
Peristiwa-peristiwa kecil hampir setiap saat terjadi yang tujuannya menyingkirkan para Pandawa secara terus menerus terjadi. Dan jika ditelusuri sumber atau penyebab utamanya, ya kamu Mbah. Masih mau mengelak heh..!? Atau kupuntir kepalamu biar mampus sekalian..!!!" Gertak Ontoseno yang membuat muka Maha patih Sengkuni semakin pucat.
"Kejahatan lain yang aku dapatkan dari sumber-sumber resmi dan jalanan. Berapa triliunan kamu korupsi uang BLT heh..!? Kau kemanakan uang itu heh!?
Kamu juga menjadi backing perjudian dan malah menjadi bandar besar. Kamu tidak ingat banyak rakyat menderita. Karena sebelumnya dilanda pandemi sekarang dihimpit dengan perjudian. Kamu memang sangat keterlaluan jika kuputuskan kepalamu pun belum cukup untuk membayarkan hutang-hutangmu..!" Papar Ontoseno.
Diberondong banyak pertanyaan, disodorkan banyak bukti kejahatan, membuat Sengkuni mati kutu. Bahkan untuk ngomong pun susah, karena begitu banyaknya kejahatan yang dia buat dan sekarang diungkapkan dan dibeberkan oleh Ontoseno.
"Masihkah kamu mau mengelak..!?" Kejar Ontoseno.
"Tidak Cucuku Ontoseno. Apa yang kamu katakan benar semua. Dan aku tidak menyangkalnya. Untuk ini aku mohon maaf yang sebesar-besarnya Ontoseno.
Jangan kamu puntir kepalaku, karena aku pun pasti mati. Sebab aku sudah tua. Dan aku mau bertobat...tolong Ontoseno berilah aku kesempatan aku bertobat. Jika karena jabatan yang melekat padaku, sehingga aku kerap berbuat jahat. Aku akan mundur saja. Aku akan beribadah di bawah bimbinganmu Ontoseno.
Aku akan seperti Kakang Durna. Menjadi orang yang beriman dan takwa. Menjauhi semua larangan Dewata, dan mematuhi apa yang diperintahkan Dewata...Benar-benar aku bertobat Ontoseno..!" Ujar Sengkuni sembari terisak.
"Tobat...ya tobat...jangan cuma menangis tok. Lakukan dan kerjakan hal-hal yang baik. Tinggalkan semua bentuk kejahatan. Itu baru tobat secara nyata Mbah..!" Bentak Ontoseno kepada Sengkuni.
Pandita Durna pun ikut memaki Sengkuni.
"Pokoknya kalau tobat ya benar tobat Adik Patih.. jangan berhubungan lagi dengan perjudian. Jangan lagi dugem. Jangan lagi godain PL..!" Ujar Durna dengan sesekali menjitak ubun-ubun Sengkuni.
"Iya Kakang aku benar-benar tobat. Aku tak lagi berhubungan dengan PL. Yang lalu biarlah lewat. Aku ingin mulai lembaran baru..!" Isak Sengkuni.
__ADS_1
Setelah Pandita Durna berhasil meyakinkan Sengkuni bertobat. Malah dia menyatakan mengundurkan dari jabatan bergengsinya, Mahapatih Hastinapura. Ontoseno semakin yakin bahwa Kurawa bisa diajak bertobat.
Sekarang ini Ontoseno tinggal mengajak Raja Hastinapura, Prabu Duryudana bertobat. Jika dia bisa menaklukan Duryudana bertobat, tentu tidak sulit baginya untuk mengajak Kurawa bertobat.
Karena Kurawa berjumlah sembilan puluh sembilan laki-laki, dan hanya satu orang perempuan yang nikah dengan Djayadrata atau Tirtonoto. Karena itulah Tirtonoto sering dianggap Kurawa untuk menggenapi keseratus orang itu.
Prabu Duryudana adalah putera sulung, sehingga jika dia berhasil diajak bertobat. Maka anggota Kurawa yang lain akan ikut bertobat. Dan kunci untuk atau agar Duryudana bertobat Ontoseno sudah mengantonginya. Kunci as itu adalah Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni.
Karena lewat pola pikir dan strategi mereka berdua inilah Duryudana bisa berkuasa hingga sampai saat ini. Duryudana pasti tidak mau kehilangan Patih Sengkuni yang dianggap orang paling Julig dan licik.
Begitu pun dengan Pandita Durna. Duryudana jelas tidak mau kehilangan pandita yang sangat terkenal ini. Baik karena ilmunya yang tinggi, Durna pun pandai sekali dalam merekayasa apa saja.
