Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
72. Pandita Durna Harus Ajak Sengkuni


__ADS_3

Pandita Durna makin pucat mukanya. Sebab ancaman Ontoseno tidak main-main. Meskipun Bapaknya, Brotoseno memanggil Durna dengan sebutan Bapak. Dan Pandita Durna pun memanggil Ontoseno dengan sebutan Cucu. Tetapi Ontoseno tidak peduli dengan sebutan tersebut.


Jika Ontoseno marah meskipun Durna sedang di dekat Brotoseno, tidak segan-segan Ontoseno menggebukinya sampai pingsan. Karena itu hitungan sampai kepada hitungan kedua. Durna langsung menjerit dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil.


"Hah...kok nangis Mbah. Ayoh jawab atau kutendang kamu..!?" Hardik Ontoseno.


"Baik...baiklah kujawab. Bahwa timbangan kejahatanku kupastikan lebih berat dari kebaikanku..Puaskah kamu Ontoseno..!?" Jawab Pandita Durna dengan tetap menangis.


"Sudah jangan nangis. Itu lho banyak mahasiswamu yang nonton...memalukan..!!! Setelah kamu mengakui sebagai orang jahat. Masihkah kamu akan berbuat jahat sampai ajalmu...!?" Kembali Ontoseno menanyai dengan pertanyaan yang cukup menohok.


Tidak hanya pertanyaan yang menohok, Pandita Durna pun takut sekali dengan ancaman Ontoseno. Sehingga Pandita Durna menyatakan tobat.


"Aduh Ontoseno bocah bagus. Cucuku yang paling kusayang aku menyatakan tobat... tobat untuk berbuat kejahatan. Takut menjual ayat-ayat demi kekayaan...aku tobat Ontoseno..!!!" Ujar Pandita Durna sambil terisak-isak. Tidak hanya itu Pandita Durna pun merangkul dan menciumi tangan Ontoseno.


"Semua pernyataanmu benar Ontoseno. Aku adalah makhluk yang paling berdosa di muka bumi ini Ontoseno. Tolong bimbing dan tunjukan kepadaku jalan yang lurus dan benar..!" Rengek Pandita Durna.


"Jika tobatmu tulus lahir dan batin. Aku siap membimbingmu, Mbah. Agar si Mbah menjadi ulama yang benar dan jadi panutan umat..!" Tegas Ontoseno sembari mendelik ke arah Pandita Durna. Dan itu cukup membuat nyali Pandita dari Sokalima semakin ciut.


"Aku tobat benar-benar Ontoseno. Karena itu akan segera mengundurkan diri dari jabatanku sebagai Pujangga Keraton Hastinapura. Agar aku lebih fokus belajar tentang akhlak yang baik darimu. Aku merasa sudah capek jadi ulama keraton..!!!" Janji Pandita Durna kepada Ontoseno.


Namun Ontoseno kemudian berpikir, bahwa sumber kejahatan para Kurawa sebenarnya ada dua. Pertama adalah Mahapatih Sengkuni asal Plazajenar.


Kedua Pandita Durna, namun dia sepertinya jadi jahat karena pengaruh Sengkuni.


"Ya. Aku harus percaya dengan tobatmu Mbah. Tetapi menurutku si Mbah Durna hanya ikut-ikutan tok. Untuk memberantas penyakit akhlak ini harus mencabut pula akarnya.


Siapakah akarnya? Si Mbah Durna pasti tahu. Dialah si Mbah Patih Sengkuni. Karena itu untuk membuktikan si Mbah Durna benar-benar tobat nasukha. Si Mbah harus ngajak si Mbah Patih Sengkuni supaya tobat dan sadar. Berani dan bisakah si Mbah Durna mengajak si Mbah Sengkuni tobat..!?" Tanya Ontoseno.

__ADS_1


"Demi kebaikan kita dan demi kebaikan semua umat manusia. Aku berjanji dengan cara apapun akan ajak Adik Patih Sengkuni supaya bertobat..!" Janji Pandita Durna kepada Ontoseno.


"Jika si Mbah Durna sanggup mengajak si Mbah Sengkuni tobat. Jangan menunggu waktu sekarang juga datangi si Mbah Sengkuni. Ajaklah dia bertobat..!" Perintah Ontoseno kepada Pandita Durna.


Setelah dapat perintah dari Ontoseno, Pandita Durna segera mengemasi perlengkapannya kemudian menuju Hastinapura mencari Mahapatih Sengkuni.


Sementara untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi Ontoseno ikut pergi membayangi Pandita Durna.


Kebiasaan Mahapatih Sengkuni, Sengkuni sehabis makan siang bersender dibawah pohon kersem, atau main catur dengan Dursasana. Dan Pandita Durna hafal benar dengan kebiasaan ini. Maka dengan mudah Pandita Durna menemukan Sengkuni.


