kang..!?" Ontoseno menggoda Pancawala.

__ADS_1


"Tidak adikku Ontoseno...sebab dari awal aku tidak inginkan tahta ini. Dan sekarang aku merasa sangat bersyukur karena yang mendapat Wahyu adalah adikku sendiri, yakni Abimanyu..!" Ujar Pancawala.


Semua orang bergembira, karena orang yang pantas Raja di Hastinapura adalah saudara mereka dan semua anak cucu keturunan Abimanyu.


Gatutkaca juga sangat gembira, tetapi pada saat yang sama dia sedang bersitegang dengan Prabu Suteja Bomanarakasura yang bermaksud mau merampas Negara Hastinapura.


"Sekarang Kakang Sutejo mau ngapain jika aku yang menghalang-halangi tindakanmu..!?" Tantang Gatutkaca.


"Aku akan membunuhmu. Juga membunuh para saudaramu..!!!" Jawab Prabu Suteja Bomanarakasura.


"Apa kamu mampu Kakang....!? Sedangkan kamu menghadapiku saja tidak mampu. Apalagi yang lain...ayoh pulanglah daripada kamu kuhajar disini..!" Ejek Gatutkaca.


Panas mendengar ejekan Gatutkaca, Prabu Sutejo menyerang Gatutkaca dengan tinjunya. Dengan mudahnya Gatutkaca menangkis serangan tersebut. Dan dia membalas dengan tendangan melengkung. Tepat mengenai pinggang kanan Prabu Suteja Bomanarakasura.


"buggg..!!!"


Tak urung Suteja meringis kesakitan, memang ajian Pancasonya membuat dirinya kebal. Namun rasa sakit tetap ada. Jadi pun dia tidak terluka karena kesaktian ajian tersebut. Tetapi tetap saja sakit.


Melihat serangannya berhasil Gatutkaca semakin mengejek Prabu Suteja Bomanarakasura yang langsung menyerang dengan kesetanan. Dia menubruk Gatutkaca dan merangkulnya serta mengigit leher Gatutkaca.


Raja muda Pringgondani yang tidak menduga Sutejo bakal menggigitnya sempat jingkrakan kaget dan mundur beberapa langkah. Sehingga Ontoseno yang menonton pertempuran itu sempat menanyakan.


"Kenapa mundur Kakang..!? Kalah ya..!?" Tanya Ontoseno.


"Tidak adikku. Aku mundur karena geli leherku digigit Kakang Suteja. Tidak luka, tetapi geli..itulah yang membuatku mundur. !" Jawab Gatutkaca.


"Kakang Gatutkaca harus sadar bahwa Kakang Suteja adalah Cucunya Raja Ular. Wajar jika dia punya taring dan suka menggigit ayo lawan lagi..!" Ujar Ontoseno.

__ADS_1


__ADS_2