Sebagai contoh Duryudana menginginkan Brotoseno atau Werkudara mati kepada Pandita Durna. Secara kekerasan jelas tidak mungkin. Karena selain Werkudara tinggi besar dia pun mempunyai kekuatan luar biasa. Tidak ada satu pun Kurawa yang mampu melawannya.
Bahkan Dursasana yang juga berperawakan tinggi besar mirip Werkudara. Tetapi Dursasana tenaganya lembek. Ototnya lemah, jauh sekali bila dibandingkan dengan Brotoseno.
Salah satu perintahnya adalah agar Werkudara masuk ke dalam Sumur Upas guna mengambil air kekuatan.
Padahal Sumur Upas adalah sumur tua yang sangat beracun. Siapa saja yang masuk ke dalamnya dijamin mati keracunan.
Karena dengan niat membunuh Werkudara, maka Durna melakukan siasat. Bahwa di sumur itulah keberadaan air kekuatan. Padahal ini hanya tipuan belaka namun ditanggapi Brotoseno dengan kepatuhan yang luar biasa.
Meskipun saudara-saudaranya mengingatkan jangan ikuti perintah ngawur tersebut. Tetapi Brotoseno menganggapnya lain. Dalam benak Brotoseno mengatakan, tidak mungkin seorang Bapak mau mencelakakannya.
__ADS_1
Karena keyakinan semacam itulah Brotoseno tetap menjebur ke dalam Sumur Upas. Dan ajaib, Brotoseno bukannya tewas keracunan. Justeru dia mendapatkan air kekuatan. Dimana jika Brotoseno mampu meminum habis air itu satu kendi. Maka dia akan memperoleh kekuatan seratus ekor gajah.
Dan seperti sudah menjadi kodratnya, Werkudara berhasil minum delapan kendi. Berarti Brotoseno memiliki kekuatan sama dengan delapan ratus ekor gajah.
Pengalaman Brotoseno yang berbanding terbalik dengan niat dan tujuan Pandita Durna. Menyebabkan Brotoseno makin percaya dengan Durna. Pada anugerah yang diterima Brotoseno itu karena ridhlonya para dewa akibat kebaikan dan amal Brotoseno sendiri bukan karena Durna.
Nah kemampuan Pandita Durna yang semacam inilah yang sulit tergantikan. Sehingga Ontoseno yakin bahwa Prabu Duryudana tidak mau ditinggalkan Pandita Durna. Dengan demikian Ontoseno bisa melakukan gambling dengan Duryudana.
Artinya Duryudana dapat terus didampingi Durna maupun Sengkuni. Asalkan dia mau bertobat. Jika Duryudana tetap membandel, tidak mau bertobat berarti harus siap-siap untuk kehilangan Durna dan Sengkuni.
Dan dalam hal ini Ontoseno yakin, jika Duryudana akan tetap mempertahankan Durna dan Sengkuni meskipun harus bertobat.
"Aku yakin Pakde Duryudana akan luluh dan ikut bertobat..!" Ujar Ontoseno dalam hati.
Namun untuk mendekati Raja Hastinapura Prabu Duryudana harus gunakan strategi. Untuk ini Ontoseno minta kepada Pandita Durna dan Maha patih Sengkuni agar berlaku wajar. Masuk kantor seperti biasa. Jangan menyatakan minta mundur dulu, tetapi melihat situasi.
"Si Mbah berdua tetap melakukan peranannya seperti biasa saja. Jangan mengundurkan diri dulu, tetapi nunggu kode dariku. Ya Mbah..!" Ujar Ontoseno kepada Durna dan Sengkuni.
"Kita lihat dahulu bagaimana sikap Pakde Duryudana, jika sikap si Mbah berdua telah berubah. Apakah dia masih keukeuh dengan sikapnya atau Namun untuk mendekati Raja Hastinapura Prabu Duryudana harus gunakan strategi.
Untuk ini Ontoseno minta kepada Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni agar berlaku wajar. Masuk kantor seperti biasa. Jangan menyatakan minta mundur dulu, tetapi melihat situasi.
"Si Mbah berdua tetap melakukan peranannya seperti biasa saja. Jangan mengundurkan diri dulu, tetapi nunggu kode dariku. Ya Mbah..!" Ujar Ontoseno kepada Durna dan Sengkuni.
__ADS_1
"Kita lihat dahulu bagaimana sikap Pakde Duryudana, jika sikap si Mbah berdua telah berubah. Apakah dia masih keukeuh dengan sikapnya atau Pakde mau berubah... saat itulah baru kukasih isyarat ya Mbah..!?" Tegas Ontoseno.
"Siap Cucuku..!!!"jawab Durna dan Sengkuni secara berbarengan.