Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
74. Akhirnya Duryudana Tobat


__ADS_3

Dan seperti biasa, Pandita Durna dan Mahapatih Sengkuni tetap ngantor. Tiba-tiba Prabu Duryudana menanyakan kepada mereka berdua, terutama kepada Mahapatih Sengkuni. Sebab penampilannya kali ini berubah. Sengkuni tidak lagi pakai blangkon, tetapi dia pakai peci songkok.


"Ada apa ini Paman dan Bapak Pandita... kok penampilan kalian berubah..!? Apa yang terjadi..!? Dan beberapa bos besar Togel tadi malam menelponku. Bahwa Mahapatih Sengkuni tidak lagi mau membackingi... kenapa dan ada apa !? Tolong Paman ceritakan yang jelas..kepadaku..!" Ujar Prabu Duryudana kepada Mahapatih Sengkuni.


"Benar anak Prabu sejak kemarin saya sudah menyatakan mundur dari dunia perjudian. Saya mengatakan tidak lagi mau membackingi para bandar togel. Saya katakan sudah tua. Sudah saatnya saya bertobat. Karena kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja. Saya akan mencoba bertobat agar aku tidak digolongkan sebagai ahli neraka..!" Urai Mahapatih Sengkuni.


Mendengar penuturan Sengkuni, Prabu Duryudana benar-benar terkejut. Dia melongo dan tidak bisa komentar apa-apa. Setelah sadar, baru Prabu Duryudana bertanya.


"Saya benar-benar heran kepada Paman Sengkuni. Kok bisa seperti ini... Kesambet setan apa Paman ini..!?"


"Saya sebenarnya berharap Anak Prabu juga mau bertobat seperti saya dan Kakang Pandita Durna..!" Jelas Sengkuni tanpa mempedulikan pertanyaan Prabu Duryudana.


Mendengar ajakan Mahapatih Sengkuni, yang memintanya Prabu Duryudana atau Suyudana atau Djakapitana, Raja Hastina tertegun dan geleng-geleng kepala.


"Aduh...aduh setan apa yang merasuk ke Paman Sengkuni ini ya ..!? Kok bisa ngomong seperti orang kesurupan..!?" Ujar Prabu Duryudana dalam hati.


Sementara itu, melihat Prabu Duryudana diam tidak memberikan respon, Mahapatih Sengkuni mengulangi lagi ucapannya.


"Saya dan Kakang Durna berharap anak Prabu bisa mengikuti jejak kami. Bertobat dan berhenti dari berbuat jahat. Banyak amal dan sodaqoh, serta rajin beribadah.


Ingat Anak Prabu Manusia semua akan mati termasuk kami juga anak Prabu. Dan kematian itu datang kapan saja dan dimana saja. Ayok mumpung masih kuat dan berkuasa serta kaya raya. Gunakanlah semua itu untuk ibadah.


Karena manusia sesungguhnya diciptakan di dunia ini untuk beribadah. Bukan untuk foya-foya. Bukan untuk berkaraoke atau main-main dengan PL di diskotik. Ayoh anak Prabu bertobatlah..!" Ujar Mahapatih Sengkuni kepada Prabu Duryudana.

__ADS_1


Entah karena bosan mendengar suara Sengkuni, atau memang enggan bertobat. Tiba-tiba Prabu Duryudana menggebrak meja dan bangkit membuat Sengkuni dan Durna kaget


"Paman...Paman Patih dari tadi saya diamkan... sampean ngomong apa heh. !? Tobat..tobat apa yang tobat..heh Paman!? Aku Raja lho..!? Aku berkuasa lho..!? Kok Paman bicara seenaknya sendiri..heh..!? Apa Paman sudah bosan hidup ya..!?" Bentak Duryudana yang membuat Sengkuni mengkeret. Melihat rekannya tidak berkutik, gantian Pandita Durna yang ngomong.


"Apa yang disampaikan adik Patih benar Anak Prabu. Jangan marah... bahwa kekuasaan itu ada batasnya. ! Dan kematian pasti akan datang. Di akherat nanti tidak akan ditanyakan, kamu pangkatnya apa, kekayaanmu seberapa ?? Tidak Anak Prabu..!!! Tetapi yang ditanyakan adalah amal perbuatan kita. Sudah melakukan apa saja selama kamu berkuasa di dunia. Itu yang akan ditanya...!!! Maka Anak Prabu kami mengajak Anak Prabu bertobat, tinggalkan hal-hal yang buruk. Mari kita sama-sama memohon ampunan kepada Hyang Maha Kuasa agar kita diberkati di dunia dan di akherat..!" Urai Pandita Durna.


Mendengar nasehat Pujangga Keraton Prabu Duryudana bukannya bertobat, malah semakin marah dan matanya melotot seperti mau menelan keduanya.


