Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
91. Batara Kala Kena Batunya


__ADS_3

Mentang-mentang jadi dewa dan anak dari Raja para dewa, yakni Batara Guru atau Sanghyang Jagadnata atau Sanghyang Manikmaya dan nama lainnya dari Batara Guru. Batara Kala bersifat Angkara murka, adigang-adigung. Merasa dirinyalah yang paling sakti paling berkuasa. Maka dia melihat Ontoseno dan Wisanggeni hanya anak-anak kecil.


Batara Kala tidak mau buka sejarah. Ontoseno memang anak Brotoseno, manusia biasa. Tetapi Ontoseno adalah puteranya Dewi Urang Ayu, seorang bidadari anak dari Resi Mintuno.


Dan Resi Mintuno dulunya memang manusia biasa, tetapi karena hebatnya dia dalam bertapa dan ilmunya yang sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari para dewa di Kahyangan. Sehingga Resi Mintuno diangkat menjadi dewa yang bersama Sanghyang Baruna menguasai Samodra dan air tawar di daratan.


Merekalah dewa-dewa yang menjadi sesembahan dan tempat berlindung para makhluk hidup, baik yang kasat mata atau makhluk halus yang hidup di kawasan tersebut. Bahkan Batara Baruna mengangkat Resi Mintuno jadi saudaranya.


Dan menjadikan Dewi Urang Ayu anaknya.


Sehingga di versi lain, Dewi Urang Ayu disebut sebagai puterinya Sanghyang Baruna. Begitupun Ontoseno pun menjadi cucu Batara Baruna.


Hal itu terjadi setelah Ontoseno diangkat menjadi jago para dewa guna melawan Prabu Minalodra Raksasa berkepala dan bermuka ikan yang berhasil menguasai Kahyangan Jonggringsalaka dan mengalahkan para dewa.


Setelah kakek dan cucu itu berhasil mengalahkan dan membunuh Raja siluman Minalodra. Atas perkenan dan restu dari Batara Guru Resi Mintuno diangkat menjadi dewa yang menguasai air tawar. Dan saat itulah Dewa Lautan Batara Baruna mengangkat Resi Mintuno menjadi saudara angkat. Juga menjadikannya Dewi Urang Ayu dan Ontoseno menjadi anak dan cucu angkat Sanghyang Baruna.


Sementara Wisanggeni pun bukan orang sembarangan. Wisanggeni lahir dari rahim Dewi Darsanala. Dewi Darsanala adalah seorang bidadari anak dari Sanghyang Batara Brahma, dewanya api.


Wisanggeni lahir secara prematur karena atas tindakan Batara Guru. Pada saat itu Kahyangan Suralaya atau Jonggringsalaka dikuasai musuh dari bangsa Gandarwo. Semua dewa kalah. Bahkan Batara Guru lari terbirit-birit karena ketakutan terhadap Raja Gandarwo tersebut.


Para dewa kemudian minta bantuan Pandawa. Maka diutuslah Pangeran Djanoko atau Harjuna untuk mengalahkan dan membunuh Raja Gandarwo.


Dan Djanoko berhasil mengalahkan dan membunuh Gandarwo tersebut. Sehingga dia dipersilahkan menikahi para bidadari di Swargaloka. Salah satunya adalah Dewi Darsanala.

__ADS_1


Saat mereka sedang menikmati hidup tenang di Kahyangan dan Dewi Darsanala sedang mengandung. Seorang bernama Dewa Srani malah menginginkan Dewi Darsanala menjadi isterinya.


Perlu diketahui Dewa Srani adalah putera dari Batari Durga dengan Batara Guru. Dewa Srani meminta bantuan ibunya agar bisa menikahi Dewi Darsanala.


Karena rengekan anaknya, Batari Durga merayu Batara Guru agar membantunya merebut Darsanala dari Djanoko. Dengan menggunakan segala kekuasaan dan ilmunya, Batara Guru berhasil menyingkirkan Djanoko.


Namun tidak hanya itu, Batara Guru juga merekayasa agar anak dalam kandungan Dewi Darsanala bisa keluar dari rahimnya. Dan anak itu dikeluarkan secara paksa atau lahir prematur. Tidak hanya itu untuk menghilangkan jejak, Batara Guru membuang anak itu di kawah Candradimuka.


Secara dohir bayi prematur itu dimasukan ke kawah Candradimuka pasti jadi debu.


Namun Sanghyang Wenang dewa yang paling berkuasa di seluruh Kahyangan tidak tega. Dia dengan kesaktiannya menyalamatkan bayi prematur itu.