Durna juga tahu persis karakter Sengkuni, bahwa untuk menaklukannya harus dengan jalan kekerasan. Maka begitu ketemu Mahapatih Sengkuni, Pandita Durna langsung meraih lehernya. Dan rahang Sengkuni ditinjunya keras-keras.


"Adaaw...ada apa ini Kakang Durna? Kok aku tidak merasa salah kok sampean pukuli .!!?" Ujar Mahapatih Sengkuni memelas.


Pandita Durna tidak menjawab pertanyaan Mahapatih Sengkuni, melainkan dia meneruskan memukuli dan menendangi Sengkuni. Akibatnya Sengkuni klepek-kelepek setengah pingsan.


Dalam keadaan lemas lunglai inilah Pandita Durna memanggul Mahapatih Sengkuni kepada Ontoseno yang telah menunggunya di penjual cendol di bawah pohon beringin disamping istana.


"Kamu akan kuhadapkan kepada hakim yang maha adil atas kejahatan-kejahatanmu selama ini...!" Tegas Pandita Durna.


"Salah dan dosaku apa..!?" Tanya Sengkuni.


" Cerewet...kamu lihat saja nanti..!" Jawab Durna pendek dan tegas.


Sesampai dihadapan Ontoseno, Mahapatih Sengkuni diturunkan. Dan Sengkuni yang dalam keadaan tidak berdaya karena dihajar habis-habisan oleh Pandita Durna, sekarang melihat dihadapannya berdiri Ontoseno yang memandangnya dengan tatapan mata sangar. Sengkuni semakin ciut.


"Aduh Kakang Durna kok dibawa kemari..!?" Keluh Sengkuni dalam hati.

__ADS_1


Seperti diketahui di dunia ini, manusia yang paling ditakuti Mahapatih Sengkuni adalah Ontoseno dan Bagong. Dalam keadaan sehat saja dia sudah takut setengah mati. Apalagi dalam keadaan lemah dan tidak berdaya seperti saat ini.


"Selamat siang Mbah Patih...selamat berjumpa..!?" Sapa Ontoseno yang membuat jantung Sengkuni berdetak lebih kencang.


"Siang... Cucuku Ontoseno. Sudah lama nunggu ya..!?" Jawab Sengkuni sekenanya.


" Tidak juga Mbah..!" Jawab Ontoseno.


" Nah...inilah hakim yang kumaksud yang bakal mengadilimu..!!!" Ungkap Pandita Durna kepada Mahapatih Sengkuni sambil menunjuk jarinya ke Ontoseno.


Tentu saja Sengkuni kaget setengah mati, sampai tidak sadar dia kencing di celana. Jika tadi sudah kepayahan dihajar Durna. Sekarang dia dibawanya kepada Ontoseno.


"Wah...pasti tubuhku akan remuk kali ini...!?" Ujar Mahapatih Sengkuni.


"Iya Mbah Patih..aku memang suruh Mbah Durna mencari sampean...supaya mau tobat. Karena sampean sudah tua. Si Mbah Durna sudah menyatakan. Aku nunggu pertobatan si Mbah Sengkuni..!!!" Ujar Ontoseno dengan tegas dan nada penuh ancaman.


"Iya Adik Patih. Aku sudah tobat. Dan kapok melakukan kejahatan dan kemaksiatan. Karena sudah tua..dan berarti mendekati kematian. Dan aku tobat dibawah bimbingan cucuku bocah bagus, Ontoseno..!" Ungkap Pandita Durna yang membuat kepala Sengkuni pusing tujuh keliling.


"Lha salahku apa Ontoseno..kenapa musti aku harus tobat..!?" Mahapatih Sengkuni masih mencoba mengelak, dan merasa tidak bersalah.


"Maaf Mbah Patih dosa dan kesalahanmu cukup banyak dan sampai saat ini masih kamu lakukan Mbah. Mau kubeberkan..!?


Baiklah, dimasa lalu. Kamu mengajak Pakde Puntadewa main dadu dengan taruhan Negara Indraprasta. Kemudian kamu bermain curang, sehingga Pakde Puntadewa yang meskipun ahli bermain dadu karena kamu curangi Pakde Puntadewa kalah. Dan Indraprasta diambil alih oleh Pakde Duryudana.


Akibatnya, Pakde Puntadewa, Bapakku Paman Djanoko, Nakula Sadewa harus menjalani pembuang di hutan belantara selama dua belas tahun.


Dosa besar lainnya yang pernah si Mbah lakukan adalah meracuni Pandawa. Pakde Puntadewa termasuk Bapakku dan adik-adiknya diajak makan enak. Ternyata makanannya kamu racuni sehingga semua Pandawa keracunan. Yang kamu kira Pandawa telah mati.

__ADS_1


Merasa kurang puas Pandawa yang keadaan pingsan keracunan tempat tinggalnya kamu bakar. Peristiwa bersejarah itu disebut "Balai Sigala-gala".


Tetapi Dewata menyelamatkannya sehingga Pandawa, termasuk Bapak Brotoseno hidup terus sampai saat ini.


__ADS_2