Mintuno Dewa Air Tawar

Mintuno Dewa Air Tawar
92. Dikira Wisanggeni Sasaran Empuk ?


__ADS_3

Akan halnya Ontoseno pun sudah merasa bosan mempermainkan Batara Kala. Dia sekarang memeras cairan dari sungutnya. Cairan ini jika digunakan untuk menyerang, sangat berbahaya.


Jika manusia lumrah pasti mati seketika,


"Kucoba kepada dewa...bagaimana ya hasilnya..!?" Pada saat Ontoseno berpikir demikian, Batara Kala kembali menyerang. Sekali serangan tersebut berhasil di elakan. Bahkan Ontoseno berhasil menyiramkan cairan sungutnya ke muka Batara Kala yang membuat Batara Kala mengaduh kesakitan.


"Aduhhh... kamu pakai apa ini b*ngs*t. Kok panas sekali..!!!" Ujar Batara Kala sambil mundur beberapa langkah.


Tidak hanya itu Batara Kala juga menutup mukanya dengan telapak tangannya dan mengaduh kesakitan.


Beberapa saat Batara Kala sempat menutupi mukanya yang disiram cairan dari sungut Ontoseno.


"B*ngs*t kamu Ontoseno...!!! Cairan apa yang kamu tumpahkan ke mukaku hah..!!!?" Umpat Batara Kala kepada Ontoseno.


"Hua..ha..ha...ha... ternyata dewa yang katanya sakti mandraguna... hanya dewa... Cemen ..!!!" Ejek Ontoseno yang membuat Batara Kala semakin kalap.


"Hayoooh keluarkan seluruh cairan dan tumpahkan kepadaku... aku tidak bakalan mati Jahanam..!!!" Bentak Batara Kala sambil tetap mengucek-ucek matanya.


"Jangan sombong dewa Cemen ... baru kecipratan sedikit saja kamu sudah kejang-kejang begitu kok..!!! Masih berani sesumbar, weeiii...dewa Cemen ..!!!" Ontoseno tetap masih mengejek Batara.


Meskipun cairan yang dicipratkan kepada Batara Kala hanya sedikit tetapi efeknya lumayan juga. Batara Kala sempat kesakitan dan dia mulai ragu untuk menyerang Ontoseno.


Ini benar-benar di luar dugaannya. Sebelumnya dia anggap Ontoseno dan Wisanggeni cuma anak kemarin sore. Dia pikir sekali serang mereka sudah pasti kelojotan. Faktanya ? Yang kelojotan justeru Batara Kala. Karena itu dia akan meninggalkan Ontoseno lebih baik menyerang Wisanggeni dulu.


"Ya kutinggalkan saja bocah gendeng ini. Lebih baik kubereskan Wisanggeni dulu..!" Ujar Batara Kala dalam hati.


Sejalan dengan pikirannya, Batara Kala terus melesat terbang meninggalkan Ontoseno menuju ke arah posisi Wisanggeni.

__ADS_1


"Weeeiii...dewa Cemen kok lari... ayoh bunuh aku. Ayo makan aku seperti sesumbarmu hai dewa br*ngs*k..!" Caci Ontoseno kepada Batara Kala.


Tentu saja cacian tersebut tidak dipedulikan Batara Kala, sebab dalam pikirannya lebih baik menyelesaikan lawan yang lemah lebih dulu. Daripada meladeni bocah edan Ontoseno.


Melihat kadatangan Batara Kala, Wisanggeni tidak perlu basa-basi. Dia langsung pasang kuda-kuda untuk mengantisipasi serangan Batara Kala.


Di pihak lain, Batara Kalapun tidak ingin berlama-lama. Dia pikir Wisanggeni adalah makanan empuk jadi mengapa harus pakai lama. Maka Batara Kala seperti skill raksasa pada umumnya. Dia langsung menubruk Wisanggeni. Harapannya sekali tubruk Wisanggeni bisa dirangkul kemudian digigitnya dan tewas.


Aduh Mak. Ternyata Wisanggeni jauh di luar perkiraannya. Disamping dia dengan mudah dan indah bisa mematahkan serangannya. Dia pun mampu membalas Batara Kala dengan tendangan yang cukup keras di punggungnya.


Meskipun Batara Kala Raksasa namun akibat tendangan Wisanggeni ke arah pinggangnya yang begitu keras tidak urung dia terrhuyung-huyung dan sempat mengaduh.


Melihat serangannya gagal bahkan dia sempat ditendang lawan. Batara Kala mulai meredam emosi dan berhati-hati.


"B*ngs*t Wisanggeni. Fisiknya kelihatan lebih kecil dan ringkih dibanding Ontoseno. Tetapi tendangannya kok lebih berat dan keras dari Ontoseno..!" Ujar Batara Kala dalam hati.


"Kenapa berhenti Bro..!? Ayo serang lagi kutendang pantatmu biar masuk ke got..!!" Ejek Wisanggeni begitu terlihat Batara Kala seperti linglung.