"Hei Paman Pandita...!!! Kalian kerasukan setan mana sih..!? Kok bicaramu jadi seperti itu..heh ayoh jawab..!?" Bentak Prabu Duryudana sembari menggebrak meja. Saat itulah Ontoseno yang membayangi mereka, memasuki ruang pertemuan.


"Selamat pagi Pakde..!!!" Salam Ontoseno kepada Prabu Duryudana.


"Ohw ya...silahkan duduk Ontoseno. Maaf aku mau lanjutkan dulu omonganku dengan Bapak Pendeta Durna. Bapak Pandita....kok sikap dan tingkah lakumu juga Paman Patih kok Jadi berbeda dengan kebiasaanmu apa sebenarnya yang terjadi. Coba jelaskan dan ceritakan semuanya kepadaku..!!!?" Ujar Prabu Duryudana kepada Pandita Durna.


"Baiklah Anak Prabu. Saya akan jelaskan sejelas-jelasnya..mumpung ada Cucuku Ontoseno. !" Pandita Durna sengaja menyinggung nama Ontoseno sembari melihat roman muka Prabu Duryudana. Sebab Ontoseno adalah yang paling dihindari oleh seluruh Kurawa, termasuk Duryudana.


"Maaf Anak Prabu mau saya lanjutkan kisah saya. Sejak saya bertemu dengan Cucuku yang gagah Ontoseno beberapa hari yang lalu saya tersada. Saya seolah-olah baru bangun tidur. Saya seperti digugah atau dibangunkan dari tidur panjang oleh Cucuku Ontoseno. Saya disadarkan dari segala macam perbuatan jahat maksiat dan penuh dosa oleh Ontoseno.


Saya sampai menangis seperti anak kecil karena saya benar-benar akan perbuatan salah dan dosa yang saya lakukan. Sampai akhirnya saya menyatakan bertobat. Dan saya berjanji akan menjadi pandita yang benar-benar seorang pendeta.


Karena itu Anak Prabu di kesempatan ini, agar saya dapat lebih fokus beribadah. Lebih fokus beramaliah. Saya hari ini menyatakan mengundurkan diri sebagai Pujangga Keraton...!!!" Ujar Pandita Durna yang membuat Prabu Duryudana kaget.


Belum hilang rasa kagetnya, Mahapatih Sengkuni juga menyatakan hal yang sama. Bahwa dia pun mengundurkan diri dari jabatan Mahapatih agar Sengkuni bisa menjalankan ibadah dengan khusyu.

__ADS_1


"Apa-apaan ini Bapak Pandita dan Paman Sengkuni. Kalian berdua adalah mitra saya yang sangat saya andalkan. Jika kalian mengundurkan diri...terus teman saya siapa !? Kalian mau kemana !?" Ujar Prabu Duryudana nelangsa.


"Kami akan mengikuti Cucuku Ontoseno. Agar menjadi manusia yang lebih baik...Anak Prabu..!" Jawab Durna mantap sambil melirik Ontoseno dan Ontoseno mengacungkan jempolnya. Bahwa apa yang dilakukan Durna sudah sangat tepat.


Mendengar penjelasan Pandita Durna, muka Prabu Duryudana merah padam dia mendelik ke arah Ontoseno.


"Rupanya biang keroknya kamu ya.. Ontoseno..!? Aku peringatkan kepadamu Ontoseno. Supaya kamu segera menyingkir dari Hastina. Atau kamu kubunuh...!!!" Bentak Prabu Duryudana kepada Ontoseno.


" Maaf Pakde. Aku tidak akan pergi dari sini. Kecuali Pakde bertobat..!!!" Jawab Ontoseno pasti.


"Kamu berani melawanku..!?" Bentak Prabu Duryudana.


"Apa yang kutakuti. Aku ngajak Pakde bertobat adalah perbuatan baik...jadi mengapa harus takut..!?" Ujar Ontoseno.


Tanpa banyak bicara Prabu Duryudana langsung menyerang Ontoseno. Dengan mengangkat tangan Ontoseno mengatakan.


"Lumpuh..!!!" Kontan Prabu Duryudana lunglai tidak bisa bergerak. Duryudana kaget setengah mati. Betapa digdayanya Ontoseno.


"Nah aku tanya Pakde mau saya bunuh atau tobat..!!!???" Ancam Ontoseno kepada Prabu Duryudana.


Wajah Duryudana pucat pasi. Jika dia ngotot dan menolak bertobat, dengan mudah Ontoseno membunuhnya.


"Aduh....!!!Ontoseno aku menyerah. Aku mengaku kalah. Aku bertobat.. bertobat dan akan ikuti petunjukmu..!!!" Ujar Prabu Duryudana pasrah.

__ADS_1


__ADS_2