Bahkan dengan kesaktiannya pula anak prematur itu dimanterai menjadi dewasa dan dinamakan Wisanggeni. Dia juga diangkat cucu oleh Sanghyang Wenang.


Jika Batara Kala paham akan riwayat hidup Wisanggeni, maupun Ontoseno dia tidak akan berani gegabah. Artinya raja sakti dan mengerikan Minalodra saja bisa dibunuh Ontoseno. Dan Batara Guru ayahnya sendiri sampai lari terbirit-birit melihat Wisanggeni ngamuk. Lha ini kok cuma anaknya Batara Guru berani gegabah?


Ini terjadi lantaran Batara Kala selalu dituruti segala kemauannya oleh Batari Durga yang memang punya watak jahat dan Angkara murka. Karena itu, begitu sampe di tempat Ontoseno dia langsung mengancam,.


"Wahai Ontoseno...!!! Kamu tidak mau pergi dan kamu tetap melindungi Pandawa. Maka kamu rasakan akibatnya... kumakan kamu mentah-mentah..!!" Ancam Batara Kala saat bertemu Ontoseno.


Ancaman tersebut bagi Ontoseno hanya semacam lelucon. Dia sama sekali tidak menggubris. Karena itu Batara Kala semakin marah.


"Baiklah... kalau kamu tidak mau minggat jangan salahkan aku. Jika aku terpaksa membunuhmu.. Ontoseno...!!!" Ujar Batara Kala lagi dan langsung menyerang Ontoseno.

__ADS_1


Batara Kala menyerang dengan cara menubruk Ontoseno. Maksudnya agar bisa membekap Ontoseno dan menggigitnya. Namun dengan mudahnya Ontoseno menghindar. Dia masuk ke dalam bumi. Sehingga Batara Kala menubruk tempat kosong.


Tidak cuma itu, Ontoseno muncul justeru dibelakang Batara Kala. Maka dengan mudahnya Ontoseno menendang pantat Batara Kala sampai dia jatuh tertelungkup mencium tanah.


"Enak ya...mencium tanah...ha ..ha..ha..!" Ujar Ontoseno sambil mentertawakan Batara Kala. Karuan saja, Batara Kala makin emosi.


"Awas kamu Ontoseno... kena kupegang langsung kugigit... lehermu putus nyawamu melayang..!" Umpat Batara Kala yang langsung kembali menubruk Ontoseno.


Namun dengan mudah Ontoseno menghindari serangan tersebut. Bahkan kembali dia berhasil menyerang balik dengan menendang kepala Batara Kala.


Tendangan Ontoseno cukup keras dan membuat Batara Kala terhuyung-huyung dan matanya kunang-kunang.


"Kurang ajar Kamu Ontoseno...awas rasakan pembalasanku..!" Ujar Batara Kala dengan emosi. Melihat Batara Kala kehilangan kendali, Ontoseno semakin meledek.


"Ha..ha...ha ternyata hanya sumbarmu saja. Kamu tidak memiliki kemampuan apa-apa. Sungguh kamu tidak pantas menjadi dewa. Kamu lebih pantas jadi tukang becak..!!!" Ejek Ontoseno kepada Batara Kala.


Sekali lagi, jika Batara Kala paham dan membaca track record Ontoseno. Pasti dia tidak akan gegabah melawannya. Musti dia lebih hati-hati dan penuh perhitungan dalam menyerang Ontoseno.


Namun karena memang jiwanya arogan, dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Akibatnya, ya dia kena batunya. Karena ternyata Ontoseno bukan lawan yang mudah.


Jadi jangankan membunuhnya, serangannya mengenai pun tidak. Bahkan seperti tengah dipermainkan Ontoseno. Namun begitu Ontoseno sadar bahwa sulit bagi dirinya membunuh dewa. Sebab dewa bisa sakit tetapi tidak bisa mati.


"Dewa bisa mati dan musnah hanya dengan senjata Gada Intan... sayang senjata itu ada di adik Wisanggeni. Kalau ada di tanganmu dewa kurang ajar ini kubikin mampus sekarang juga..!" Ujar Ontoseno dalam hati.

__ADS_1


Sementara Batara Kala masih ngos-ngosan mengatur nafas, sehingga tidak segera menyerang Ontoseno lagi. Dia sadar bahwa Ontoseno tidak bisa diremehkan. Karena itu dia harus mengatur strategi, agar serangannya bisa mengenai sasaran.


__ADS_2