"Hayoooh jangan sesumbar Bro...buktikan omonganmu..!!!" Tantang Wisanggeni.


Mendengar ejekan Wisanggeni, Batara Kala kembali menyerang Wisanggeni dan Wisanggeni meladeni. Sehingga terjadilah pertempuran yang seru.


Saking emosinya Batara Kala menyerang Wisanggeni dengan disertai suara meraung-raung seperti knalpot bocor. Sementara Wisanggeni melayani dengan santai.


Wisanggeni sengaja belum mengeluarkan Gada Intan. Karena dia masih ingin tahu, sejauh mana sih kesaktian dewa yang kerap memakan manusia ini.


Dan Batara Kala sekarang menyerang bukan sekedar menubruk, tetapi juga menggunakan pukulan dan tendangan. Hanya saja Wisanggeni yang jelas berperawakan lebih ramping dengan mudah menghindarinya. Dan sesekali malahan bisa memukul dan menendangnya.

__ADS_1


Meskipun terkena pukulan dan tendangan dari Wisanggeni. Batara Kala terus melancarkan serangan. Sekalipun serangannya tidak menemui hasil.


Dalam benaknya Batara Kala mulai menyadari. Bahwa orang-orang Pandawa tidak bisa dianggap remeh. Melawan anak-anak mereka pun ternyata dia tidak mampu berbuat banyak. Apalagi jika harus berhadapan dengan orang tua mereka.


Dalam hati kecilnya Batara Kala sungguh sangat menyesal mengapa harus memusuhi Pandawa. Sekarang semuanya sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat?


Mau mundur, jelas tidak mungkin. Ya terpaksa maju terus meskipun nantinya berakibat fatal, tetap saja harus dijalani. Untung Wisanggeni belum mengeluarkan senjata pamungkas Gada Intan. Jadi untuk sementara waktu Batara Kala masih bebas menghirup udara.


Pertempuran Wisanggeni pun telah bergeser, tidak melulu di udara. Tetapi sekarang mulai bertarung di daratan, sehingga Ontoseno yang telah datang bisa langsung ikut menyaksikan peperangan tersebut malah Ontoseno ikut mensuport.


"Ayoh adikku Wisanggeni... dewa Cemen ini kamu hajar agar tidak sesumbar macam-macam..!!!" Seru Ontoseno membuat Batara Kala tambah panik.


"Bangsat..anjing..!!! Bocah gendeng ini sudah nyusul kemari...!!!" Ujar Batara Kala dalam hati.


Mulut ngedumel tetapi hatinya sungguh amat cemas. Bertarung satu lawan satu saja sudah kewalahan. Apalagi jika dikeroyok, pasti bisa celaka. Ini pun Batara Kala belum tahu. Jika Wisanggeni telah menyiapkan Gada Intan untuk memusnahkannya.


"Haiii...dewa Cemen takut ya...!? Kok Diam saja tidak menyerang. Katanya mau memakan kami mentah-mentah..!? Apa kami saja yang akan menjadikanmu tongseng buat makan siang..!?" Ejek Ontoseno sementara Wisanggeni cuma senyum-senyum saja melihatnya.


"Sekarang terimalah seranganku..hiiiaattt...!!!" Batara Kala kembali mengirimkan sejumlah pukulan berantai kepada Wisanggeni. Namun dengan lincahnya Wisanggeni menghindari serangan tersebut.


"Ayoh keluarkan seluruh kemampuanmu... aku pengin lihat kemampuan sesungguhnya. Dan buktikan jangan hanya bisa sesumbar saja..!!!" Tegas Wisanggeni sehingga membuat telinga Batara Kala seperti terbakar.


Maka sudah tidak ada pilihan lain bagi Batara Kala kecuali menyerang habis-habisan kepada Wisanggeni.


"Baiklah b*ngs*t Wisanggeni.... aku atau kamu yang akan mati.. ciiiaattt..!!!" Teriak Batara Kala dan benar juga dia menyerang Wisanggeni dengan segala kekuatannya.


Wisanggeni sempat terkesiap terhadap serangan ini. Karena berbeda dengan serangan yang sudah-sudah. Tubuh Batara Kala berputar sangat kencang mirip gangsingan. Tangannya mengembang membentuk cakar.

__ADS_1


Begitu hebatnya pusaran Tubuh Batara Kala membuat pasir dan bebatuan kecil berhamburan. Bentuk tubuh Batara Kala lebih menyerupai angin ****** beliung yang sangat dahsyat.


Ontoseno yang menyaksikan pertempuran tersebut ikut kaget. Karena baru kali inilah Batara Kala mengeluarkan ilmu andalannya. Wisanggeni yang jadi sasaran serangan ini pun merasakan. Betapa berbahayanya serangan ini. Tak urung Wisanggeni sempat terhuyung mundur beberapa langkah menghadapi serangan tersebut.


__ADS_2